logo       

Re: Tidak ada Apa2 Re: Klarifikasi: msg#00047

org.region.indonesia.mahawarman

Subject: Re: Tidak ada Apa2 Re: Klarifikasi

>Koni Nusetyo Ekantono <nusetyo@...> writes:
>
> mBak Evy yth
> Maaf saya nimbrung...
> Saya dan beberapa Senior di Yon I sedikit alergi dengan "ndak pa2"
> sebab "sebenar nya sudah apa2."
> Bukan nya mau mbikin pusing dengan serius... itu Mas Tjipto yang serius
> ngerti kok..
>
> Salam KNE/ E-VIII
>


Mas Koni, Priyo, Syafril rekan Evy, Bima, Agus, Sodik, dan rekan Corps ysh.,

Ndak apa2..., mas Koni nyentil karena memang senengnya nyentil kan?, ha ha ha.

Nggak nyangka saya kalu DanYon saya ini bisa ngelucu juga. Saya jadi senyum2
sendiri didepan komputer seperti orgil. Kolega saya yang ngintip dari jauh
pasti akan bilang dalam hati bahwa saya ini sudah gendeng. Orang2 nyari bugs
atau ngetest software sambil ngumpat2... what a f*cking bug is this..., eeee
saya malah senyam senyum seperti orang ‘sarap’...

Tapi menurut saya pendapat rekan Evy yang intinya bilang ndak apa2 menscience-
kan agama atau ndak apa2 melakukan penelitian ilmiah terhadap larangan2 atau
perintah agama, sebenernya adalah pendapat yang wajar wajar saja. Kan manusia
adalah makhluk yang punya akal. Maka sangat wajar kalau manusia itu akan
selalu berusaha mencari jawaban yang masuk akal terhadap segala larangan dan
perintah agama yang mereka musti patuhi itu. Ndak apa2 itu. Sekalipun
demikian, mencari jawaban secara ilmiah ini saya kira akan lebih kuat terasa
dikalangan orang sekolahan daripada yang bukan. Buat bukan orang sekolahan
rasa takut sama Tuhan saja sudah cukup, sehingga kalau itu namanya perintah
atau larangan Tuhan, ya so pasti dipatuhi. Nggak usah dijelaskan pakai
ilmiah2an segala. Wong jangankan patuh pada larangan dan perintah, mati yang
menurut keyakinan mereka demi Tuhanpun, mereka nggak akan pikir2 lagi.

Kalau begitu buat siapa dong sebenernya penjelasan secara ilmiah mengenai
larangan dan perintah agama itu, dan apakah itu perlu? Apakah mencari2 alasan
ilmiah tentang larangan dan perintah agama itu bukannya akan buang2 waktu saja,
sementara akhirnya kita toch harus kembali lagi pada prinsip dari suatu agama,
yaitu keyakinan, seperti yang mas Priyo katakan? Jadi, masalah larangan dan
perintah agama adalah pure soal percaya atau nggak percaya, yang tanpa
bermaksud merendahkan agama manapun, saya melihatnya mirip seperti permainan
kartu ‘Cipoak’ yang beken dengan pertanyaan: ‘percaya nggak?’ itu.

Karena agama itu adalah masalah percaya-nggak percaya, maka menurut saya nggak
ada gunanya kita bersusah payah menjustify perintah2 dan larangan2 agama secara
ilmiah. Buat apa? Sudah pasarnya hanya orang2 sekolahan, buntut2nya toch
harus kita jawab dengan prinsip percaya apa nggak juga.

Mirip seperti pendapat mas Priyo, menurut saya kita harus melihat agama itu
sebagai suatu institusi yang punya doktrin yang tak bisa diganggu gugat.
Sekali kita mengaku memeluk agama tertentu, ya wis, patuhi saja aturan
institusi spiritual yang kita pilih itu. Nggak perlu kita bersusah payah
mencari2 berbagai macam pembuktian. Kita kan sudah percaya dan yakin bahwa
segala aturan dan larangan yang ditetapkan oleh Tuhan agama tsb. adalah benar
dan demi kebaikan kita dunia dan akhirat. Ya sudah, jalankan saja.

Sayangnya, salah satu doktrin agama kan memerintahkan umatnya untuk
menyebarluaskan agama tersebut keseluruh pelosok dunia. Bukan saja sekedar
menyebar luaskan, tapi juga malah mengklaim sebagai agama yang paling benar.
Inilah menurut saya yang menjadi sumber masalahnya, karena doktrin ini ternyata
telah mendrive kaum terpelajar umat agama2 itu untuk secara ilmiah mencari
pembenaran atas segala doktrin yang ada didalam agama tsb., yang akhirnya
seringkali dipergunakan untuk menjudge agama lain atau untuk menarik pemeluk
agama lain itu converted ke agama yang dianutnya. Begitulah fakta yang terjadi
selama ini kan?, sekalipun rekan Evy jelas2 mengatakan bahwa pendekatan2 ilmiah
itu tak ada maksud ‘menjudge’ orang lain.

Oleh karena agama adalah masalah keyakinan, maka saya yakin tak mungkin agama2
itu dapat bersatu. Kalau dapat, ya nggak mungkin dong sekarang ini kita
mengenal 5 agama dunia berikut beratus-ratus bahkan beribu-ribu aliran dan
sektenya. Kalau agama2 itu dapat bersatu, maka sejak jaman nabi ‘Udin’, dunia
ini pasti tak se-sengsara seperti sekarang ini. At least salah satu sumber
pertikaian diantara sesama anak manusia telah dapat dieliminasi.

Maka, kalau kita melihat bahwa agama itu tidak dapat disatukan, lantas
bagaimana caranya we have to live with it tanpa harus berhadapan dengan
konflik? Menurut saya dengan menganggap agama2 itu sebagai rel-rel kereta api,
yang nggak pernah saling ketemu, tapi toch, dari titik perpektif mereka menuju
ke satu tujuan.

Kalau cara pandang ini bisa kita terima, maka menurut saya kita tak perlu
membuang2 waktu untuk mencari pembenaran2 ilmiah atas doktrin agama yang kita
anut. Lebih baik energy dan kemampuan intelektual yang kita miliki itu kita
kerahkan sepenuh2nya untuk memecahkan masalah2 kemanusiaan, bangsa dan negara
yang sedang kita hadapi hari ini.

Kita pikirkan sekuat tenaga dan lawan bersama2, bagaimana caranya memberantas
korupsi dari negeri ini. Kita pikirkan sekuat tenaga dan lakukan bersama-sama
bagaimana caranya pendidikan bermutu dapat terrjangkau oleh seluruh lapisan
masyarakat kita. Kita pikirkan sekuat tenaga dan lakukan bersama-sama
bagaimana caranya republik ini dapat memiliki teknologi unggulan, sehingga
dapat menghasilkan devisa. Kita pikirkan sekuat tenaga dan lakukan bersama-
sama bagaimana caranya semangat Joang 45 dan semangat Sumpah Pemuda 1928 tetap
membara didalam setiap dada rakyat negeri ini. Dst.. dst..

Pemikiran diatas masuk akal kan? Nggak macem2 kan? Apakah cara pandang ini
masuk kedalam kategori ‘denkbeeldig’ (lebih tepat sebenernya ‘denkkader’) yang
berubah seperti yang dikatakan mas Syafril, tentu akan tergantung dari diri
kita masing2.

Yang musti kita lakukan adalah memasang rel kereta api sebanyak 2 jalur, 3
jalur, 4 jalur, atau berapa saja yang dibutuhkan, yang akan dipergunakan untuk
membawa bangsa ini dari posisi pada hari ini ke posisi di masa depan sebagai
bangsa yang bersatu. Sebenernya cuma itu kan? Kalau ya, maka marilah segenap
tenaga kita curahkan untuk itu. Bahwasanya rel yang satu ternyata sedikit
lebih mulus dari rel yang lainnya namun rel yang lain ternyata sedikit lebih
getas dari yang satu, itulah perbedaan dalam kebersamaan.

Dan Cak Sodik yang pertama kali menyebarkan issue ‘mengilmiahkan’ larangan
makan daging babi, sementara sekarang sudah menghilang lagi, tampaknya perlu
kita minta pertanggungan jawabnya di forum ini, J)).

Salam hangat,
HermanSyah XIV.


>Koni Nusetyo Ekantono <nusetyo@...> writes:
>
> mBak Evy yth
> Maaf saya nimbrung...
> Saya dan beberapa Senior di Yon I sedikit alergi dengan "ndak pa2"
> sebab "sebenar nya sudah apa2."
> Bukan nya mau mbikin pusing dengan serius... itu Mas Tjipto yang serius
> ngerti kok..
>
> Salam KNE/ E-VIII
>
> -----Original Message-----
> From: EVY ARYANTI <mahadewi2000bw@...>
> To: yonsatu@...
> Date: Mon, 9 May 2005 01:32:16 -0700 (PDT)
> Subject: [yonsatu] Klarifikasi
>
> >> Kok repot2 ?
> > Yah ndak pa2, selama sifatnya pengayaan terhadap science. Manusia
> > memang dibekali sifat ingin tahu yang tinggi atas segala sesuatu, kalo
> > tidak ngapain misalnya Columbus capek2 berlayar hanya untuk membuktikan
> > bumi itu bulat. Asal tidak dipakai untuk menjudge orang lain, yang
> > belum tentu lebih buruk...why not gitu lhoh..
> >
> KNE : ndak pa2 karena sudah science
>
> > Ndak2 pa2 juga kan kalo milis ini dipakai untuk sharing yang tidak
> > berhubungan dengan Batalyon ?
> KNE : ndak pa2 karena sudah sharing dengan Batalyon
>
> > Kadang2 agak jenuh, kalo semua berita seriouuuus semua....
> >
> KNE : ndak pa2 ...wong memang sudah serious...
>
> > Salam,
> > Evy
>
> salam KNE
> >
> > Bima Hermastho <bima_hermastho@...> wrote:
> > WCDS,
> > 'Gus, babi aja kok bikin repot. Belum lagi..Sholat dua bahasa juga
> > rame... Haram fatwanya. Memang bangsa manusia itu aneh. Semua pada
> > mencari pembenaran, berebut surga dengan me-neraka-kan orang lain.
> > Jangan-2 'ntar di surga banyak babi...yang ternyata lebih suci di
> > banding hewan yg bernama manusia (ketika hidup dunia ini).
> >
> > Bima
> > E28
>
> KNE : ndak pa2.. wong di Indonesia bukan saja makan Babi.. tapi sudah
> makan orang alias... korupsi.
>






--
--[YONSATU - ITB]---------------------------------------------
Arsip : <http://news.mahawarman.net>
News Groups : gmane.org.region.indonesia.mahawarman




<Prev in Thread] Current Thread [Next in Thread>
Google Custom Search

News | FAQ | advertise