logo       

Re: Menwa: msg#00095

org.region.indonesia.mahawarman

Subject: Re: Menwa

Rekan Sharif dan rekan Corps ysh.,
Menyambung permintaan anda untuk kasih masukan buat Rakornas Menwa, saya
mau ikutan kasih input ah. Biar telat2 juga nggak apa2 ya?

Begini.

Saya usul agar pembahasan masalah dilakukan dengan urutan sbb.

1- Tentukan atau redefinisi apa Visi Menwa. Buat apa sih sebenernya Menwa
di bentuk? atau, buat apa sih kita ngotot agar Menwa dipertahankan? Apakah
karena kita ingin Menwa berfungsi sebagai salah satu elemen doktrin
SisHankamRata? Atau Menwa adalah pure dilihat sebagai salah satu sumber
CadNas? Atau buat mencetak Sarjana Plus? Seperti apa sih sebenernya kita
kepingin Mewa dilihat oleh orang luar? Sebagai Preman Kampus?, atau
sebagai kaki tangan TNI? sebagai instrumen Pemerintah? atau sebagai Unit
Kegiatan Mahasiswa Bela Negara? Dst. dsb.

2- Setelah cita2 ini di tentukan atau di redifinisi, maka kita tentukan
apa Values Menwa. Patriotisme kah?, TriDharma Perguruan Tinggikah?,
Kepemimpinankah? Militerismekah?, Kejujurankah?, Kehormatan dirikah?,
Yang penting gayakah? Dsb., dst.

3- Kemudian kita diskusikan apa sih yang ingin Menwa sumbangkan buat
anggotanya maupun buat masyarakat dan negara? Alias apa sih Misi Menwa?
Menggantikan tugas Hansip di kampuskah?, menggantikan tugas militerkah?,
membantu pemerinta dalam menangani bencana alamkah?, membantu TNI kah
dalam melaksanakan tugas2 keamanan dalam negeri maupun tugas2 perdamaian
dunia bahkan perang?, melatih masyarakat mengenai perlindungan masyarakat
(LinMas) kah?, melatih mahasiswa mengenai Leadershipkah?. Dst, dsb.

4- Kalau point 1 s/d 3 sudah jelas, lantas kita diskusikan, seperti apa
wajah Menwa pada hari ini dan di posisi mana ia berada? Apakah wajahnya
telah sedemikian buruk sehingga dibenci orang dimana-mana? Apakah
posisinya pada hari ini jauh banget dari cita-cita yang tertuang didalam
Visinya?; Apa sih Strength Menwa sehingga dia masih tetap hidup sampai
hari ini?; Bagaimana Opportunity Menwa untuk bisa survival, tumbuh dan
berkembang di masa depan?; Apakah kelemahan Menwa sehingga ia 'dibenci'
orang atau berada dalam situasi hidup segan mati tak mau?; Apa saja yang
dapat mengakibatkan Menwa mati atau tidak bisa survival apalagi tumbuh dan
berkembang, sehingga ini perlu mendapat perhatian serius?

5- Kalau point 4 sudah teridentifikasi lantas kita tarik garis antara
posisi Menwa pada hari ini dengan posisi Menwa seperti yang dicita2kan
dalam Visi. Dengan menimbang kondisi pada hari ini, kita diskusikan
bagaimana caranya Visi bisa tercapai, Misi bisa dijalankan dan Values
dapat dihayati.

Dalam membahas pencapaian Visi, Misi dan Values itu, maka akhirnya kita
akan menyinggung Rencana-Rencana Strategis (RenStra) dan Rencana-Rencana
Sasaran (RenSas). RenStra bersifat jangka panjang yang kental sekali
kaitannya dengan Visi, Misi dan Values (Strategic Planning), sementara
RenSas bersifat lebih pendek dan lebih kongkrit. Yang termasuk RenStra
misalnya: kita ingin bahwa dalam waktu 5 tahun wajah Menwa sudah tidak
dibenci orang lagi, atau dalam waktu 5 tahun Menwa akan dikenal sebagai
UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa) yang menonjol dalam hal 'Kepemimpinan dan
Bela Negara'. Dlsb. Yang termasuk RenSas misalnya: kita ingin dalam
waktu 2 tahun Menwa sudah menghasilkan 5 program Pengabdian Masyarakat,
atau dalam waktu 2 tahun Menwa berhasil meluluskan 100 mahasiswa dalam
kursus Kepemimpinan dan DikLatSar. Dlsb.

Untuk merealisasikan RenSas, maka kita perlu membuat ProgramKerja. Program
kerja adalah penjabaran dari RenSas yang tertuang kedalam bentuk kegiatan2
yang terukur. Misalnya membangun rumah tahan gempa di Aceh, membangun
pompa Hydram di Gunung Kidul, Latihan Kepemimpinan se Kowilhan atau se
Resimen, dlsb, yang What, When, Where, Who, Why, dan Hownya jelas.

Untuk melaksanakan kegiatan, tak bisa tidak, dibutuhkan uang. Darimana
uang diperoleh? Dari APBN/APBD?, dari Alumni?, dari iuran?, dari Yayasan?
Ini perlu dibicarain dengan sungguh2. Jangan bermimpin bikin program
bombastis kalau duit tidak mendukung.

6- Berjalan dengan waktu, maka perlu ditentukan Sistem dan Prosedur Menwa.
Barangkali ini termasuk dalam RenStra. Barangkali perlu pula ditentukan
apakah Menwa itu perlu AD/ART, atau berada sepenuhnya dibawa pembinaan
negara. Lantas perlu didefinisikan Style Kepemimpinan yang bagaimana yang
akan diterapkan. Apakah akan pakai style militer, atau style yang
partisipatif, atau senyawa antara style militer dan sipil? Dsb. Lantas
Core Competency Menwa yang mana yang akan terus kita kembangkan.
Kepemimpinannyakah? Kepeloporannyakah?, Keptriotismeannyakah?,
Kecendekiawanannyakah? atau ketrampilan militernyakah? Core competency
ini perlu terus menerus diasah, diprioritaskan dalam kegiatan2, karena
inilah yang akhirnya akan membawa Menwa berhasil menggapai cita2nya
seperti tertuang didalam Visi.


Mudah2an bermanfaat,
Selamat Rakornas dan selamat berpartisipasi kepada seluruh rekans yang
terlibat. Semoga tujuan Rakornas Menwa dapat tercapai seperti yang
diinginkan bersama.

Salam hangat,
HermanSyah XIV.





Lantas kalau cita2nya udah jelas,






Sharif Dayan <bimasena-AqI0QrfIOka8rHFcjEY/OA@xxxxxxxxxxxxxxxx>
05/17/2005 11:47 AM
Please respond to yonsatu


To: Rakornas Menwa 2005
<rakornas-menwa-2005-hHKSG33TihhbjbujkaE4pw@xxxxxxxxxxxxxxxx>
cc: Yon 1 Mahawarman
<yonsatu-PA9+dxvo8yQi5wvc6DhUiQ@xxxxxxxxxxxxxxxx>, "Alumni-Menwa"
<alumni-menwa-hHKSG33TihhbjbujkaE4pw@xxxxxxxxxxxxxxxx>, "Yon 2 Mahawarman"
<castrena_unpad-/E1597aS9LQAvxtiuMwx3w@xxxxxxxxxxxxxxxx>, "Purnawira Yon 14
Trisakti Jayakarta"
<ex-yon14-owner-hHKSG33TihhbjbujkaE4pw@xxxxxxxxxxxxxxxx>
Subject: [yonsatu] Re: Menwa


Widya Çastrena Dharma Siddha !

At 12:42 PM 5/16/05 +0700, "Bima Hermastho" wrote:

>Gregetan rasanya melihat kebodohan yang terjadi,

Menurut Jayabaya, kita tidak usah ikut bodoh...mereka mau bodoh, yo karepe
dhewe...
:-)


>appreciate dengan upaya Cak Sharif yg pantang menyerah

Mentang-mentang saya rajin menulis, lalu sayalah yang dianggap pantas
disemati hal itu ? Bukankah sebenarnya itu suara hati dan kerja kita semua
?
Kalau digali lebih dalam, sebenarnya ini kan campur tangan Dia sendiri,
melalui tanda yang diberikan-Nya pada 26 Desember 2004 di NAD, Nias dan
Sumatera Barat ?

Selain itu, ada rekan purnawira yang menyampaikan dalam rangkaian panjang
diskusi kami, bahwa sekaranglah saatnya yang paling tepat untuk bergerak.
Kita tidak tahu apakah ini akan terulang lagi. Beliau mengacu pada sosok
Juwono, yang sekarang sebagai Menhan. Saya sependapat dengan beliau
mengenai
orang ini.


Certified professional in ROTC yang diakui secara nasional perlu
didirikan.

Tahunan silam, pada awal berkuliah, saya sudah mengetahui mengenai ROTC.
Waktu itu sumbernya adalah TVRI, satu-satunya stasiun televisi yang ada,
ketika stasiun-stasiun tv swasta masih belum ada.

Namun yang mengesankan bagi saya, mengacu pada rerata tingkat mutu daya
manusia di Indonesia, adalah "US National Guard" (USNG). Secara kasar, ia
dapat disamakan dengan Pertahanan Sipil. Asal usulnya pun hampir serupa
dengan kita, yaitu laskar (militia).

Pasukan Nasional -kalau saya dapat menyebutnya demikian- dapat dibentuk
dengan mudah, karena pranata-pranatanya sudah ada. Yang kurang -sangat-
adalah orang-orang (warga masyarakat) yang bisa menangani hal itu denagn
benar walau mereka mempunyai pekerjaan utama. Lalu apa hubungannya dengan
Menwa ? Apakah kembali akan menggunakan okol alih-alih otak ?

Salah satu hal yang mengesankan saya -ini untuk ke-sekian kalnya saya
ajukan- adalah ketika menyelesaikan untuk yang ke-2 kalinya novel
"Perintah
Eksekutif" karangan Tom Clancy. Kita semua sependapat bahwa orang ini
senantiasa melakukan pengamatan mendalam dan menggunakan sumber-sumber
tangan pertama sebelum menulis, sehingga cerita khayalnya berdasarkan pada
kenyataan.

Di dalamnya antara lain ditunjukkan, bahwa satu satu pasukan kavaleri USNG
-pada suatu pelatihan- dapat mengalahkan secara telak sebuah pasukan
berpengalaman dari Angkatan Darat AS, karena mereka tangkas menggunakan
peranti elektronik dan sejenisnya yang terdapat pada peralatan baru.
Kolonel
komandan kavaleri USNG tersebut dalam kesehariannya adalah seorang
pengacara.

Kekurangan negeri kita saat ini adalah uang untuk membeayai berbagai macam
hal, termasuk alutsista. Kelebihan kita adalah dalam hal jumlah. Tugas
kita
adalah memberdayakan kemampuan empiris, konseptual, strategis dan
keprofesonalan berdasarkan disiplin keilmuan kita masing-masing, untuk
ikut
serta dalam memberikan pemahaman yang benar mengenai pembelaan, penjagaan
dan pertahanan negeri.

Dengan demikian -merujuk pada pidato almarhum Nugrogo Nosotusanto dalam
Dies
Natalis di UI, tahunan silam- perguruan tinggi menjadi Menara Air, berguna
terutama bagi masyarakat sekitarnya, bukan Menara Api apalagi Menara
Gading.


>Sertifikasi pendidikan dari tingkat kadet, officers, spesialisasi, yang
disesuaikan dg keunikan
>di masing-2 kampus.

TNI masih par-no (paranoid), sehingga masih saja enggan menerima kenyataan
bahwa ilmu kemiliteran sebaiknya dibuka. Mungkin, kewenangan itu secara
berangsur -entah seberapa kecepatan dan laju percepatannya- sudah diambil
alih oleh Dephan. Belum lagi kita musti menyadari betapa rendahnya tingkat
pemahaman para warga 'terhormat' di DPR mengenai siapa sebenarnya yang
bertanggung jawab mengenai pembelaan negeri.


>mulai dari rektor dan pangdam misalnya, yg saya yakin bisa memberikan
sertifikasi

Di tengah hiruk-pikuk mengenai BHMN (badan hukum milik negara), swadana
dan
swadaya serta masih berjaraknya sebagian besar perguruan tinggi dengan
pranata di luar dirinya -d.h.i TNI- maka hal semacam sertifikasi bukanlah
menu utama bagi mereka, setidaknya dalam 5 tahun ke depan.


>sertifikasi setingkat perwira diberikan mendiknas dan menhankam.

Tetap saja ini konsep yang menarikm yang sewajarnya dibahas oleh Pusmenwa
-atau apalah namanya nanti- sehingga terrasakan dan terterangkan benar
bagi
semua pihak.


>gladian berkala dilakukan untuk memastikan skill tetap terjaga

Anggota USNG yang biasanya disebut "part time soldier" dan "week end
soldier", biasanya melakukan pelatihan gabungan selama 14~30 hari kerja
setiap tahun.


>awards kepada purnawira / alumni yg mampu membuktikan prestasi/kontribusi
bagi bangsa dan negara

Artinya kita pun musti menyusun dan merancang sendiri -oada akhirnya akan
diakui oleh negara- mengenai tanda-tanda jasa, tanda-tanda kesetiaan dan
lain sebagainya.


>Saya masih menyimpan optimisme,sekali lagi ini tinggal waktu,

"At last we are all in the same boat, compendre !"


>mudah-an 2009 hal ini akan terealisir.

Cukup masuk akal. Pada 2020 -atau 2010 ?- kita sudah lumayan siap
menghadapi
AFTA.


>Asalkan dari sisi konsep dan eksekusi+project management-nya tertangani
dengan baik.

Tampaknya Pak Bima bisa berpran banyak di situ.


>di NASA aja ada purnawira/alumni yg mengabdi disana,

Siapa saja, Pak ?


>Dan jangan kaget bila 2009 Cak Sharif
>namanya menjadi Sharif Dayan, CPROTC. Why not??

Jadi, sebenarnya pengambangan nasib kita didasarkan pada keinginan
pemerintah mendewasakan kita, membuat kita berkesempatan menyejajarkan
diri
dengan para profesional di bidang kesehatan (dokter), hukum (pengacara)
dan
rekayasawan bangunan (construction engineer), Tak iye ?!
:-)


Sharif Dayan
Resimen Mahawijaya



--
--[YONSATU - ITB]---------------------------------------------
Arsip : <http://news.mahawarman.net>
News Groups : gmane.org.region.indonesia.mahawarman




--
--[YONSATU - ITB]---------------------------------------------
Arsip : <http://news.mahawarman.net>
News Groups : gmane.org.region.indonesia.mahawarman




<Prev in Thread] Current Thread [Next in Thread>
Google Custom Search

News | FAQ | advertise