|
Harga Minyak Tak Wajar Pemerintah AS dan Spekulan Berperan Besar
http://www.kompas.com/kompas-cetak/0508/31/ln/2015471.htm
Sydney, Selasa - Harga minyak yang terus-menerus mencapai rekor baru secara nominal merupakan bukti dari keberadaan peran spekulan. Harga dibuat melambung sangat tinggi yang dalam 12 bulan ke depan akan anjlok. Bagai balon yang terlalu menggelembung, harga minyak akan kempis dalam waktu cepat.
Hal seperti itu pernah terjadi pada perusahaan yang bergerak di bidang teknologi informasi. Saham-saham perusahaan terus meroket dalam waktu cepat. Lalu pada tahun 2000, saham-saham perusahaan itu tak ubahnya seperti kertas toilet, tak ada harga.
Prediksi soal kejatuhan harga minyak itu diutarakan di Sydney, Selasa (30/8), oleh Steve Forbes, penerbit majalah bisnis Forbes.
Pada perdagangan Senin lalu harga minyak mentah di New York sempat mencapai level 70,80 dollar per barrel. Hal itu didorong oleh ketakutan saat Badai Katrina menuju Teluk Meksiko di wilayah AS, salah satu lokasi produksi, penyulingan, dan terminal impor minyak AS.
Di Singapura, harga minyak mentah kemarin bertengger pada angka 68 dollar AS per barrel. Tetap tinggi atau lewat dua kali lipat dari harga minyak yang tercatat pada Desember 2003, senilai 33 dollar AS per barrel.
Menurut Steve Forbes, dilihat dari segi apa pun, harga minyak sekarang ini tidak mencerminkan realitas. Sebelumnya dikatakan, permintaan minyak dari India dan China cukup besar dan berperan menaikkan harga. Namun, Forbes mengatakan faktor itu terlalu kecil untuk mendongkrak harga minyak dari 25-30 dollar AS per barrel menjadi 70 dollar AS per barrel hanya dalam tempo dua setengah tahun.
?Kenaikan harga minyak adalah akibat spekulasi di pasar komoditas,? kata Forbes yang berada di Sydney untuk meluncurkan konferensi bisnis. ?Jujur saja, hampir semua perusahaan Amerika Utara yang bergerak di bidang perdagangan berjangka (hedging fund), melakukan bisnis spekulatif atas harga minyak. Atas kenyataan itu saya mempunyai perkiraan... dalam 12 bulan ke depan harga-harga minyak akan jatuh ke level 35-40 dollar AS per barrel. Ada bubble (penggelembungan) yang dahsyat. Akan tetapi, Anda tidak bisa selamanya lari terlalu jauh dari faktor fundamental.?
Hedge Fund akan selalu berusaha mendorong kenaikan harga untuk membuat klien untung.
Forbes mengatakan, semakin tinggi harga minyak, tingkat kejatuhan juga semakin tinggi serta menghunjam. ?Saya kira harga minyak tidak akan mencapai 100 dollar AS, tetapi jika tercapai juga maka kejatuhan akan lebih spektakuler,? kata Forbes.
Berhentilah membeli
Ia juga mendesak Pemerintah AS untuk berhenti menambah cadangan minyak strategis (Strategic Petroleum Reserve/ SPR) yang sebesar 700 juta barrel, yang hanya bisa dipakai dalam keadaan darurat. ?Para spekulan kini sudah sadar bahwa pada harga berapa pun Paman Sam terus-menerus melakukan pembelian minyak, bahkan hampir setiap hari. Lemparlah ke pasar terbuka sebagian cadangan itu, maka harga akan turun,? demikian pesan Forbes pada Pemerintah AS, yang didominasi tokoh-tokoh yang terlibat bisnis minyak, seperti Wapres Dick Cheney, Menlu Condoleezza Rice, dan Presiden George W Bush sendiri.
Tidak jelas, mengapa Pemerintah AS tidak mau mengeluarkan sebagian cadangan dan terus-menerus membeli. Yang jelas, penjabat Sekjen OPEC Adnan Shihab-Eldin juga mengatakan kenaikan harga minyak melebihi kewajaran, di luar jangkauan permintaan dan pasokan minyak.
Dari sekian banyak pernyataan soal kenaikan harga minyak, pernyataan Forbes tergolong yang paling masuk akal. Masalahnya, pihak OPEC sudah sering kali menyatakan bahwa pasokan bukan masalah dan OPEC sudah berkali-kali menaikkan kuota dengan produksi minyak mentah sekitar 28 juta barrel per hari.
Tetapi, terus saja harga minyak melejit. Lalu akhir-akhir ini ditiupkan isu permintaan minyak India dan China serta langkanya perusahaan penyulingan minyak. Dua faktor ini juga dinyatakan tidak cukup kuat mendongkrak harga minyak. (AP/AFP/MON)
Start your day with Yahoo! - make it your home page
|