-----Original Message-----
From: Satya, Kamayanti
[mailto:satya.kamayanti-FQq2pSSrIFTQT0dZR+AlfA@xxxxxxxxxxxxxxxx]
Sent: Wednesday, June 08, 2005 1:19 PM
To: itb77-DzvTHOYnpihaCN38hz+VB57PR6L3/7vP@xxxxxxxxxxxxxxxx
Subject: [itb77] FW: Speechless.......
sedemikian parahkah kita ini?
> > Salemba, Warta Kota
> >
> > PEJABAT Jakarta seperti ditampar. Seorang warganya
> harus menggendong
> > mayat anaknya karena tak mampu sewa mobil jenazah.
> >
> >
> > Penumpang kereta rel listrik (KRL) jurusan Jakarta?
> Bogor pun geger
> > Minggu (5/6). Sebab, mereka tahu bahwa seorang
> pemulung bernama Supriono
> > (38 thn) tengah menggendong mayat anak, Khaerunisa
> (3 thn). Supriono
> > akan memakamkan si kecil di Kampung Kramat, Bogor
> dengan menggunakan
> > jasa KRL. Tapi di Stasiun Tebet, Supriono dipaksa
> turun dari kereta,
> > lantas dibawa ke kantor polisi karena dicurigai si
> anak adalah korban
> > kejahatan. Tapi di kantor polisi, Supriono
> mengatakan si anak tewas
> > karena penyakit muntaber. Polisi belum langsung
> percaya dan memaksa
> > Supriono membawa jenazah itu ke RSCM untuk
> diautopsi.
> >
> > Di RSCM, Supriono menjelaskan bahwa Khaerunisa
sudah
> empat hari
> > terserang muntaber. Dia sudah membawa Khaerunisa
> untuk berobat ke
> > Puskesmas Kecamatan Setiabudi. "Saya hanya sekali
> bawa Khaerunisa ke
> > puskesmas, saya tidak punya uang untuk membawanya
> lagi ke puskesmas,
> > meski biaya hanya Rp 4.000,- saya hanya pemulung
> kardus, gelas dan botol
> > plastik yang penghasilannya hanya Rp 10.000,- per
> hari". Ujar bapak 2
> > anak yang mengaku tinggal di kolong perlintasan rel
> KA di Cikini itu.
> > Supriono hanya bisa berharap Khaerunisa sembuh
> dengan sendirinya. Selama
> > sakit Khaerunisa terkadang masih mengikuti ayah dan
> kakaknya, Muriski
> > Saleh (6 thn), untuk memulung kardus di Manggarai
> hingga Salemba, meski
> > hanya terbaring digerobak ayahnya.
> >
> > Karena tidak kuasa melawan penyakitnya, akhirnya
> Khaerunisa
> > menghembuskan nafas terakhirnya pada Minggu (5/6)
> pukul 07.00.
> > Khaerunisa meninggal di depan sang ayah, dengan
> terbaring di dalam
> > gerobak yang kotor itu, di sela-sela kardus yang
> bau. Tak ada
> > siapa-siapa, kecuali sang bapak dan kakaknya.
> Supriono dan Muriski
> > termangu. Uang di saku tinggal Rp 6.000,- tak
> mungkin cukup beli kain
> > kafan untuk membungkus mayat si kecil dengan layak,
> apalagi sampai harus
> > menyewa ambulans. Khaerunisa masih terbaring di
> gerobak. Supriono
> > mengajak Musriki berjalan menyorong gerobak
> berisikan mayat itu dari
> > Manggarai hingga ke Stasiun Tebet, Supriono berniat
> menguburkan anaknya
> > di kampong pemulung di Kramat, Bogor. Ia berharap
di
> sana mendapatkan
> > bantuan dari sesama pemulung.
> >
> >
> > Pukul 10.00 yang mulai terik, gerobak mayat itu
tiba
> di Stasiun Tebet.
> > Yang tersisa hanyalah sarung kucel yang kemudian
> dipakai membungkus
> > jenazah si kecil. Kepala mayat anak yang dicinta
itu
> dibiarkan terbuka,
> > biar orang tak tahu kalau Khaerunisa sudah
menghadap
> Sang Khalik. Dengan
> > menggandeng si sulung yang berusia 6 thn, Supriono
> menggendong
> > Khaerunisa menuju stasiun. Ketika KRL jurusan Bogor
> datang, tiba-tiba
> > seorang pedagang menghampiri Supriono dan
menanyakan
> anaknya. Lalu
> > dijelaskan oleh Supriono bahwa anaknya telah
> meninggal dan akan dibawa
> > ke Bogor spontan penumpang KRL yang mendengar
> penjelasan Supriono
> > langsung berkerumun dan Supriono langsung dibawa ke
> kantor polisi Tebet.
> > Polisi menyuruh agar Supriono membawa anaknya ke
> RSCM dengan menumpang
> > ambulans hitam.
> >
> >
> > Supriono ngotot meminta agar mayat anaknya bisa
> segera dimakamkan. Tapi
> > dia hanya bisa tersandar di tembok ketika
menantikan
> surat permintaan
> > pulang dari RSCM. Sambil memandangi mayat
Khaerunisa
> yang terbujur kaku.
> > Hingga saat itu Muriski sang kakak yang belum
> mengerti kalau adiknya
> > telah meninggal masih terus bermain sambil sesekali
> memegang tubuh
> > adiknya. Pukul 16.00, akhirnya petugas RSCM
> mengeluarkan surat tersebut,
> > lagi-lagi Karen atidak punya uang untuk menyewa
> ambulans, Supriono harus
> > berjalan kaki menggendong mayat Khaerunisa dengan
> kain sarung sambil
> > menggandeng tangan Muriski. Beberapa warga yang iba
> memberikan uang
> > sekadarnya untuk ongkos perjalanan ke Bogor. Para
> pedagang di RSCM juga
> > memberikan air minum kemasan untuk bekal Supriono
> dan Muriski di
> > perjalanan.
> >
> >
> > Psikolog Sartono Mukadis menangis mendengar cerita
> ini dan mengaku
> > benar-benar terpukul dengan peristiwa yang sangat
> tragis tersebut karena
> > masyarakat dan aparat pemerintah saat ini sudah
> tidak lagi perduli
> > terhadap sesama. "Peristiwa itu adalah dosa
> masyarakat yang seharusnya
> > kita bertanggung jawab untuk mengurus jenazah
> Khaerunisa. Jangan bilang
> > keluarga Supriono tidak memiliki KTP atau KK atau
> bahkan tempat tinggal
> > dan alamat tetap. Ini merupakan tamparan untuk
> bangsa Indonesia",
> > ujarnya.
> >
> >
> > Koordinator Urban Poor Consortium, Wardah Hafidz,
> mengatakan peristiwa
> > itu seharusnya tidak terjadi jika pemerintah
> memberikan pelayanan
> > kesehatan bagi orang yang tidak mampu. Yang terjadi
> selama ini,
> > pemerintah hanya memerangi kemiskinan, tidak
> mengurusi orang miskin kata
> > Wardah.
> >
Note: This email has been scanned by Indosat VirusWall
Systems
Note: This email has been scanned by Indosat VirusWall
Systems