|
Rekan2, khususnya Hengki,
Saya salut atas concern Anda.
Menghadapi rekonstruksi Aceh, saya yakin belum
ada 'ahli' yang punya pengalaman memadai. Kompleksitasnya mungkin lebih berat
dari Hiroshima 1945.
Soal program rekonstruksi (Tata Ruang) dewasa ini
Bappenas dan PU sedang mengerjakannya (akan dibantu Unsyiah juga nantinya).
Sekarang masih tahap awal. Mudah2an pertengahan
Maret sudah terlihat bentuknya. Saya kebetulan menjadi bagian dari tugas itu.
Pendekatannya: akan dibuat beberapa opsi tata
ruang (dari yg mirip existing Aceh sampai Aceh Baru), kemudian
dikonsultasipublikkan berulang kali, di Jakarta maupun di Aceh sana.
Maksudnya biar masyarakat Aceh sendiri yang memilih mana yang paling sesuai.
Pemerintah hanya ambil inisiatif awal dan jadi fasilitator saja. Berbagai
masukan dari pihak lain (NGO, akademia, pakar, UN system, Bi-Multilateral Org)
juga banyak kita terima. Pungki ada di bagian ini!
Persoalan terbesar bukan dari segi ilmiah-teknis,
tetapi dari segi sosio-kulturnya.
Pertanyaan2 seperti: apakah rakyat akan kembali ke
tempat asal? berapa banyak, bagaimana dengan yang tidak ingin kembali?
bagaimana dengan konflik hak atas tanah? dsb, harus terjawab dulu.
Intinya kita ingin tahu "Masyarakat Aceh sendiri maunya bagaimana?" Tapi
justru itu yang belum katahuan arah jawabannya. Jadi kita masih
coba-coba. Idealnya, masyarakat Aceh sendirilah (tentunya yang selamat dan
peduli) yang harus menolong dan menentukan masa depannya sendiri. Saya
tahu persis ini sulit. Pokoknya pusing lah!
Kesulitan teknis ada juga, yaitu ketiadaan data
teknis (kondisi sebelumnya) dan peta2 yang akurat (1:5000 atau 1:10.000). Kita
sedang usaha cari/buat/interpret.
Jadi, kalau networknya Hengki bisa dimobilisasi
untuk penyediaan peta2 itu, pasti memudahkan pekerjaan kami.
Rencana selanjutnya, kalau 'reconstruction program'
itu sudah tersusun maka akan dijadikan 'blue-print' untuk membangun Aceh kembali
oleh BOK nanti (sampai sekarang belum jelas bagaimana binatangnya,
baru keputusan politik).
Sementara segitu dulu. Salam
Uwo (AR'77)
----- Original Message -----
Sent: Thursday, January 27, 2005 11:26
PM
Subject: [itb77] e-mail - Kisah tambahan
tentang Operasi peduli Aceh & USAID
Rekans 77
Masih seputar Aceh, saya mau sedikit
sharing sebuah pengalaman & juga cari masukan rekan-rekan lain yang
mungkin mempunyai informasi atau pengalaman dalam kegiatan tindak lanjut
("follow-up") setelah "emergency relief operation".
Pada tanggal 1 Januari 2005
lalu, karena rasa sedih dengan kehilangan karyawan (juga keluarga karyawan) di Aceh, saya menyempatkan diri untuk
mengirim e-mail pribadi ke sahabat2 saya di seluruh dunia (termasuk beberapa CEO). Saya ceritakan apa yang terjadi
pada sebuah perusahaan Indonesia akibat gempa & Tsunami di Aceh. Cerita
tersebut antara lain tentang sumbangan yang sangat diluar dugaan, karyawan yg
tidak merayakan tahun baru karena sibuk mengepak sumbangan, kisah tentang
karyawan yang kehilangan
seluruh desanya
karena hilang tersapu ombak, laporan evakuasi
mayat yang sulit sekali oleh team
Rekayasa, & juga
informasi tentang pengeboran air oleh team dari perusahaan kami
dll.
........e-mail saya sifatnya hanya
curhat kesedihan & meminta doa
dari para sahabat di seluruh dunia.
Saya sama sekali tidak meminta sumbangan kepada mereka. Tujuan e-mail saya hanya untuk mengurangi kepedihan
hati saja.
Namun, saya tidak menyangka
ternyata e-mail tersebut
dibaca & mendapat
tanggapan dari para sahabat dari seluruh pelosok dunia
seperti dari Afrika selatan, Amerika serikat, Jerman, Spanyol, Inggris, Jepang
(respon terbanyak) dll. Banyak sekali e-mail2 pribadi yang saya terima dengan isi yang diluar dugaan
saya . E-mail saya juga
ternyata diforward ke para
pimpinan di perusahaan2 mereka.
Sehingga ada beberapa CEO yang
langsung menginstruksikan untuk menyumbang
melalui red cross & organisasi2 sosial. Ada sahabat yang mengorganize pengumpulan
sumbangan, ada yang mengirim dokter, ada yang mencoba membantu membantu moratorium hutang, ada yang
ingin mengirim alat penjernih air dll.
Salah satu
follow-up yang menarik adalah tindakan dari CEO shaw group USA namanya Abraham
(panggilannya Abe). Abe langsung menyumbangkan uang US $ 300.000 dalam bentuk
asistensi team untuk membangun kembali Aceh bekerja sama dengan PT Rekayasa
Industri. Shaw group adalah kontraktor terbesar dari US Army corps of
engineers (pasukan Zeni-nya Amerika). Seluruh bantuan US AID selalu disalurkan
melalui US Army corps of engineers. Jadi sekarang tiba-tiba di kantor kami ada
5 orang engineers dari USA yang ahli dalam rekonstruksi sebuah kota yang
hancur akibat terkena typhoon atau bencana raksasa. Tiba-tiba kami harus
menyelesaikan rekomendasi dalam 90 hari kepada US AID di American embassy
untuk segera dikirim ke President Bush dalam rangka pencairan dana US $
350 juta bantuan Amerika untuk Aceh.
.......adakah kawan-kawan yang pernah
pengalaman dalam pekerjaan seperti ini ?. adakah yang bisa memberikan masukan
kira-kira proyek apa yang menjadi priority ?. Mungkin Uwo, Pungki, Karlina
atau rekan2 lain bisa membantu. Thanks
Triharyo Soesilo
(Hengki)
PT Rekayasa Industri
Phone : 062-21-7988700 ext 100
Mobile : +62811141046
Fax office : +622179180912
Fax home : +62213926028
Triharyo Soesilo
|