|
|
Mozy Online Backup: 2GB Free. Automatic. Secure.
Subject: Permohonan Tulisan - msg#00079
List: org.region.indonesia.mahawarman
KOMANDO RESIMEN MAHASISWA MAHAWARMAN
JAWA BARAT
JL. SURAPATI 29 BANDUNG 40132 TLP.02291151175
=============================================
PEMBERITAHUAN
Sehubungan dengan rencana penerbitan Media Mahawarman
pada tanggal 12 Maret 2004, ada berapa thema yang akan
dimuat a.l :
1. Pemberantasan Judi di Jawa Barat "Komitmen
Pemerintah Jabar thd
Pemberantasan Judi"
2. Masalah Punclut
3. Tiga Bulan SBY di Bidang Pertahanan dan Keamanan
(Strategi
Perundingan dgn Pimpinan GAM,Strategi Penanganan
Keamanan Aceh Pasca
Tsunami), Bidang Pendidikan dan Bidang Pemerintahan
daerah.
4. Rubrik Khusus : Seputar Kampus, Pena Ungu.
5. Lain2 : Pengelolahan Sampah berbasis ekologis
Atas perhatian dan kesediaanya diucapkan terima kasih.
An. Komandan Menwa Mahawarman
Kepala Staf
ttd
Y. S. Muda
NBP.97750833585
NB : Redaksi menerima tulisan artikel opini. Untuk
artikel maksimal 4
halaman kuarto dua spasi, opini 2 halaman kuarto dua
spasi. Tulisan
disertai identitas pribadi.
Al. Redaksi : Jl. Surapati 29 Bandung 40132, Email :
mediamahawarman-/E1597aS9LRfmgfxC/sS/w@xxxxxxxxxxxxxxxx
Susunan Pengurus :
Pemimpin Umum/PJ : Kasmenwa Mahawarman
Pemimpin Redaksi : Martika Edison (Alumni)
Pemimpin Perusahaan : Agus Winarno (Aslog)
Wakil P. P : Nanik Kurniawati
Wakil Pemred : Irma Widiastuti
Staf Redaksi : Ardhy Gumilar, Dian Vita A,
Fajarudin,Abdul, Yayat
Hidayat.
Mohon saran dan ktitiknya ke alamat redaksi.
__________________________________
Do you Yahoo!?
Read only the mail you want - Yahoo! Mail SpamGuard.
http://promotions.yahoo.com/new_mail
--
--[YONSATU - ITB]---------------------------------------------
Arsip : < http://news.mahawarman.net>
News Groups : gmane.org.region.indonesia.mahawarman
Info Aceh : < http://acehmediacenter.or.id>
Sumbangan melalui Corps. Menwa utk bencana Aceh
Bank : BCA KCU Dago, Bandung
Rekening # : 777-052-4118 a/n Teti Indriati
Was this page helpful?
Thread at a glance:
Previous Message by Date:
click to view message preview
BBM
Pak Herman,
Ini lah yang saya nggak mengerti dari proses diskusi ini. Beberapa rekan sudah
mencoba menerangkan (karena beliau-beliau punya sumber informasi yang lebih
akurat daripada saya), tapi kita cenderung untuk memilih menggunakan asumsi
lain yang cenderung favorable buat mendukung opini kita.
Kebetulan kerjaan saya adalah mencari minyak alis kerja di bagian hulunya, jadi
soal hilir (produksi dan pemasarannya) saya hanya tahu kulit-kulitnya. Tapi
secara garis besar saya setuju dengan yang sudah dijelaskan oleh beberapa rekan
sebelumnya (Pak Oetomo dan pak WIdharto).
Jadi marilah dengan kepala dingin kita simak fakta-fakta tersebut dengan sikap
terbuka.
Kita tidak menutup mata bahwa ada masalah-masalah lain selain harga BBM ini
yang menyebabkan beban kita sebagai rakyat menjadi sangat berat: korupsi,
ketidak efisienan dll.dll.
Dengan itu kita mudah-mudahan bisa mencerna penjelasan rekan yang lain dengan
lebih baik dan jelas.
Menjawab pertanyaan anda yang terakhir soal kenapa kita ekspor, tapi kok masih
impor juga..?
Itu adalah cara klasik pemerintah untuk mendapatkan "selisih harga jual" yang
dimasukan sebagai "pendapatan". Karena minyak mentah kita kualitasnya jauh
lebih baik, jadi harganya lebih tinggi dibanding dengan minyak yang kita impor.
Ibaratnya kita nanam padi rojolele, tapi kita "nrimo" untuk makan beras kelas
IR saja. Jadi rojolelenya kita jual, dan hasilnya sebagian kita pakai untuk
beli beras IR yang harga dan kualitasnya lebih murah. Selisih harga jualnya
kita pakai untuk modal....
salam,
Listar <listar-PA9+dxvo8yQi5wvc6DhUiQ@xxxxxxxxxxxxxxxx> wrote:Msg: #2 in digest
Subject: [yonsatu] Re: Mencabut Subsidi BBM atau Menaikkan Harga Bens
From: hermansyah-qiVc+BLglCs@xxxxxxxxxxxxxxxx
Date: Fri, 25 Feb 2005 15:17:58 +0100
Senang anda bereaksi demikian, karena inilah point saya yang sebenarnya
mas Noor, yaitu agar pemerintah itu mbok ya transparant dan jujur.
Kasih
informasi yang lengkap dong kepada rakyat. Jangan menciptakan situasi
dimana rakyat jadi berandai-andai.
Kalau biaya tenaga kerja Indonesia hanya 1% dari total biaya penyedotan
minyak, saya akan mengerti kalalu biaya produksi BBM mustinya akan
lebih
dari Rp. 540.-/liter seperti yang di klaim oleh KKG. Tapi berapa nilai
sebenarnya? Mengapa nggak ada seorangpun orang pemerintah maupun
Pertamina mau menjelaskannya? Kalaupun sudah dijelaskan, muncul
pertanyaan kedua, mengapa kok harga instalasi pemboran mencapai 99%
dari
komponen biaya? Apakah ini hasil kongkalingkong dengan kontraktor,
yang
menyebabkan biaya peralatan menggelembung dan menguap sampai 40%?,
misalnya.
Dan kalau anda bilang bahwa 30% pos pendapatan APBN berasal dari sektor
Migas, dan memang betul, terus terang saja, saya sebenarnya agak
binung.
Kenapa ya, kok kita bisa export Migas, tapi dilain pihak kita juga
masih
mengimport 40% dari kebutuhan BBM kita? Lucu banget rasanya. Apa ini
cuma taktik dagang saja supaya kita bisa dapat pemasukan tanpa terlalu
banyak mengutang, seperti jual beli Valas? Atau, yang diexport adalah
produk Migas yang bukan BBM, tapi oli dan gas yang kebetulan sudah
melebihi kebutuhan kita? Sementara BBMnya sendiri kita memang masih
kekurangan? Lagi2, apakah ada orang pemerintah atau Pertamina yang
menjelaskan hal ini?
Jadi sekali lagi, point saya adalah transparansi pemerintah itu,
sekaligus
edukasi kepada masyarakat. Kalau ini nggak mereka lakukan, maka saya
nggak akan heran kalau semakin banyak penonton yang cuma duduk enak2
sambil makan keju asap seperti anda bilang itu :-), penonton yang akan
mengambil kesempatan dalam kesempitan sampai dengan penonton yang
melempar
batu dari balik pohon, karena sebagai salah seorang dari 36 juta rakyat
miskin Indonesia, nggak pernah bisa ngerti mengapa hidup mereka hanya
dipenuhi oleh penderitaan saja.
Salam hangat,
HermanSyah.
---------------------------------
Do you Yahoo!?
Yahoo! Sports - Sign up for Fantasy Baseball.
--
--[YONSATU - ITB]---------------------------------------------
Arsip : <http://news.mahawarman.net>
News Groups : gmane.org.region.indonesia.mahawarman
Info Aceh : <http://acehmediacenter.or.id>
Sumbangan melalui Corps. Menwa utk bencana Aceh
Bank : BCA KCU Dago, Bandung
Rekening # : 777-052-4118 a/n Teti Indriati
Next Message by Date:
click to view message preview
Re: BBM
Hallo mas Noor,
noor syarifuddin <noorsyarifuddin-/E1597aS9LQAvxtiuMwx3w@xxxxxxxxxxxxxxxx>
02/28/2005 01:36 PM wrote:
>Ini lah yang saya nggak mengerti dari proses diskusi ini. Beberapa rekan
sudah mencoba menerangkan (karena beliau-beliau punya sumber informasi
>yang lebih akurat daripada saya), tapi kita cenderung untuk memilih
menggunakan asumsi lain yang cenderung favorable buat mendukung opini
kita.
Saya nggak nyetel2 data kok supaya hasil hitungan saya kemarin favourable
buat saya. Saya ambil asumsi cost di Indonesia yang 10% dari di US,
karena saya melihat bahwa harga bahan pokok di Indonesia kira2 1/10
kalinya harga di NL (1 liter susu di NL=Rp. 11.000.-, di Indonesia = Rp.
1.350,-).
Dengan asumsi yang rendah sekali ini saja, kesimpulan saya sudah
berlawanan dengan kesimpulan KKG, bahwa memang betul kita musti import
BBM. Apalagi kalau cost tsb. saya naikkan. Dengan demikian menurut saya
nggak tepat kalau anda katakan bahwa data2 yang saya ambil itu faourable
buat kesimpulan saya.
>Dengan itu kita mudah-mudahan bisa mencerna penjelasan rekan yang lain
dengan lebih baik dan jelas.
Ya, setuju, mudah2an demikian untuk masa2 yad. Tapi menurut hemat saya,
sampai saat ini, informasi yang disampaikan oleh para rekan itu, buat saya
yang awam ini, masih belum jelas. Informasi itu baru akan jelas, kalau ia
dapat mencounter secara rinci hitung-hitungan yang disampaikan KKG.
>Menjawab pertanyaan anda yang terakhir soal kenapa kita ekspor, tapi kok
masih impor juga..?
>Itu adalah cara klasik pemerintah untuk mendapatkan "selisih harga jual"
yang dimasukan sebagai "pendapatan". Karena minyak mentah kita kualitasnya
>jauh lebih baik, jadi harganya lebih tinggi dibanding dengan minyak yang
kita impor. Ibaratnya kita nanam padi rojolele, tapi kita "nrimo" untuk
>makan beras kelas IR saja. Jadi rojolelenya kita jual, dan hasilnya
sebagian kita pakai untuk beli beras IR yang harga dan kualitasnya lebih
murah. >Selisih harga jualnya kita pakai untuk modal....
Nah, penjelasan anda ini membuat saya yang tadinya sudah nggak bingung
lagi, sekarang jadi bingung kembali nih, karena penjelasan mas Widaryanto
berbunyi begini:
>Indonesia memang export crude & LNG tapi juga import crude & BBM, tapi
>spesifikasi crude yang diexport & diimport tidak sama.
>Kenapa demikian? karena masing-masing kilang minyak itu dirancang untuk
>mengolah crude dengan spesifikasi & komposisi tertentu, menggunakan
>teknologi proses yang berbeda antara satu dengan yang lain, untuk
>mendapatkan komposisi produk olahan yang berbeda juga antara satu
>kilang dengan lainnya.
>Jadi jawabannya, tidak semua crude Indonesia bisa diolah di kilang
>minyak di Indonesia sehingga masih ada yang di export,
>dan harus import crude (salah satu alasan) karena untuk mendapatkan
>lube base (bahan dasar oli) kita harus mengolah crude dari timur tengah
>di kilang Cilacap yang dirancang untuk itu (sebagai contoh).
Salam hangat,
HermanSyah XIV.
noor syarifuddin <noorsyarifuddin-/E1597aS9LQAvxtiuMwx3w@xxxxxxxxxxxxxxxx>
02/28/2005 01:36 PM
Please respond to yonsatu
To: yonsatu-PA9+dxvo8yQi5wvc6DhUiQ@xxxxxxxxxxxxxxxx
cc:
Subject: [yonsatu] BBM
Pak Herman,
Ini lah yang saya nggak mengerti dari proses diskusi ini. Beberapa rekan
sudah mencoba menerangkan (karena beliau-beliau punya sumber informasi
yang lebih akurat daripada saya), tapi kita cenderung untuk memilih
menggunakan asumsi lain yang cenderung favorable buat mendukung opini
kita.
Kebetulan kerjaan saya adalah mencari minyak alis kerja di bagian hulunya,
jadi soal hilir (produksi dan pemasarannya) saya hanya tahu
kulit-kulitnya. Tapi secara garis besar saya setuju dengan yang sudah
dijelaskan oleh beberapa rekan sebelumnya (Pak Oetomo dan pak WIdharto).
Jadi marilah dengan kepala dingin kita simak fakta-fakta tersebut dengan
sikap terbuka.
Kita tidak menutup mata bahwa ada masalah-masalah lain selain harga BBM
ini yang menyebabkan beban kita sebagai rakyat menjadi sangat berat:
korupsi, ketidak efisienan dll.dll.
Dengan itu kita mudah-mudahan bisa mencerna penjelasan rekan yang lain
dengan lebih baik dan jelas.
Menjawab pertanyaan anda yang terakhir soal kenapa kita ekspor, tapi kok
masih impor juga..?
Itu adalah cara klasik pemerintah untuk mendapatkan "selisih harga jual"
yang dimasukan sebagai "pendapatan". Karena minyak mentah kita kualitasnya
jauh lebih baik, jadi harganya lebih tinggi dibanding dengan minyak yang
kita impor. Ibaratnya kita nanam padi rojolele, tapi kita "nrimo" untuk
makan beras kelas IR saja. Jadi rojolelenya kita jual, dan hasilnya
sebagian kita pakai untuk beli beras IR yang harga dan kualitasnya lebih
murah. Selisih harga jualnya kita pakai untuk modal....
salam,
--
--[YONSATU - ITB]---------------------------------------------
Arsip : <http://news.mahawarman.net>
News Groups : gmane.org.region.indonesia.mahawarman
Info Aceh : <http://acehmediacenter.or.id>
Sumbangan melalui Corps. Menwa utk bencana Aceh
Bank : BCA KCU Dago, Bandung
Rekening # : 777-052-4118 a/n Teti Indriati
Previous Message by Thread:
click to view message preview
BBM
Pak Herman,
Ini lah yang saya nggak mengerti dari proses diskusi ini. Beberapa rekan sudah
mencoba menerangkan (karena beliau-beliau punya sumber informasi yang lebih
akurat daripada saya), tapi kita cenderung untuk memilih menggunakan asumsi
lain yang cenderung favorable buat mendukung opini kita.
Kebetulan kerjaan saya adalah mencari minyak alis kerja di bagian hulunya, jadi
soal hilir (produksi dan pemasarannya) saya hanya tahu kulit-kulitnya. Tapi
secara garis besar saya setuju dengan yang sudah dijelaskan oleh beberapa rekan
sebelumnya (Pak Oetomo dan pak WIdharto).
Jadi marilah dengan kepala dingin kita simak fakta-fakta tersebut dengan sikap
terbuka.
Kita tidak menutup mata bahwa ada masalah-masalah lain selain harga BBM ini
yang menyebabkan beban kita sebagai rakyat menjadi sangat berat: korupsi,
ketidak efisienan dll.dll.
Dengan itu kita mudah-mudahan bisa mencerna penjelasan rekan yang lain dengan
lebih baik dan jelas.
Menjawab pertanyaan anda yang terakhir soal kenapa kita ekspor, tapi kok masih
impor juga..?
Itu adalah cara klasik pemerintah untuk mendapatkan "selisih harga jual" yang
dimasukan sebagai "pendapatan". Karena minyak mentah kita kualitasnya jauh
lebih baik, jadi harganya lebih tinggi dibanding dengan minyak yang kita impor.
Ibaratnya kita nanam padi rojolele, tapi kita "nrimo" untuk makan beras kelas
IR saja. Jadi rojolelenya kita jual, dan hasilnya sebagian kita pakai untuk
beli beras IR yang harga dan kualitasnya lebih murah. Selisih harga jualnya
kita pakai untuk modal....
salam,
Listar <listar-PA9+dxvo8yQi5wvc6DhUiQ@xxxxxxxxxxxxxxxx> wrote:Msg: #2 in digest
Subject: [yonsatu] Re: Mencabut Subsidi BBM atau Menaikkan Harga Bens
From: hermansyah-qiVc+BLglCs@xxxxxxxxxxxxxxxx
Date: Fri, 25 Feb 2005 15:17:58 +0100
Senang anda bereaksi demikian, karena inilah point saya yang sebenarnya
mas Noor, yaitu agar pemerintah itu mbok ya transparant dan jujur.
Kasih
informasi yang lengkap dong kepada rakyat. Jangan menciptakan situasi
dimana rakyat jadi berandai-andai.
Kalau biaya tenaga kerja Indonesia hanya 1% dari total biaya penyedotan
minyak, saya akan mengerti kalalu biaya produksi BBM mustinya akan
lebih
dari Rp. 540.-/liter seperti yang di klaim oleh KKG. Tapi berapa nilai
sebenarnya? Mengapa nggak ada seorangpun orang pemerintah maupun
Pertamina mau menjelaskannya? Kalaupun sudah dijelaskan, muncul
pertanyaan kedua, mengapa kok harga instalasi pemboran mencapai 99%
dari
komponen biaya? Apakah ini hasil kongkalingkong dengan kontraktor,
yang
menyebabkan biaya peralatan menggelembung dan menguap sampai 40%?,
misalnya.
Dan kalau anda bilang bahwa 30% pos pendapatan APBN berasal dari sektor
Migas, dan memang betul, terus terang saja, saya sebenarnya agak
binung.
Kenapa ya, kok kita bisa export Migas, tapi dilain pihak kita juga
masih
mengimport 40% dari kebutuhan BBM kita? Lucu banget rasanya. Apa ini
cuma taktik dagang saja supaya kita bisa dapat pemasukan tanpa terlalu
banyak mengutang, seperti jual beli Valas? Atau, yang diexport adalah
produk Migas yang bukan BBM, tapi oli dan gas yang kebetulan sudah
melebihi kebutuhan kita? Sementara BBMnya sendiri kita memang masih
kekurangan? Lagi2, apakah ada orang pemerintah atau Pertamina yang
menjelaskan hal ini?
Jadi sekali lagi, point saya adalah transparansi pemerintah itu,
sekaligus
edukasi kepada masyarakat. Kalau ini nggak mereka lakukan, maka saya
nggak akan heran kalau semakin banyak penonton yang cuma duduk enak2
sambil makan keju asap seperti anda bilang itu :-), penonton yang akan
mengambil kesempatan dalam kesempitan sampai dengan penonton yang
melempar
batu dari balik pohon, karena sebagai salah seorang dari 36 juta rakyat
miskin Indonesia, nggak pernah bisa ngerti mengapa hidup mereka hanya
dipenuhi oleh penderitaan saja.
Salam hangat,
HermanSyah.
---------------------------------
Do you Yahoo!?
Yahoo! Sports - Sign up for Fantasy Baseball.
--
--[YONSATU - ITB]---------------------------------------------
Arsip : <http://news.mahawarman.net>
News Groups : gmane.org.region.indonesia.mahawarman
Info Aceh : <http://acehmediacenter.or.id>
Sumbangan melalui Corps. Menwa utk bencana Aceh
Bank : BCA KCU Dago, Bandung
Rekening # : 777-052-4118 a/n Teti Indriati
Next Message by Thread:
click to view message preview
Re: BBM
Hallo mas Noor,
noor syarifuddin <noorsyarifuddin-/E1597aS9LQAvxtiuMwx3w@xxxxxxxxxxxxxxxx>
02/28/2005 01:36 PM wrote:
>Ini lah yang saya nggak mengerti dari proses diskusi ini. Beberapa rekan
sudah mencoba menerangkan (karena beliau-beliau punya sumber informasi
>yang lebih akurat daripada saya), tapi kita cenderung untuk memilih
menggunakan asumsi lain yang cenderung favorable buat mendukung opini
kita.
Saya nggak nyetel2 data kok supaya hasil hitungan saya kemarin favourable
buat saya. Saya ambil asumsi cost di Indonesia yang 10% dari di US,
karena saya melihat bahwa harga bahan pokok di Indonesia kira2 1/10
kalinya harga di NL (1 liter susu di NL=Rp. 11.000.-, di Indonesia = Rp.
1.350,-).
Dengan asumsi yang rendah sekali ini saja, kesimpulan saya sudah
berlawanan dengan kesimpulan KKG, bahwa memang betul kita musti import
BBM. Apalagi kalau cost tsb. saya naikkan. Dengan demikian menurut saya
nggak tepat kalau anda katakan bahwa data2 yang saya ambil itu faourable
buat kesimpulan saya.
>Dengan itu kita mudah-mudahan bisa mencerna penjelasan rekan yang lain
dengan lebih baik dan jelas.
Ya, setuju, mudah2an demikian untuk masa2 yad. Tapi menurut hemat saya,
sampai saat ini, informasi yang disampaikan oleh para rekan itu, buat saya
yang awam ini, masih belum jelas. Informasi itu baru akan jelas, kalau ia
dapat mencounter secara rinci hitung-hitungan yang disampaikan KKG.
>Menjawab pertanyaan anda yang terakhir soal kenapa kita ekspor, tapi kok
masih impor juga..?
>Itu adalah cara klasik pemerintah untuk mendapatkan "selisih harga jual"
yang dimasukan sebagai "pendapatan". Karena minyak mentah kita kualitasnya
>jauh lebih baik, jadi harganya lebih tinggi dibanding dengan minyak yang
kita impor. Ibaratnya kita nanam padi rojolele, tapi kita "nrimo" untuk
>makan beras kelas IR saja. Jadi rojolelenya kita jual, dan hasilnya
sebagian kita pakai untuk beli beras IR yang harga dan kualitasnya lebih
murah. >Selisih harga jualnya kita pakai untuk modal....
Nah, penjelasan anda ini membuat saya yang tadinya sudah nggak bingung
lagi, sekarang jadi bingung kembali nih, karena penjelasan mas Widaryanto
berbunyi begini:
>Indonesia memang export crude & LNG tapi juga import crude & BBM, tapi
>spesifikasi crude yang diexport & diimport tidak sama.
>Kenapa demikian? karena masing-masing kilang minyak itu dirancang untuk
>mengolah crude dengan spesifikasi & komposisi tertentu, menggunakan
>teknologi proses yang berbeda antara satu dengan yang lain, untuk
>mendapatkan komposisi produk olahan yang berbeda juga antara satu
>kilang dengan lainnya.
>Jadi jawabannya, tidak semua crude Indonesia bisa diolah di kilang
>minyak di Indonesia sehingga masih ada yang di export,
>dan harus import crude (salah satu alasan) karena untuk mendapatkan
>lube base (bahan dasar oli) kita harus mengolah crude dari timur tengah
>di kilang Cilacap yang dirancang untuk itu (sebagai contoh).
Salam hangat,
HermanSyah XIV.
noor syarifuddin <noorsyarifuddin-/E1597aS9LQAvxtiuMwx3w@xxxxxxxxxxxxxxxx>
02/28/2005 01:36 PM
Please respond to yonsatu
To: yonsatu-PA9+dxvo8yQi5wvc6DhUiQ@xxxxxxxxxxxxxxxx
cc:
Subject: [yonsatu] BBM
Pak Herman,
Ini lah yang saya nggak mengerti dari proses diskusi ini. Beberapa rekan
sudah mencoba menerangkan (karena beliau-beliau punya sumber informasi
yang lebih akurat daripada saya), tapi kita cenderung untuk memilih
menggunakan asumsi lain yang cenderung favorable buat mendukung opini
kita.
Kebetulan kerjaan saya adalah mencari minyak alis kerja di bagian hulunya,
jadi soal hilir (produksi dan pemasarannya) saya hanya tahu
kulit-kulitnya. Tapi secara garis besar saya setuju dengan yang sudah
dijelaskan oleh beberapa rekan sebelumnya (Pak Oetomo dan pak WIdharto).
Jadi marilah dengan kepala dingin kita simak fakta-fakta tersebut dengan
sikap terbuka.
Kita tidak menutup mata bahwa ada masalah-masalah lain selain harga BBM
ini yang menyebabkan beban kita sebagai rakyat menjadi sangat berat:
korupsi, ketidak efisienan dll.dll.
Dengan itu kita mudah-mudahan bisa mencerna penjelasan rekan yang lain
dengan lebih baik dan jelas.
Menjawab pertanyaan anda yang terakhir soal kenapa kita ekspor, tapi kok
masih impor juga..?
Itu adalah cara klasik pemerintah untuk mendapatkan "selisih harga jual"
yang dimasukan sebagai "pendapatan". Karena minyak mentah kita kualitasnya
jauh lebih baik, jadi harganya lebih tinggi dibanding dengan minyak yang
kita impor. Ibaratnya kita nanam padi rojolele, tapi kita "nrimo" untuk
makan beras kelas IR saja. Jadi rojolelenya kita jual, dan hasilnya
sebagian kita pakai untuk beli beras IR yang harga dan kualitasnya lebih
murah. Selisih harga jualnya kita pakai untuk modal....
salam,
--
--[YONSATU - ITB]---------------------------------------------
Arsip : <http://news.mahawarman.net>
News Groups : gmane.org.region.indonesia.mahawarman
Info Aceh : <http://acehmediacenter.or.id>
Sumbangan melalui Corps. Menwa utk bencana Aceh
Bank : BCA KCU Dago, Bandung
Rekening # : 777-052-4118 a/n Teti Indriati
|
|