logo       

Re: Nelson Tansu, Profesor Termuda asal Indonesia di Lehigh University, AS: msg#00101

Subject: Re: Nelson Tansu, Profesor Termuda asal Indonesia di Lehigh University, AS



On Fri, 12 Mar 2004 guzghul-Z1dpnsVmcXIMaY++rXgPVg@xxxxxxxxxxxxxxxx wrote:

> Sebagai catatan saja:
> Agar tidak rancu antara (Assistant) Professor yang disandang Nelson Tanu 
> dengan Professor yang kita kenal di Indonesia....
>
> Professor di Indonesia umumnya setara dengan (Full) Professor di US. 
> Assistant Professor di US adalah tingkat pertama seorang dosen dalam 
> mengembangkan karirnya sebagai pengajar di university/college, biasanya 
> mereka adalah PhDs yang baru selesai. Seorang Assistant Professor harus 
> mengajar ber-tahun2 dan juga melakukan penelitian2 yang harus dibuktikan 
> dalam jurnal2 ilmiah, sebelum dapat dipertimbangkan menjadi Associate 
> Professor. Setelah jadi Associate Professor, maka bebannya makin berat, yaitu 
> kembali mengajar ber-tahun2 dan melakukan ber-macam2 penelitian yang harus 
> terbit dalam jurnal2 ilmiah, sebelum dapat dipertimbangkan menjadi (Full) 
> Professor.
>
> Oh ya, kalau cuma lulusan S1 atau S2/Master's, biasanya tidak ada yang bisa 
> jadi Assistant Professor (apalagi Full Professor), tidak seperti di Indonesia 
> yang banyak Professor yang hanya S1 atau S2......:(  Biasanya mereka menjadi 
> "Lecturer".
>
Sejak beberapa tahun lalu, ITB telah menetapkan bahwa hanya yang telah
berpendidikan S3 lah yang dapat dipromosikan menjadi profesor.

eniman

> Tapi terlepas dari itu, memeng hebat ya Nelson Tansu ini.....
>
> Have a nice weekened.....
>
> Cheers,
> feRDy mAd (AR77)
>
> ----- Original Message -----
> From: nang untung <u_nanang-/E1597aS9LQAvxtiuMwx3w@xxxxxxxxxxxxxxxx>
> Date: Friday, March 12, 2004 8:51 am
> Subject: [itb77] Re: Nelson Tansu, Profesor Termuda asal Indonesia di Lehigh 
> University, AS
>
> >
> > Bacaan Selingan yang membanggakan untuk week end..semoga
> > bermanfaat...
> > Nanang
> >
> > Nelson Tansu, Profesor Termuda asal Indonesia di Lehigh
> > University, AS
> >
> > Jago Seminar di Mancanegara, tapi Dikira Mahasiswa S-1. Banyak
> > orang di berbagai penjuru dunia yang berusaha menggapai mimpi di
> > Amerika. Salah seorang yang berhasil merengkuhnya adalah warga
> > negara Indonesia. Dia bernama Nelson Tansu. Di AS, dia termasuk
> > ilmuwan ternama dengan tiga hak paten di tangannya.
> >
> > (RAMADHAN POHAN, Washington DC)
> >
> > NAMA lengkapnya adalah Prof Nelson Tansu PhD. Setahun lalu, ketika
> > baru
> > berusia 25 tahun, dia diangkat menjadi guru besar (profesor) di Lehigh
> >
> > University, Bethlehem, Pennsylvania 18015, USA. Usia yang
> > tergolong sangat belia dengan statusnya tersebut.
> >
> > Kini, ketika usianya menginjak 26 tahun, Nelson tercatat sebagai
> > profesor termuda di universitas bergengsi wilayah East Coast,
> > Negeri Paman Sam itu. Sebagai dosen muda, para mahasiswa dan
> > bimbingannya justru rata-rata sudah berumur. Sebab, dia mengajar
> > tingkat master (S-2), doktor (S-3), bahkan post doctoral.
> >
> > Prestasi dan reputasi Nelson cukup berkibar di kalangan akademisi AS.
> >
> > Puluhan hasil risetnya dipublikasikan di jurnal-jurnal internasional.
> >
> > Dia sering diundang menjadi pembicara utama dan penceramah di berbagai
> >
> > seminar. Paling sering terutama menjadi pembicara dalam pertemuan-
> > pertemuan intelektual, konferensi, dan seminar di Washington DC.
> > Selain itu, dia sering datang ke berbagai kota lain di AS. Bahkan,
> > dia sering pergi ke mancanegara seperti Kanada, serta sejumlah
> > negara di Eropa, dan Asia.
> >
> > Yang mengagumkan, sudah ada tiga penemuan ilmiahnya yang
> > dipatenkan di
> >
> > AS, yakni bidang semiconductor nanostructure optoelectronics
> > devices dan
> >
> > high power semiconductor lasers. Di tengah kesibukannya melakukan
> > riset-riset lainnya, dua buku Nelson sedang dalam proses
> > penerbitan. Bukan main. Kedua buku tersebut merupakan buku teks
> > (buku wajib pegangan, Red) bagi mahasiswa S-1 di Negeri Paman Sam.
> >
> > Karena itu, Indonesia layak bangga atas prestasi anak bangsa di negeri
> >
> > rantau tersebut. Lajang kelahiran Medan, 20 Oktober 1977, itu sampai
> >
> > sekarang masih memegang paspor hijau berlambang garuda. Kendati belum
> >
> > satu dekade di AS, prestasinya sudah segudang. Ke mana pun dirinya
> > pergi, setiap ditanya orang, Nelson selalu mengenalkan diri
> > sebagai orang Indonesia. Sikap Nelson itu sangat membanggakan di
> > tengah banyak tokoh kita yang malu mengakui Indonesia sebagai
> > tanah kelahirannya.
> >
> > "Saya sangat cinta tanah kelahiran saya. Dan, saya selalu ingin
> > melakukan yang terbaik untuk Indonesia," katanya, serius.
> >
> > Di Negeri Paman Sam, kecintaan Nelson terhadap negerinya yang
> > dicap sebagai terkorup di Asia tersebut dikonkretkan dengan
> > memperlihatkan
> > ketekunan serta prestasi kerjanya sebagai anak bangsa. Saat berbicara
> >
> > soal Indonesia, mimik pemuda itu terlihat sungguh-sungguh dan jauh
> > dari
> > basa-basi.
> >
> > "Bangsa Indonesia adalah bangsa yang besar dan merupakan bangsa yang
> >
> > mampu bersaing dengan bangsa-bangsa besar lainnya. Tentu saja jika
> >
> > bangsa kita terus bekerja keras," kata Nelson menjawab koran ini.
> >
> > Dia adalah anak kedua di antara tiga bersaudara, buah pasangan
> > Iskandar
> > Tansu dan Lily Auw yang berdomisili di Medan, Sumatera Utara.
> > Kedua orang tua Nelson adalah pebisnis percetakan di Medan. Mereka
> > adalah lulusan universitas di Jerman. Abang Nelson, Tony Tansu,
> > adalah master dari Ohio, AS. Begitu juga adiknya, Inge Tansu,
> > adalah lulusan Ohio State University (OSU). Tampak jelas bahwa
> > Nelson memang berasal dari lingkungan keluarga berpendidikan.
> >
> > Posisi resmi Nelson di Lehigh University adalah assistant
> > professor di bidang electrical and computer engineering. Di AS,
> > itu merupakan gelar untuk guru besar baru di perguruan tinggi.
> > "Walaupun saya adalah profesor di jurusan electrical and computer
> > engineering, riset saya sebenarnya lebih condong ke arah fisika
> > terapan dan quantum electronics," jelasnya.
> >
> > Sebagai cendekiawan muda, dia menjalani kehidupannya dengan tiada
> > hari tanpa membaca, menulis, serta melakukan riset. Tentunya, dia
> > juga menyiapkan materi serta bahan kuliah bagi para mahasiswanya.
> > Kesibukannya tersebut, jika meminjam istilah di Amerika, bertumpu
> > pada tiga hal. Yakni, learning, teaching, and researching. Boleh
> > jadi, tak ada waktu sedikit pun yang dilalui Nelson dengan santai.
> > Di sana, 24 jam sehari dilaluinya dengan segala aktivitas ilmiah.
> > Waktu yang tersisa tak lebih dari istirahat tidur 4-5 jam per hari.
> >
> > Anak muda itu memang enak diajak mengobrol. Idealismenya berkobar-
> > kobar dan penuh semangat. Layaknya profesor Amerika, sosok Nelson
> > sangat bersahaja dan bahkan suka merendah. Busana kesehariannya
> > juga tak aneh-aneh, yakni mengenakan kemeja berkerah dan pantalon.
> >
> > Sekilas, dia terkesan pendiam. Pengetahuan dan bobotnya sering
> > tersembunyi di balik penampilannya yang seperti tak suka bicara.
> > Tapi, ketika dia mengajar atau berbicara di konferensi para
> > intelektual, jati diri akademisi Nelson tampak. Lingkungan
> > akademisi, riset, dan kampus memang menjadi dunianya. Dia selalu
> > peduli pada kepentingan serta dahaga pengetahuan para mahasiswanya
> > di kampus.
> >
> > Ada yang menarik di sini. Karena tampangnya yang sangat belia, tak
> > sedikit insan kampus yang menganggapnya sebagai mahasiswa S-1 atau
> > program master. Dia dikira sebagai mahasiswa umumnya. Namun, bagi
> > yang mengenalnya, terutama kalangan universitas atau jurusannya
> > mengajar, begitu bertemu dirinya, mereka selalu menyapanya hormat:
> > Prof Tansu.
> >
> > "Di semester Fall 2003, saya mengajar kelas untuk tingkat PhD tentang
> >
> > physics and applications of photonics crystals. Di semester Spring
> > 2004,
> > sekarang, saya mengajar kelas untuk mahasiswa senior dan master
> > tentang semiconductor device physics. Begitulah," ungkap Nelson
> > menjawab soal kegiatan mengajarnya.
> >
> > September hingga Desember atau semester Fall 2004, jadwal mengajar
> > Nelson sudah menanti lagi. Selama semester itu, dia akan mengajar
> > kelas untuk tingkat PhD tentang applied quantum mechanics for
> > semiconductor nanotechnology.
> >
> > "Selain mengajar kelas-kelas di universitas, saya membimbing
> > beberapa mahasiswa PhD dan post-doctoral research fellow di Lehigh
> > University ini," jelasnya saat ditanya mengenai kesibukan lainnya
> > di kampus.
> >
> > Nelson termasuk individu yang sukses menggapai mimpi Amerika
> > (American dream). Banyak imigran dan perantau yang mengadu nasib
> > di negeri itu dengan segala persaingannya yang superketat. Di
> > Negeri Paman Sam tersebut, ada cerita sukses seperti aktor yang
> > kini menjadi Gubernur California Arnold Schwarzenegger yang
> > sebenarnya adalah imigran asal Austria. Kemudian, dalam Kabinet
> > George Walker Bush sekarang juga ada imigrannya, yakni Menteri
> > Tenaga Kerja Elaine L. Chao. Imigran asal Taipei tersebut
> > merupakan wanita pertama Asian-American yang menjadi menteri
> > selama sejarah AS.
> >
> > Negara Superpower tersebut juga sangat baik menempa bakat serta
> > intelektual Nelson. Lulusan SMA Sutomo 1 Medan itu tiba di AS pada
> > Juli 1995. Di sana, dia menamatkan seluruh pendidikannya mulai S-1
> > hingga S-3
> >
> > di University of Wisconsin di Madison. Nelson menyelesaikan
> > pendidikan S-1 di bidang applied mathematics, electrical
> > engineering, and physics. Sedangkan untuk PhD, dia mengambil
> > bidang electrical engineering.
> >
> > Dari seluruh perjalanan hidup dan karirnya, Nelson mengaku bahwa
> > semua suksesnya itu tak lepas dari dukungan keluarganya. Saat
> > ditanya mengenai
> >
> > siapa yang paling berpengaruh, dia cepat menyebut kedua orang
> > tuanya dan
> >
> > kakeknya. "Mereka menanamkan mengenai pentingnya pendidikan sejak
> > saya masih kecil sekali," ujarnya.
> >
> > Ada kisah menarik di situ. Ketika masih sekolah dasar, kedua orang
> > tuanya sering membanding-bandingkan Nelson dengan beberapa
> > sepupunya yang sudah doktor. Perbandingan tersebut sebenarnya
> > kurang pas. Sebab, para sepupu Nelson itu jauh di atas usianya.
> > Ada yang 20 tahun lebih tua. Tapi, Nelson kecil menganggapnya
> > serius dan bertekad keras mengimbangi sekaligus melampauinya.
> > Waktulah yang akhirnya menjawab impian Nelson tersebut.
> >
> > "Jadi, terima kasih buat kedua orang tua saya. Saya memang orang
> > yang suka dengan banyak tantangan. Kita jadi terpacu, gitu,"
> > ungkapnya.
> > Nelson mengaku, mendiang kakeknya dulu juga ikut memicu semangat
> > serta disiplin belajarnya. "Almarhum kakek saya itu orang yang
> > sangat baik, namun agak keras. Tetapi, karena kerasnya, saya malah
> > menjadi lebih tekun dan berusaha sesempurna mungkin mencapai
> > standar tertinggi dalam melakukan sesuatu," jelasnya.
> >
> > Sisihkan 300 Doktor AS, tapi Tetap Rendah Hati
> >
> > Nelson Tansu menjadi fisikawan ternama di Amerika. Tapi, hanya sedikit
> >
> > yang tahu bahwa guru besar belia itu berasal dari Indonesia. Di
> > sejumlah
> >
> > kesempatan, banyak yang menganggap Nelson ada hubungan famili
> > dengan mantan PM Turki Tansu Ciller. Benarkah?
> >
> > NAMA Nelson Tansu memang cukup unik. Sekilas, sama sekali nama itu
> > tidak
> >
> > mengindikasikan identitas etnis, ras, atau asal negeri tertentu.
> > Karena itu, di Negeri Paman Sam, banyak yang keliru membaca,
> > mengetahui, atau berkenalan dengan profesor belia tersebut.
> >
> > Malah ada yang menduga bahwa dia adalah orang Turki. Dugaan itu
> > muncul jika dikaitkan dengan hubungan famili Tansu Ciller, mantan
> > perdana menteri (PM) Turki. Beberapa netters malah tidak segan-
> > segan mencantumkan nama dan kiprah Nelson ke dalam website Turki.
> > Seolah-olah mereka yakin betul bahwa fisikawan belia yang mulai
> > berkibar di lingkaran akademisi AS itu memang berasal dari
> > negerinya Kemal Ataturk.
> >
> > Ada pula yang mengira bahwa Nelson adalah orang Asia Timur,
> > tepatnya Jepang atau Tiongkok. Yang lebih seru, beberapa
> > universitas di Jepang malah terang-terangan melamar Nelson dan
> > meminta dia "kembali" mengajar di Jepang. Seakan-akan Nelson
> > memang orang sana dan pernah mengajar di Negeri Sakura itu.
> >
> > Dilihat dari nama, wajar jika kekeliruan itu terjadi. Begitu juga
> > wajah Nelson yang seperti orang Jepang. Lebih-lebih di Amerika
> > banyak profesor
> >
> > yang keturunan atau berasal dari Asia Timur dan jarang-jarang
> > memang asal Indonesia. Nelson pun hanya senyum-senyum atas segala
> > kekeliruan terhadap dirinya.
> >
> > "Biasanya saya langsung mengoreksi. Saya jelaskan ke mereka bahwa
> > saya asli Indonesia. Mereka memang agak terkejut sih karena memang
> > mungkin jarang ada profesor asal aslinya dari Indonesia,"jelas Nelson.
> >
> > Tansu sendiri sesungguhnya bukan marga kalangan Tionghoa. Memang,
> > nenek moyang Nelson dulu Hokkien, dan marganya adalah Tan. Tapi,
> > ketika lahir,
> >
> > Nelson sudah diberi nama belakang "Tansu", sebagaimana ayahnya,
> > Iskandar
> >
> > Tansu.
> >
> > "Saya suka dengan nama Tansu, kok,"kata Nelson dengan nada bangga.
> >
> > Nelson adalah pemuda mandiri. Semangatnya tinggi, tekun, visioner,
> > dan selalu mematok standar tertinggi dalam kiprah riset dan dunia
> > akademisinya. Orang tua Nelson hanya membiayai hingga tingkat S-1.
> >
> > Selebihnya? Berkat keringat dan prestasi Nelson sendiri. Kuliah
> > tingkat
> > doktor hingga segala keperluan kuliah dan kehidupannya ditanggung
> > lewat
> > beasiswa universitas.
> >
> > "Beasiswa yang saya peroleh sudah lebih dari cukup untuk membiayai
> > semua
> >
> > kuliah dan kebutuhan di universitas," katanya.
> >
> > Orang seperti Nelson dengan prestasi akademik tertinggi memang tak
> > sulit
> >
> > memenangi berbagai beasiswa. Jika dihitung-hitung, lusinan
> > penghargaan dan anugerah beasiswa yang pernah dia raih selama ini
> > di AS.
> >
> > Menjadi profesor di Negeri Paman Sam memang sudah menjadi cita-
> > cita dia sejak lama. Walau demikian, posisi assistant professor
> > (profesor muda, Red) tak pernah terbayangkannya bisa diraih pada
> > usia 25 tahun. Coba bandingkan dengan lingkungan keluarga atau
> > masyarakat di Indonesia, umumnya apa yang didapat pemuda 25 tahun?
> >
> > Bahkan, di AS yang negeri supermaju pun reputasi Nelson bukan
> > fenomena umum. Bayangkan, pada usia semuda itu, dia menyandang
> > status guru besar.
> >
> > Sehari-hari dia mengajar program master, doktor, dan bahkan post
> > doctoral. Yang prestisius bagi seorang ilmuwan, ada tiga riset
> > Nelson yang dipatenkan di AS. Kemudian, dua buku teksnya untuk
> > mahasiswa S-1 dalam proses penerbitan.
> >
> > Tapi, bukan Nelson Tansu namanya jika tidak santun dan merendah.
> > Cita-citanya mulia sekali. Dia akan tetap melakukan riset-riset
> > yang hasilnya bermanfaat buat kemanusian dan dunia. Sebagai
> > profesor di AS, dia seperti meniti jalan suci mewujudkan idealisme
> > tersebut.
> > Ketika mendengar pengakuan cita-cita sejatinya, siapa pun pasti
> > akan terperanjat. Cukup fenomenal. "Sejak SD kelas 3 atau kelas 4
> > di Medan, saya selalu ingin menjadi profesor di universitas di
> > Amerika Serikat. Ini benar-benar saya cita-citakan sejak kecil,"
> > ujarnya dengan mimik serius.
> >
> > Tapi, orang bakal mahfum jika melihat sejarah hidupnya. Ketika
> > usia SD, Nelson kecil gemar membaca biografi para ilmuwan-
> > fisikawan AS dan Eropa.
> >
> > Selain Albert Einstein yang menjadi pujaannya, nama-nama besar
> > seperti Werner Heisenberg, Richard Feynman, dan Murray Gell-Mann
> > ternyata sudah diakrabi Nelson cilik.
> >
> > "Mereka hebat. Dari bacaan tersebut, saya benar-benar terkejut,
> > tergugah
> >
> > dengan prestasi para fisikawan luar biasa itu. Ada yang usianya
> > muda sekali ketika meraih PhD, jadi profesor, dan ada pula yang
> > berhasil menemukan teori yang luar biasa. Mereka masih muda ketika
> > itu," jelas Nelson penuh kagum.
> >
> > Nelson jadi profesor muda di Lehigh University sejak awal 2003.
> > Untuk bidang teknik dan fisika, universitas itu termasuk unggulan
> > dan papan atas di kawasan East Coast, Negeri Paman Sam. Untuk
> > menjadi profesor di Lehigh, Nelson terlebih dahulu menyisihkan 300
> > doktor yang resume (CV)-nya juga hebat-hebat.
> >
> > "Seleksinya ketat sekali, sedangkan posisi yang diperebutkan hanya
> > satu," ujarnya.
> >
> > Lelaki penggemar buah-buahan dan masakan Padang itu mengaku lega
> > dan beruntung karena dirinya yang terpilih. Menurut Nelson, dari
> > segi gaji dan materi, menjadi profesor di kampus top seperti yang
> > dia alami sekarang sudah cukup lumayan. Berapa sih lumayannya?
> >
> > "Sangat bersainglah. Gaji profesor di universitas private
> > terkemuka di Amerika Serikat adalah sangat kompetitif dibandingkan
> > dengan gaji industri. Jadi, cukup baguslah, he...he...he...,"
> > katanya, menyelipkan senyum.
> >
> > Riwayat hidup dan reputasinya memang wow. Nelson sempat menjadi
> > incaran dan malah "rebutan" kalangan universitas AS dan
> > mancanegara. Ada yang menawari jabatan associate professor yang
> > lebih tinggi daripada yang dia
> >
> > sandang sekarang (assistant professor). Ada pula yang menawari
> > gaji dan fasilitas yang lebih heboh daripada Lehigh University.
> > Tawaran-tawaran menggiurkan itu datang dari AS, Kanada, Jerman,
> > dan Taiwan serta berasal
> >
> > dari kampus-kampus top.
> >
> > Semua datang sebelum maupun sesudah Nelson resmi mengajar di
> > Lehigh University. Tapi, segalanya lewat begitu saja. Nelson
> > memilih konsisten,
> >
> > loyal, dan komit dengan universitas di Pennsylvania itu. Tapi,
> > tentu ada
> >
> > pertimbangan khusus yang lain.
> >
> > "Saya memilih ini karena Lehigh memberikan dana research yang
> > sangat signifikan untuk bidang saya, semiconductor nanostructure
> > optoelectronic
> >
> > devices. Lehigh juga memiliki leaderships yang sangat kuat dan
> > ambisinya
> >
> > tinggi menaikkan reputasinya dengan memiliki para profesor paling
> > berpotensi dan ternama untuk melakukan riset berkelas dunia,"papar
> > pengagum John Bardeen, fisikawan pemenang Nobel, itu.
> >
> > Perusahaan-perusahaan industri Amerika juga menaruh minat dan
> > mengiming-imingi Nelson dengan gaji dan fasilitas menggiurkan. Itu
> > pun dia tampik.
> >
> > "Bukan apa-apa. Saya memang tidak tertarik untuk masuk ke
> > industri. Seperti saya bilang tadi, profesor sudah cita-cita saya.
> > Lagi pula, kompensasi finansial yang diberikan Lehigh memang sudah
> > bagus banget dan
> >
> > saya happy," tuturnya.
> >
> > Nelson tinggal di sebuah apartemen yang tak jauh dari kampusnya
> > mengajar. Dia tinggal sendiri. Karena itu, semua urusan rumah dan
> > segala keperluannya dilakukan sendiri.
> >
> > Ditanya soal pacar, Nelson tersipu-sipu dan mengaku belum punya.
> > Padahal, secara fisik, dengan tinggi 173 cm, berat 67 kg, dan
> > wajah yang cakep khas Asia, Nelson mestinya gampang menggaet (atau
> > malah digaet) cewek Amerika.
> >
> > Banyak kriteria kah?
> >
> > "Ha...ha...ha.... Pertama, saya ini nggak ganteng ya. Tapi,
> > begini, mungkin karena memang belum ketemu yang cocok dan jodoh
> > saja. Saya sih, kalau bisa, ya dengan orang Indonesia-lah. Saya
> > sih nggak melihat orang berdasarkan kriteria macem-macem. Yang
> > penting orangnya baik, pintar, bermoral, pengertian, dan
> > mendukung," paparnya panjang lebar, geli karena topik pembicaraan
> > menyimpang dari dunia fisikanya ke soal wanita.
> >
> > Nelson hampir tiap tahun pulang ke Medan, bertemu orang tuanya dan
> > teman-teman lamanya. Pemilik email 
> > tansu-h/13/XXMkRc3uPMLIKxrzw@xxxxxxxxxxxxxxxx dan alamat
> > website http://www3.lehigh.edu/engineering/ece/tansu.asp itu
> > dengan segudang prestasi dan reputasinya memang membanggakan
> > Indonesia.
> > Milis Internal alumni ITB Bandung, angkatan 1977
> > Yayasan ITB 77-Yayasan Bhakti Ganesha
> > Bank Niaga Cabang Jakarta Tebet
> > Rekg No.025.01.23831.00.8
> >
> > Webnews & Online archive:
> > http://itb77-news.bhaktiganesha.or.id
> >
> >
> >
> >
> > ---------------------------------
> > Do you Yahoo!?
> > Yahoo! Search - Find what you?re looking for faster.
> >
>
>
>
> --
> Milis Internal alumni ITB Bandung, angkatan 1977
> Yayasan ITB 77-Yayasan Bhakti Ganesha
> Bank Niaga Cabang Jakarta Tebet
> Rekg No.025.01.23831.00.8
>
> Webnews & Online archive:
> http://itb77-news.bhaktiganesha.or.id
>


--  
Milis Internal alumni ITB Bandung, angkatan 1977 
Yayasan ITB 77-Yayasan Bhakti Ganesha 
Bank Niaga Cabang Jakarta Tebet  
Rekg No.025.01.23831.00.8 

Webnews & Online archive:
http://itb77-news.bhaktiganesha.or.id




<Prev in Thread] Current Thread [Next in Thread>