logo       

Re: Menwa: msg#00096

org.region.indonesia.mahawarman

Subject: Re: Menwa

Widya Çastrena Dharma Siddha !

Terima Kasih pada Pak Akhmad Bukhari Saleh yang sudah meneruskan masukan
berharga dari Pak Hermansyah (purnawira Yon 1 Mahawarman).

Untuk Pak Hermansyah, Terima Kasih sehubungan dengan masukan-masukan Anda.
Sangat tajam, sehingga 'memaksa' saya untuk membongkar perpustakaan kecil
saya...
:-)


At 05:21 PM 17 Mei 2005 +0200, "Hermansyah" wrote:

>saya
>mau ikutan kasih input ah. Biar telat2 juga nggak apa2 ya?

Tenggang antara keputusan mengadakan rakornas (16 April 2005) dan
pelaksanaannya (Minggu III Agustus 2005) sementara yang diharapkan adalah
suatu kemufakatan yang menyangkut masa depan kita, bisa dikatakan amat
sempit. Mungkin dapatlah dikatakan sebagai "Mission Impossible", karena
begitu banyak yang harus disusun dan dimaknakan, sehingga kemufakatan dapat
dicapai.

Namun laksana berada dalam pertempuran -seperti yang juga dirasakan presiden
kita- musuh tidak akan menunggu kita bersiap 100 persen. Bagaimana pun hasil
rakornas tersebut, setidaknya saat ini kita sudah mengalami sendiri betapa
semakin banyaknya purnawira yang susul menyusul tampil dan berbagi rasa
untuk menaikkan kembali panji-panji Resimen Mahasiswa.

Memang, tampaknya keinginan untuk bisa menghasilkan Juklak dan Juknis -atau
apa pun selain itu- menjadi tidak sederhana lagi, karena kita sedang
mempersiapkan sebuah kelahiran kembali.

Pengetahun dan kemampuan saya amat terbatas dalam penuangan konsep bahan
rakornas nanti, sehingga bantuan rekan semua untuk mewujudkan harapan kita
-berupa kemufakatan- dapat kita susun dengan baik, sehingga pekerjaan para
Pengarah pada Akhir Mei atau Awal Juni 2005 ini dapat dipermudah.


>1- Tentukan atau redefinisi apa Visi Menwa. Buat apa sih sebenernya Menwa
>di bentuk? atau, buat apa sih kita ngotot agar Menwa dipertahankan? Apakah
>karena kita ingin Menwa berfungsi sebagai salah satu elemen doktrin
>SisHankamRata? Atau Menwa adalah pure dilihat sebagai salah satu sumber
>CadNas? Atau buat mencetak Sarjana Plus? Seperti apa sih sebenernya kita
>kepingin Mewa dilihat oleh orang luar? Sebagai Preman Kampus?, atau
>sebagai kaki tangan TNI? sebagai instrumen Pemerintah? atau sebagai Unit
>Kegiatan Mahasiswa Bela Negara? Dst. dsb.

Sengaja saya kutip lengkap, agar dapat dilihat secara menyeluruh.

Saya salah seorang yang terkesan pada konsep Georg Wilhelm Friedrich Hegel
mengenai kehidupan bernegara. Ia seorang filsuf idealis Jerman, lahir di
Stuttgart, Wurtemberg -huruf "u" bertitikdua di atasnya- sebuah negara
bagian di Jerman Selatan pada 27 Agustus 1770 dan wafat pada 14 November 1831.

Pada dasarnya Hegel mengatakan bahwa tidak ada dualisme di antara negeri dan
warganya. Konsep inilah yang pernah diajukan oleh Supomo -salah seorang
pendiri negara kita dalam sidang BPUPKI, 31 Mei 1945. berdasarkan pada
kenyataan bahwa sifat asli ketatanegaraan kita adalah pedesaan, maka Supomo
pun menyampaikan bahwa negara merupakan sebuah organisme yang mencakup
_semua_ kekuatan dalam bangsa itu.

Namun mengingat bahwa Negara berbeda dengan Negeri, maka sesungguhnya kita
berbicara mengenai sesuatu yang menjadi wadah kumpulan cita-cita dan cara
pandang, yaitu Tanah Air. Kepadanyalah kita bersedia mengorbankan diri kita
-dalam berbagai tingkatan- karena sesungguhnya Tanah Air merupakan
perwujudan kehadiran Tuhan Yang Mahakuasa, yang telah menciptakan segala
yang kita kenal dan yang belum kita kenal atau tidak akan pernah kita kenal.

Resimen Mahasiswa dilahirkan oleh sejarah, oleh berbagai peristiwa yang
antara lain melahirkan peristiwa-peristiwa kepahlawan semacam Puputan
Margarana, Pertempuran Surabaya, Sukarno, Wahidin, Sutomo, Raden Wijaya,
Sultan Ageng Tirtayasa dan Suryadi Suryaningrat, yang belakang kita kenal
sebagai Ki Hajar Dewantara. Kita adalah salah satu wujud cita-cita para
leluhur kita tersebut, dengan tugas serupa untuk menyiapkan jalan bagi para
generasi selanjutnya, dalam tugas memberikan yang terbaik yang diizinkan-Nya
ada pada diri kita masing-masing.

Dengan pengertian itulah, tidak terlalu pentinglah seperti apa kita ingin
dilihat oleh orang 'luar', walau dalam pengertian strategi hal itu perlu
dipertimbangkan. Lalu bagaimana menuangkan semua pandangan filosofis
tersebut dalam bentuk yang sederhana dan mudah dilakukan ? Saya kira kita
semua mempunyai jawabannya. Apa pun bentuk dan ikutan lain mengenai Resimen
Mahasiswa, menjadi tidak terlalu penting lagi setelah jiwanya dapat
digambarkan dan diterangkan pada bangsa ini.



>2- Setelah cita2 ini di tentukan atau di redifinisi, maka kita tentukan
>apa Values Menwa. Patriotisme kah?, TriDharma Perguruan Tinggikah?,
>Kepemimpinankah? Militerismekah?, Kejujurankah?, Kehormatan dirikah?,
>Yang penting gayakah? Dsb., dst.

Itu tergantung pada bagaimana pemetaan kita mengenai Bumi ini, yaitu 10 atau
25 atau 100 tahun ke depan. Karena kita hewan yang berpikir (zoon
politicon), maka semakin banyak umpanbalik yang diberikan maka -diharapkan-
akan semakin kecil pula tingkat ketidaktepatan yang akan terjadi dalam usaha
mengarah pada sasaran.

Ke depan, peperangan bukan lagi berarti pengerahan mesin-mesin perang untuk
mencabut nyawa musuh, melainkan penguasaan pikiran dan kebutuhan. Wilayah
penjajahan bukan lagi didasarkan pada luasnya geografi, melainkan padatnya
jalur-jalur pemasokan gaya hidup dan cita-cita ke wilayah yang lain.
Penguasaan ditentukan berdasarkan tekanan politik dan perundingan
antardiplomat. Para "corporate lawyer" akan mengambil kedudukan sebagai
salah satu "warlord" dalam skala regional hingga antarbangsa.

Itulah yang sudah dipetakan oleh Samuel Hutington. Itulah yang dapat kita
mulai setelah kita bersepakat dulu mengenai siapa dan apa diri kita ini,
serta persiapan apa yang musti kita pikirkan dalam menghadapi masa depan.
Ini tidak dapat kita lakukan sekali jalan.



>3- Kemudian kita diskusikan apa sih yang ingin Menwa sumbangkan buat
>anggotanya maupun buat masyarakat dan negara? Alias apa sih Misi Menwa?
>Menggantikan tugas Hansip di kampuskah?, menggantikan tugas militerkah?,
>membantu pemerinta dalam menangani bencana alamkah?, membantu TNI kah
>dalam melaksanakan tugas2 keamanan dalam negeri maupun tugas2 perdamaian
>dunia bahkan perang?, melatih masyarakat mengenai perlindungan masyarakat
>(LinMas) kah?, melatih mahasiswa mengenai Leadershipkah?. Dst, dsb.

Sebagian filosofis sumbangsih dan misi sudah saya tanggapi pada
alinea-alinea di atas. Sementara mengenai penugasan diri sendiri -self
assignments- untuk saat ini, tentunya menyesuaikan pada bagaimana keadaan
dan kebutuhan bangsa kita, dalam ukuran yang juga harus kita sepakati.

Yang paling tampak saat ini adalah seperti apa sumbangan langsung kita pada
masyarakat. Rasanya kita bisa menyetujui bahwa bangsa ini kekuarangan orang
yang bisa memimpin dan mengambil prakarsa. Itulah yang sudah kita lihat dalam

o bencana yang terjadi pada 26 Desember 2004,
o kacau balaunya masyarakat dalam melindungi dirinya sendiri serta
o banyak lulusan perti yang pandai akademis namun memble dalam menegakkan
jati diri dan harkat bangsa.

Adakah tambahan lain untuk diskusi tersebut ? Mohon dipertimbangkan semakin
sempitnya waktu kita, sementara para rekan Pengarah kita seyogyanya nantinya
mendapatkan masukan yang cukup menajam dari hasil pembicaraan kita di sini.



>4- Kalau point 1 s/d 3 sudah jelas, lantas kita diskusikan, seperti apa
>wajah Menwa pada hari ini dan di posisi mana ia berada? Apakah wajahnya
>telah sedemikian buruk sehingga dibenci orang dimana-mana? Apakah
>posisinya pada hari ini jauh banget dari cita-cita yang tertuang didalam
>Visinya?; Apa sih Strength Menwa sehingga dia masih tetap hidup sampai
>hari ini?; Bagaimana Opportunity Menwa untuk bisa survival, tumbuh dan
>berkembang di masa depan?; Apakah kelemahan Menwa sehingga ia 'dibenci'
>orang atau berada dalam situasi hidup segan mati tak mau?; Apa saja yang
>dapat mengakibatkan Menwa mati atau tidak bisa survival apalagi tumbuh dan
>berkembang, sehingga ini perlu mendapat perhatian serius?

Resimen Mahasiswa adalah salah satu ahli waris para leluhur Nusantara untuk
meneruskan cita-cita keinginan untuk berbangsa dan bernegara. Kita pun ingin
menjadi bagian peletak dasar-dasar keberadaan bangsa ini dalam penjelajahan
tata surya ini, bahkan sampai ke bintang dan galaksi lain, entah berapa ribu
atau puluhribu tahun ke depan.

Sebagai makhluk fana, buruk atau baik wajahnya dalam suatu atau beberapa
kurun waktu tertentu, merupakan tahapan untuk menuju yang lebih baik. Dengan
demikian, apa yang sudah terjadi adalah senantiasa menjadi pemacu semangat
kita untuk terus mencapai tahap yang lebih tinggi dalam kehidupan kita.

[alinea di atas adalah aslinya disampaikan oleh salah seorang ulama Islam
yang saya hormati di Palembang]

Keberlangsungan hidup Menwa tidak dapat dijamin. Ia bisa berubah wujud
menjadi apa pun. Yang layak kita pertahankan adalah rohnya, hal serupa yang
sudah diwariskan para pendulu kita. Rasanya cukup terjadi sekali saja
peristiwa besar-besaran kepunahan seperti yang dialami Dinosaurus dkk,
gara-gara tidak mampu menyesuaikan diri dengan keadaan sekitarnya.
Bandingkan dengan lumut dan ganggang -juga semut dan berragam makhluk renik
lainnya- yang tetap dapat bertahan selama miliaran tahun usia Bumi.

Hal yang antara lain menyebabkan -tampaknya- ia dijauhi, adalah kelambanan
dalam mengamati dan menyikapi perubahan. Di tengah arus kebebasan untuk
seluas mungkin mengungkapkan diri perseorangan, keteraturan dan kesediaan
menahan diri demi kepentingan bersama, merupakan hal yang "boring" dan "gak
gaul".



>5- Kalau point 4 sudah teridentifikasi lantas kita tarik garis antara
>posisi Menwa pada hari ini dengan posisi Menwa seperti yang dicita2kan
>dalam Visi. Dengan menimbang kondisi pada hari ini, kita diskusikan
>bagaimana caranya Visi bisa tercapai, Misi bisa dijalankan dan Values
>dapat dihayati.

Rasanya sudah saya sudah memberikan tanggapan mengenai semua itu.


>Dalam membahas pencapaian Visi, Misi dan Values itu, maka akhirnya kita
>akan menyinggung Rencana-Rencana Strategis (RenStra) dan Rencana-Rencana
>Sasaran (RenSas). RenStra bersifat jangka panjang yang kental sekali
>kaitannya dengan Visi, Misi dan Values (Strategic Planning), sementara
>RenSas bersifat lebih pendek dan lebih kongkrit. Yang termasuk RenStra
>misalnya: kita ingin bahwa dalam waktu 5 tahun wajah Menwa sudah tidak
>dibenci orang lagi, atau dalam waktu 5 tahun Menwa akan dikenal sebagai
>UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa) yang menonjol dalam hal 'Kepemimpinan dan
>Bela Negara'. Dlsb. Yang termasuk RenSas misalnya: kita ingin dalam
>waktu 2 tahun Menwa sudah menghasilkan 5 program Pengabdian Masyarakat,
>atau dalam waktu 2 tahun Menwa berhasil meluluskan 100 mahasiswa dalam
>kursus Kepemimpinan dan DikLatSar. Dlsb.


Jangka pendek (1 tahun):
1. membentuk -dimulai internal kita- badan pusat yang tidak bersifat komando
2. menyusun anggaran secara daerah dan disatukan secara nasional
3. menyusun kalender nasional kegiatan secara daerah dan secara nasional
4. mempererat hubungan antarresimen menggunakan sarana internet
5. menyerempakkan kegiatan antarresimen


Jangka Panjang (2~5 tahun): utamanya sperti yang disampaikan Pak Hermansyah



>Untuk merealisasikan RenSas, maka kita perlu membuat ProgramKerja. Program
>kerja adalah penjabaran dari RenSas yang tertuang kedalam bentuk kegiatan2
>yang terukur. Misalnya membangun rumah tahan gempa di Aceh, membangun
>pompa Hydram di Gunung Kidul, Latihan Kepemimpinan se Kowilhan atau se
>Resimen, dlsb, yang What, When, Where, Who, Why, dan Hownya jelas.

Program Kerja dan Penganggaran dilakukan dalam tingkat resimen, kemudian
disusun secara nasional.



>Untuk melaksanakan kegiatan, tak bisa tidak, dibutuhkan uang. Darimana
>uang diperoleh? Dari APBN/APBD?, dari Alumni?, dari iuran?, dari Yayasan?
>Ini perlu dibicarain dengan sungguh2. Jangan bermimpin bikin program
>bombastis kalau duit tidak mendukung.

Semuanya dimulai dengan konsolidasi. Di sinilah letak pentingnya keberadaan
komenwa, karena gunanya adalah menghimpun dan mengkoordinasikan kemampuan
simpanan daerah bersangkutan.

Kegiatan dimulai dari dalam kampus masing-masing, yang langsung menyentuh
mahasiswa. Sekiranya dibutuhkan, satuan tetangga bisa dilibatkan, sehingga
kampus-kampus dikenalkan pada semangat perjuangan dan persaudaraan (l'esprit
de corps).

Langkah ke-dua adalah menyentuh masyarakat di sekitar kampus, dalam kerangka
pengabdian masyarakat. Seandainya dipandang perlu, unit-unit lain
kemahasiswaan dan satuan tetangga dapat dilibatkan. Dalam tahapan ini, peran
hubungan dengan pimpinan perti menentukan besarnya dukungan.

Langkah ke-tiga adalah mengundang / menyertakan pemerintah dalam kegiatan
satuan. Ini sudah mengarah pada 'cari muka'. Seterusnya adalah bagaimana
saling dukung antara satuan dan komenwa, melibatkan para purnawira dan atau
badan-badan usaha yang dibentuk.

Semua dimulai dari ukuran kecil dan terukur.



>6- Berjalan dengan waktu, maka perlu ditentukan Sistem dan Prosedur Menwa.
> Barangkali ini termasuk dalam RenStra. Barangkali perlu pula ditentukan
>apakah Menwa itu perlu AD/ART, atau berada sepenuhnya dibawa pembinaan
>negara. Lantas perlu didefinisikan Style Kepemimpinan yang bagaimana yang
>akan diterapkan. Apakah akan pakai style militer, atau style yang
>partisipatif, atau senyawa antara style militer dan sipil? Dsb. Lantas
>Core Competency Menwa yang mana yang akan terus kita kembangkan.
>Kepemimpinannyakah? Kepeloporannyakah?, Keptriotismeannyakah?,
>Kecendekiawanannyakah? atau ketrampilan militernyakah? Core competency
>ini perlu terus menerus diasah, diprioritaskan dalam kegiatan2, karena
>inilah yang akhirnya akan membawa Menwa berhasil menggapai cita2nya
>seperti tertuang didalam Visi.

Komenwa Mahawijaya pernah mengusulkan badan baru pusat yang berkedudukan di
Jakarta. Ia dibawahkan Dephan dalam keadaan pembelaan negara dan Depdagri
dalam keadaan yang berkaitan dengan perlindungan masyarakat. Dasar badan
tersebut antara lain undang-undang yang mengatur otonomi daerah, yang
meletakkan kepala daerah -d.h.i. Gubernur- sebagai penguasa penggunaan
simpanan daya masyarakat. Saya kirimkan langsung pada Pak Herman. Tolong
sekalian ditanggapi.

Ke depan -dalam jangka pendek atau jangka panjang- keterdaftaran mahasiswa
sebagai anggota satuan bersifat harus giat, sesuai dengan waktu akademisnya.
Ini -di masa depan- mengarah pada pembentukan semacam ROTC, sekaligus
sebagai pengukuran simpanan inti daya masyarakat yang berada di kampus.

Organisasi yang digunakan adalah ketentaraan yang disesuaikan dengan
lingkungan sipil, yang membedakannya dengan ormas dan UKM. Ia tidak
istimewa, namun berbeda.

Kiprahnya (core competency) adalah yang seperti disampaikan Pak Herman.
Penyegaran dilakukan secara wajib, mengacu pada kalender akademis dan
kekhususan wira karena kegiatan lainnya diluar kampus.



>Mudah2an bermanfaat,

Sangat bermanfaat, Pak !


>Selamat Rakornas dan selamat berpartisipasi kepada seluruh rekans yang
>terlibat. Semoga tujuan Rakornas Menwa dapat tercapai seperti yang
>diinginkan bersama.

Sayangnya, secara fisik Anda jauh dari Tanah Air...
:-(



Sharif Dayan
Resimen Mahawijaya



--
--[YONSATU - ITB]---------------------------------------------
Arsip : <http://news.mahawarman.net>
News Groups : gmane.org.region.indonesia.mahawarman




<Prev in Thread] Current Thread [Next in Thread>
Google Custom Search

News | FAQ | advertise