Pembaruan/Alex Suban
DIRAWAT DI TENDA - Fajar (5 bulan) yang menderita demam berdarah
tertidur di dalam tenda perawatan di RS Salak, Bogor, Jawa Barat, Rabu (3/3).
Sebanyak 16 pasien ditempatkan di tenda karena ruang perawatan sudah padat.
Tarif perawatan di tenda Rp 15.000 per hari, sementara di ruang perawatan Rp
25.000 per hari. Namun, jika pasien dari keluarga miskin tidak perlu membayar.
NYAMUK Aedes aegypti bisa menggigit manusia kapan saja. Bukan hanya
pada pagi hari, siang hari, dan sore hari seperti selama ini dijelaskan
sebagian ahli, namun juga pada malam hari. Nyamuk itu menggigit lebih
bergantung pada suhu sekitarnya. Kalau suhu sekitarnya dingin, nyamuk itu
tidur. Kalau suhu sekitar panas, nyamuk bangun, dan saat itulah mencari makan,
menggigit manusia.
"Jadi, pendapat yang mengatakan, nyamuk DBD ini menggigit pagi dan sore
hari, tidak benar. Kita harus waspada setiap saat," kata Prof Dr Does Sampurno
MPH, dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM-UI) dalam
dialog yang bertema "Langkah Praktis Memahami dan Mengatasi Wabah Demam
Berdarah" di Masjid Al- Ikhlas, di samping Rumah Sakit Budhi Asih, Cawang,
Rabu (3/3) malam.
Sampurno mengatakan, kalau malam hari hujan, udara di luar rumah dingin,
nyamuk-nyamuk itu masuk ke rumah. Di dalam rumah, ketika pemilik rumah
menyalakan lampu, suhu rumah berubah hangat atau panas, maka saat itu nyamuk
menggigit manusia. Demikian pula pada siang hari.
Pendapat Does Sampurno dibenarkan Prof Dr Bambang Sutrisna, juga ahli
kesehatan masyarakat dari FKM UI. Ia menambahkan, nyamuk biasa bahkan bisa
menularkan virus demam berdarah dengue (DBD) setelah nyamuk itu menggigit
orang yang sudah terserang DBD. "Jadi, bukan otomatis yang menularkan itu
nyamuk Aedes aegypti," kata Bambang ketika dihubungi via telepon, Kamis
(4/3) pagi.
Sekitar 200 warga RW 03 Cawang hadir dalam dialog malam itu, yang juga
menampilkan ahli kesehatan masyarakat lain dari FKM UI, Dr Sumengen Sutomo,
SKM, MPH dan Budi Haryanto, SKM. Acara dialog itu diselenggarakan Ikatan
Alumni Fakultas Kesehatan Masyarakat UI. RW 03 Cawang sengaja dipilih karena
dinilai sebagai wilayah paling rawan di Kelurahan Cawang berkaitan kasus DBD.
Dialog berlangsung hangat, sebagian besar peserta aktif bertanya kepada
para pembicara. Mereka bersemangat hadir dalam dialog itu, karena menganggap
penyakit DBD sebagai penyakit paling menakutkan.
Sampurno lebih jauh menjelaskan, nyamuk Aedes aegypti yang selama
ini dipahami hanya mampu terbang sejarak seratus meter, ternyata mampu terbang
lebih dari itu. "Bahkan sampai berkilo-kilo meter kalau anginnya kencang,"
katanya.
Budi Haryanto menjelaskan, umur nyamuk Aedes aegypti 15 hari. Pada
umur delapan hari, nyamuk menginjak umur dewasa (kawin). Nyamuk yang menggigit
manusia adalah nyamuk betina, karena dia membutuhkan darah (vitamin) untuk
bertelur. "Jadi, dari umur 8 - 15 hari dia sangat ganas menggigit manusia,
karena naluri alamnya untuk mendapatkan keturunan," kata Budi.
Memutus Rantai
Langkah paling utama untuk memutus mata rantai nyamuk itu, kata Budi,
dilakukan dengan mengasap (swing fog) tiga kali sebulan, dengan selang
waktu tujuh hari. "Dilakukan tiga kali, supaya nyamuk ini tidak sempat
bertelur. Begitu besar langsung dimatikan," ia menjelaskan.
Pengasapan paling baik menggunakan insektisida malathion 95 persen sebanyak
setengah liter, dicampur solar 10 liter, untuk mengasapi 20 rumah tipe sedang
(kira-kira bangunan 80 meter persegi). Budi mengingatkan, pengasapan paling
baik dilakukan pukul 06.30 - 08.30, dan harus bisa menjangkau setiap sudut
rumah, halaman, pagar dan selokan. Rumah yang habis diasapi harus ditutup
pintu dan jendelanya selama satu jam.
Selain pengasapan, pemberantasan sarang nyamuk (PSN) dengan metode 3M, juga
penting dilakukan. Pertama, adalah menguras tempat penampungan air
sekali seminggu, seperti bak mandi, tempayan, ember, vas bunga, tempat minum
burung, penampung air, kulkas. Kedua, menutup tempat-tempat penampungan
air jernih dengan cermat.
Ketiga, mengubur benda-benda bekas yang bisa digenang air bersih,
seperti ban bekas, kaleng bekas, dan sebagainya. "PSN yang rutin dilakukan
sangat bermanfaat untuk mengurangi telur, jentik, dan pupa nyamuk Aedes
aegypti," Budi menjelaskan.
Sumengen menambahkan, penyakit DBD sudah puluhan tahun ditemukan di
Indonesia. Mata rantai nyamuk penyebarnya belum putus, karena pemerintah
kurang serius melakukannya. Selain itu, masyarakat kurang sadar akan
kebersihan. Masyarakat rupanya menganggap enteng keberadaan nyamuk Aedes
aegypti.
"Kejadian sekarang ini, kiranya menjadi pelajaran bagi semua pihak, agar
selalu waspada dan aktif untuk melakukan tindakan preventif terhadap semua
penyakit terutama penyakit DBD," Sumengen menegaskan.
Agar korban DBD di Jakarta tidak semakin bertambah, Sampurno menyarankan
pemerintah untuk mengasap semua wilayah DKI, tanpa kecuali. "Karena dalam
kondisi yang endemis seperti ini, nyamuk biasa juga bisa menyebarkan DBD. Jadi
jangan wilayah tertentu saja yang diasap," ia menegaskan.