|
Re: Tidak ada Apa2 Re: Klarifikasi: msg#00050org.region.indonesia.mahawarman
Dimas Hermansyah yang nun jauh disana tetapi dekat , sangat dekat sekali dalam komunikasi intens di milis Yon I , Saya sangat menghargai dan sering menikmati semua tulisan anda . Olah pikir dan cara penyampaian pandangan yang selalu Dimas sampaikan dalam milis terasa kental dengan latar belakang pendidikan teknik yang telah dijalani selama ini . Sungguh , suatu pencerahan yang amat berguna bagi warga CORPS yang rajin menyimak milis Batalyon I . Cak Sodik , memang seperti layang2 yang suka tarik-ulur dan kadang menghilang . Saya setuju agar Cak Sodik tidak menghilang begitu saja setelah melontarkan issue2 yang sensitif . Saya juga menyukai tulisan Adinda Evy yang tajam , menyengat ,... dan sama sekali tidak berkeberatan dengan pandangan2nya yang dinamis . Memang begitulah seharusnya kita menyampaikan pandangan dan mempertanggung jawabkan nya dihadapan rekans CORPS sekalian . Tanggapan saya tentang perkara makan babi , bukan saya tidak setuju dengan topiknya , tetapi saya hanya ingin mengingatkan , bahwa pembicaraan tersebut bisa memancing perdebatan yang kurang produkstrif dan bahkan akan menyinggung para rekans CORPS yang sampai saat ini masih menggunakan daging babi sebagai salah sdatu menu makannya . Saya kira , tidak ada senior yang marah dengan adanya tulisan serta pendapat yang beragam tentang sesuatu hal , bahkan kita diem2 sebenarnya bangga , karena ternyata kita memiliki tokoh2 muda semacam Hermansyah , Evy , Cak Sodik dan sebagainya , disamping kita punya suhu2 seperti Mas Djoni Saleh , mas Susilo dan pendekar sepuh kita Mas Tjipto Sukardhono . Rekans Corps sekalian , Selamat siang . Wassalam, PPS / Viii ----------------------- -----Original Message----- From: Hermansyah <Hermansyah-qiVc+BLglCs@xxxxxxxxxxxxxxxx> To: yonsatu-PA9+dxvo8yQi5wvc6DhUiQ@xxxxxxxxxxxxxxxx Date: Mon, 9 May 2005 23:50:17 +0000 (UTC) Subject: [yonsatu] Re: Tidak ada Apa2 Re: Klarifikasi > >Koni Nusetyo Ekantono <nusetyo@...> writes: > > > > mBak Evy yth > > Maaf saya nimbrung... > > Saya dan beberapa Senior di Yon I sedikit alergi dengan "ndak pa2" > > sebab "sebenar nya sudah apa2." > > Bukan nya mau mbikin pusing dengan serius... itu Mas Tjipto yang > serius > > ngerti kok.. > > > > Salam KNE/ E-VIII > > > > > Mas Koni, Priyo, Syafril rekan Evy, Bima, Agus, Sodik, dan rekan Corps > ysh., > > Ndak apa2..., mas Koni nyentil karena memang senengnya nyentil kan?, ha > ha ha. > > Nggak nyangka saya kalu DanYon saya ini bisa ngelucu juga. Saya jadi > senyum2 > sendiri didepan komputer seperti orgil. Kolega saya yang ngintip dari > jauh > pasti akan bilang dalam hati bahwa saya ini sudah gendeng. Orang2 nyari > bugs > atau ngetest software sambil ngumpat2... what a f*cking bug is this..., > eeee > saya malah senyam senyum seperti orang â??sarapâ??... > > Tapi menurut saya pendapat rekan Evy yang intinya bilang ndak apa2 > menscience- > kan agama atau ndak apa2 melakukan penelitian ilmiah terhadap larangan2 > atau > perintah agama, sebenernya adalah pendapat yang wajar wajar saja. Kan > manusia > adalah makhluk yang punya akal. Maka sangat wajar kalau manusia itu > akan > selalu berusaha mencari jawaban yang masuk akal terhadap segala > larangan dan > perintah agama yang mereka musti patuhi itu. Ndak apa2 itu. > Sekalipun > demikian, mencari jawaban secara ilmiah ini saya kira akan lebih kuat > terasa > dikalangan orang sekolahan daripada yang bukan. Buat bukan orang > sekolahan > rasa takut sama Tuhan saja sudah cukup, sehingga kalau itu namanya > perintah > atau larangan Tuhan, ya so pasti dipatuhi. Nggak usah dijelaskan pakai > ilmiah2an segala. Wong jangankan patuh pada larangan dan perintah, > mati yang > menurut keyakinan mereka demi Tuhanpun, mereka nggak akan pikir2 lagi. > > Kalau begitu buat siapa dong sebenernya penjelasan secara ilmiah > mengenai > larangan dan perintah agama itu, dan apakah itu perlu? Apakah mencari2 > alasan > ilmiah tentang larangan dan perintah agama itu bukannya akan buang2 > waktu saja, > sementara akhirnya kita toch harus kembali lagi pada prinsip dari suatu > agama, > yaitu keyakinan, seperti yang mas Priyo katakan? Jadi, masalah > larangan dan > perintah agama adalah pure soal percaya atau nggak percaya, yang tanpa > bermaksud merendahkan agama manapun, saya melihatnya mirip seperti > permainan > kartu â??Cipoakâ?? yang beken dengan pertanyaan: â??percaya nggak?â?? > itu. > > Karena agama itu adalah masalah percaya-nggak percaya, maka menurut > saya nggak > ada gunanya kita bersusah payah menjustify perintah2 dan larangan2 > agama secara > ilmiah. Buat apa? Sudah pasarnya hanya orang2 sekolahan, buntut2nya > toch > harus kita jawab dengan prinsip percaya apa nggak juga. > > Mirip seperti pendapat mas Priyo, menurut saya kita harus melihat agama > itu > sebagai suatu institusi yang punya doktrin yang tak bisa diganggu > gugat. > Sekali kita mengaku memeluk agama tertentu, ya wis, patuhi saja aturan > institusi spiritual yang kita pilih itu. Nggak perlu kita bersusah > payah > mencari2 berbagai macam pembuktian. Kita kan sudah percaya dan yakin > bahwa > segala aturan dan larangan yang ditetapkan oleh Tuhan agama tsb. adalah > benar > dan demi kebaikan kita dunia dan akhirat. Ya sudah, jalankan saja. > > Sayangnya, salah satu doktrin agama kan memerintahkan umatnya untuk > menyebarluaskan agama tersebut keseluruh pelosok dunia. Bukan saja > sekedar > menyebar luaskan, tapi juga malah mengklaim sebagai agama yang paling > benar. > Inilah menurut saya yang menjadi sumber masalahnya, karena doktrin ini > ternyata > telah mendrive kaum terpelajar umat agama2 itu untuk secara ilmiah > mencari > pembenaran atas segala doktrin yang ada didalam agama tsb., yang > akhirnya > seringkali dipergunakan untuk menjudge agama lain atau untuk menarik > pemeluk > agama lain itu converted ke agama yang dianutnya. Begitulah fakta yang > terjadi > selama ini kan?, sekalipun rekan Evy jelas2 mengatakan bahwa > pendekatan2 ilmiah > itu tak ada maksud â??menjudgeâ?? orang lain. > > Oleh karena agama adalah masalah keyakinan, maka saya yakin tak mungkin > agama2 > itu dapat bersatu. Kalau dapat, ya nggak mungkin dong sekarang ini > kita > mengenal 5 agama dunia berikut beratus-ratus bahkan beribu-ribu aliran > dan > sektenya. Kalau agama2 itu dapat bersatu, maka sejak jaman nabi > â??Udinâ??, dunia > ini pasti tak se-sengsara seperti sekarang ini. At least salah satu > sumber > pertikaian diantara sesama anak manusia telah dapat dieliminasi. > > Maka, kalau kita melihat bahwa agama itu tidak dapat disatukan, lantas > bagaimana caranya we have to live with it tanpa harus berhadapan dengan > konflik? Menurut saya dengan menganggap agama2 itu sebagai rel-rel > kereta api, > yang nggak pernah saling ketemu, tapi toch, dari titik perpektif mereka > menuju > ke satu tujuan. > > Kalau cara pandang ini bisa kita terima, maka menurut saya kita tak > perlu > membuang2 waktu untuk mencari pembenaran2 ilmiah atas doktrin agama > yang kita > anut. Lebih baik energy dan kemampuan intelektual yang kita miliki itu > kita > kerahkan sepenuh2nya untuk memecahkan masalah2 kemanusiaan, bangsa dan > negara > yang sedang kita hadapi hari ini. > > Kita pikirkan sekuat tenaga dan lawan bersama2, bagaimana caranya > memberantas > korupsi dari negeri ini. Kita pikirkan sekuat tenaga dan lakukan > bersama-sama > bagaimana caranya pendidikan bermutu dapat terrjangkau oleh seluruh > lapisan > masyarakat kita. Kita pikirkan sekuat tenaga dan lakukan bersama-sama > bagaimana caranya republik ini dapat memiliki teknologi unggulan, > sehingga > dapat menghasilkan devisa. Kita pikirkan sekuat tenaga dan lakukan > bersama- > sama bagaimana caranya semangat Joang 45 dan semangat Sumpah Pemuda > 1928 tetap > membara didalam setiap dada rakyat negeri ini. Dst.. dst.. > > Pemikiran diatas masuk akal kan? Nggak macem2 kan? Apakah cara > pandang ini > masuk kedalam kategori â??denkbeeldigâ?? (lebih tepat sebenernya > â??denkkaderâ??) yang > berubah seperti yang dikatakan mas Syafril, tentu akan tergantung dari > diri > kita masing2. > > Yang musti kita lakukan adalah memasang rel kereta api sebanyak 2 > jalur, 3 > jalur, 4 jalur, atau berapa saja yang dibutuhkan, yang akan > dipergunakan untuk > membawa bangsa ini dari posisi pada hari ini ke posisi di masa depan > sebagai > bangsa yang bersatu. Sebenernya cuma itu kan? Kalau ya, maka marilah > segenap > tenaga kita curahkan untuk itu. Bahwasanya rel yang satu ternyata > sedikit > lebih mulus dari rel yang lainnya namun rel yang lain ternyata sedikit > lebih > getas dari yang satu, itulah perbedaan dalam kebersamaan. > > Dan Cak Sodik yang pertama kali menyebarkan issue â??mengilmiahkanâ?? > larangan > makan daging babi, sementara sekarang sudah menghilang lagi, tampaknya > perlu > kita minta pertanggungan jawabnya di forum ini, J)). > > Salam hangat, > HermanSyah XIV. > > > >Koni Nusetyo Ekantono <nusetyo@...> writes: > > > > mBak Evy yth > > Maaf saya nimbrung... > > Saya dan beberapa Senior di Yon I sedikit alergi dengan "ndak pa2" > > sebab "sebenar nya sudah apa2." > > Bukan nya mau mbikin pusing dengan serius... itu Mas Tjipto yang > serius > > ngerti kok.. > > > > Salam KNE/ E-VIII > > > > -----Original Message----- > > From: EVY ARYANTI <mahadewi2000bw@...> > > To: yonsatu@... > > Date: Mon, 9 May 2005 01:32:16 -0700 (PDT) > > Subject: [yonsatu] Klarifikasi > > > > >> Kok repot2 ? > > > Yah ndak pa2, selama sifatnya pengayaan terhadap science. Manusia > > > memang dibekali sifat ingin tahu yang tinggi atas segala sesuatu, > kalo > > > tidak ngapain misalnya Columbus capek2 berlayar hanya untuk > membuktikan > > > bumi itu bulat. Asal tidak dipakai untuk menjudge orang lain, yang > > > belum tentu lebih buruk...why not gitu lhoh.. > > > > > KNE : ndak pa2 karena sudah science > > > > > Ndak2 pa2 juga kan kalo milis ini dipakai untuk sharing yang tidak > > > berhubungan dengan Batalyon ? > > KNE : ndak pa2 karena sudah sharing dengan Batalyon > > > > > Kadang2 agak jenuh, kalo semua berita seriouuuus semua.... > > > > > KNE : ndak pa2 ...wong memang sudah serious... > > > > > Salam, > > > Evy > > > > salam KNE > > > > > > Bima Hermastho <bima_hermastho@...> wrote: > > > WCDS, > > > 'Gus, babi aja kok bikin repot. Belum lagi..Sholat dua bahasa juga > > > rame... Haram fatwanya. Memang bangsa manusia itu aneh. Semua pada > > > mencari pembenaran, berebut surga dengan me-neraka-kan orang lain. > > > Jangan-2 'ntar di surga banyak babi...yang ternyata lebih suci di > > > banding hewan yg bernama manusia (ketika hidup dunia ini). > > > > > > Bima > > > E28 > > > > KNE : ndak pa2.. wong di Indonesia bukan saja makan Babi.. tapi sudah > > makan orang alias... korupsi. > > > > > > > > > -- > --[YONSATU - ITB]--------------------------------------------- > Arsip : <http://news.mahawarman.net> > News Groups : gmane.org.region.indonesia.mahawarman > -- --[YONSATU - ITB]--------------------------------------------- Arsip : <http://news.mahawarman.net> News Groups : gmane.org.region.indonesia.mahawarman |
|
| <Prev in Thread] | Current Thread | [Next in Thread> |
|---|---|---|
| Previous by Date: | Re: Klarifikasi: 00050, Krishna S Pribadi |
|---|---|
| Next by Date: | Re: Korupsi akibat suka makan babi ?Re: Ilmu Kesehatan: Why the Muslim can't eat pork: 00050, waycibi-AognTR6Re/Oez0ei9/+7zw |
| Previous by Thread: | Re: Tidak ada Apa2 Re: Klarifikasii: 00050, Hermansyah |
| Next by Thread: | Re: Klarifikasi: 00050, Krishna S Pribadi |
| Indexes: | [Date] [Thread] [Top] [All Lists] |
| News | FAQ | advertise |