osdir.com
mailing list archive

Subject: Re: Fwd: Re: [rakornas-menwa-2005] Fw: Re: Masukan buat RakorNas Menwa - msg#00111

List: org.region.indonesia.mahawarman

Date: Prev Next Index Thread: Prev Next Index
> On Sat, Sun, May 22, 2005 4:58 am Pak Priyo Pribadi menulis:
> >
> Bangsa Indonesia punya tantangan besar didepan mata .
> KELANGKAAN SUMBER DAYA MANUSIA .
> Melalui berbagai "wasiat" pengalaman serta pelatihan kemampuan
> individual
> dalam latihan2 MENWA maka boleh dikatakan bahwa Resimen Mahasiswa
adalah
> salah satu "pabrik SDM" yang diharapkan oleh para pendiri republik
ini.
> Pabrik tersebut harus mengikuti standard baku (ISO, SNI, Juklak
LATSARMIL) agar secara massal, simultan dan terus menerus menghasilkan
produk SDM standard yang mudah dikenali oleh konsumen nya .
> Dengan mengacu pada pemikiran Kangmas Djoni , Hermansyah , Bima
> Hermastho,
> Bung Sharif Dayan dan banyak Rekans CORPS senior yang concern dengan
masalah ini , maka Produk SDM tersebut dapat di 'imbuhi' dengan
pelengkap optional sesuai dengan kebutuhannya . Ibarat mobil standard ,
dia bisa ditambahi 4WD, PS , PW, VR, AC, R/T/CD/TV/SatCom dan bahkan kalau
> perlu JK, AT/Triptonic, snorkel,ban radial pacul, winch, tempat bagasi,
lampu kabut , tanduk aluminium bahkan parfum dan dipoles cantik .
Masyarakat akan memilih sesuai kebutuhannya dan sesuai pula dengan
kekuatan kantong nya .
> Bangsa Indonesia memerlukan yang komplit, serba bisa, tangguh, powerfull
tetapi irit bahan bakar dan bersih lingkungan .
>


Pak Priyo, Wah lengkap amat kriterianya. Kalau boleh saya tambahkan satu
kata (dan satu perbuatan) saja yaitu "kejujuran", karena pada dasarnya
kita ini adalah pemimpin yang lagi mencari pemimpin kan?.

Maaf saya kutipkan: "Setiap orang dari kamu adalah pemimpin, dan kamu
bertanggung jawab terhadap kepemimpinan itu" (Al-Hadis, H.R. Tirmidzi, Abu
Dawud, Sahih Bukhari, dan Muslim).

Isi kutipan hadis tsb sebenarnya bukanlah abstrak, karena dalam kehidupan
sehari-hari kita semua adalah pemimpin. Minimal adalah sebagai pemimpin
atau kepala rumah tangga. Selebihnya, kita masing-masing dapat berperan
sebagai pemimpin dalam berbagai bidang kehidupan atau profesi. Sebut saja
sebagai ketua RT, ketua RW, ketua organisasi kemasyarakatan, ketua
organisasi profesi, kepala desa, pejabat di lingkungan BUMN/BUMD atau
perusahaan swasta, pejabat di lingkungan pemerintahan, Komandan Batalyon
Resimen Mahasiwa, Kasmen, dsb.

Biasanya untuk menjadi seorang kepala rumah tangga kita harus memenuhi
berbagai persyaratan. Demikian pula ketika kita harus menduduki berbagai
jabatan dan dengan jabatan itu kita disebut sebagai pemimpin. Persyaratan
itu tentu bermacam-macam, tetapi setidaknya (minimum) ada tiga kriteria
yang sering disebut yakni dewasa, cakap, dan bijak. Dengan demikian kadar
kepemimpinan kita masing-masing setidaknya telah lolos dari tiga kriteria
itu, sehingga kita pun pada dasarnya sudah dapat disebut sebagai
orang-orang atau pemimpin-pemimpin yang dewasa, cakap dan bijak.

Hal di atas sangat relevan dengan buku "Pemimpin Dalam Diri Anda" (The
Leader in You) yang disusun oleh Stuart R. Levine dan Michael A. Crom,
keduanya adalah pimpinan Dale Carnegie & Associates, Inc. Dalam buku
tersebut antara lain ditulis: "Banyak orang masih mempunyai pemahaman yang
sempit tentang apa sebenarnya kepemimpinan itu. Anda berbicara ?pemimpin?
dan mereka berpikir jenderal, presiden, perdana menteri, atau ketua suatu
badan. Jelas bahwa orang-orang dalam kedudukan yang diagungkan itu
diharapkan mampu memimpin, suatu syarat yang mereka penuhi dengan tingkat
keberhasilan yang berbeda. Tetapi persoalan sebenarnya adalah bahwa
kepemimpinan tidak bermula dan berakhir pada kedudukan paling tinggi itu.
Sesungguhnya kepemimpinan sangat penting, bahkan lebih penting, harus
terjadi di tempat-tempat di mana sebagian besar kita berada dan bekerja.
Mengorganisasikan sebuah tim kerja kecil, memperkuat staf pendukung
kantor, mempertahankan kebahagiaan di rumah tangga semua itu merupakan
lini depan kepemimpinan. Kepemimpinan memang tidak pernah mudah, tetapi
syukurlah bahwa setiap orang mempunyai potensi menjadi pemimpin setiap
hari."

Dengan kutipan "universal" tersebut mudah-mudahan memperjelas pengertian
bahwa pada dasarnya setiap manusia adalah pemimpin, atau setidaknya
memiliki potensi menjadi pemimpin.

Nah jika kita sepakat demikian, maka sesungguhnya kita memiliki calon
pemimpin diantara kita bangsa Indonesia ini artinya KELANGKAAN SUMBER
DAYA MANUSIA yang dimaksukan pak Priyo pada sasarnya bisa diatasi.
Apalagi, kalau saja kita mau melakukan "seleksi" seperti AFI, Indonesia
Idol, KDI, API dsb bukan tidak mungkin kita memperoleh pemimpin sesuai
(mendekati) yang kita harapkan dengan kriteria yang mungkin lebih banyak
lagi dari yang telah disampaikan pak Priyo. Lagi-lagi saya cuma nitip satu
kata agar tidak terlupakan "kejujuran".

Mengapa dengan "kejujuran"?
Coba simak, survei yang telah dilakukan oleh sebuah lembaga kepemimpinan
internasional yang bernama The Leadership Challenge dengan melakukan
survei karakteristik CEO (Chief Executive Officer) pada tahun 1987, 1995,
dan 2002yang dilakukan di Afrika, Amerika Utara, Amerika Selatan, Asia,
Eropa, dan Australia. Masing-masing responden diminta untuk menilai dan
memilih tujuh karakteristik CEO ideal mereka. Hasil survei tiga tahun
berturut-turut itu ternyata menempatkan sikap
1. jujur (honest) pada peringkat pertama (tahun 1987: 83 persen, tahun
1995: 88 persen, tahun 2002: 88 persen).
2. berpikiran maju (forward looking),
3. kompeten (competent),
4. dapat memberi inspirasi (inspiring),
5. cerdas (intelligent),
6. adil (fair-minded), dan
7. berpandangan luas (broad-minded).
8. mendukung (supportive),
9. terus terang/jujur (straight forward),
10. bisa diandalkan (dependable),
11. bekerja sama (cooperative),
12. tegas (determined),
13. berdaya imajinasi (imaginative),
14. berambisi (ambitious),
15. berani (courageous),
16. perhatian (caring),
17. matang/dewasa dalam berpikir dan bertindak (mature),
18. setia (loyal),
19. penguasaan diri (self-controlled), dan
20. mandiri (independent).

Survei tersebut telah dimuat dalam buku Rahasia Sukses Membangkitkan ESQ
Power, Sebuah Inner Journey Melalui Al-Ihsan karangan Ary Ginanjar
Agustian (Penerbit Arga, 2003).

Maka berdasar survei internasional tersebut, saat ini yang dibutuhkan
adalah seorang leader yang memiliki karakter, yang sekaligus menunjukkan
bahwa karakter itu mampu membuat seseorang meraih sukses, menjadi seorang
powerful leader sebagai pemimpin yang memiliki kekuatan dahsyat. Karakter
tersebut terbukti secara internasional telah mengangkat mereka ke puncak
karier bisnis dan keprofesionalan kerja.

Bahkan dalam buku tersebut diungkapkan pula, pada tanggal 11-12 April 2002
para eksekutif puncak internasional dari berbagai jenis perusahaan datang
berbondong-bondong untuk menghadiri sebuah forum diskusi kepemimpinan yang
diadakan oleh Harvard Business School. Rangkuman hasil diskusi itu diberi
judul Does Spirituality Drive Success? yang artinya, apakah spiritualitas
bisa membawa seseorang pada keberhasilan?

Para pengusaha terkemuka Amerika Serikat termasuk dari lembah silikon
(Silicon Valley) yang hadir dalam diskusi selama dua hari itu, akhirnya
sepakat menyatakan bahwa spiritualisme mampu menghasilkan lima hal yaitu:
- integritas atau kejujuran,
- energi atau semangat,
- inspirasi atau ide dan inisiatif,
- wisdom atau bijak, serta
- keberanian dalam mengambil keputusan.

Mereka setuju bahwa spiritualisme terbukti mampu membawa seseorang menuju
tangga kesuksesan dan berperan besar dalam menciptakan mereka menjadi
seorang powerful leader, dengan karakter seperti tergambar dalam hasil
survei internasional tersebut.

Bagi Indonesia kini dan di masa mendatang, selain sikap jujur tampaknya
juga sikap sederhana yang harus diprioritaskan untuk dimiliki dan
dicontohkan oleh para pemimpin. Nah, tentunya siapa yang mau menjadi
pemimpin yang hanya mengabdi kepada rakyat, bukan mengabdi kepada harta
dan kekuasaan? Jawabnya tidak mudah, tetapi moga-moga dalam raker Menwa
mendatang ditemukan pemikiran ke arah hal-hal tersebut.

salam
Asodik

> WIDYA CASTRENA DHARMA SIDDHA
>
> Salam hangat,
> PriyoPS







--
--[YONSATU - ITB]---------------------------------------------
Arsip : <http://news.mahawarman.net>
News Groups : gmane.org.region.indonesia.mahawarman




Was this page helpful?
Yes No
Thread at a glance:

Previous Message by Date: click to view message preview

Menwa

Resimen Mahasiswa saat ini belum mendapatkan tempat terpandang di masyarakat. Saat ini Menwa belum memiliki reputasi yang unggul sebagai sebuah organisasi yang "ekslusif" dgn kualitas SDM yang dapat diandalkan. Realita menunjukan bahwa kekuatan Menwa berada pada orang-orangnya dan pada kelompok kelompok komunitasnya. Pada suatu kesempatan saya diminta bantuan Pa' IGW. Syamsi untuk mengirimkan dua personil sebagai relawan ke Nias pada saat gempa kembali mengguncang Nias dgn limit waktu beberapa jam saja. Kebetulan saat ini beliau ikut dalam Bendera PMI. Beliau memberikan komentar pada rekan2 pmi bahwa beliau membutuhkan orang yang siap dalam kondisi apapun. Dan ini teruji dengan 5 orang mereka bisa menancapkan bendera di Nias. Begitupun dengan pengiriman satgas ke Aceh, Mahawarman mendapat perhatian yang khusus dari dephan. Ini menunjukan Kekuatan Menwa berada pada orang-orangnya dan pada kelompokkelompok komunitasnya. FOKUS Menwa perlu memusatkan perhatian pada 3 hal : 1. Pertumbuhan Komunitas Keahlian 2. Meningkatkan nilai rata2 kemampuan SDM Menwa 3. Memantapkan kedudukan organisasi PERTUMBUHAN KOMUNITAS KEAHLIAN Pada saat bencana nasional Tsunami bagaimana kita menyiapkan SDM yang memiliki kemampuan dalam manajemen bencana? Lalu . . .Bagaimana menggerakan mereka dan siapa saja mereka? Komunitas keahlian menwa ini harus dibangun dari level yang paling rendah yaitu mulai dari batalyon atau satuan menwa. Komunitas Dalam level yang tertinggi terorganisasikan dalam Lembaga tingkat Nasional, apapun sebutannya "CRMI,Pusat Komando Menwa". MENINGKATKAN NILAI RATA2 KEMAMPUAN SDM Pada Pendidikan Dasar saya mengalami pendidikan yang dikelola skomenwa. Pada saat yang sama dan ditempat yang sama ada Komando Latihan yang mengadakan dikdasar di luar skomenwa. Cara berpikir yang ada pada waktu dari pihak skomenwa adalah bagaimana menyiapkan sdm yang memiliki sikap dan mental sebagai seorang prajurit, tidak menjadi menwa yang memble. Paradigma berpikir ini memang tidak menjadikan menwa kearah yang lebih baik. Dalam pengembangan kemampuan olah pikir terasa masih sangat kurang. Kedepan pembinaan potensi kemampuan menwa dari pendidikan dasar sudah diarahkan kepada keahlian dibidangnya dengan tidak mengurangi kemampuan dasar dasar kemiliterannya. MEMANTAPKAN KEDUDUKAN ORGANISASI Ada beberapa permasalahan tentang kedudukan Menwa dalam lembaga kemahasiswaan. Sebenarnya bagi saya bukan ditempatkan dimana tetapi bagaimana kita menempatkan diri. Kedudukan menwa ini dalam perguruan tinggi dalam surat yang disampaikan oleh Mendiknas, bahwa pengaturannya diserahkan kepada perti dengan memperhatikan aturan2 yang ada tentang lembaga kemahasiswaan. Dalam lingkup perti (Surat mendiknas) dan propinsi (Surat Mendagri dan Otda) kedudukan menwa sudah jelas. Lalu bagaimana kedudukan Menwa sebagai organisasi tingkat nasional? Menginduk ke Dephan ??????? Kasubdit binpotmenwa kini sudah tidak ada. Kita usulkan saja supaya ada lagi dgn peran pro aktif lembaga menwa tingkat nasional. +++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Mari kita mulai benahi dari level yang rendah. Apapun aspirasi yang akan ada nanti semua itu diarahkan untuk membuat pedoman tentang pengaturan menwa bukan penyeragaman sebab masing2 satuan memiliki warna lokalnya. ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ S. Yakobus Muda Resimen Mahawarman __________________________________________________ Do You Yahoo!? Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around http://mail.yahoo.com -- Binary/unsupported file stripped by Listar -- -- Type: message/rfc822 -- --[YONSATU - ITB]--------------------------------------------- Arsip : <http://news.mahawarman.net> News Groups : gmane.org.region.indonesia.mahawarman

Next Message by Date: click to view message preview

Re: [yonsatu]Ditambahi ,... Re: Fwd: Re: [rakornas-menwa-2005] Fw: Re: Masukan buat RakorNas Menwa

Alhamdulillah , ditambahi Cak Sodik . Kejujuran memang amat sangat penting dan dalam pola latihan hal ini sulit sekali cara penilaiannya dan barangkali akan terlihat nyata sewaktu latihan survival . Cak Sodik , maturnuwun atas imbuhane ,... Salam hangat, PriyoPS -----Original Message----- From: asodik-XNbuPGYthTOB+jHODAdFcQ@xxxxxxxxxxxxxxxx To: yonsatu-PA9+dxvo8yQi5wvc6DhUiQ@xxxxxxxxxxxxxxxx Date: Mon, 23 May 2005 17:43:25 +0700 (WIT) Subject: [yonsatu] Re: Fwd: Re: [rakornas-menwa-2005] Fw: Re: Masukan buat RakorNas Menwa > > On Sat, Sun, May 22, 2005 4:58 am Pak Priyo Pribadi menulis: > > > > > Bangsa Indonesia punya tantangan besar didepan mata . > > KELANGKAAN SUMBER DAYA MANUSIA . > > Melalui berbagai "wasiat" pengalaman serta pelatihan kemampuan > > individual > > dalam latihan2 MENWA maka boleh dikatakan bahwa Resimen Mahasiswa > adalah > > salah satu "pabrik SDM" yang diharapkan oleh para pendiri republik > ini. > > Pabrik tersebut harus mengikuti standard baku (ISO, SNI, Juklak > LATSARMIL) agar secara massal, simultan dan terus menerus menghasilkan > produk SDM standard yang mudah dikenali oleh konsumen nya . > > Dengan mengacu pada pemikiran Kangmas Djoni , Hermansyah , Bima > > Hermastho, > > Bung Sharif Dayan dan banyak Rekans CORPS senior yang concern dengan > masalah ini , maka Produk SDM tersebut dapat di 'imbuhi' dengan > pelengkap optional sesuai dengan kebutuhannya . Ibarat mobil standard , > dia bisa ditambahi 4WD, PS , PW, VR, AC, R/T/CD/TV/SatCom dan bahkan > kalau > > perlu JK, AT/Triptonic, snorkel,ban radial pacul, winch, tempat > bagasi, > lampu kabut , tanduk aluminium bahkan parfum dan dipoles cantik . > Masyarakat akan memilih sesuai kebutuhannya dan sesuai pula dengan > kekuatan kantong nya . > > Bangsa Indonesia memerlukan yang komplit, serba bisa, tangguh, > powerfull > tetapi irit bahan bakar dan bersih lingkungan . > > > > > Pak Priyo, Wah lengkap amat kriterianya. Kalau boleh saya tambahkan > satu > kata (dan satu perbuatan) saja yaitu "kejujuran", karena pada dasarnya > kita ini adalah pemimpin yang lagi mencari pemimpin kan?. > > Maaf saya kutipkan: "Setiap orang dari kamu adalah pemimpin, dan kamu > bertanggung jawab terhadap kepemimpinan itu" (Al-Hadis, H.R. Tirmidzi, > Abu > Dawud, Sahih Bukhari, dan Muslim). > > Isi kutipan hadis tsb sebenarnya bukanlah abstrak, karena dalam > kehidupan > sehari-hari kita semua adalah pemimpin. Minimal adalah sebagai pemimpin > atau kepala rumah tangga. Selebihnya, kita masing-masing dapat berperan > sebagai pemimpin dalam berbagai bidang kehidupan atau profesi. Sebut > saja > sebagai ketua RT, ketua RW, ketua organisasi kemasyarakatan, ketua > organisasi profesi, kepala desa, pejabat di lingkungan BUMN/BUMD atau > perusahaan swasta, pejabat di lingkungan pemerintahan, Komandan > Batalyon > Resimen Mahasiwa, Kasmen, dsb. > > Biasanya untuk menjadi seorang kepala rumah tangga kita harus memenuhi > berbagai persyaratan. Demikian pula ketika kita harus menduduki > berbagai > jabatan dan dengan jabatan itu kita disebut sebagai pemimpin. > Persyaratan > itu tentu bermacam-macam, tetapi setidaknya (minimum) ada tiga kriteria > yang sering disebut yakni dewasa, cakap, dan bijak. Dengan demikian > kadar > kepemimpinan kita masing-masing setidaknya telah lolos dari tiga > kriteria > itu, sehingga kita pun pada dasarnya sudah dapat disebut sebagai > orang-orang atau pemimpin-pemimpin yang dewasa, cakap dan bijak. > > Hal di atas sangat relevan dengan buku "Pemimpin Dalam Diri Anda" (The > Leader in You) yang disusun oleh Stuart R. Levine dan Michael A. Crom, > keduanya adalah pimpinan Dale Carnegie & Associates, Inc. Dalam buku > tersebut antara lain ditulis: "Banyak orang masih mempunyai pemahaman > yang > sempit tentang apa sebenarnya kepemimpinan itu. Anda berbicara > ?pemimpin? > dan mereka berpikir jenderal, presiden, perdana menteri, atau ketua > suatu > badan. Jelas bahwa orang-orang dalam kedudukan yang diagungkan itu > diharapkan mampu memimpin, suatu syarat yang mereka penuhi dengan > tingkat > keberhasilan yang berbeda. Tetapi persoalan sebenarnya adalah bahwa > kepemimpinan tidak bermula dan berakhir pada kedudukan paling tinggi > itu. > Sesungguhnya kepemimpinan sangat penting, bahkan lebih penting, harus > terjadi di tempat-tempat di mana sebagian besar kita berada dan > bekerja. > Mengorganisasikan sebuah tim kerja kecil, memperkuat staf pendukung > kantor, mempertahankan kebahagiaan di rumah tangga semua itu merupakan > lini depan kepemimpinan. Kepemimpinan memang tidak pernah mudah, tetapi > syukurlah bahwa setiap orang mempunyai potensi menjadi pemimpin setiap > hari." > > Dengan kutipan "universal" tersebut mudah-mudahan memperjelas > pengertian > bahwa pada dasarnya setiap manusia adalah pemimpin, atau setidaknya > memiliki potensi menjadi pemimpin. > > Nah jika kita sepakat demikian, maka sesungguhnya kita memiliki calon > pemimpin diantara kita bangsa Indonesia ini artinya KELANGKAAN SUMBER > DAYA MANUSIA yang dimaksukan pak Priyo pada sasarnya bisa diatasi. > Apalagi, kalau saja kita mau melakukan "seleksi" seperti AFI, Indonesia > Idol, KDI, API dsb bukan tidak mungkin kita memperoleh pemimpin sesuai > (mendekati) yang kita harapkan dengan kriteria yang mungkin lebih > banyak > lagi dari yang telah disampaikan pak Priyo. Lagi-lagi saya cuma nitip > satu > kata agar tidak terlupakan "kejujuran". > > Mengapa dengan "kejujuran"? > Coba simak, survei yang telah dilakukan oleh sebuah lembaga > kepemimpinan > internasional yang bernama The Leadership Challenge dengan melakukan > survei karakteristik CEO (Chief Executive Officer) pada tahun 1987, > 1995, > dan 2002yang dilakukan di Afrika, Amerika Utara, Amerika Selatan, Asia, > Eropa, dan Australia. Masing-masing responden diminta untuk menilai dan > memilih tujuh karakteristik CEO ideal mereka. Hasil survei tiga tahun > berturut-turut itu ternyata menempatkan sikap > 1. jujur (honest) pada peringkat pertama (tahun 1987: 83 persen, tahun > 1995: 88 persen, tahun 2002: 88 persen). > 2. berpikiran maju (forward looking), > 3. kompeten (competent), > 4. dapat memberi inspirasi (inspiring), > 5. cerdas (intelligent), > 6. adil (fair-minded), dan > 7. berpandangan luas (broad-minded). > 8. mendukung (supportive), > 9. terus terang/jujur (straight forward), > 10. bisa diandalkan (dependable), > 11. bekerja sama (cooperative), > 12. tegas (determined), > 13. berdaya imajinasi (imaginative), > 14. berambisi (ambitious), > 15. berani (courageous), > 16. perhatian (caring), > 17. matang/dewasa dalam berpikir dan bertindak (mature), > 18. setia (loyal), > 19. penguasaan diri (self-controlled), dan > 20. mandiri (independent). > > Survei tersebut telah dimuat dalam buku Rahasia Sukses Membangkitkan > ESQ > Power, Sebuah Inner Journey Melalui Al-Ihsan karangan Ary Ginanjar > Agustian (Penerbit Arga, 2003). > > Maka berdasar survei internasional tersebut, saat ini yang dibutuhkan > adalah seorang leader yang memiliki karakter, yang sekaligus > menunjukkan > bahwa karakter itu mampu membuat seseorang meraih sukses, menjadi > seorang > powerful leader sebagai pemimpin yang memiliki kekuatan dahsyat. > Karakter > tersebut terbukti secara internasional telah mengangkat mereka ke > puncak > karier bisnis dan keprofesionalan kerja. > > Bahkan dalam buku tersebut diungkapkan pula, pada tanggal 11-12 April > 2002 > para eksekutif puncak internasional dari berbagai jenis perusahaan > datang > berbondong-bondong untuk menghadiri sebuah forum diskusi kepemimpinan > yang > diadakan oleh Harvard Business School. Rangkuman hasil diskusi itu > diberi > judul Does Spirituality Drive Success? yang artinya, apakah > spiritualitas > bisa membawa seseorang pada keberhasilan? > > Para pengusaha terkemuka Amerika Serikat termasuk dari lembah silikon > (Silicon Valley) yang hadir dalam diskusi selama dua hari itu, akhirnya > sepakat menyatakan bahwa spiritualisme mampu menghasilkan lima hal > yaitu: > - integritas atau kejujuran, > - energi atau semangat, > - inspirasi atau ide dan inisiatif, > - wisdom atau bijak, serta > - keberanian dalam mengambil keputusan. > > Mereka setuju bahwa spiritualisme terbukti mampu membawa seseorang > menuju > tangga kesuksesan dan berperan besar dalam menciptakan mereka menjadi > seorang powerful leader, dengan karakter seperti tergambar dalam hasil > survei internasional tersebut. > > Bagi Indonesia kini dan di masa mendatang, selain sikap jujur tampaknya > juga sikap sederhana yang harus diprioritaskan untuk dimiliki dan > dicontohkan oleh para pemimpin. Nah, tentunya siapa yang mau menjadi > pemimpin yang hanya mengabdi kepada rakyat, bukan mengabdi kepada harta > dan kekuasaan? Jawabnya tidak mudah, tetapi moga-moga dalam raker Menwa > mendatang ditemukan pemikiran ke arah hal-hal tersebut. > > salam > Asodik > > > WIDYA CASTRENA DHARMA SIDDHA > > > > Salam hangat, > > PriyoPS > > > > > > > > -- > --[YONSATU - ITB]--------------------------------------------- > Arsip : <http://news.mahawarman.net> > News Groups : gmane.org.region.indonesia.mahawarman > -- --[YONSATU - ITB]--------------------------------------------- Arsip : <http://news.mahawarman.net> News Groups : gmane.org.region.indonesia.mahawarman

Previous Message by Thread: click to view message preview

Fwd: Re: [rakornas-menwa-2005] Fw: Re: Masukan buat RakorNas Menwa

On Sat, 21 May 2005 12:02:17 +0700 Kangmas Djoni menulis : Subject: [rakornas-menwa-2005] Fw: [yonsatu] Re: Masukan buat RakorNas Menwa > Tanpa itu lebih dulu kita upayakan dan pastikan, maka usaha > me-revitalisasi menwa secara bottom up, dalam bentuk sekedar kegiatan > mahasiswa bermain tentara-tentaraan, adalah menegakkan benang basah! > (PPS) Kangmas Djoni benar , kita tidak boleh kerja sis-sia. Selama ini yang kita lihat hanya dunia kampus dan sibuk mikirin jumlah anggota yang makin sedikit . Padahal dunia luar sudah berubah, organisasi lain masih terus melakukan pengkaderan anggota dan sudah masuk "jalur-cepat" dalam upaya mengisi kekosongan SDM tingkat Nasional . Dalam merumuskan pola pembinaan kedepan , nampaknya kita harus memilah-milah , antara pembinaan MENWA (yang masih mahasiswa di Kampus2) kemudian pembinaan kekuatan ALUMNI (yang setelah jadi sarjana malah seperti pensiunan , ..alias gak kepakai lagi) serta pembinaan SDM terlatih yang punya wawasan kebangsaan yang tinggi dan berjiwa "merah-putih" . Sependapat lagi dengan Kangmas Djoni, janganlah kegiatan ke-MENWA-an ini terlalu didominasi Alumni nya . MENWA yang masih aktif justru jadi penonton doang . Tugas kita para ALUMNI adalah membuat mereka terlindungi agar bisa bermain dan berlatih . Bukan kita yang main . Kalau sekarang MENWA yang dikampus ciut karena desakan pembubaran dan tidak punya payung hukum yang otomatis juga gak punya kantong dana , maka menjadi tugas kita2 sebagai alumni untuk ngeberesinnya . Mengapa kesan tentang peranan Alumni terlalu menonjol atau mengemuka dan peran MENWA nya tertutup oleh Alumni ?? Saya berpendapat bahwa sinyalemen Bima Hermastho tentang peran KASMEN atau organisasi SKOMEN memang sangat beralasan dan masalah SKOMEN patut dipertanyakan karena masih jauh dari harapan . Padahal semestinya para pejabat SKOMEN adalah yang terpilih dari Batalyon2 (maaf, saya lebih suka istilah Batalyon daripada Satuan meskipun jumlahnya dikit) . Saya rasa hal ini berlaku umum terkecuali yang kita dengar dari Bung Sharif Dayan karena barusan saya sangat terkesan dengan Mahawijaya . Dalam jenjang karier ke MENWA-an , maka jabatan di SKOMEN adalah setara dengan jabatan DanYon . Kemungkinan besar kelambanan gerak SKOMEN adalah karena terpola dengan kegiatan DANMEN yang juga PAMEN TNI (KODAM) yang juga sibuk dengan tugas2nya di Kesatuannya . Dahulu di Mahawarman DANMEN adalah figur dan akses untuk mendapat fasilitas latihan . Penentu utama kegiatan adalah KASMEN beserta Staf yang mahasiswa semua . Kreatifitas SKOMEN sangat ditentukan oleh para Staf yang membawakan peran wilayah . Dulu juga ada Forum Komando yang terdiri dari DanYon2 dan Asisten di SKOMEN yang berkoordinasi melaksanakan program . Kalau semua tergantung DANMEN , maka dapat dipastikan gerakan nya akan lamban sekali . Bagaimana pula dengan Ikatan Alumni ??? Sebagai alumni MENWA selama lebih dari 20 tahun (Kangmas Djoni lebih dari 30 tahun) saya merasa belum ada manfaatnya kita punya Ikatan Alumni . Organisasi Ikatan Alumni lebih banyak membina "keatas" , alias bekerja dengan pejabat "diatas" dengan mengatas namakan Alumni yang sudah 400.000 an jumlah anggotanya . Saya rasa pengurus Ikatan Alumni harus mulai terjun kebawah , jangan cuma "nengok2" aja dari atas awan cummulus . Persoalan yang diceritakan Bung Sharif Dayan tentang matinya beberapa Batalyon dan saya kira dialami oleh Resimen2 lain di daerah adalah kenyataan riil yang berbahaya untuk organisasi dan belum tersentuh oleh Ikatan Alumni . Karena itu sewaktu ada usulan "penyegaran" Ikatan Alumni dengan masuknya mas Budiono , saya sangat bersemangat dan mendukung terpilihnya beliau (padahal tidak punya hak pilih) . Kini, saatnya kita membenahi Ikatan Alumni . Tantangannya sangat banyak , ...mulai dari peranan dalam penyusunan Undang2 , penyediaan fasilitas latihan untuk mencetak kader2 baru , menghidupkan kembali Batalyon2 didaerah , mengumpulkan para Alumni2 potensial , pejabat2 SKOMEN , Staf Batalyon beserta Danyon2 nya dan mantan pejabat2 SKOMEN untuk memikirkan sosok MENWA masa mendatang yang memenuhi syarat2 utama sebagai organisasi pencetak SDM terlatih yang berwawasan kebangsaan , para pemimpin generasi muda yang akan memperbaiki kualitas generasi bobrok di masa lalu dsbnya . Rumuskan segera . Kalau kemudian Mas Tjipto Sukardhono bersama-sama beberapa senior alumni MENWA di Jakarta sekitar 3 tahun yang lalu membentuk Forum CORPS MENWA Indonesia , mari kita melihatnya bukan dalam rangka menyaingi Ikatan Alumni yang sudah ada . Walaupun memang ada rasa kecewa terhadap kurangnya peranan Ikatan Alumni tersebut . FORUM CORPS adalah organisasi yang mempersatukan MENWA aktif dengan para Alumni nya . Forum CORPS didirikan untuk menjawab tantangan dan ancaman pembubaran MENWA dimana saat itu perlindungan hukum terhadap keberadaan MENWA sudah goyah dan kehidupan MENWA tergantung hanya pada Rektor Perguruan Tinggi yang juga menghadapi masalah restrukturisasi menjadi BHMN (PT negeri). Kita di ITB beruntung karena Rektornya sama sekali tidak terpengaruh dengan desakan pembubaran MENWA dan para alumninya cepat membuat program Re-posisi (Indradjaya Dalel) dan Re-building(Susilo) . Kedua program tersebut menyebabkan alumni Batalyon I "turun gunung" menyelamatkan organisasi ini dari kepunahan . Bagaimana keadaan Batalyon2 lain atau Resimen2 lainnya ?? Dimanakah engkau Ikatan Alumni MENWA ??? Bangsa Indonesia punya tantangan besar didepan mata . KELANGKAAN SUMBER DAYA MANUSIA . Melalui berbagai "wasiat" pengalaman serta pelatihan kemampuan individual dalam latihan2 MENWA maka boleh dikatakan bahwa Resimen Mahasiswa adalah salah satu "pabrik SDM" yang diharapkan oleh para pendiri republik ini. Pabrik tersebut harus mengikuti standard baku (ISO, SNI, Juklak LATSARMIL) agar secara massal, simultan dan terus menerus menghasilkan produk SDM standard yang mudah dikenali oleh konsumen nya . Dengan mengacu pada pemikiran Kangmas Djoni , Hermansyah , Bima Hermastho, Bung Sharif Dayan dan banyak Rekans CORPS senior yang concern dengan masalah ini , maka Produk SDM tersebut dapat di 'imbuhi' dengan pelengkap optional sesuai dengan kebutuhannya . Ibarat mobil standard , dia bisa ditambahi 4WD, PS , PW, VR, AC, R/T/CD/TV/SatCom dan bahkan kalau perlu JK, AT/Triptonic, snorkel,ban radial pacul, winch, tempat bagasi, lampu kabut , tanduk aluminium bahkan parfum dan dipoles cantik . Masyarakat akan memilih sesuai kebutuhannya dan sesuai pula dengan kekuatan kantong nya . Bangsa Indonesia memerlukan yang komplit, serba bisa, tangguh, powerfull tetapi irit bahan bakar dan bersih lingkungan . WIDYA CASTRENA DHARMA SIDDHA Salam hangat, PriyoPS Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/rakornas-menwa-2005/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: rakornas-menwa-2005-unsubscribe-hHKSG33TihhbjbujkaE4pw@xxxxxxxxxxxxxxxx <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/ -- --[YONSATU - ITB]--------------------------------------------- Arsip : <http://news.mahawarman.net> News Groups : gmane.org.region.indonesia.mahawarman

Next Message by Thread: click to view message preview

Re: [yonsatu]Ditambahi ,... Re: Fwd: Re: [rakornas-menwa-2005] Fw: Re: Masukan buat RakorNas Menwa

Alhamdulillah , ditambahi Cak Sodik . Kejujuran memang amat sangat penting dan dalam pola latihan hal ini sulit sekali cara penilaiannya dan barangkali akan terlihat nyata sewaktu latihan survival . Cak Sodik , maturnuwun atas imbuhane ,... Salam hangat, PriyoPS -----Original Message----- From: asodik-XNbuPGYthTOB+jHODAdFcQ@xxxxxxxxxxxxxxxx To: yonsatu-PA9+dxvo8yQi5wvc6DhUiQ@xxxxxxxxxxxxxxxx Date: Mon, 23 May 2005 17:43:25 +0700 (WIT) Subject: [yonsatu] Re: Fwd: Re: [rakornas-menwa-2005] Fw: Re: Masukan buat RakorNas Menwa > > On Sat, Sun, May 22, 2005 4:58 am Pak Priyo Pribadi menulis: > > > > > Bangsa Indonesia punya tantangan besar didepan mata . > > KELANGKAAN SUMBER DAYA MANUSIA . > > Melalui berbagai "wasiat" pengalaman serta pelatihan kemampuan > > individual > > dalam latihan2 MENWA maka boleh dikatakan bahwa Resimen Mahasiswa > adalah > > salah satu "pabrik SDM" yang diharapkan oleh para pendiri republik > ini. > > Pabrik tersebut harus mengikuti standard baku (ISO, SNI, Juklak > LATSARMIL) agar secara massal, simultan dan terus menerus menghasilkan > produk SDM standard yang mudah dikenali oleh konsumen nya . > > Dengan mengacu pada pemikiran Kangmas Djoni , Hermansyah , Bima > > Hermastho, > > Bung Sharif Dayan dan banyak Rekans CORPS senior yang concern dengan > masalah ini , maka Produk SDM tersebut dapat di 'imbuhi' dengan > pelengkap optional sesuai dengan kebutuhannya . Ibarat mobil standard , > dia bisa ditambahi 4WD, PS , PW, VR, AC, R/T/CD/TV/SatCom dan bahkan > kalau > > perlu JK, AT/Triptonic, snorkel,ban radial pacul, winch, tempat > bagasi, > lampu kabut , tanduk aluminium bahkan parfum dan dipoles cantik . > Masyarakat akan memilih sesuai kebutuhannya dan sesuai pula dengan > kekuatan kantong nya . > > Bangsa Indonesia memerlukan yang komplit, serba bisa, tangguh, > powerfull > tetapi irit bahan bakar dan bersih lingkungan . > > > > > Pak Priyo, Wah lengkap amat kriterianya. Kalau boleh saya tambahkan > satu > kata (dan satu perbuatan) saja yaitu "kejujuran", karena pada dasarnya > kita ini adalah pemimpin yang lagi mencari pemimpin kan?. > > Maaf saya kutipkan: "Setiap orang dari kamu adalah pemimpin, dan kamu > bertanggung jawab terhadap kepemimpinan itu" (Al-Hadis, H.R. Tirmidzi, > Abu > Dawud, Sahih Bukhari, dan Muslim). > > Isi kutipan hadis tsb sebenarnya bukanlah abstrak, karena dalam > kehidupan > sehari-hari kita semua adalah pemimpin. Minimal adalah sebagai pemimpin > atau kepala rumah tangga. Selebihnya, kita masing-masing dapat berperan > sebagai pemimpin dalam berbagai bidang kehidupan atau profesi. Sebut > saja > sebagai ketua RT, ketua RW, ketua organisasi kemasyarakatan, ketua > organisasi profesi, kepala desa, pejabat di lingkungan BUMN/BUMD atau > perusahaan swasta, pejabat di lingkungan pemerintahan, Komandan > Batalyon > Resimen Mahasiwa, Kasmen, dsb. > > Biasanya untuk menjadi seorang kepala rumah tangga kita harus memenuhi > berbagai persyaratan. Demikian pula ketika kita harus menduduki > berbagai > jabatan dan dengan jabatan itu kita disebut sebagai pemimpin. > Persyaratan > itu tentu bermacam-macam, tetapi setidaknya (minimum) ada tiga kriteria > yang sering disebut yakni dewasa, cakap, dan bijak. Dengan demikian > kadar > kepemimpinan kita masing-masing setidaknya telah lolos dari tiga > kriteria > itu, sehingga kita pun pada dasarnya sudah dapat disebut sebagai > orang-orang atau pemimpin-pemimpin yang dewasa, cakap dan bijak. > > Hal di atas sangat relevan dengan buku "Pemimpin Dalam Diri Anda" (The > Leader in You) yang disusun oleh Stuart R. Levine dan Michael A. Crom, > keduanya adalah pimpinan Dale Carnegie & Associates, Inc. Dalam buku > tersebut antara lain ditulis: "Banyak orang masih mempunyai pemahaman > yang > sempit tentang apa sebenarnya kepemimpinan itu. Anda berbicara > ?pemimpin? > dan mereka berpikir jenderal, presiden, perdana menteri, atau ketua > suatu > badan. Jelas bahwa orang-orang dalam kedudukan yang diagungkan itu > diharapkan mampu memimpin, suatu syarat yang mereka penuhi dengan > tingkat > keberhasilan yang berbeda. Tetapi persoalan sebenarnya adalah bahwa > kepemimpinan tidak bermula dan berakhir pada kedudukan paling tinggi > itu. > Sesungguhnya kepemimpinan sangat penting, bahkan lebih penting, harus > terjadi di tempat-tempat di mana sebagian besar kita berada dan > bekerja. > Mengorganisasikan sebuah tim kerja kecil, memperkuat staf pendukung > kantor, mempertahankan kebahagiaan di rumah tangga semua itu merupakan > lini depan kepemimpinan. Kepemimpinan memang tidak pernah mudah, tetapi > syukurlah bahwa setiap orang mempunyai potensi menjadi pemimpin setiap > hari." > > Dengan kutipan "universal" tersebut mudah-mudahan memperjelas > pengertian > bahwa pada dasarnya setiap manusia adalah pemimpin, atau setidaknya > memiliki potensi menjadi pemimpin. > > Nah jika kita sepakat demikian, maka sesungguhnya kita memiliki calon > pemimpin diantara kita bangsa Indonesia ini artinya KELANGKAAN SUMBER > DAYA MANUSIA yang dimaksukan pak Priyo pada sasarnya bisa diatasi. > Apalagi, kalau saja kita mau melakukan "seleksi" seperti AFI, Indonesia > Idol, KDI, API dsb bukan tidak mungkin kita memperoleh pemimpin sesuai > (mendekati) yang kita harapkan dengan kriteria yang mungkin lebih > banyak > lagi dari yang telah disampaikan pak Priyo. Lagi-lagi saya cuma nitip > satu > kata agar tidak terlupakan "kejujuran". > > Mengapa dengan "kejujuran"? > Coba simak, survei yang telah dilakukan oleh sebuah lembaga > kepemimpinan > internasional yang bernama The Leadership Challenge dengan melakukan > survei karakteristik CEO (Chief Executive Officer) pada tahun 1987, > 1995, > dan 2002yang dilakukan di Afrika, Amerika Utara, Amerika Selatan, Asia, > Eropa, dan Australia. Masing-masing responden diminta untuk menilai dan > memilih tujuh karakteristik CEO ideal mereka. Hasil survei tiga tahun > berturut-turut itu ternyata menempatkan sikap > 1. jujur (honest) pada peringkat pertama (tahun 1987: 83 persen, tahun > 1995: 88 persen, tahun 2002: 88 persen). > 2. berpikiran maju (forward looking), > 3. kompeten (competent), > 4. dapat memberi inspirasi (inspiring), > 5. cerdas (intelligent), > 6. adil (fair-minded), dan > 7. berpandangan luas (broad-minded). > 8. mendukung (supportive), > 9. terus terang/jujur (straight forward), > 10. bisa diandalkan (dependable), > 11. bekerja sama (cooperative), > 12. tegas (determined), > 13. berdaya imajinasi (imaginative), > 14. berambisi (ambitious), > 15. berani (courageous), > 16. perhatian (caring), > 17. matang/dewasa dalam berpikir dan bertindak (mature), > 18. setia (loyal), > 19. penguasaan diri (self-controlled), dan > 20. mandiri (independent). > > Survei tersebut telah dimuat dalam buku Rahasia Sukses Membangkitkan > ESQ > Power, Sebuah Inner Journey Melalui Al-Ihsan karangan Ary Ginanjar > Agustian (Penerbit Arga, 2003). > > Maka berdasar survei internasional tersebut, saat ini yang dibutuhkan > adalah seorang leader yang memiliki karakter, yang sekaligus > menunjukkan > bahwa karakter itu mampu membuat seseorang meraih sukses, menjadi > seorang > powerful leader sebagai pemimpin yang memiliki kekuatan dahsyat. > Karakter > tersebut terbukti secara internasional telah mengangkat mereka ke > puncak > karier bisnis dan keprofesionalan kerja. > > Bahkan dalam buku tersebut diungkapkan pula, pada tanggal 11-12 April > 2002 > para eksekutif puncak internasional dari berbagai jenis perusahaan > datang > berbondong-bondong untuk menghadiri sebuah forum diskusi kepemimpinan > yang > diadakan oleh Harvard Business School. Rangkuman hasil diskusi itu > diberi > judul Does Spirituality Drive Success? yang artinya, apakah > spiritualitas > bisa membawa seseorang pada keberhasilan? > > Para pengusaha terkemuka Amerika Serikat termasuk dari lembah silikon > (Silicon Valley) yang hadir dalam diskusi selama dua hari itu, akhirnya > sepakat menyatakan bahwa spiritualisme mampu menghasilkan lima hal > yaitu: > - integritas atau kejujuran, > - energi atau semangat, > - inspirasi atau ide dan inisiatif, > - wisdom atau bijak, serta > - keberanian dalam mengambil keputusan. > > Mereka setuju bahwa spiritualisme terbukti mampu membawa seseorang > menuju > tangga kesuksesan dan berperan besar dalam menciptakan mereka menjadi > seorang powerful leader, dengan karakter seperti tergambar dalam hasil > survei internasional tersebut. > > Bagi Indonesia kini dan di masa mendatang, selain sikap jujur tampaknya > juga sikap sederhana yang harus diprioritaskan untuk dimiliki dan > dicontohkan oleh para pemimpin. Nah, tentunya siapa yang mau menjadi > pemimpin yang hanya mengabdi kepada rakyat, bukan mengabdi kepada harta > dan kekuasaan? Jawabnya tidak mudah, tetapi moga-moga dalam raker Menwa > mendatang ditemukan pemikiran ke arah hal-hal tersebut. > > salam > Asodik > > > WIDYA CASTRENA DHARMA SIDDHA > > > > Salam hangat, > > PriyoPS > > > > > > > > -- > --[YONSATU - ITB]--------------------------------------------- > Arsip : <http://news.mahawarman.net> > News Groups : gmane.org.region.indonesia.mahawarman > -- --[YONSATU - ITB]--------------------------------------------- Arsip : <http://news.mahawarman.net> News Groups : gmane.org.region.indonesia.mahawarman
Loading Comments...
Home | News | Patents | Sitemap | FAQ | advertise

Advertising by