logo       

Re: RMG berkibar di Lhok Nga - Banda Aceh .: msg#00116

org.region.indonesia.mahawarman

Subject: Re: RMG berkibar di Lhok Nga - Banda Aceh .

Mas Priyo ysh.,
Selamat dan terimakasih atas sumbangsihnya buat rakyat Aceh, sebagai wakil
Corps dan IA-ITB, berikut laporan perjalanan yang menarik.

Leadership dan ketulusan mas Priyo dalam menyumbangan tenaga dan
pikirannya kepada sebagian dari masyakat kita yang sedang menderita ini,
akan menjadi teladan bagi kita semua, khususnya bagi kami yang lebih muda.

Salam hangat,
HermanSyah XIV.






"Priyo Pribadi Soemarno"
<priyo.psoemarno-htT58Lpzl+O75oZsimaj59HuzzzSOjJt@xxxxxxxxxxxxxxxx>
05/27/2005 03:11 AM
Please respond to yonsatu


To: anggota-PA9+dxvo8yQi5wvc6DhUiQ@xxxxxxxxxxxxxxxx,
yonsatu-PA9+dxvo8yQi5wvc6DhUiQ@xxxxxxxxxxxxxxxx
cc:
Subject: [yonsatu] RMG berkibar di Lhok Nga - Banda Aceh .


Rekans CORP ysh.,

Tadi malam , saya bersama Kang Dani kembali dari tugas CORPS ke Lhok Nga -
Banda Aceh . Kami mendarat jam 22.30 WIB dengan Garuda terakhir dari
Blang Bintang - Banda Aceh .

Perjalanan bisnis dengan Kang Dani , kalau gak salah ingat , pernah saya
lakukan sekitar tahun 90-an , yaitu ke Bontang - KALTIM. Kali ini kita
mengemban tugas CORPS ke Banda Aceh , dengan target memastikan lokasi
Media Centre sumbangan IA-ITB , mengurus sumbangan IATMI-Houston
(dikomandani oleh Abah Samud - Bambang Samudra) , melihat prospek RMG dan
kerjasama dengan berbagai pihak dan selebihnya ,....ingin mengabadikan
bekas bencana alam Gempa-tsunami yang melanda Serambi Mekah . Nanti akan
saya ceritakan tentang asyiknya bekerjasama dalam satu team dengan Rekans
CORPS , apalagi yang sudah kita kenal dekat sejak
Kami berdua berangkat subuh2 hari Selasa, 23 Mei 2005 dengan GA ke Banda
Aceh melalui Medan . Sepanjang perjalanan diisi dengan "tiduuur" karena
semalaman gak bisa tidur mengepak barang dan paginya sudah "dipaksa
bangun" karena sudah ditunggu taksi .
Perjalanan mulai asyik , ketika pesawat menjejakkan kakinya di Bandara
Sultan Iskandar Muda (dh. Blang Bintang) sekitar jam 10 pagi . Mas Hendro
menjemput kita berdua dengan mobil Landcruiser - WHO yang tampak gagah
dan "galak" karena pakai snorkel dan antene Radiocom yang tinggi
menjulang . Bang Zul-Aceh datang belakangan dan kita bersama-sama menuju
tempat penginapannya Andi Syahrandi (POSKO- Jenggala) .
Lalu kita bersama-sama , beriringan menuju Lhok Nga . Mas Hendro kembali
ke WHO-base , kerja lagi .

Perjalanan menuju Lhok Nga sengaja diarahkan oleh Bang Andi Syh melewati
pesisir yang mengalami kehancuran parah . Daerah pemukiman padat yang rata
dengan tanah , penuh air dan jadi rawa-genangan air serta mobil2 "remuk"
menjadi pemandangan memilukan yang mirip perasaan saya ketika ke Meulaboh
dengan Team Rajawali . Di beberapa tempat terlihat tenda2 pengungsi yang
dikoordinir oleh berbagai LSM dalam dan luar negeri . Pak Supir
menjelaskan tentang sekolah2 yang dibersihkan oleh relawan Malaysia,
selokan2 yang dibersihkan tentara Australia dan relawan Singapore , barak
dan pemukiman yang dibuat oleh relawan Turki, POSKO FPI , PKS dan
sebagainya . Akhirnya kita memasuki desa Mon Ikeun - Lhok Nga , yaitu desa
hancur yang sudah kehilangan 80% penduduknya dan tidak ada satupun rumah
yang masih utuh . Satu2nya yang terlihat utuh hanya mesjid Mon Ikeun .
Sebelah Selatan desa kita bisa melihat jelas sosok pabrik semen Andalas
yang merupakan saksi bisu kehebatan gempuran ombak-tsunami 26 Desember
lalu . Di kiri-kanan pabrik semen tersebut sudah tidak ada lagi bekas2
Asrama dan Markas Zeni-Konstruksi KODAM Iskandar Muda , semua rata dengan
tanah .

Bang Andi Syh membawa kita melihat2 fasilitas POSKO Jenggala dan beberapa
bangunan yang dibuat untu penampungan pengungsi dan juga klinik kecil
mungil yang memberikan "warna" pada Posko Jenggala ini . Kami bertukar
pikiran sejenak di depan rumah bantuan MEDCO yang sudah memperlihatkan
"tanda2 kehidupan" diantara penghuni dan para tetangganya . Saya berdua
dengan Kang Dani banyak mendengar dan mencatat keterangan penting dari
Bang Andi Syh, Bang Zul sibuk dengan laptopnya memperlihatkan dokumentasi
beberapa rumah serta proses pengerjaan rumah beberapa waktu yang lalu .
Kami bicara dengan dokter Luigi (FK-UKI) yang saat ini bertugas (rotasi)
di klinik Jenggala . Dari dokter mungil tersebut kita mendapat penjelasan
tentang penyakit yang umum terdapat didaerah ini serta berbagai kebutuhan
untuk mendukung optimalisasi klinik tersebut . Klinik yang cukup baik
(walaupun kapasitasnya kecil) sudah menjadi "tempat mengadu" para warga
korban tsunami . Mungkin klinik tersebut memerlukan beberapa tempat tidur
dan peralatan lain , tetapi kita belum tahu persis tentang program POSKO
Jenggala kedepan . Kami juga melihat beberapa rumah yang sudah dibangun
dengan kayu , ada yang dengan konstruksi pipa plus asbes (tetapi sedang
dibongkar lagi) serta beberapa bekas rumah yang roboh dan terlipat-lipat
kena angin badai beberapa minggu yang lalu .
Mas Susilo mengijinkan saya untuk dapat mengambil keputusan tentang
berbagai hal terkait dengan RMG sumbangsih CORPS agar semua tanggung
jawab kita dapar diselesaikan secepatnya .

Bang Andi meninggalkan tempat karena ada tugas lain sehingga saya dan kang
Dani lebih "bebas" berimprovisasi serta mengambil data kondisi sekitar .
Tidak jauh dari areal klinik tersebut saya melihat bangunan RMG-2 yang
nampak gagah dan "berkibar" dengan latar belakang laut lepas .
Betul kata mas Hendro , bahwa bangunan RMG ternyata "butuuul-butuuul"
ditepi laut , pas dibibir pantai .......!!
Entah bagaimana tata ruangnya karena kita tidak melihat ada garis2 jalan
atau badan jalan yang akan dibuat , didepan RMG ada antene salah satu
operator telepon seluler , di sebelah nya lagi ada bangunan sementara
(bedeng) yang dibuat oleh LSM Jepang yang menanami sepanjang pantai
tersebut dengan ribuan bibit pohon kelapa , tetapi yang jelas saya dan
kang Dani masih bingung dengan konsep MEDCO/Posko Jenggala dalam menata
kembali pemukiman didaerah ini . Saya jadi ingat ketika Bang Andi
berkomentar diawal pertemuan tadi ,..."apa'an cetak biru - cetak biru
,....saya gak perlu tuh , yang penting bangun aja secepatnya , khan rakyat
gak perlu cetak biru ...tapi perlu pemukiman ,..."
Disini , jelas bahwa perencanaan belum sempurna . Kita beruntung , RMG
tidak roboh kena badai dan tetap tegak walaupun posisinya dibikin di
paling pinggir sekalipun . Saluut dan hormat saya pada Bang Jo Wardi ,
arsitek pencipta RMG tersebut .

Kunjungan Lhok Nga kita akhiri sore hari dan kita kembali ke penginapan .
Malamnya , mas Hendro gabung sepulang dari tugas di WHO kemudian Bang Zul
Aceh juga gabung untuk mengajak kita melihat "wajah malam dari Banda
Aceh" . Ternyata kehidupan di kota tidak ada bedanya dengan di Medan atau
di seputaran Rawamangun , malam hari penuh dengan pedagang kaki lima ,
warung kopi , duduk2 minum kopi di halaman depan warung hingga ratusan
orang , berjubel .... sungguh kontras dengan kesunyian di Lhok Nga ,...

Keesokan harinya , pagi2 betul saya dan kang Dani menuju Lhok Nga lagi
untuk meninjau calon lokasi Media Center . Kita bicara langsung dengan
kepala kampung atau disebut KEPLOR (Kepala lorong) Mon Ikeun untuk
mendengar pendapat beliau tentang Media Center yang akan kita bangun .
Ternyata kebutuhan mereka lebih banyak kepada tempat pertemuan , belum
memerlukan sarana komunikasi . Persoalan lain , mereka juga belum bisa
mengoperasikan atau memelihara peralatan yang akan kita sumbangkan , baik
dari segi teknik maupun biaya . Maka , Mon Ikeun dapat dianggap tidak
cocok untuk konsep Media center seperti yang direncanakan kang Dani ,
tetapi mengingat Ibu Yani P serta Hilmi Panigoro (pemilik MEDCO)
tertarik untuk memasang unit Media Center di lokasi pemukiman tersebut ,
maka kang Dani bermaksud membuat desain Media Center-2 khusus menjawab
permintaan Medco dan kesanggupan masyarakat setempat .
Kita berdua kembali ke lokasi RMG , mengukur petak tanah dan melihat
beberapa bagian yang memerlukan improvement .
Untuk sementara , RMG sudah survive , namun belum bisa memenuhi
"kebutuhan pasar" , yang perlu segera menempati rumah2 tersebut , perlu
fasilitas tambahan dalam rumah yang memungkinkan mereka akan tinggal
nyaman selama bertahun-tahun . Kang Dani sudah mulai memikirkan pembuatan
komponen rumah secara massal , menyederhanakan proses perakitan ,
menghilangkan komponen yang harus diangkut dari Jakarta karena sebagian
material ternyata bisa diperoleh di Banda Aceh . RMG perlu improvement
untuk menjawab kebutuhan mendesak dan berjumlah banyak .
Sementara itu, kita menerima berita telepon dari mas Susilo bahwa pak Jo
Wardi sedang di Lab Struktur Kimpraswil di Cileunyi Bandung untuk
pengujian RMG dan sertifikasi tahan gempa .

Jam 9 pagi kita meluncur kembali ke Banda Aceh untuk menemui Staf DinKes ,
Ibu dokter Anies . Proposal Kang Samud disambut gembira dan daftar
peralatan yang dibutuhkan sudah tinggal print . Siang ini Pak Marzuki
(Kepala Dinas) baru akan tiba dari Medan, karena itu kita harus bikin
janji lagi untuk ketemu pak Marzuki agar dapat diatasi secara teknis
administrasi maupun sumbangannya dapat didistribusikan pada rumah-sakit2
dengan tepat sasaran .

Sore hari bertemu pak Walikota Banda Aceh , Ir.Mawardi (SI'72) yang
ternyata teman se-angkatan mas Krishna , Indradjati dan sama2 latihan
WALAWA di tahun 1972 . Pembicaraan menjadi semakin hangat dan konsep
"Media Centre" mendapat tanggapan positif . Kemungkinan besar Media
Center ini akan menjadi fasilitas informasi PEMDA . Pembicaraan lain
,..yah seputaran pengalaman bersama sewaktu WALAWA .

Malam hari, Dr.Marzuki (Kepala Dinas Kesehatan) datang ke penginapan kami
dan menyanggupi untuk mem=follow up daftar peralatan RS yang dibutuhkan
. Bahkan kang Dani sudah mulai memikirkan konsep "tele-medicine" untuk
membantu para dokter didaerah pada kasus2 yang berat dan juga bisa
sebagai media belajar "jarak jauh" para mahasiswa kedokteran Unsyiah .

Sementara itu , dari informasi lapangan , ternyata Mr.Avilio dari LSM
"Save the Children" mengunjungi RMG kita di Lhok Nga dan menyatakan ingin
ketemu . Setelah saya telpon, kita janjian ketemu di Lhok Nga besok karena
saat itu mereka masih di Pidie . Malam ini kita mencatat point bagus yang
sesuai target , adalah diperolehnya kepastian tentang lahan Media Centre
serta kepastian tentang proses administratif usulan daftar peralatan RS
untuk diurus di Amerika oleh kang Samud .

Hari Kamis pagi, kita berdua dijemput Bp. Purnama Karya dari TU Kodya
Banda Aceh untuk meninjau calon lokasi yang cocok untuk Media Center .
Ada 3(tiga) lokasi yang diusulkan oleh PEMDA dan kita memilih yang di
Peunayong , karena lokasinya strategis dan luas tanahnya sekitar 550m2 .
Nampaknya lokasi tersebut dapat disetujui pak Walikota untuk dibangun
sebagai Media Center .
Kang Dani kemudian membeli meteran dan balik lagi untuk melakukan
pengukuran detail .
Siangnya kita meninjau RS milik Dr. Marzuki yang masih utuh bangunannya
walaupun disekitarnya sudah tidak ada lagi bangunan yang berdiri .
Bangunan RS yang kokoh , tiga lantai terendam air hingga ke lantai dua dan
menghancurkan peralatan elektronika di RS tersebut . Tsunami juga telah
menghanyutkan 120 orang karyawan RS termasuk 4(empat) orang anak pak
Dokter . Waktu kejadian tsunami , pak dokter sedang di Jakarta, istrinya
sedang mengantarkan anak terkecil berobat di medan . Yang tertinggal hanya
kenangan sedih yang harus dilawan dengan rasa optimisme menghadapi masa
depan .

Jam 2.30 siang kita janjian dengan Mr.Avilio dari LSM "Safe the Children
(StC)" di lokasi RMG - Lhok Nga . Mr. Avilio datang dengan Mr. Andre yang
banyak mengomentari segala kurang-lebihnya RMG kita . Yang melegakan
saya dan kang Dani adalah pernyataan mereka bahwa mereka puas dengan RMG
buatan Tridome-CORPS ITB tetapi masih memerlukan improvement karena
direncanakan untuk pemukiman jangka panjang , bukan rumah sementara .
Pertanyaan mereka yang sulit dijawab sekarang adalah : "berapa banyak
bisa dihasilkan RMG semacam ini dalam jangka waktu sebulan ??"
StC memberikan waktu 30 hari untuk dilakukannya penyempurnaan yang antara
lain tentang penggunaan lite-weight concrete, panel2 yang lebih permanen
serta pemasangan sekat penutup rangka pipa , dsbnya .
Mr. Avilio menyatakan bahwa pekerjaan cukup banyak , StC masih punya
waktu sebulan untuk mengambil keputusan dan jumlah rumah yang akan
dibangun masih sangat besar untuk dibagi rame2 diantara para developer .
Persoalannya adalah ,"... are we ready ...??? "

Kami langsung meluncur ke Airport , takut ketinggalan pesawat . Perjalanan
tiga hari serasa sekejap ,..rasanya masih pingin jalan2 sama mas Hendro
ke Ulee Kareeng , minum kopi sambil makan mie Aceh , atau makan "ayam
sampah" yang rasanya gurih2 aneh .

Laporan teknis detail kami sampaikan pada Rapat CORPS secepatnya . Kang
Dani dan saya terlelap di pesawat sampai Medan dan selanjutnya menuju
Cengkareng dengan hati senang karena mudah2an kunjungan kita membawa
berkah solusi untuk masalah bantuan untuk Aceh yang saat ini di
amanahkan kepada CORPS Batalyon I ITB .

Selamat berakhir pekan ,

Wassalam,
PriyoPS






--
--[YONSATU - ITB]---------------------------------------------
Arsip : <http://news.mahawarman.net>
News Groups : gmane.org.region.indonesia.mahawarman




<Prev in Thread] Current Thread [Next in Thread>
Google Custom Search

News | FAQ | advertise