|
Friends,
Sedih
ya. Begitulah. memang harga supermie yang diangkut chopper itu mahal betul. Saya
setuju.
Namun,
menurut hemat saya kurang pas membandingkan harga supermie saat itu dengan saat
ini. Pada hari-hari awal tsunami di Aceh, nilai supermie itu setara nyawa.
Bantuan helikopter US (lepas dari biayanya) adalah bantuan yang harus dilakukan
agar sebagian besar dari mereka yang tertimpa musibah dapat menyambung
hidupnya.
Kita
perlu jujur kalau bantuan asing tersebut pada saat itu sangat besar artinya bagi
mereka yang tertimpa musibah. Saya sudah di Aceh pada pagi hari ke tiga.
Dan masih melihat ribuan mayat bergelimpangan tak terurus sampai hari ke tujuh.
Saya paham betul makna setetes air aqua saat itu. Kita yang nonton CNN di kursi
empuk di ruang ber AC tentu akan berfikir lain.
Mari
kita bantu mereka yang kesulitan.
Rekans
77
Saya berhutang
kepada rekan2 ITB 77 seperti Nurhasan, Aza, Djasli dll tentang cerita
tindak-lanjut kami untuk menangani proyek rekonstruksi Aceh. Inilah kisah
lanjutan kami setelah ikut operasi "tanggap-darurat" (relief operation). Kisah
ini sifatnya hanya "sharing" saja kepada rekan2 yang mungkin berminat
membacanya.....it is a true and interesting experience.
Di Bulan Januari
2005, perusahaan kami mendapat permintaan dari sebuah
perusahaan Amerika (Shaw group) untuk membantu pelaksanaan proyek
rekonstruksi Aceh dengan menggunakan dana Amerika melalui USAID. Menurut
informasi, Amerika akan membantu dana sekitar US $ 300 juta melalui USAID untuk
proyek rekonstruksi Aceh. Tujuan saya adalah mencari cara supaya dana tersebut
bisa "cair" untuk membangun Aceh. Saya mendapat informasi bahwa
pada berbagai bencana di seluruh dunia, dana yang telah dijanjikan oleh para
negara maju, umumnya tidak jadi "turun" karena birokrasi dan juga perhatian
dunia sudah berpindah. Saya merasa sayang kalau bantuan tersebut tidak bisa
dicairkan karena birokrasi di Indonesia ataupun kelambatan pihak pengusaha di
Indonesia.
Setelah dibantu oleh
banyak rekan2 di pemerintahan, LSM dll, seperti Uwo, Pungki dll, team kami
(gabungan spesialis dari Indonesia & Amerika) dapat bertukar pikiran
dengan pak yusuf kalla,.pak alwi shihab, bu Sri mulyani, team bakornas Aceh dll.
Sehingga setelah 1.5 bulan, akhirnya kita dapat menyusun proposal ke USAID dan
American embassy dalam rangka pencairan dana US $ 300 juta tersebut. Kita
menyatakan siap untuk ikut tender pelaksanaan proyek rekonstruks Aceh dengan
dana tersebut.
......namun setelah
menyelesaikan proposal, team kami sangat surprise setelah pihak American embassy
menceritakan bahwa dana US $ 300 juta dari pemerintah Amerika serikat dinyatakan
sudah hampir habis terpakai. Saya terkejut dan tanya untuk apa dana tersebut.
Menurut pihak embassy untuk pengoperasian kapal induk USS Abraham lincoln dan
operasi relief operation tentara Amerika. Saya tanya lagi, bagaimana
menghitungnya. Rupanya setiap hari USS Abraham lincoln memerlukan dana sekitar
US $ 3 juta. Jadi selama 90 hari dana yang dikeluarkan adalah 90 x US $ 3
juta/hari = $ 270 juta......habis !!!. Wah, saya pikir2 sayang banget biaya US $
3 juta/hari hanya untuk membawa kotak supermie pakai
helikopter.
Anyway, team kami
masih belum menyerah dan sedang berusaha mencari cara agar dana dari luar negeri
bisa mengalir ke Aceh bagi yang betul2 memerlukannya. Setelah mendalami
kegiatan2 sosial seperti ini, saya semakin hari semakin respek dengan para
relawan2 yang terus menerus tanpa pamrih turun ke daerah2 yang masih hancur dan
membantu masyarakat Aceh sebisa mereka. Mereka bekerja tanpa pamrih dan jauh
dari sorotan televisi ataupun liputan media massa yang telah lama
menghilang.
Sekian kisah
"hutang" saya kepada rekan2 ITB 77
Triharyo Soesilo (Hengki)
Phone : 062-21-7988700 ext 100 Mobile : +62811141046
Fax office : +622179180912 Fax home : +62213926028
|