Saya
dapat kiriman artikel yang menurut saya menarik, apakah ada yang pernah baca
dan mendalamai hal berikut ini ?? Any comments ?? Anybody ??
Salam
perdamaian dan persahabatan,
Nanang Untung
TUHAN
ALLAH ADALAH PUSAT SEGALA KEHIDUPAN
Tuhan
adalah pusat alam semesta dan pusat segala kehidupan karena sebelum semuanya terjadi
di dunia ini Tuhanlah yang pertama kali ada. Tuhan tidak hanya menciptakan alam
semesta beserta isinya tetapi juga bertindak sebagai pengatur, karena segala
sesuatunya bergerak menurut rencana dan atas ijin serta kehendakNYA
Pusat yang dimaksud dalam pengertian ini
adalah sumber yang dapat memberikan penghidupan, keseimbangan dan
kestabilan,yang dapat juga memberi kehidupan dan penghubung individu dengan
dunia atas. Pandangan orang Jawa yang demikian biasa disebut Manunggaling
Kawula Lan Gusti, yaitu pandangan yang beranggapan bahwa kewajiban moral
manusia adalah mencapai harmoni dengan kekuatan terakhir dan pada kesatuan
terakhir, yaitu manusia menyerahkan dirinya selaku kawula terhadap Gusti Allah.
Upaya
manusia untuk memahami keberadaannya diantara semua makhluk yang tergelar di
jagad raya, yang notabene adalah makhluk, telah membawa manusia dalam
perjalanan pengembaraan yang tak pernah berhenti. Pertanyaan tentang dari mana
dan mau kemana (sangkan paraning dumadi) perjalanan semua makhluk terus
menggelinding dari jaman ke jaman sejak adanya " ada ". Pertanyaan
yang amat sederhana tetapi substansiil tersebut, ternyata mendapatkan jawaban
yang justru merupakan pertanyaan-pertanyaan baru dan sangat beragam, bergantung
dari kualitas sang penanya.
Perkembangan
kecerdasan dan kesadaran manusia telah membentuk budaya pencarian yang tiada
henti. Apalagi setelah muncul kesadaran religius yang mempertanyakan " apa
atau siapa yang membuat ada " semakin menggiring manusia ke dalam
petualangan meraba-raba di kegelapan rimba raya pengetahuan.
Di
dalam kegelapan itulah benturan demi benturan akibat perbedaan pemahaman
terjadi. Benturan paling purba berawal dari kisah Adam dan Hawa yang
melemparkan mereka dari surga. Benturan terkadang teramat dahsyat sehingga
" perlu " genangan darah dan air mata, yang dipelopori oleh Habil dan
Qabil. Kesemuanya bermuara pada kata sakti yang bernama " kebenaran "
yang sungguh sangat abstrak dan absurd. Tetapi bukankah hidup dan kehidupan ini
abstrak dan absurd ? sehingga tak terjabarkan oleh akal-pikir yang paling
canggih sekalipun.
Ketika
akal-pikir tak lagi mampu menjawab pertanyaan diatas, manusia mulai menggali
jawaban dari " rasa " sampai akhirnya manusia merasa seolah-olah
telah menemukan apa yang dicari. Tetapi ketika pengembaraan rasa tersebut sampai pada titik simpang, dimana di
satu sisi muncul kebutuhan untuk melembagakan hasil " temuan rasa "
tersebut dan di sisi lain menolak
pelembagaan, kembali terjadi benturan-benturan yang sesungguhnya sangat
tidak perlu terjadi. Sesuatu yang tidak akan pernah diketahui, baik dengan
akal-pikir dan rasa, bahkan intuisi sekalipun. Sebab " dia " adalah
Sang Maha Gaib. Rumusan apapun tentang
" dia " seperti apa yang telah dilakukan oleh manusia pasti
akan menemui kegagalan. Karena " dia " tidak pernah merumuskan "
dirinya " secara kongkrit, kecuali dalam bentuk simbol-simbol dan
lambang-lambang yang metaforik.
Perjalanan
panjang manusia yang menempuh jarak jutaan tahun untuk mendapatkan jawaban
pasti tentang " dia " menjadi amat bervariasi. Tetapi kepastian itu
sendiri tidak pernah dijumpai. Sehingga sebagian manusia menjadi putus asa,
karena perjalanan pencariannya tak ubahnya seperti tragedi Syshipus, sebuah
perjalanan kehilangan.
Sementara
untuk sebagian manusia lainnya, semangat pencariannya justru semakin menggebu.
Mereka tidak pernah patah, karena mereka tidak terpukau oleh hasil akhir. Telah
muncul kesadaran baru pada mereka, bahwa yang terpenting adalah proses
pencarian itu sendiri. Bertemu atau tidak bukan lagi menjadi pangkal kerisauan,
karena mereka menyadari, bahwa keputusan tidak berada di tangan manusia.
Nah
mereka inilah para pejalan spiritual, sang pencari sejati yang selalu haus pada
pengalaman empiris di belantara pengetahuan tentang hal-hal yang abstrak,
absurd dan gaib. Dan mereka adalah kita.
Syarat
utama bagi para pejalan spiritual adalah kebersediaannya dan kemampuannya
menghilangkan atau menyimpan untuk sementara pemahaman dogmatis yang telah
dimilikinya, dan mempersiapkan diri dengan keterbukaan hati dan pikiran untuk merambah jagad ilmu pengetahuan (
kawruh ) non-ragawi. Ilmu yang
gawat dan wingit, karena sifatnya sangat mempribadi dan tidak bisa diseragamkan
dengan idiom-idiom yang ada, dimana idiom-idiom itu hanya bisa dipergunakan
sebagai rambu penunjuk yang kebenarannya juga sangat relative.
Pengalaman
spiritual adalah pengalaman yang sangat unik dan sangat individual sifatnya,
sehingga kaidah-kaidah yang paling
dogmatispun tak akan mampu memberikan hasil yang sama bagi individu yang
berbeda. Perjalanan spiritual adalah proses panning upaya manusia untuk
pencapaian tataran-kahanan ( strata, maqom ) pembebasan, yaitu kemerdekaan
untuk menjadi merdeka ( freedom to be free ) dari segala bentuk keterikatan dan
kemelekatan serta kepemilikan yang membelenggu, baik yang bersifat jasmani
maupun rohani, seperti dijalani oleh para penuntun spiritual dimasa lampau.
Jika
persyaratan diatas sudah disepakati, barulah terasa ada perlunya perjalanan
wisata spiritual yang baru saja kita lakukan. Jika terjadi pengalaman mistis
bagi satu atau beberapa orang, harus disikapi sebagai pengalaman yang bersifat
" sangat individual " yang tidak bisa diseragamkan.
Have
a safe journey !!!