Rupanya banyak orang yang memikirkan Aceh, semoga bisa bersinergi...
Terlampir prakarsa dari STTJ dan HATTI.
Semoga bermanffat Salam,
Nanang
SEMINAR NASIONAL
Membangun Kembali Aceh Pasca Tsunami
Latar Belakang
Gempa seratus tahunan itu terjadilah sudah. Nanggroe Aceh Darussalam (NAD)
terpilih sebagai pusat kejadiannya. Tercatat 9.0 skala Richter dan lebih
150.000 jiwa terkubur di tanah kelahirannya. Suatu jumlah korban yang
melampaui catatan korban perang dunia II.
STTJ bekerja sama dengan HATTI menyelenggarakan sebuah seminar
nasional. Sejatinya seminar ini merupakan bentuk peduli terhadap peristiwa
besar yang terjadi sepanjang sejarah kehidupan bangsa ini. Ekspresi harapan
dari acara ini tertuang pada baris-baris berikut.
o Dapat memahami fenomena bencana alam gempa dan tsunami. Baik
kejadiannya sendiri maupun akibat-akibat yang ditimbulkannya.
o Segala pengertian perihal gempa dan tsunami yang didapat dari
seminar ini dapat kiranya tersampaikan ke generasi mendatang. Peristiwa yang
penuh dengan duka ini agar tidak terulang lagi dengan jumlah kurban yang
besar di kemudian hari.
o Mencari solusi alternatif terhadap akibat yang ditimbulkan oleh
kedahsyatan gempa dan tsunami.
o Mengajak simpati dari semua pihak dalam penyelesaian dan pembangunan
kembali NAD dari akibat-akibat yang ditimbulkan oleh gempa dan tsunami. Baik
akibat primer maupun akibat sekundernya. Baik jangka pendek maupun jangka
panjangnya.
o Mengembalikan semua permasalahan dan solusinya kepada rakyat NAD
sendiri. Merekalah yang berhak menentukan nasibnya sendiri dalam perspektif
yang tepat. Pihak lain semuanya hanyalah pendukung terwujudnya kembali
wajah Aceh di masa depan dengan segala keagungan riwayatnya, keindahan
alamnya dan keramahan insannya.....
o Mensosialisasikan kasus penyelesaian Aceh sebagai proto-type design
perkotaan di sepanjang daerah potensi gempa-tsunami Sumatera-Jawa-Bali.
Maksud dan Tujuan
Seminar ini diselenggarakan dengan maksud dan tujuan
o Didapatnya suatu formulasi penyelesaian secara fisik dari masalah
Aceh yang bersifat komperhensip dengan perspektif yang benar, sehingga
rakyat Aceh mendapatkan kembali kehidupan yang layak dan bermartabat
sesegera mungkin.
o Tergalangnya kembali semangat kebangsaan yang ditandai dengan
penggalangan simpati baik material maupun immaterial terhadap rakyat Aceh.
o Memberikan masukan kepada pemerintah perihal blue print perencanaan
yang komperhensip mengenai tata ruang dan pembangunan kota Banda Aceh, dan
kota-kota lain yang berpotensi rawan terhadap gempa dan tsunami
Manfaat Kegiatan
Bagi rakyat Aceh, diharapkan seminar ini memberikan pengertian yang benar
perihal fenomena gempa bumi dan tsunami. Sehingga akan memupuskan
pemikiran-pemikiran miring yang bernuansa mistik dan mendiskriditkan suatu
kaum. Alternatif solusi terbaik akan menjadi focus dari seminar ini,
sehingga rakyat Aceh sesegera mungkin dapat kembali berkehidupan layak dan
bermartabat seperti saudara-saudaranya di seluruh Nusantara ini.
Bagi bangsa Indonesia, yang dewasa ini masih diselimuti krisis multi
dimensi, diharapkan dengan seminar ini tumbuh semangat saling membantu
sebagai satu bangsa. Semangat gotong royong yang sudah semakin mahal akan
menghiasi kembali bumi Persada Nusantara pada umumnya, dan NAD pada
khususnya. Hilangkan segala curiga di antara kita, bersatu untuk kejayaan
bersama.
Bagi Pemerintah Indonesia, sebagai penyelengara negara Indonesia yang
berdaulat penuh, maka diharapkan dari seminar ini akan hadir suatu embrio
blue print perencanaan yang komperhensip mengenai tata ruang dan pembangunan
kota Banda Aceh pada khususnya, dan kota-kota lain pada umumnya yang
berpotensi rawan terhadap gempa dan tsunami. Blue print ini pun bisa
dijadikan referensi untuk meninjau ulang desain dari kota-kota di sepanjang
pantai barat Sumatera, pantai selatan Jawa dan Bali sebagai langkah mitigasi
terhadap bahaya bencana alam di kemudian hari.
Ruang Lingkup Pelaksanaan Kegiatan
Kegiatan seminar ini menawarkan suatu penyelesaian masalah bencana alam
gempa dan tsunami yang komperhensip dengan perspektif yang benar, baik dalam
lingkup local maupun nasional. Kasus Aceh adalah isu lokal yang akan menjadi
target penyelesaian. Wilayah sepanjang pantai Barat Sumatera, Selatan Jawa
dan Bali sebagai wilayah rawan gempa dan tsunami adalah isu nasional yang
akan menjadi terget usulan kepada Pemerintah.
Rencana Anggaran Biaya
Kegiatan seminar ini akan dilaksanakan dengan anggaran Rp.131.500.000,00
(seratus tiga puluh satu juta lima ratus ribu rupiah). Biaya tersbut akan
diperoleh dari peserta dan pihak-pihak sponsor. Secara rinci rencana
anggaran dan pendapatan untuk kegiatan ini dapat dilihat pada lampiran.
Output dan Rencana Tindak Lanjut dari Seminar
o Memberikan proposal pembuatan peta gempa dan peta tsunami Indonesia
dengan memasukkan data-data gempa dan tsumai terkini.
o Memberikan proposal blue print perencanaan komperhensip kota Banda
Aceh
o Memberikan desain bangunan tahan gempa dan tsunami untuk
wilayah-wilayah sepanjang pantai barat Sumatera, pantai selatan Jawa dan
Bali.
o Uji kelayakan model bangunan tahan gempa (100 unit rumah contoh)
o Memberikan jadwal dan rencana tindak lanjut terhadap semua
permasalah di atas maupun yang akan berkembang kemudian.
Peserta
Seminar ini terbuka untuk umum. Partisipasi dari kalangan Perguruan Tinggi,
Pemerintah, instansi terkait, dan kontraktor/konsultan sangat diharapkan.
Tanggal dan Tempat
10 Maret 2005
Ball Room Hotel Bidakara
Pembicara / moderator
Sri Mulyani - Bappenas
Kimpraswil - Kimpraswil
Prof. Dr. Aziz Djajaputra, Ir., MSCE. - Institut Teknologi Bandung
Drajat Hoedajanto, S.Tsi., M.Eng., PhD. - HAKI
Ir. Masyhur Irsyam, MSE., PhD. - HATTI
Dr. Ir. Bigman Hutapea - HATTI
Dr. Ir. Dani H. Natawidjaja - Geoteknologi LIPI
Hamzah latif, PhD. (Eng) - HAGI
Ir. Engkon Kertapati, MSc - Pusat Geologi Bandung
Dr. Ir. Munirwansyah, MSc. - Unsyah Banda Aceh
Ir. Mohamad Wahyono M.T. - Sekolah Tinggi Teknologi
Jakarta
Sambutan dari Ketua STTJ
Visi dan misi STTJ adalah semangat dari institusi ini dalam mengapai cipta
dan citanya.
Menjadi lembaga pendidikan tinggi yang termuka di bidang teknologi guna
menghasilkan sumber daya manusia (SDM) yang professional, berjiwa
interpreneur, mampu bersaing dalam era globalisasi serta beriman dan
bertakwa kapada Tuhan Yang Maha Esa.
Menjadi lembaga pendidikan tinggi yang mampu merespon dan melakukan
penyesuaian terhadap perubahan dan perkembangan teknologi.
Menyelenggarakan Tridharma Perguruan Tinggi melalui pemanfaatan teknologi
yang sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK),
prioritas kebutuhan pembangunan maupun masyarakat dengan memperhatikan
kondisi sosio ekonomi masyarakat.
Meningkatkan dan mengembangkan kelembagaan STTJ sesuai dengan kebutuhan
masyarakat dan kemajuan IPTEK.
Bencana alam gempa dan tsunami di Aceh yang masih sangat segar diingatan
kita adalah peristiwa besar yang tidak boleh berlalu tanpa makna. Peristiwa
ini diklaim sebagai musibah dan duka nasional oleh Presiden SBY. Peristiwa
ini diklaim sebagai musibah dan duka dunia oleh Sekjen PBB Kofi Annan.
Seminar nasional yang sengaja akan digelar ini diharapkan menjadi suatu mata
rantai penghubung. Bencana alam, rakyat NAD, pemerintah, instansi terkait,
konsultan/kontarktor, STTJ, dan kalangan perguruan tinggi lain serta unsur
lain dari masyarakat yang tidak dapat disebut satu per satunya diharapkan
dapat dirajut dan disinergikan oleh seminar nasional ini. Melangkah bersama
secara harmoni membangun kembali rakyat dan negeri Serambi Mekkah.
Semoga Sang Pencipta Kehidupan ini mendengar rintih, do'a dan usaha kita.
Hingga tak ada lagi derita dan isak tangis di antara rakyat Aceh....
Organisasi
Penasihat:
Prof. Dr. A. Aziz Djajaputra, Ir., MSCE. - Wakil Ketua Badan
Penasihat dan
Pertimbangan HATTI
Prof. Dr. Budi Susilo - Ketua Kopertis Wilayah III
Ir. Mahsum Irsyam - Ketua Umum Yayasan
Teknojaya
Panitia:
Ketua : Ir. Didiet Widijanto, MSc., SE., MM.
Wakil Ketua : Ir. A. Slamet Rahardjo, MM.
Sekretaris : Rahma Susanti, SE.
Organizer Committee : Ir. Maryoto Rachmat
Steering Committee : Ir. Mohamad Wahyono M.T. / Ir.Haryanto M.Eng
Anggota : Ir.Rosmiati, Dedy Rustama S.T., Ribut Nawangsari S.T.
Agenda Seminar
08.00 - 08.30 Registrasi
08.30 - 09.00 Sambutan dan Pembukaan
Sambutan Ketua Panitia
Ir. Didiet Widijanto, MSc., SE., MM.
Sambutan Ketua Organizer
Ir. Maryoto Rachmat
Keynote: Presiden RI
Susilo Bambang Yudhoyono
09.00 - 10.00 Sesi 1
Bappenas - Sri Mulyani
Strategi Pembangunan Kembali NAD
Moderator : Drajat Hoedajanto, S.Tsi., M.Eng., PhD.
10.00 - 10.30 Rehat
10.30 - 12.00 Sesi 2
Ir. Engkon Kertapati, MSc.
Tinjauan Geologi Indonesia
Hamzah latif, PhD. (Eng)
Fenomena Tsunami dan Akibat yang Ditimbulkannya
Dr. Ir. Munirwansyah, MSc. / Ir. Mohamad Wahyono M.T.
Kesaksian Dua Orang Civil Engineer
Moderator : Dr. Ir. Dani Hilman
12.00 - 13.00 Rehat
13.00 - 14.30 Sesi 3
Ir. Masyhur Irsyam, MSE., PhD.
Pemetaan dan Respons Spektra Gempa NAD
Drajat Hoedajanto, S.Tsi., M.Eng., PhD.
Usulan Tata Ruang dan Desain Bangunan Tahan Gempa
Moderator : Dr. Ir. Bigman Hutapea
14.30 - 15.00 Rehat
15.00 - 16.00 Kimpraswil
Tinjauan Pembangunan perumahan dan Infra struktur di NAD
Moderator : Prof. Dr. A. Aziz Djajaputra, Ir., MSCE.
16.00 Penutup
Informasi dan registrasi
Informasi lebih lanjut berkenaan dengan agenda seminar, acara, prosedur
regristasi dan akomodasi dapat diperoleh pada
Rahma Susanti, SE.
Sekolah Tinggi Teknologi Jakarta Faksimili :
021-84623692
Jl. Jatiwaringin Raya no. 278 Telepon : 021-8462316
Podokgede, Jakarta 17411 HP :
08159154999
e-mail :
sttj-Hlp6NBfSoRe8rHFcjEY/OA@xxxxxxxxxxxxxxxx
-----Original Message-----
From: apurnomo-LRM9Hsy41cImAdca1mUmwA@xxxxxxxxxxxxxxxx
[mailto:apurnomo-LRM9Hsy41cImAdca1mUmwA@xxxxxxxxxxxxxxxx]
Sent: Monday, January 31, 2005 10:24 AM
To: itb77-DzvTHOYnpihaCN38hz+VB57PR6L3/7vP@xxxxxxxxxxxxxxxx
Subject: [itb77] Re: Operasi peduli Aceh & USAID
Hengki, Uwo dan teman-teman yang baik,
saya baru pulang dari perjalanan singkat ke Aceh, berangkat bersama
Menteri LH tapi pulang belakangan, sehingga terlambat merespon email
Hengki dan Uwo berikut ini, sorry.
Sekedar update singkat, situasi fisik di Banda Aceh sudah mulai membaik,
pembersihan kawasan bencana sudah menunjukkan hasil yang nyata. Akses
distribusi logistik untuk korban dari Banda Aceh sampai ke pantai barat
(Meulaboh dan Calang) sudah berhasil dibuat. Tenda-tenda pos bantuan
internasional dapat terlihat di Calang dan Meulaboh seperti film science
fiction, ada hampara luas kawasan bencana yang rata dengan tanah dan
disana-sani digenangi air, sementara di beberapa tempat yang kering dan
agak tinggi terlihat puluhan tenda-tenda cantik berwarna (ada yang putih,
beberapa yang biru dan ada yang hitam) yang berjajar tersusun rapi.
Sebagian supply logistik dilakukan lewat laut dan udara karena ada puluhan
jembatan yang masih perlu dibangun, sedangkan untuk Meulaboh supply sudah
bisa lewat darat.
Permasalahan tenda-tenda penampungan korban tsunami di Banda Aceh masih
terus berlanjut karena tempat penampungan sementara (barak) yang sedang
dibangun diperkirakan baru siap digunakan dalam dua minggu mendatang.
Permasalahan pemindahan penduduk ke barak-barak ini mungkin akan menjadi
headline dalam beberapa minggu mendatang, karena kemungkinan terjadinya
pemaksaan untuk pindah ke barak-barak tersebut. Kita doakan saja agar
pemaksaan tersebut tidak terjadi sehingga tidak ada korban tambahan. (Uwo
perlu bantu dengan membuat kebijakan dari Bappenas agar tidak terjadi
pemaksaan dalam pengisian barak-barak tersebut).
Mobil dan truk import baik yang berlogo organisasi sipil maupun tentara
asing terlihat di banyak tempat di Banda Aceh, selain truk-truk pemulung
yang datang dari medan, mengumpulkan besi dari sisa rumah, kapal, mobil,
sepeda motor bahkan mesin giling yang rusak berat. Perkiraan saya,
kehadiran kendaraan dan personil asing di Banda Aceh akan terus bertambah
sejalan dengan proses dimulainya rekonstruksi.
Disini saya melihat peran yang sangat strategis dari Hengki dan
teman-teman Rekin lainnya. Kita harus lebih aktif untuk menjadi tuan
rumah di negara sendiri dan perlu bersungguh-sungguh menciptakan peran
yang maksimal kepada masyarakat Aceh dalam tahapan rehabilitasi dan
rekonstruksi Aceh. Pengalaman di Timor Timur, Myanmar, Dacca, Rwanda dan
tempat-tempat lain yang mengalami bantuan internasional dalam skala besar,
penduduk lokalnya hanya jadi sopir dan koki (juru masak).
Dalam perjalanan pulang ke Jakarta, saya bertemu dengan teman-teman dari
PU yang menjadi motor dari PokJa Tata Ruang dibawah koordinasi Bappenas.
Mereka punya gagasan-gagasan menarik, yang keluar dari pemikiran text-book
konvensional Tata Ruang 101, yang akan dipersiapkan untuk dibahas dalam
Rapat hari Rabu dan Kamis minggu ini. Kehadiran Revisi Tata Ruang Aceh
dan Banda Aceh akan menjadi kerangka kerja rehabilitasi dan rekonstruksi
yang sudah sangat dibutuhkan, karena proses pembersihan debris, sampah,
lumpur, dan termasuk sisa-sisa jenazah yang belum terevakuasi, sudah
berjalan dengan skala yang besar tanpa ada pedoman kemana dan dimana
'sampah' tersebut harus dibuang. Di tempat-tempat yang tadinya sawah dan
rumah, seluas puluhan hektar, sudah dijadikan tempat pembuangan 'sampah'
yang mirip dengan Bantar Gebang, termasuk dengan kehadiran pemulungnya.
Pembangunan sekolah, rumah sakit, kawasan pemukiman alternatif, jalan dan
jembatan di pantai barat, adalah beberapa judul besar kegiatan
rekonstruksi yang bisa kita perdalam dalam pertemuan khusus untuk itu.
Kalau Hengki, Uwo atau Jasli bisa mengusulkan waktu dan tempat untuk
ngobrol dengan agenda rekonstruksi yang spesifik, sore atau malam hari di
minggu ini (kecuali rabu) saya akan mengusahakan hadir. Semakin cepat
semakin baik, karena setiap kali kita berdiskusi tentang sesuatu yang
perlu dikerjakan di Aceh, dalam dua atau tiga hari sesudahnya ada orang
lain yang sudah melakukannya, dan sebagian diantaranya justru membuktikan
kekhawatiran kita.
Apa yang dilakukan Hengki dan teman-teman di Rekin sudah membuktikan bahwa
'kecepatan bertindak' menjadi faktor penentu ketepatan bantuan kita.
Salam, Pungki
> MessageRekan2, khususnya Hengki,
>
> Saya salut atas concern Anda.
> Menghadapi rekonstruksi Aceh, saya yakin belum ada 'ahli' yang punya
> pengalaman memadai. Kompleksitasnya mungkin lebih berat dari Hiroshima
> 1945.
> Soal program rekonstruksi (Tata Ruang) dewasa ini Bappenas dan PU sedang
> mengerjakannya (akan dibantu Unsyiah juga nantinya). Sekarang masih tahap
> awal. Mudah2an pertengahan Maret sudah terlihat bentuknya. Saya kebetulan
> menjadi bagian dari tugas itu.
>
> Pendekatannya: akan dibuat beberapa opsi tata ruang (dari yg mirip
> existing Aceh sampai Aceh Baru), kemudian dikonsultasipublikkan berulang
> kali, di Jakarta maupun di Aceh sana. Maksudnya biar masyarakat Aceh
> sendiri yang memilih mana yang paling sesuai. Pemerintah hanya ambil
> inisiatif awal dan jadi fasilitator saja. Berbagai masukan dari pihak
> lain (NGO, akademia, pakar, UN system, Bi-Multilateral Org) juga banyak
> kita terima. Pungki ada di bagian ini!
>
> Persoalan terbesar bukan dari segi ilmiah-teknis, tetapi dari segi
> sosio-kulturnya.
> Pertanyaan2 seperti: apakah rakyat akan kembali ke tempat asal? berapa
> banyak, bagaimana dengan yang tidak ingin kembali? bagaimana dengan
> konflik hak atas tanah? dsb, harus terjawab dulu. Intinya kita ingin tahu
> "Masyarakat Aceh sendiri maunya bagaimana?" Tapi justru itu yang belum
> katahuan arah jawabannya. Jadi kita masih coba-coba. Idealnya,
> masyarakat Aceh sendirilah (tentunya yang selamat dan peduli) yang harus
> menolong dan menentukan masa depannya sendiri. Saya tahu persis ini
> sulit. Pokoknya pusing lah!
> Kesulitan teknis ada juga, yaitu ketiadaan data teknis (kondisi
> sebelumnya) dan peta2 yang akurat (1:5000 atau 1:10.000). Kita sedang
> usaha cari/buat/interpret.
> Jadi, kalau networknya Hengki bisa dimobilisasi untuk penyediaan peta2
> itu, pasti memudahkan pekerjaan kami.
>
> Rencana selanjutnya, kalau 'reconstruction program' itu sudah tersusun
> maka akan dijadikan 'blue-print' untuk membangun Aceh kembali oleh BOK
> nanti (sampai sekarang belum jelas bagaimana binatangnya, baru keputusan
> politik).
>
> Info lebih lanjut bisa diikuti di www.acehreconstruction.bappenas.go.id
> (tapi maaf kalau masih banyak yang underconstruction).
>
> Sementara segitu dulu. Salam
>
> Uwo (AR'77)
>
>
> ----- Original Message -----
> From: Triharyo soesilo
> To: itb77-DzvTHOYnpihaCN38hz+VB57PR6L3/7vP@xxxxxxxxxxxxxxxx
> Sent: Thursday, January 27, 2005 11:26 PM
> Subject: [itb77] e-mail - Kisah tambahan tentang Operasi peduli Aceh &
> USAID
>
>
> Rekans 77
>
> Masih seputar Aceh, saya mau sedikit sharing sebuah pengalaman & juga
> cari masukan rekan-rekan lain yang mungkin mempunyai informasi atau
> pengalaman dalam kegiatan tindak lanjut ("follow-up") setelah "emergency
> relief operation".
>
> Pada tanggal 1 Januari 2005 lalu, karena rasa sedih dengan kehilangan
> karyawan (juga keluarga karyawan) di Aceh, saya menyempatkan diri untuk
> mengirim e-mail pribadi ke sahabat2 saya di seluruh dunia (termasuk
> beberapa CEO). Saya ceritakan apa yang terjadi pada sebuah perusahaan
> Indonesia akibat gempa & Tsunami di Aceh. Cerita tersebut antara lain
> tentang sumbangan yang sangat diluar dugaan, karyawan yg tidak merayakan
> tahun baru karena sibuk mengepak sumbangan, kisah tentang karyawan yang
> kehilangan seluruh desanya karena hilang tersapu ombak, laporan evakuasi
> mayat yang sulit sekali oleh team Rekayasa, & juga informasi tentang
> pengeboran air oleh team dari perusahaan kami dll.
>
> ........e-mail saya sifatnya hanya curhat kesedihan & meminta doa dari
> para sahabat di seluruh dunia. Saya sama sekali tidak meminta sumbangan
> kepada mereka. Tujuan e-mail saya hanya untuk mengurangi kepedihan hati
> saja.
>
> Namun, saya tidak menyangka ternyata e-mail tersebut dibaca & mendapat
> tanggapan dari para sahabat dari seluruh pelosok dunia seperti dari
> Afrika selatan, Amerika serikat, Jerman, Spanyol, Inggris, Jepang
> (respon terbanyak) dll. Banyak sekali e-mail2 pribadi yang saya terima
> dengan isi yang diluar dugaan saya . E-mail saya juga ternyata diforward
> ke para pimpinan di perusahaan2 mereka. Sehingga ada beberapa CEO yang
> langsung menginstruksikan untuk menyumbang melalui red cross &
> organisasi2 sosial. Ada sahabat yang mengorganize pengumpulan sumbangan,
> ada yang mengirim dokter, ada yang mencoba membantu membantu moratorium
> hutang, ada yang ingin mengirim alat penjernih air dll.
>
> Salah satu follow-up yang menarik adalah tindakan dari CEO shaw group
> USA namanya Abraham (panggilannya Abe). Abe langsung menyumbangkan uang
> US $ 300.000 dalam bentuk asistensi team untuk membangun kembali Aceh
> bekerja sama dengan PT Rekayasa Industri. Shaw group adalah kontraktor
> terbesar dari US Army corps of engineers (pasukan Zeni-nya Amerika).
> Seluruh bantuan US AID selalu disalurkan melalui US Army corps of
> engineers. Jadi sekarang tiba-tiba di kantor kami ada 5 orang engineers
> dari USA yang ahli dalam rekonstruksi sebuah kota yang hancur akibat
> terkena typhoon atau bencana raksasa. Tiba-tiba kami harus menyelesaikan
> rekomendasi dalam 90 hari kepada US AID di American embassy untuk segera
> dikirim ke President Bush dalam rangka pencairan dana US $ 350 juta
> bantuan Amerika untuk Aceh.
>
> .......adakah kawan-kawan yang pernah pengalaman dalam pekerjaan seperti
> ini ?. adakah yang bisa memberikan masukan kira-kira proyek apa yang
> menjadi priority ?. Mungkin Uwo, Pungki, Karlina atau rekan2 lain bisa
> membantu. Thanks
>
> Triharyo Soesilo (Hengki)
> PT Rekayasa Industri
> Phone : 062-21-7988700 ext 100 Mobile : +62811141046
> Fax office : +622179180912 Fax home : +62213926028
> Triharyo Soesilo
>
--
Milis Internal alumni ITB Bandung, angkatan 1977
Yayasan ITB 77
Yayasan Bhakti Ganesha
Bank Niaga Cabang Jakarta Tebet
Rekg No.025.01.23831.00.8
BCA KCP - Tebet
Rekg No.092.3000850
BNI Cabang Tebet
Rekg No.1175 9942
Webnews & Online archive:
http://itb77-news.bhaktiganesha.or.id
--
Milis Internal alumni ITB Bandung, angkatan 1977
Yayasan ITB 77
Yayasan Bhakti Ganesha
Bank Niaga Cabang Jakarta Tebet
Rekg No.025.01.23831.00.8
BCA KCP - Tebet
Rekg No.092.3000850
BNI Cabang Tebet
Rekg No.1175 9942
Webnews & Online archive:
http://itb77-news.bhaktiganesha.or.id
|