On Thu, 14 Apr 2005 11:18:21 +0700
M. Amin wrote:
> Jadi kesimpulannya gengsi itu ? harga diri.....
Gengsi dan harga diri itu bedanya terkadang sangat tipis, mirip spam dg ham yg
keduanya hakekatnya adalah email message cuma beda di content (isi) nya saja :-)
Harga diri terdiri atas dua kata harga dan diri.
Harga bisa ditawar donk, masak fixed gitu sih kayak di supermarket aja :-)
> pengertian gue selama ini : karena gengsinya gede bisa mendorong orang
> banyak duit (=maju).
> Contohnya: ......alumnus ITB.... He he
Susahnya dg alumnus ITB di bisnis adalah krn kita terbiasa berpikir secara
"exact", shg dalam penentuan harga (diri) juga dihitung secara exact; kalau
disuruh jualan by default akan pakai model "mark up pricing strategy", dan
maunya selalu untung :-)
Iya kalau datanya benar (orang Indonesia jarang yg data minded), iya kalau
industry yg kita tangani sdh efisien (low cost compare to others). Kalau
institusi kita masih infant (bayi) di market, mana mampu bersaing di pasar yg
price sensitive atau banyak complement (barang yg ekivalen) nya. Bisa-2x
barangnya di obral atau dikasih gratispun orang nggak mau :-)
Kalau mau laku mestinya harga itu disesuaikan dg pasar, harga diri disesuaikan
dg tujuan (objective) agar tidak "merasa" gengsinya turun.
Kalau tujuannya emang mau cepat tiba ditujuan di jakarta ini ya naik motor ojeg
nggak apa-2x toh (menghemat banyak waktu di jalan).
Biar dateng naik ojeg orang juga tahu Hengki CEOnya rekayasa, biar pakai bakiak
(ke kamar mandi) juga orang tahu Devi direkturnya indosat, kata orang "harga
mah nggak bohong" alias gengsi itu akan terpancar dari hati.
Gengsi itu soal "rasa" sementara bisnis soal "fakta", kalau bartendernya nggak
jagoan dalam banyak kasus saat dicampur moal resep da :-)
--
syafril
-------
Syafril Hermansyah
--
--[YONSATU - ITB]---------------------------------------------
Arsip : <http://news.mahawarman.net>
News Groups : gmane.org.region.indonesia.mahawarman
|