logo       

Workshop: Pemanfaatan Teknologi Informasi untuk Pemilu: msg#00045

org.user-groups.linux.balinux

Subject: Workshop: Pemanfaatan Teknologi Informasi untuk Pemilu

=================

Workshop: Pemanfaatan Teknologi Informasi untuk Pemilu

Latar Belakang
Teknologi informasi (TI) memungkinkan masyarakat mendapatkan hasil
penghitungan suara dari suatu pemilu secara cepat dan akurat. Namun
di manapun di dunia ini, belum ada satu sistem pemilu yang
menempatkan perhitungan suara berbasis TI sebagai satu-satunya
sarana untuk mengabsahkan hasil pemilu. Keabsahan perhitungan suara
tetap berdasarkan pada perhitungan suara manual, berupa sertifikasi
atau berita acara penghitungan suara yang dilakukan secara
berjenjang, dari tempat pemungutan suara hingga tingkat nasional.
Sedang perhitungan suara berbasis TI diposisikan sebagai pembanding
atas perhitungan suara manual tersebut.

Meskipun demikian, TI tetap memiliki peran strategis dalam kegiatan
pemilu dan proses politik berikutnya. Pertama, TI memungkinkan hasil
perhitungan suara diketahui secara cepat oleh masyarakat luas
sehingga mampu memuaskan rasa ingin tahu masyarakat akan hasil
pemilu; Kedua, karena hasil pemilu diketahui secara cepat maka
memudahkan para politisi untuk mengambil langkah-langkah politik dan
membantu para pengusaha untuk mengambil keputusan bisnis; Ketiga, TI
tidak hanya digunakan untuk perhitungan suara tetapi juga bisa
digunakan untuk memudahkan proses administrasi pemilu yang lain,
seperti pendaftaran pemilih dan pendaftaran peserta pemilu.

Pengalaman Pemilu 1999 dan Pemilu Legislatif 2004 menunjukkan, banyak
pihak yang belum memahamai tentang posisi dan peran TI dalam pemilu.
Oleh karena itu berkembang opini dan penyikapan yang cenderung
merugikan, sehingga muncul dorongan agar perhitungan suara lewat TI
dihentikan, tanpa mempedulikan fakta bahwa masyarakat juga ingin
mengetahui hasil pemilu secara cepat. Sikap tersebut juga mengabaikan
ketentuan undang-undang, bahwa perhitungan suara lewat TI bukan
merupakan basis keabsahan perhitungan sara pemilu. Hal itu terjadi,
karena tidak ada penjelasan yang konprehensif tentang posisi dan
peran TI dalam pemilu.

Berpijak dari pengalaman Pemilu Legislatif 2004, penyelenggara pemilu
dan komunitas TI bisa belajar banyak, bahwa menyiapkan sistem TI yang
cocok dengan pemilu di Indonesia bukanlah pekerjaan yang gampang.
Untuk mendapatkan sistem TI pemilu yang menghasilkan data yang cepat,
akurat dan aman, para perancang dan pelaksana TI pemilu harus
memperhatikan sistem pemilu, kondisi geografis, dan struktur jaringan
komunikasi yang merupakan urat nadi TI. Tentu saja, masalah
keterbatasan dana dan sumber daya manusia harus benar-benar
diperhatikan sehingga pemanfaatan TI dalam untuk pemilu itu benar-
benar maksimal.

Karena sistem TI pemilu digunakan untuk kepentingan publik, maka
sistem itu harus memiliki kredibilitas tinggi dan benar-benar teruji
keandalannya, sehingga peserta pemilu dan masyarakat tidak ragu atas
kinerjanya. Dalam konteks inilah maka pelibatan peserta pemilu,
pemantau dan wakil-wakil pemilih dalam proses penyiapan sistem pemilu
sangat penting guna menumbuhkan kepercayaan bahwa sistem yang akan
dibangun benar-benar kredibel dan sudah mengakomodasi kepentingan
banyak pihak.

Dengan segala kelemahan, keterbatasan dan konstroversinya, sistem TI
yang digunakan untuk menghitung suara pada Pemilu Legislatif 2004
telah memberikan informasi hasil pemilu yang memadai buat masyarakat.
Yang harus segera dipikirkan adalah apakah sistem TI yang ada sudah
cocok untuk pemilu presiden yang akan datang. Memang pemilu presiden
lebih sederhana dibandingkan dengan pemilu legislatif, namun
sensitivitas masyarakat dan kerawanan politik pemilu presiden jauh
lebih tinggi daripada pemilu legislatif, sehingga kesalalahan
peritungan suara sedikit saja akan menimbulkan dampak yang besar.
Oleh karena itu semua pihak perlu memberikan sumbang saran dalam
rangka meningkatkan kredibiltas dan kinerja sistem TI pemilu yang
ada. Untuk kepentingan itulah maka Workshop Pemanfaatan Teknologi
untuk Pemilu digelar.

Tujuan
1. Merumuskan penjelasan yang komprehensif tentang posisi dan peran
TI dalam pemilu.
2. Memetakan masalah-masalah yang muncul dalam perancangan sistem TI
yang tepat buat pemilu, khususnya pemilu presiden.
3. Memberikan masukan-masukan buat perbaikan sistem TI pemilu yang
ada sehingga bisa meningkatkan kredibiltas dan kinerjanya, khususnya
untuk pemilu presiden.

Format Kegiatan
Warkshop diawali oleh paparan ringkas dari tim TI KPU, pakar TI,
peserta pemilu dan pemantau, setelah itu dilanjutkan diskusi yang
dipandu oleh dua fasilitator.
Kedua fasilitator tersebut masing-masing memahami masalah TI dan
masalah hukum pemilu.

Penyelenggara:
- Panitia Pengawas Pemilihan Umum (Panwas Pemilu)

didukung oleh:
- Federasi Teknologi Informasi Indonesia (FTII)
- Asosiasi Pengusaha Jasa Internet Indonesia (APJII)
- Media Online detikcom

Fasilitator
1. Heru Nugorho, Sekjen APJII
2. Bambang Widjajanto, penasihat hukum Panwas Pemilu

Pemicu Diskusi:
1. Basuki Sudirman, Koordinator Tim TI KPU
2. Alex Rusli, Pakar TI (anggota team desain awal TI KPU)
3. Eko Indrajit, Pakar TI
4. Mohammad Yassin, Ketua DPP PAN
5. Gunawan Hidayat, Koordinator JPPR

Peserta:
1. Komunitas TI, 20 orang (terlampir)
2. Partai Politik Peserta Pemilu, 24 orang (terlampir)
3. Pemantau Pemilu, 6 orang (termapir)

Pelaksanaan:
Hari, tanggal : Senin, 19 April 2004
Waktu : 14.00 ­ 17.30 WIB
Tempat : di Jakarta.

Jakarta, 12 April 2004
Panwas Pemilu







<Prev in Thread] Current Thread [Next in Thread>
Google Custom Search

News | FAQ | advertise