|
Korupsi akibat suka makan babi ?Re: Ilmu Kesehatan: Why the Muslim can't ea: msg#00030org.region.indonesia.mahawarman
Hallo Cak Sodik yang sudah lama nggak nongol dan rekan Corps ysh., asodik-XNbuPGYthTOB+jHODAdFcQ@xxxxxxxxxxxxxxxx 05/04/2005 04:27 AM wrote: >maka kalau kita memakan daging babi dikhawatirkan >unsur-unsur babi yang bertabiat kotor, jorok, serakah tsb sedikit demi >sedikit terakumulasi dalam diri kita (apa begitu?) Kelihatannya betul begitu cak Sodik, soalnya korupsi (dan mentalitas korup) meraja lela sih di negeri ini. Berarti masyarakat kita diem2 pada suka makan daging babi ya :-))). >Bahkan ada juga yang berpendapat dengan memakan daging babi, seseorang >akan berkurang sifat cemburu. Karena itu kita lihat kehidupan budaya barat >sebagai hal yang biasa-biasa saja bertukar pasangan dan "kumpul kebo" yang >hal tersebut kini justru menular ke negeri tercinta kita ini. Ooo gitu ya. Berarti bener dong, bahwa masyarakat kita suka makan daging babi ngumpet2 :-))). Eh, anda tahu kan bahwa orang2 di negara2 barat itu mulai dari pagi, siang, malem, dinihari, sampe pagi lagi kerjanya makan daging babi melulu lho. >Sebuah ungkapan menyatakan "Manusia itu tergantung dari apa yang dimakan", >apalagi jika makanan yang dimakan diperoleh dengan cara yang haram >(maling, merampok, korupsi dsb). Lantas manusia yang makan dengan cara haram itu jadi apa ya cak Sodik?, Jadi babi celeng atau babi ngepet kali ya? Masyarakat kita memang dari dulu sampai sekarang masih demen banget ngobrolin soal larangan2 agama ya?, sementara disekelilingnya pelanggaran hukum dan norma yang mereka anut itu berjalan saja terus. Saya suka merasa geli bercampur getir melihat keadaan ini. Mau kasih usul sudahlah jangan ngobrolin agama karena itu bukan akar masalah, biarkan saja agama jadi masalah pribadi, mana ada yang mau denger. Salah2 yang kasih usul malah diteror. Mungkin kita perlu bereksperimen barang 1 generasi menjadikan Indonesia sebagai negara Islam. Perlu kita buktikan apakah benar hukum Islam dapat memecahkan masalah yang kita hadapi saat ini. Kalau betul bisa memecahkan masalah, maka kita tetapkanlah RI sebagai negara Islam sepanjang masa. Kalau nggak berhasil, maka kita musti konsisten menerapkan Indonesia sebagai negara Sekuler yang 'rechtsstaat'. Gimana para rekans, mau kita wacanakan ide 'try-out Indonesia sebagai negara Islam'? Kelompok ulama Jabar sudah ada yang mulai nih. Mereka menuntut diberlakukannya syariat Islam secara utuh (kafah) di Indonesia, terutama di Jabar guna menyelamatkan bangsa dari kehancuran, katanya. Bagaimana kalau kita sempurnakan tuntutan itu dengan sekalian saja 'try-out Indonesia jadi Negara Islam', karena bagaimana mungkin memberlakukan syariat Islam secara utuh kalau dasar hukumnya bukan hukum Islam? Anyway, berikut ini saya sertakan tututan (dan rekomendasi) Forum Ulama Jabar itu FYI. Saya -mohon maaf bagi yang tersinggung- hanya bisa tersenyum geli bercampur getir membacanya. 60 tahun sudah Indonesia merdeka, namun perkembangan nalar bangsa tercinta ini rasanya tak beranjak maju. Semoga saya salah. --- Begin quote --- Ratusan Ulama Deklarasikan FUI Jabar Pemerintah Diminta Tegas Soal Maksiat CIREBON, (PR).- Sejumlah ulama yang tergabung dalam Forum Ulama Islam (FUI) Jabar mendesak pemerintah untuk menindaklanjuti usulan draf RUU KUHP yang diajukan ulama Jabar pada 10 Januari 2004. Usulan itu isinya berupa perlunya penegakan hukum memberantas berbagai kemungkaran secara konsisten dan konsekuen demi menghindari tindakan anarkis dan penghakiman massa. Desakan tersebut merupakan salah satu dari 10 rekomendasi yang dikeluarkan FUI Jabar dalam "Muzakarah dan Deklarasi" yang berlangsung di Gedung Islamic Centre, Masjid Agung Attaqwa, Cirebon, Selasa (3/5). Pembentukan FUI Jabar itu sendiri merupakan bagian dari 10 rekomendasi yang mereka keluarkan. Forum "Muzakarah dan Deklarasi" berlangsung selama dua hari, Senin-Selasa (2-3/5). Di depan ratusan ulama (peserta) yang datang dari 20 daerah di Jabar, deklarasi dibacakan Ketua Umum FUI Jabar terpilih, K.H. Muhammad Qudsi yang berasal dari Kab. Garut. Didampingi oleh pengurus FUI Jabar lainnya seperti Ketua I FUI Jabar K.H. Ingi Badruzzaman, Ketua II Prof. Dr. H. Sanusi Uwes, Sekretaris Umum Prof. H. Salim Badjri, Bendahara H. Oman Surahman dan pengurus lain. Selama dua hari, muzakarah membahas berbagai persoalan dengan mengundang sejumlah ahli. Termasuk juga para pejabat di Wilayah III Cirebon seperti dari Kandepag Kuningan, Majalengka, Indramayu, dan Kota/Kab. Cirebon. Rekomendasi ketiga dari deklarasi adalah tuntutan perlunya pemberlakuan syariat Islam secara utuh (kafah) di Indonesia, terutama di Jabar untuk menyelamatkan bangsa dari kehancuran. Rekomendasi keempat, mendesak pemerintah menegakkan dan melaksanakan akhlakul kharimah (tindakan terpuji). Kelima, menyerukan umat Islam agar memilih pemimpin daerah dalam pilkada yang sanggup melaksanakan syariat Islam. Keenam, menolak paham liberal dan pluralisme dengan segala turunannya dalam agama. Ketujuh, mendesak pemerintah mencegah segala bentuk pemurtadan. Kedelapan, menolak isu terorisme terhadap umat Islam yang dilakukan Amerika dan sekutunya. Kesembilan, membentuk FUI se-Jabar. Kesepuluh, menuntut pemerintah membebaskan Ustaz Abu Bakar Ba'asyir demi hukum, keadilan, dan kemanusiaan. Ketua Umum terpilih FUI Jabar, K.H. Muhamad Qudsi menjelaskan, dalam memberantas kemungkaran tidak cukup dengan berdiskusi dan menyatakan sikap. Akan tetapi, harus terjun langsung ke tengah-tengah masyarakat. "Kita selaku umat Islam mesti terjun langsung dalam menegakkan amar ma'ruf nahi munkar," ujar Muhamad Qudsi. Sementara itu, K.H. Syarif Muhamad Yahya bin Syech selaku Dewan Penasihat FUI Jabar, meminta seluruh pengurus terlebih dahulu memperbaiki diri sendiri sesuai syariat Islam. Pada saat bersamaan, ia juga mengajak orang lain untuk berbuat kebaikan. "Jangan sampai seperti lilin. Lilin mampu memberikan cahaya penerang bagi orang yang tengah kegelapan. Sementara dia sendiri hancur meleleh dan kehabisan tenaga," ujarnya. Isu korupsi Isu korupsi juga menjadi sorotan FUI Jabar. Sekretaris Umum FUI Jabar, Prof. Dr. H. Salim Bajrie, mengatakan, pihaknya mendukung penuh langkah pemerintah yang memprogramkan antikorupsi sekaligus penegakan hukum para pelakunya. Sekalipun sulit, dirinya yakin korupsi bisa diberantas bila dilaksanakan serius. "FUI mendukung penuh program antikorupsi. Langkah ini mesti didukung untuk membantu mengikis budaya korupsi. Berantas korupsi itu kewajiban seorang Muslim. Pemberantasannya juga harus menyeluruh," paparnya. Ketua Yayasan Majelis Taklim Hidayatullah, H. Yukeng, mengatakan, pihaknya mendukung fatwa FUI Jabar yang menginginkan Jabar terbebas dari kemaksiatan dan menghilangkan tindakan korupsi. "Kami mendukung fatwa FUI Jabar. Yang jelas, segala bentuk kemaksiatan harus hilang di Jabar dan umumnya Indonesia. Insya Allah sayalah yang akan membantu membongkar praktik korupsi, seperti yang sudah yang lakukan di Kuningan atau daerah lain," tandas dia. Pengurus FUI Selain pendeklarasian, FUI Jabar juga mengumumkan susunan pengurus yang terdiri dari dewan penasihat, dewan pengurus, dan bidang-bidang meliputi hukum/fatwa, pengkajian/pengembangan, komunikasi, kaderisasi, ekonomi, sosial, dan peranan wanita. Susunan itu juga mempertimbangkan aspek wilayah meliputi Wilayah Cirebon, Priangan, Bandung, Purwakarta, dan Cianjur. Sejumlah kiai berpengaruh dimasukkan ke dalam susunan dewan pengurus, di antaranya K.H. R. Abdul Halim (Cianjur), K.H. Dawud Abdul Halim (Garut), K.H. Syarief Muhammad bin Syekh (Kota Cirebon), K.H. Maktum Hanan (Kab. Cirebon), K.H. Hasan (Kuningan). Setelah pendeklarasian di tingkat Jabar, rencananya juga akan ditindaklanjuti dengan pembentukan FUI di tingkat daerah/kabupaten dan kota. Sejumlah tokoh nasional dan Jabar juga tampak hadir dalam perhelatan ulama se-Jabar tersebut. Di antaranya, Ketua Majelis Mujahidin Indonesia (MMI), Fauzan Al Anshari, M.M., dan Ketum MMI Jabar, Herman Ibrahim, dan sejumlah aktivis MMI lainnya.(A-93)*** Sumber: http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/2005/0505/04/0103.htm --- End Quote --- Salam hangat, HermanSyah XIV. asodik-XNbuPGYthTOB+jHODAdFcQ@xxxxxxxxxxxxxxxx 05/04/2005 04:27 AM Please respond to yonsatu To: yonsatu-PA9+dxvo8yQi5wvc6DhUiQ@xxxxxxxxxxxxxxxx cc: Subject: [yonsatu] Ilmu Kesehatan: Why the Muslim can't eat pork Hallo gank, Terkait tulisan pengharaman darah dan babi dalam Islam yang diulas dari sudut pandang logika dan ilmu kesehatan di bawah ini, ada yang berpendapat karena babi hidupnya di lingkungan yang jorok dan mempunyai tabiat kotor (memakan segala macam), maka kalau kita memakan daging babi dikhawatirkan unsur-unsur babi yang bertabiat kotor, jorok, serakah tsb sedikit demi sedikit terakumulasi dalam diri kita (apa begitu?). Sangat berbeda kalau kita mengkonsumsi madu yang berasal dari bunga-bunga harum yang dihisap lebah. Bahkan ada juga yang berpendapat dengan memakan daging babi, seseorang akan berkurang sifat cemburu. Karena itu kita lihat kehidupan budaya barat sebagai hal yang biasa-biasa saja bertukar pasangan dan "kumpul kebo" yang hal tersebut kini justru menular ke negeri tercinta kita ini. Sebuah ungkapan menyatakan "Manusia itu tergantung dari apa yang dimakan", apalagi jika makanan yang dimakan diperoleh dengan cara yang haram (maling, merampok, korupsi dsb). salam Asodik -- --[YONSATU - ITB]--------------------------------------------- Arsip : <http://news.mahawarman.net> News Groups : gmane.org.region.indonesia.mahawarman |
|
| <Prev in Thread] | Current Thread | [Next in Thread> |
|---|---|---|
| Previous by Date: | Ilmu Kesehatan: Why the Muslim can't eat pork: 00030, asodik-XNbuPGYthTOB+jHODAdFcQ |
|---|---|
| Next by Date: | Re: Korupsi akibat suka makan babi ?Re: Ilmu Kesehatan: Why the Muslim can't eat pork: 00030, Hendry Akbarputra Nasution |
| Previous by Thread: | Ilmu Kesehatan: Why the Muslim can't eat porki: 00030, asodik-XNbuPGYthTOB+jHODAdFcQ |
| Next by Thread: | Re: Korupsi akibat suka makan babi ?Re: Ilmu Kesehatan: Why the Muslim can't eat pork: 00030, Hendry Akbarputra Nasution |
| Indexes: | [Date] [Thread] [Top] [All Lists] |
| News | FAQ | advertise |