logo       

Negeri AMPLOP: msg#00018

Subject: Negeri AMPLOP
Barangkali bermanfaat untuk renungan atau guyonan ?:-(

Salam
AZA

Forwarded  message :
...
"Di negeri ini, hanya malaikat, bayi, dan orang gila yang tidak bisa
disogok." Dia mengatakan itu sambil tertawa. Baginya itu lelucon.
Di negeri ini, negeri amplop ini, korupsi, suap, penyelewengan telah menjadi
lelucon abadi. Dan, kita tertawa menyaksikannya.
...
========
sebutan lain untuk negeri indonesia, yaitu negeri amplop :).
http://www.republika.co.id/ASP/kolom_detail.asp?id=168595&kat_id=19
Ini Negeri Amplop
Oleh : Asro Kamal Rokan

Pak Irwan pengusaha pribumi. Produknya telah menembus pasar Eropa dan
Amerika Latin. Berbagai penghargaan dan akreditasi mutu skala nasional
maupun internasional telah diraihnya. Untuk ukuran pengusaha
sukses,penampilannya terkesan sangat sederhana. Pekan lalu bersama sejumlah
pengusaha, Irwan bertemu dengan Menteri Luar Negeri Hasan Wirajuda dalam
acara sarapan pagi.
Bermacam persoalan mereka sampaikan. Dan, Irwan pun menyampaikan
pengalamannya. "Pak Menlu, saya ini mengutamakan legalitas. Prosedur dan
izin saya ikuti.  Saya ingin semua berjalan benar. Namun, jika jalan yang
benar itu tetap kami tempuh, ya ... bangkrut." Lelaki berpeci itu
melanjutkan, "Meski semua izin lengkap, namun di jalan polisi menahan
kontainer saya.  Alasannya macam-macam. Ya sudah, daripada barang terlambat
sampai, yang akan berakibat fatal, kasih amplop saja.
Pak Menlu, dalam sidang kabinet nanti, tolonglah soal-soal seperti itu
dibahas."
Kisah Irwan-yang sudah menjadi suatu yang biasa- membuat hadirin dalam
pertemuan dengan Menlu itu tertawa. Aparat keamanan yang meminta uang,
pengusaha yang terdorong untuk menyuap, birokrasi berbelit, dan berbagai
penyimpangan lainnya telah menjadi keseharian-suatu yang telah dianggap
wajar. Orang tidak lagi marah atau protes, bahkan justru tertawa.
Ketika Kwik Kian Gie berteriak tentang kerugian negara mencapai Rp 300
triliun akibat penggelapan pajak, kebocoran APBN, dan penggelapan hasil
sumber daya alam, orang tidak lagi terperanjat, bahkan merasa pernyataan itu
sebagai lelucon: Kwik yang berada di pusat kekuasaan, dalam kabinet yang
dipimpin ketua umum partainya, kok tetap saja bertahan.
Negeri ini telah menjadi lelucon untuk ditertawai.  Uniknya, lelucon itu tak
pernah berhenti meski pemerintah silih berganti, pemain lama diganti
pendatang baru, tata panggung telah berubah berkali-kali. Penonton pun telah
berganti generasi.  Itulah lelucon abadi, tentang negeri ini, negeri amplop,
penduduknya mudah tersenyum dan sangat santun.
Ketika reformasi diyakini sebagai jalan untukmemberantas korupsi, yang
tumbuh justru korupsi baru. Partai-partai buah dari kebebasan, sebagian di
antaranya mengubah diri menjadi "perusahaan jasa"-mengerjakan order, karena
partai harus hidup dan memiliki dana. Mereka juga mengintai posisi menteri,
karena dari situ terbuka peluang membiayai partai.
Jika dahulu korupsi dilakukan sendiri-sendiri dan tersembunyi,kini terbuka
dan berjamaah.
Ini negeri amplop.
Orang-orang miskin harus mengeluarkan amplop untuk mendapatkan surat
keterangan miskin. Orang-orang miskin yang ditangkap karena mencuri makanan,
terpaksa mengeluarkan uang untuk keluar dari tahanan.  Beruntunglah
orang-orang kaya. Mereka memberikan amplop untuk mendapatkan uang lebih
besar. Besar amplopnya, besar pula keuntungan yang diraihnya.
Ini negeri amplop.
Pemerintah, polisi, jaksa, hakim, para pejabat, alim ulama, cendekiawan,
politisi tahu soal itu sejak dahulu, tapi budaya amplop tetap saja
berkembang dan bahkan telah menjadi lelucon. Dengan uang semua dapat
diperoleh, kecuali rasa malu dan harga diri.
Seorang anggota parlemen-yang ikut membuat
Undang-undang Nomor 30 Tahun 2002 tentang Komisi
Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi-dan kini telah
menjadi orang kaya, mengatakan,
"Di negeri ini, hanya malaikat, bayi, dan orang gila yang tidak bisa
disogok." Dia mengatakan itu sambil tertawa. Baginya itu lelucon.
Di negeri ini, negeri amplop ini, korupsi, suap, penyelewengan telah menjadi
lelucon abadi. Dan, kita tertawa menyaksikannya.

=====
Siti Nurwandini (Ms.)



-- Milis Internal alumni ITB Bandung, angkatan 1977 Yayasan ITB 77-Yayasan Bhakti Ganesha Bank Niaga Cabang Jakarta Tebet Rekg No.025.01.23831.00.8
Webnews & Online archive:
http://itb77-news.bhaktiganesha.or.id




<Prev in Thread] Current Thread [Next in Thread>