logo       

Gerakan: msg#00111

Subject: Gerakan
Rekan-rekan sekalian, khususnya Yayak yang baik,

sebagai seorang yang bukan ahli kejiwaan (malah mungkin sakitnya belum
sembuh betul) dan bukan aktifis pendidikan alternatif, saya punya gagasan
untuk Yayak dan teman-teman lain di Aceh.

Dalam periode tiga minggu setelah tsunami terjadi, ada beberapa inisiatif
untuk membantu proses pemulihan trauma diantara korban tsunami di Aceh
dengan melakukan kegiatan bersama anak-anak di lokasi tenda korban.

Kak Seto sudah berkunjung ke Aceh, meskipun sepertinya dia tidak membawa
SIKOMO. Tentara AS membawa teater boneka dan tampil didepan anak-anak
korban tsunami dengan peliputan berita internasional yang gede-gedean. 
Yayasan Pulih, RPUK dan beberapa organisasi lain juga sudah melakukan
perjalanan di Aceh, mengawali pembicaraan dan perencanaan kegiatan untuk
konseling bagi korban tsunami.  Psikolog muda pendiri Pulih, Livia, adalah
salah satu anggota rombongan yang bersama-sama Hendra, Derry dan Jaslie
berada di Aceh pada minggu kedua setelah tsunami.  Livia, masuk di Kompas
halaman terakhir, profil hampir setengah halaman, kemarin.

PMI (Red Cross atau Red Crescent) juga membawa pakar-pakar psikologi
korban bencana ke Aceh dan mulai membuat rencana kerja untuk membantu
proses pemulihan korban tsunami dari trauma.  Rafli, seniman dongeng Aceh
yang lagu-lagunya dibajak Metro (ditayangkan gratisan) dalam berbagai
liputan drama tsunami, sudah melakukan kegiatan bercerita dan berkeliling
di banyak tenda korban tsnumai dengan lagu-lagu (cerita) baru yang
dibuatnya dengan tema tsunami.  Rafli hari ini dikirim ke Metro untuk
diwawancara, dan tetap saja lagunya dimanfaatkan untuk kebutuhan komersial
Metro tanpa sesenpun bantuan untuk kegiatan bung Rafli yang berkeliling ke
berbagai tenda korban tsunami di Aceh.  Minggu depan, insya Allah Rafli
akan ditampilkan di kolom Kompas yang serupa dengan Livia.

Untuk teman-teman yang tidak mengikuti kiprah Yayak, selain hobi melukis
dan membuat kalender yang membuatnya mengungsi ke Jerman awal 1990an;
sekitar 20 tahun yang lalu Yayak, Susiawan, Retno, Agus Burhan dan
beberapa teman lain menjadi motor dari sebuah kegiatan menggambar bagi
anak-anak usia Sekolah Dasar yang diberi judul "Anak Merdeka".  Gerakan
tersebut tidak hanya melatih ekspresi seni dari anak-anak miskin perkotaan
di Bandung, akan tetapi juga melatih kepekaan sosial dan membuka wawasan
mereka terhadap berbagai hal disekitarnya.  Kegiatan "Anak Merdeka"
berkembang luas di kota-kota lain di Indonesia, termasuk di Jakarta, pada
pertengahan 1980an.

Rafli, Livia, Seto dan Yayak adalah tokoh yang sudah membuktikan karya
mereka yang saat ini sangat dibutuhkan oleh anak-anak korban tsnumai di
Aceh.  Pertanyaan saya sekarang, bisa kah Yayak atau teman-teman yang lain
membantu mengawali atau mendukung Gerakan serupa "Anak Merdeka" di Aceh.

Saya melihat adanya kebutuhan kakak-kakak yang dapat menemani adik-adik
usia Sekolah Dasar korban tsunami untuk mengambar, membuat topeng dari
bubuk kertas koran, melukis dinding-dinding kampung, berdarmawisata naik
angkutan umum, mementaskan drama, membaca, bercerita dan tertawa bersama. 
Senyum dan tawa anak-anak itu akan menambah semangat dan mempercepat
pulihanya korban tsunami yang dewasa dan orang tua mereka.

Selain Yayak, barangkali Agus Burhan, Retno, Yayang dan teman-teman yang
kemarin sempat membantu Anak Merdeka nya Yayak dan Susiawan tertarik untuk
membantu memfasilitasi kegiatan serupa.

Common guys, old soldiers never die ..... they are perhaps loosing hair
and accumulating fat, but still have some fires in their belly.

Salam, Pungki




--  
Milis Internal alumni ITB Bandung, angkatan 1977 
Yayasan ITB 77
Yayasan Bhakti Ganesha 
Bank Niaga Cabang Jakarta Tebet  
Rekg No.025.01.23831.00.8 

BCA KCP - Tebet
Rekg No.092.3000850

BNI Cabang Tebet
Rekg No.1175 9942 

Webnews & Online archive:
http://itb77-news.bhaktiganesha.or.id




<Prev in Thread] Current Thread [Next in Thread>