logo       

Re: Lhok Nga - 1-01: msg#00126

org.region.indonesia.mahawarman

Subject: Re: Lhok Nga - 1-01

Pak Jo masih sempat menyentuh keindahan dan rahasia alam sekitar Lhok
Nga yang meskipun hancur oleh tsunami tetapi tetap masih menampilkan
keindahan yang menawan .
Yang menarik memang bila kita memandang deretan pegunungan diarah Timur
yang melatar belakangi pabrik semen Andalas dengan warna hijau biru,
gagah dan bersifat "melindungi" , kemudian dipadukan dengan lautan
disebelah baratnya yang hijau-biru jambrut khatulistiwa dengan deburan
ombaknya yang menantang ,... betul2 indahmenantang . Suasana ini agak
berubah sewaktu magrib mulai menjelang , karena kegelapan dan deru angin
serta deburan ombak yang kencang masih tetap membuat hati "miris" .
Keindahan pantai Lhok Nga yang juga mendapat predikat tempat wisata
terbaik di Banda Aceh , gunung kapur, pantai pasir putih dengan ikan
berwarna warni , lapangan golf dll.semuanya masih memerlukan banyak
kreatifitas kita agar dapat kembali ke jaman kejayaannya .

Salam hangat,
PriyoPS

-----Original Message-----
From: "jo_wardi" <jo_wardi-4DLADJoJZZS8rHFcjEY/OA@xxxxxxxxxxxxxxxx>
To: <yonsatu-PA9+dxvo8yQi5wvc6DhUiQ@xxxxxxxxxxxxxxxx>
Date: Sun, 29 May 2005 09:31:28 +0700
Subject: [yonsatu] Lhok Nga - 1-01

> Wcds rekan sekalian,
> Jumat 6 Mei 2005. Sekali lagi sedikit cerita ringan selama kunjungan
> saya ke daerah BNA dalam rangka ngecek prototype rumah moduler pesanan
> Medco. Bagian inti sudah disampaikan oleh PPS, jadi biar saya lewati.
> Untuk pertama kali mendekati Blang Bintang dengan Adam Air nampak
> sebelah kanan jendela 'gunung Seulawah' yang puncaknya masih berkepul
> asap/awan. Pesawat melakukan manuver clock-wise, pagi sebelumnya ada
> heli crash di lapangan namun tidak sampai menimbulkan korban, 3
> penerbangan tertunda 1,5 jam di Medan. Dari approach laut nampak
> sebagian besar kota yang tinggal puing.
> Ambil taxi pribadi 70 ribu sampai lokasi Posko Jenggala. Pemandangan
> kiri kanan mulai dari kota bikin 'miris', padahal sudah 4,5 bulan
> petaka lewat. Melewati kelompok tenda demi tenda dan barak, sampai
> Posko tersebut ditengah reruntuhan. Yang nyambut 'orang-orang 'medan'
> yang tak memberi informasi banyak soal lokasi yang saya cari. Kembali
> ke jalan yang sebelumnya ditempuh, cari 'AS' sebagai pimpinan Posko,
> sayang tidak ada. Ternyata harus kembali balik tempat semula sampai
> ketemu lokasinya, pas pinggir muara dan pantai laut. Wah siapa yang
> nempatkan disini pikirku, "agak rawan" cetusku pada TK yang masih asyik
> kerja. Waktu dijawab "pak AS sendiri yang tentukan ...", ya sudah,
> terima dan jalan terus saja. Angin tanpa henti berhembus dari
> barat-daya.
> Pemandangan sekitar memang bagus sekali, sebelah barat; laut yang
> membiru dengan ombak yang cukup untuk berselancar dikejauhan. Sebelah
> selatan; perpaduan antara bukit dengan laut dengan fokus kompleks
> pabrik Semen Andalas. Di timur nampak deretan perbukitan sebagai ujung
> utara dari Bukit Barisan, cantik dan menantang untuk didaki suatu hari!
> Di utara ada menara Mentari yang sedang dibangun ulang (sebelumnya ada
> 3 menara BS yang roboh) dan sisa-sisa lapangan golf dengan pohon cemara
> yang tinggi. Tadinya pandangan hanya bisa ke barat, arah lainnya
> tertutup oleh pepohonan dan rumah-rumah yang padat, saat ini kosong
> tinggal puing.
> Catatan; sebelum berangkat saya sedang menjalani 'self-terapi' untuk
> mengkondisikan badan agar sebelum ke Aceh bisa kembali seperti semula.
> Lengan kiri atas macam kena 'stroom' sehingga ngilu/ba'al sejak 2
> bulan sebelumnya, sedang kaki kanan terkilir 1 bulan sebelum ini. Kedua
> kendala terjadi saat terjatuh tracking / jogging diluar kota. Bagaimana
> bisa 'recuperate' yang cepat? Halter ringan dan tarikan untuk lengan
> dan renang jarak jauh (sampai mata berkunang he-he) adalah jawabannya,
> maka itulah yang kulakukan 'macam orang gila' bagi orang yang
> bersebelahan saat exercise. Yang paling bagus adalah renang karena
> tapak kaki tidak mendapat tekanan namun otot yang berkembang dengan
> baik meski pada posisi agak berbeda. Setelah bisa mencapai 4 km dalam
> 80 menit aku cukup puas karena sudah melebihi kondisi normalku, tapi
> nanti dulu ... , aku pakai 'hard-rigid-fins' lho! Sedang untuk jogging
> 4 km dalam 20 menit juga sudah bisa dicapai dengan pas meskipun masih
> dengan tertatih-tatih.
>
> Setelah jalan keliling sekitar site dan lap. golf, jam 13 kuputuskan
> untuk jalan ke selatan, melihat kapal yang terbalik nun jauh disana.
> Dengan pakai sepatu kantor kususuri jalan menuju pepohonan tinggi yang
> masih tersisa, melewati bekas rumah-rumah milik orang Jepang, Australi,
> Jerman (umumnya penggemar olahraga air), bekas kantor kelurahan,
> kecamatan, bekas sekolah, bekas koramil, kompi senapan, yon zipur (ada
> beberapa tenda yang dijaga), masing-masing masih ada lapak dan
> batasnya, hanya tinggal 'bekas' nya.
> Di setiap tempat terpampang papan dengan catatan korban, umpama kompi
> senapan 118 orang, yon zipur 338 orang dst.
> Dibawah pepohonan (yang rata-rata diatas 30 m tingginya) terkumpul
> beberapa buldozer, backhoe, truck dan tenda peleton yang diduduki
> tentara. Lewat jembatan bailey yang serba darurat terbentang jalan
> lurus ke selatan. Klutak-klutuk jalan tidak sampai-sampai. Saat itu
> tidak ada seorangpun yang lain berjalan kaki disekitar itu. Melewati
> belokan kiri suatu bukit nampak terpampang ditengah jalan dua perahu
> besi bersebelahan; sebelah kanan arah pantai adalah perahu pendorong
> 'pusher' sedang sebelah kiri dekat bukit ada tongkang sebesar gajah
> nongkrong 'flat and at ease'. Tinggi tongkang baja ini sekitar 9 m
> ditambah pagar plaat baja perimeter atasnya sekitar 3-4 meter yang mana
> bagian yang menghadap laut sudah patah semua. Ukuran tongkang ini
> sekitar 25 x 70 m untuk mengangkut batu bara, supply ke pabrik semen.
> Hempasan ombaknya tinggi sekali, kalau tidak terhalang bukit, perahu
> itu bisa meluncur lebih jauh lagi!
> Jalan terus melewati celah antara kedua kapal ini yang bisa dilewati
> sepeda motor, sampailah di kompleks pabrik yang sudah dipagari dengan
> seng gelombang. Pabrik ini di manage oleh La-Ferge, perusahaan berbasis
> Eropa. Seluruh bangunan yang tinggi masih berdiri sedang yang pendek
> sampai 2 lantai sudah rata tanah. Untuk berfungsi kembali perlu rehab
> mesin dan sarana pendukung secara besar-besaran. Lewat sedikit dibalik
> bukit saya masuk pelabuhan. bagian dermaga beton sudah rontok, sebuah
> kapal (sekitar 2.000 ton) terbalik dan sedang menjalani operasi
> pemotongan plaat besinya dengan bantuan dua derek besar.
> Kondisi air yang cukup dalam dan bening sangat menjanjikan untuk
> 'diving', relatif tenang. Dermaga menghadap laut ke utara sehingga
> praktis terhindar dari angin barat-selatan.
> Setelah cukup orientasi didaerah pelabuhan, kembalilah ke site. Dengan
> tapak kaki yang sudah panas dan tanpa sarana transport kembalilah saya
> menapaki 6 km pulang. terasa sepatu salon yang dipakai sampai menjadi
> tipis, namun tidak berani dibuka karena pasti akan terluka meliwati
> puing. disana sini masih terlihat beberapa kantong plastik kuning yang
> sudah terbuang-robek. Tidak ada pohon tersisa, bekas lubang akar pohon
> kelapa ribuan banyaknya.
> Kenapa pohon kelapa sampai tercabut dengan akarnya? Tinggi gelombang
> laut sudah melewati bagian dedaunan dan pangkal buahnya, berarti diatas
> 12 m, kalau sebatas tinggi batang yang ramping maka masih banyak pohon
> yang bisa 'survive'. Hempasan air pada puncak pohon kelapa yang
> meruntuhkan seluruh batang sampai tercabut akarnya.
> Kembali ditempat dengan kaki yang cukup pegal, tidak bisa membendung
> keinginan untuk mencoba pemandangan bawah laut, setidaknya didekat
> lokasi kita.
> Maka berbekal pada peta satelit yang pernah saya ingat pasca-tsunami,
> sore itu jam 16 saya rencanakan untuk menuju ke satu titik putih
> didepan muara (sekitar 500m dari muara) namun tidak sampai posisi
> dimana ombak besar berbuih putih Dari darat nampaknya seperti suatu
> tumpukan batu ditengah laut yang tidaklah terlalu jauh.
> Dengan hati yang berbinar kukeluarkan kaki katak, masker-snorkel yang
> sengaja kubawa. Hanya 20 meteran didepan teras bisa langsung nyemplung
> ke kail kecil yang menyambung ke laut.
> Dasar sungai maupun laut nampak datar dan berlumpur namun cukup jernih.
> Sesampai di bebatuan tersebut kedaan berubah, pecahan ombak cukup besar
> sebelah barat-nya, terlalu kocak untuk direnangi. Jadi kuputari dari
> utara, timur dan selatan.
> Meskipun dasarnya ulmpur tapi karena sudah terendap cukup lama maka
> lumpurnya sudah agak mengeras dan bergumpal sehingga tidak berwarna
> coklat lagi. Disana-sini masih nampak besi-besi barang bekas bertebaran
> bahkan satu perangkat sofa tanpa bantal, kompor, pecahan radio, jemuran
> dll menyembul dari lumpur.
> Meskipun tidak ada bunga karang sama sekali tetapi ikan mulai nampak,
> kebanyakan berkelompok; yang coklat (mada), baronang, kakap merah (1-2
> kilo), bahkan sempat 3 kali papasan dengan ikan kuwe (travali) yang
> cukup besar (4-5 kiloan). Cukup besar untuk spear-fishing, padahal
> dalamnya hanya 3-4 m. Ditempat yang lebih jauh pasti lebih menarik
> lagi! "Ok for next time!" kata hatiku.
> Sejam kemudian aku kembali kepangkalan, "well what a good day" kataku.
> - disambung -
> wass, jowardi.
>
>
> --
> --[YONSATU - ITB]---------------------------------------------
> Arsip : <http://news.mahawarman.net>
> News Groups : gmane.org.region.indonesia.mahawarman
>




--
--[YONSATU - ITB]---------------------------------------------
Arsip : <http://news.mahawarman.net>
News Groups : gmane.org.region.indonesia.mahawarman




<Prev in Thread] Current Thread [Next in Thread>
Google Custom Search

News | FAQ | advertise