logo       

Filosofis sebagai dasar (dh: TNI di Bawah...): msg#00102

org.region.indonesia.mahawarman

Subject: Filosofis sebagai dasar (dh: TNI di Bawah...)


At 02:45 AM 5/21/05 +0700, "Priyo Pribadi Soemarno" wrote:

>Saya nggak ngerti mengapa bung Sharif hanya mempostingkan tulisan dari
>sumber lain tanpa komentar ,...apakah memang sudah masuk pit ???

Kalau 'nyangkut' di "pit" lebih dari 8 detik, artinya kan ada masalah
serius...makanya saya segera keluar lagi, tapi tidak langsung ke jalur utama...
:-)


>Lempar bola , nih yeeee....?

:-)

Tampaknya saya terlalu lasak, jadi perlu diturunkan "versneling"nya, agar
tidak bicara sendiri dan mendengar suara sendiri...
;-)


>Pengertian saya, mestinya komando TNI ada di tangan Panglima Tertinggi
>dalam hal ini Presiden RI . Kalau Komando ditangan MenHan , lha ,..apa gak
>cilaka kalau MenHan nya sipil yang "acakadut" ...???

Berdasarkan perkembangan selama ini, membawahkan tersebut adalah dalam
pengertian administrasi, bukan wewenang dan komando. Memang harus dicermati
betul, agar jangan terlanjur seperti di AS, yang -dalam sejumlah kesempatan-
para politisinya tentara digunakan sebagai alat politik kotor. Kita lihat
saja Vietnam, Afganistan dan Iraq.

Mengenai hubungan dengan Menhan, tentunya tergantung Presiden. Saya sendiri
menganggap itu berhubungan dengan kita, karena Dephan adalah salah satu
pranata pembina Menwa. Bagaimana ia memperlakukan atau berrencana
memperlakukan TNI tentunya dapat dianggap akan dikenakan pada Menwa juga.


>Mungkin ketentuan ini produk masa lalu , ketika Presiden nya masih dijabat
>oleh Kyai Dur dari NU . Boleh dibilang masalahnya situasional, tidak boleh
>dijadikan ketentuan sepanjang masa .

Tidak ada yang bisa menjamin pelaksanaan suatu sistem, karena yang memegang
peranan adalah manusianya. Selama ini, arah kebijakan kita dalam bernegara
tidaklah jelas benar, sehingga menimbulkan keraguan siapakah sebenarnya yang
mengendalikan negara ini. Ini tentu saja -dalam skala kecil- sekali lagi
berkaitan dengan keberadaan Menwa.


>Atur mengatur TNI sepertinya masih seru juga , termasuk boleh tidaknya
>ikut PILKADA ,.. Lucu juga kalau TNI aktif boleh ikut PILKADA , tetapi
>cuma didukung oleh partai anu ,...yang lainnya oposisi ,.....
>Kalau seratus persen didukung masyarakat lain soal .

Jumat 20 Mei 2005, bertempat di Makomen Mahawijaya, dilakukan sosialisasi
terhadap para dansat seputar Rakornas. Inilah yang menjadi salah satu alasan
mengapa saya menunda menanggapi surat Pak Akhmad Bukhari. Rapat itu cukup
lama, karena tidak semua dapat menangkap makna pengadaan Rakornas. Kami
memang harus bersabar menghadapi kesenjangan pengertian ini, mengingat
tingkat kematangan pemahaman dan emosi mereka yang memang berbeda sebagai
orang-orang yang lebih muda.

Hal yang sudah disampaikan Pak Hermansyah, Pak Akhmad Bukhari, Pak Priyo dan
Pak Bimo dapat saya katakan harus disederhanakan dulu, sebelum dapat mereka
cerna. Bahkan cara penyampaian saya pun masih dianggap belum cukup
sederhana. Untung ada rekan lain staf ahli -beliau juga sudah purnawira-
yang bisa membantu dalam hal tersebut.

Tapi pada dasarnya -ini sudah saya duga sebelumnya yaitu bahwa sebenarnya
kita sudah mengetahui _apanya_ namun tidak semua paham mengenai
_bagaimananya_- rekan-rekan dansat memang sudah memikirkan mengenai
bagaimana bisa 'menjual' Menwa. Ini segaris dengan pembicaraan-pembicaraan
kita sebelumnya di sini, adalah bahwa letak pentingnya keberadaan komenwa
adalah untuk menerjemahkan garis-garis haluan yang sudah disepakati bersama
secara nasional.

Tentu saja kita akan menimbulkan "boring" pada para calon wira mau pun wira
sendiri, ketika kita bolak-balik berceloteh mengenai TP, TRIP dan sebagainya
itu. Tugas Pusat Menwa -atau apalah namanya- nanti adalah menyusun
garis-garis haluan tersebut, berdasarkan diskusi filosofis yang kita lakukan
di sini.

Bagi kebanyakan kita, perbincangan yang sarat dengan filosofi dan
kajian-kajian dasar mengenai "mengapa" dan "ke mana" bukanlah sesuatu yang
terlalu menarik untuk diikuti. Namun sebenarnya inilah yang akan menjadi
dasar kita dalam 'bernapas', bukan sekadar bergerak seperti robot.

Sekiranya rekan semua berada dalam pertemuan tersebut, rasanya kita akan
sependapat, bahwa tugas Pengarah nanti adalah menerjemahkan semua hasil
pembicaraan kita -ditambah apa pun yang kita masing-masing punyai selama
ini- agar dapat dicerna dengan baik pada saat persidangan-persidangan
dilakukan dalam Rakornas nanti.

Sebenarnya, yang sudah disepakati dalam pertemuan antarutusan komenwa pada
15-16 April 2005, adalah menyusun secara bersama rancangan bahan untuk
Rakornas, menyampaikan pada masing-masing satuan dalam wilayah komenwanya,
kemudian membawanya ke dalam Rakornas. Setidaknya sekitar 70 persen bahan
sudah diketahui bersama, sehingga yang ada pada saat itu adalah
penambahan-penambahan saja.

Walau lambat, nampaknya kita sedang berada dalam atau menuju Tahap II, atau
menyampaikan pada satuan masing-masing dalam wilayah komenwanya.

Namun sampai saat ini, belum ada pemberitahuan dari Pak Yakob (Kasmen
Mahawarman), Pak Umar (Kasmen Jayakarta), Pak Rano (Kasmen Mahadwiyudha),
Pak Hari Susanto (Kasmen Mahakarta) dan sejumlah rekan lain yang pernah ikut
dalam pertemuan tersebut, mengenai perkembangan di daerah masing-masing.


>Bung Sharif , apakah pancingannya udah kena ,...??

Pak Priyo bukannya memancing, tapi sudah menggunakan pukat harimau !!
:-)


Sharif Dayan
Resimen Mahawijaya



--
--[YONSATU - ITB]---------------------------------------------
Arsip : <http://news.mahawarman.net>
News Groups : gmane.org.region.indonesia.mahawarman




<Prev in Thread] Current Thread [Next in Thread>
Google Custom Search

News | FAQ | advertise