logo       

Re: Awas, Nyamuk Biasa Juga Menyebarkan DBD!: msg#00072

Subject: Re: Awas, Nyamuk Biasa Juga Menyebarkan DBD!
Pak Aldric,
Terima kasih copy beritanya.
Komentar saya : Kalau di samping nyamuk Aedes Aegepti, juga nyamuk biasa bisa menggigit darah penderita kemudian menggigit lain orang yang belum kena DBD dan orang itu bisa tertular, pertanyaannya : Jangan-jangan jarum suntik, sentuhan antar luka (perdarahan) bisa juga terjadi penularan dari seorang penderita DBD ke orang lain yang kondisinya sedang lemah. Gimana dok?
 
PSN yang 3M perlu dilengkapi dengan 2T.
 
Metoda 2T sangat mudah, tidak banyak buang enerji, tidak 2R (repot-repot), tapi sudah saya buktikan penemuan saya (bukan dokter) ini sangat efektif untuk pencegahan (bukan pemberantasan) nyamuk.
 
Filosofi metoda 2T : kacaukan terus-menerus permukaan air dalam bak terbuka (tanpa ditutup) agar nyamuk tidak bisa bertelur, karena tenangnya permukaan air adalah tempat yang nyaman untuk nyamuk bertelur.
 
Cara untuk melakukan metoda 2T (tetes-tetes): 1. Kuraslah bak air terbuka dari jentik-jentik nyamuk (jika sudah ada jentik-nya), 2. Tutuplah  rapat-rapat kran air di bak air itu (sampai air sama sekali tidak mengalir keluar dari kran), 3. Buka lagi kran itu dengan sedikit putaran cukup untuk membuat air dari dalam kran keluar tertetes-tetes (perkirakan kecepatan tetes-tetesan sedemikian hingga tercapai kekacauan permukaan air yang maksimal). 4. Periksalah tiap pagi apakah sudah tidak ada jentik baru. 5. Kalau sudah tidak ada jentik baru, maka sudah berhasil mencegah bertelurnya nyamuk. Namun kalau ada jentik baru, cobalah periksa, mungkin tetes-tetesan air terhenti (aliran/tekanan air terganggu dari pemasoknya). 6. Carilah akal agar dapat dipastikan tetes-tetes air berlangsung terus-menerus (non-stop) pada waktu kita tidur. 7. Kalau masih belum berhasil juga, boleh e-mail saya, mari kita bersama-sama mencegah bertelurnya nyamuk-nyamuk sedunia.
 
Salam,
Untung Adinyoto
 
 
 
----- Original Message -----
From: aldric
Sent: Friday, March 05, 2004 9:56 AM
Subject: Fw: Awas, Nyamuk Biasa Juga Menyebarkan DBD!

 
Awas, Nyamuk Biasa Juga Menyebarkan DBD!

 Pembaruan/Alex Suban

DIRAWAT DI TENDA - Fajar (5 bulan) yang menderita demam berdarah tertidur di dalam tenda perawatan di RS Salak, Bogor, Jawa Barat, Rabu (3/3). Sebanyak 16 pasien ditempatkan di tenda karena ruang perawatan sudah padat. Tarif perawatan di tenda Rp 15.000 per hari, sementara di ruang perawatan Rp 25.000 per hari. Namun, jika pasien dari keluarga miskin tidak perlu membayar.

NYAMUK Aedes aegypti bisa menggigit manusia kapan saja. Bukan hanya pada pagi hari, siang hari, dan sore hari seperti selama ini dijelaskan sebagian ahli, namun juga pada malam hari. Nyamuk itu menggigit lebih bergantung pada suhu sekitarnya. Kalau suhu sekitarnya dingin, nyamuk itu tidur. Kalau suhu sekitar panas, nyamuk bangun, dan saat itulah mencari makan, menggigit manusia.

"Jadi, pendapat yang mengatakan, nyamuk DBD ini menggigit pagi dan sore hari, tidak benar. Kita harus waspada setiap saat," kata Prof Dr Does Sampurno MPH, dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM-UI) dalam dialog yang bertema "Langkah Praktis Memahami dan Mengatasi Wabah Demam Berdarah" di Masjid Al- Ikhlas, di samping Rumah Sakit Budhi Asih, Cawang, Rabu (3/3) malam.

Sampurno mengatakan, kalau malam hari hujan, udara di luar rumah dingin, nyamuk-nyamuk itu masuk ke rumah. Di dalam rumah, ketika pemilik rumah menyalakan lampu, suhu rumah berubah hangat atau panas, maka saat itu nyamuk menggigit manusia. Demikian pula pada siang hari.

Pendapat Does Sampurno dibenarkan Prof Dr Bambang Sutrisna, juga ahli kesehatan masyarakat dari FKM UI. Ia menambahkan, nyamuk biasa bahkan bisa menularkan virus demam berdarah dengue (DBD) setelah nyamuk itu menggigit orang yang sudah terserang DBD. "Jadi, bukan otomatis yang menularkan itu nyamuk Aedes aegypti," kata Bambang ketika dihubungi via telepon, Kamis (4/3) pagi.

Sekitar 200 warga RW 03 Cawang hadir dalam dialog malam itu, yang juga menampilkan ahli kesehatan masyarakat lain dari FKM UI, Dr Sumengen Sutomo, SKM, MPH dan Budi Haryanto, SKM. Acara dialog itu diselenggarakan Ikatan Alumni Fakultas Kesehatan Masyarakat UI. RW 03 Cawang sengaja dipilih karena dinilai sebagai wilayah paling rawan di Kelurahan Cawang berkaitan kasus DBD.

Dialog berlangsung hangat, sebagian besar peserta aktif bertanya kepada para pembicara. Mereka bersemangat hadir dalam dialog itu, karena menganggap penyakit DBD sebagai penyakit paling menakutkan.

Sampurno lebih jauh menjelaskan, nyamuk Aedes aegypti yang selama ini dipahami hanya mampu terbang sejarak seratus meter, ternyata mampu terbang lebih dari itu. "Bahkan sampai berkilo-kilo meter kalau anginnya kencang," katanya.

Budi Haryanto menjelaskan, umur nyamuk Aedes aegypti 15 hari. Pada umur delapan hari, nyamuk menginjak umur dewasa (kawin). Nyamuk yang menggigit manusia adalah nyamuk betina, karena dia membutuhkan darah (vitamin) untuk bertelur. "Jadi, dari umur 8 - 15 hari dia sangat ganas menggigit manusia, karena naluri alamnya untuk mendapatkan keturunan," kata Budi.

Memutus Rantai

Langkah paling utama untuk memutus mata rantai nyamuk itu, kata Budi, dilakukan dengan mengasap (swing fog) tiga kali sebulan, dengan selang waktu tujuh hari. "Dilakukan tiga kali, supaya nyamuk ini tidak sempat bertelur. Begitu besar langsung dimatikan," ia menjelaskan.

Pengasapan paling baik menggunakan insektisida malathion 95 persen sebanyak setengah liter, dicampur solar 10 liter, untuk mengasapi 20 rumah tipe sedang (kira-kira bangunan 80 meter persegi). Budi mengingatkan, pengasapan paling baik dilakukan pukul 06.30 - 08.30, dan harus bisa menjangkau setiap sudut rumah, halaman, pagar dan selokan. Rumah yang habis diasapi harus ditutup pintu dan jendelanya selama satu jam.

Selain pengasapan, pemberantasan sarang nyamuk (PSN) dengan metode 3M, juga penting dilakukan. Pertama, adalah menguras tempat penampungan air sekali seminggu, seperti bak mandi, tempayan, ember, vas bunga, tempat minum burung, penampung air, kulkas. Kedua, menutup tempat-tempat penampungan air jernih dengan cermat.

Ketiga, mengubur benda-benda bekas yang bisa digenang air bersih, seperti ban bekas, kaleng bekas, dan sebagainya. "PSN yang rutin dilakukan sangat bermanfaat untuk mengurangi telur, jentik, dan pupa nyamuk Aedes aegypti," Budi menjelaskan.

Sumengen menambahkan, penyakit DBD sudah puluhan tahun ditemukan di Indonesia. Mata rantai nyamuk penyebarnya belum putus, karena pemerintah kurang serius melakukannya. Selain itu, masyarakat kurang sadar akan kebersihan. Masyarakat rupanya menganggap enteng keberadaan nyamuk Aedes aegypti.

"Kejadian sekarang ini, kiranya menjadi pelajaran bagi semua pihak, agar selalu waspada dan aktif untuk melakukan tindakan preventif terhadap semua penyakit terutama penyakit DBD," Sumengen menegaskan.

Agar korban DBD di Jakarta tidak semakin bertambah, Sampurno menyarankan pemerintah untuk mengasap semua wilayah DKI, tanpa kecuali. "Karena dalam kondisi yang endemis seperti ini, nyamuk biasa juga bisa menyebarkan DBD. Jadi jangan wilayah tertentu saja yang diasap," ia menegaskan.

<Prev in Thread] Current Thread [Next in Thread>