logo       

Re: Korupsi akibat suka makan babi ?Re: Ilmu Kesehatan: Why the Muslim can': msg#00051

org.region.indonesia.mahawarman

Subject: Re: Korupsi akibat suka makan babi ?Re: Ilmu Kesehatan: Why the Muslim can't eat pork

AWW.

Saya juga ikutan ah, sudah lama nih cuma jadi pembaca saja.
Beberapa bulan ini saya jarang di kantor karena belum ada
kegiatan proyek. Sementara kegiatan rutin sudah menjadi obyek
pejabat struktural dan para stafnya.
Saya sadar sesadar-sadarnya, bahwa dengan jarang masuknya saya
ke kantor (dalam arti bekerja 8 jam untuk kantor) saya juga
telah korupsi, paling tidak dari segi waktu. Saya sama sekali
tidak bangga menceriterakan hal ini, batin saya menangis.
Tuhanku, Engkau Mahatahu apa yang ada dibatinku sekarang ini.
Saya ingin berargumen, walau saya tahu argumen apapun pasti
tidak bisa diterima. Kalau saya tidak "nyambi", apa yang bisa
diharapkan dari seorang suami dengan 4 anak yang bergaji hanya
Rp 964.500? Kalau ada proyek, biasanya saya dapat honor sebagai
asisten (tidak besar juga cuma 150 ribuan) dan TKK (tunjangan
kenaikan kinerja) sebesar 115 ribu. Itulah pendapatan seorang
PNS dengan golongan IIIb pengalaman 4 tahun.
Saya agak sangsi bahwa faktor babi secara fisik mempengaruhi
seseorang untuk korupsi. Kalau yang dimaksud "babi" (dalam arti
sifat-sifat jelek yang sering dinisbatkan kepada babi), mungkin
ya. Seperti juga telah ditulis oleh rekan-rekan yang lain,
korupsi di kita banyak terjadi karena banyak hal. Secara garis
besar terjadi karena terpaksa, dipaksa, dan sukarela. Saya
tidak akan obyektif untuk membahas kategori terpaksa karena
saya sendiri terlibat, mungkin rekan-rekan yang lain bisa
memberi komentar. Karena dipaksa jelas lepas dari sanksi hukum,
namun yang menjadi masalah sudah pasti korupsi yang dilakukan
secara sukarela.
Mengapa ada yang melakukan sukarela bahkan dengan bersukacita
pula? tentu saja banyak faktornya, beberapa di antaranya juga
sudah pernah dibahas, misalnya:-ongkos KKN lebih murah daripada benefitnya.
-relatif tidak ada sanksi yang signifikan, bahkan dalam banyak
kasus proses hukumnya bisa "dibeli".-mereka yang terlibat tetap diakui sebagai
warga masyarakat
terhormat, tidak ada sanksi moral.-dilakukan secara bersama-sama (berjamaah),
bukan saja dalam
lingkup proyek bahkan dalam lingkup Ditjen dan departemen.-sudah tidak ada rasa
malu (konon ini sifat babi)
-serakah (ini juga katanya sifat babi),
-hedonisme, memuja kemewahan dan kenikmatan duniawi, sehingga
ukuran kemuliaan orang ditentukan oleh "dunia"-nya.
Dan sudah pasti banyak lagi yang lainnya. Modusnya dilakukan
dengan berbagai cara. Insya Alloh nanti saya coba paparkan.
Wassalam. DZArifin.



> Ass. Wr. Wb.,
>
> Ikut nimbrung nich...
> Kalau betul bahwa makanan mempengaruhi behaviour orang yang
> memakannya, Apakah ini juga ada hubungannya dengan negeri
> cina yang penduduknya lebih dari 1 milyar, karena penduduk
> disana sangat hobby makan daging babi, dimana kalau kita
> perhatikan babi mempunyai mata agak sipit dan banyak anak
> dalam sekali melahirkan dibandingkan dengan binatang
> kambing atau pun sapi. Saya juga pernah dengar cerita
> seseorang, menurutnya seseorang yang suka makan daging
> anjing, maka bila orang tersebut berpapasan dengan anjing,
> maka anjing tersebut, dari bau keringatnya pun akan langsung
> mengenalinya dan akan lari ketakutan untuk menghindar.
>
>
>
> Thank's
>
> Agus Y

>


___________________________________________________________
indomail - Your everyday mail - http://indomail.indo.net.id




--
--[YONSATU - ITB]---------------------------------------------
Arsip : <http://news.mahawarman.net>
News Groups : gmane.org.region.indonesia.mahawarman




<Prev in Thread] Current Thread [Next in Thread>
Google Custom Search

News | FAQ | advertise