Setuju sekali dengan bung Eddy, memang masalah kualitas pendidikan tinggi
sangat tergantung dengan niat penyelenggara negara ini, baik pemerintah
maupun DPR nya. Pengalaman saya sewaktu di Perancis sejak 1985, waktu itu
Habibie masih menristek, dia kirim agak besar-besaran (antara 100 - 200
mhs /tahun) orang indonesia untuk kuliah di eropa, amerika maupun jepang
lewat pinjaman bank dunia. Malaysia di bawah Mahatir mengirim lebih
besar-besaran lagi (lebih dari 1000 mhs/tahun). Program Habibie tersebut
terus berlangsung (dari yg namanya OFP, STAID, dst.) walaupun jumlahnya
terus menurun, hingga Habibie jadi presiden. Begitu diganti Gus Dur dan
dilanjutkan dengan Megawati, program tersebut dihapus sama sekali karena
dianggap pemborosan dan returnnya lama, orang DPRnyapun tidak mendukung.
Salah satu alasannya banyak lulusan yang kabur pindah kerja ke swasta atau
ke luar negeri dibanding jadi pegawai negeri. Dalam hal ini sungguh
berbeda dengan pandangan Mahatir, karena orang malaysia yang lulus malah
disarankan cari pengalaman kerja dulu di luar negeri, toh setelah sukses
mereka akan kembali dengan modal dan keahlian yang jauh lebih baik dan
bisa membuka lapangan kerja baru di Malaysia. Terbukti pandangan "jauh ke
depan" dari Mahatir tersebut memang jauh lebih ampuh dibanding pemerintah
kita termasuk anggota DPRnya. Wajar kalau Malaysia sekarang berjaya dengan
pendapatan per kapita yang mungkin sudah 10 kali lipat kita. Saya hanya
berharap, semoga pemerintah dan DPR yang sekarang ini mau belajar dari
keberhasilan negeri jiran tersebut, semoga.
Wassalam, Hendro
> Perdebatan pendidikan di Indonesia, terutama jika di compare dengan
> negara lain memang sangat menarik. 25 tahun yang lalu kita masih
> bersama-sama kuliah dengan saudara kita dari Malaysia. Kalau tidak
> salah di Deptm. Matematika ada 6 mahasiswa dari Malaysia angkt 77.
> Waktu itu kita memang bangga bahwa pendidikan di negeri ini khususnya
> di ITB masih salah satu yang terbaik di Asia . Namun sekarang, dari
> List 200 Universitas terkemuka di dunia, tak satupun Universitas di
> negeri ini masuk dalam list tersebut. Singapura menempatkan 2 Univ
> dan juga Malaysia. Indonesia ?. NOL.
> Mungkin sedikit informasi bisa mengusik kita , terutama kepada teman-teman
> yang sekarang sedang duduk di jajaran/birokrasi pemerintahan.
> Sebulan lalu saya ikut Seminar Ketenagakerjaan yg diselenggarakan
> salah satu Company bekerjasama dng Depnaker, yang salah satu
> pembicaranya adalah Ir. Achdiat Atmawinata (mantan Dirjen LEM dan
> Mesin Angt 78). Salah satu pembicaranya juga adalah Ir. Abdul Wahab
> MA , Kabag Pembakuan Standar dan Akreditasi Depnaker. Dia berbicara
> banyak masalah standarisasi profesi dan pendidikan di Indonesia. Salah
> satu yg dia bahas adalah kunjungan dia ke TIMTIM yang baru saja
> dilakukan. Di TIMTIM , 2 tahun ini saja pemerintah telah
> memberangkatkan lebih dari 1000 mahasiswa ke Australia dan Selandia
> Baru. Begitu care nya negeri yang baru saja berdiri beberapa tahun
> ini untuk bidang pendidikan. Mereka mengetahui bahwa pendidikan akan
> menjadi sutau kunci bangsa untuk bergerak kedepan. Negeri yang
> dikatakan miskin dengan pengalaman dan sedikit sumber daya , namun
> melihat kedepan bahwa pendidikan hal yg penting untuk membangun bangsa
> .
> Dan bukannya tidak mungkin dalam 10 tahun kedepan, pendidikan di TIMTIM
> akan melampaui Indonesia seperti halnya di Malaysia.
> Hal lain adalah pengalaman di tempat tinggal saya. Ditempat tinggal
> saya beberapa bulan lalu kedatangan warga baru yang baru pulang dari
> bekerja di Vietnam. Anaknya yang baru kelas 5 SD sangat fasih
> berbahasa Inggris. Bahkan kalau ketemu sama bapak2 , dia (yg kelas 5)
> sering ngajak ngomong Inggris. Bapaknya kerja di Hotel Darmawangsa.
> Saya tanya, bagaimana dia fasih berbahasa Inggris. Ternyata di sekolah
> dasar disana telah diajarkan berbahasa Inggris dengan baik, bahkan
> katanaya day-to-day mereka diajarkan bahasa bule ini. Memang kalau
> kita pernah baca di Kompas 4 bulan yg lalu, yang menggambarkan
> pendidikan di Vietman yang sekarang sudah jauh lebih baik dari kita,
> yaaa membuat kita prihatin.
> Tiga negeri yang jauh dibelakang Indonesia waktu kemerdekaannya, tidak
> lama lagi akan melampaui dalam hal mutu pendidikannya. Dan inilah yg
> membuat kita prihatin.
> Begitulah negeriku.
> EddyPurNo virus found in this outgoing message.
> Checked by AVG Anti-Virus.
> Version: 7.0.344 / Virus Database: 267.10.15/82 - Release Date: 8/25/2005
>
------
Milis Internal alumni ITB Bandung, angkatan 1977
POSTING DG SIZE LEBIH DARI 250 KB HARAP CC-KAN KE
itb77-moderators-DzvTHOYnpihaCN38hz+VB57PR6L3/7vP@xxxxxxxxxxxxxxxx
Yayasan Bhakti Ganesha (Yayasan ITB-77)
Bank Niaga Cabang Jakarta Tebet
Rekg No.025.01.23831.00.8
BCA KCP - Tebet
Rekg No.092.3000850
BNI Cabang Tebet
Rekg No.1175 9942
Webnews & Online archive:
http://itb77-news.bhaktiganesha.or.id
|