logo       

Gunung Jangan Pula Meletus: msg#00107

org.region.indonesia.mahawarman

Subject: Gunung Jangan Pula Meletus

AWW.

Berikut tulisan dari Emha Ainun Najib ttg bencana tsb Aceh dan
sekitarnya, semoga bermanfaat ;
Wassalam. DZArifin
==================

------------------------------------------

Gunung Jangan Pula Meletus

Oleh Emha Ainun Nadjib

KHUSUS untuk bencana Aceh, saya terpaksa menemui Kiai Sudrun.
Apakahkata mampu
mengucapkan kedahsyatannya? Apakah sastra mampu menuturkan
kedalamandukanya?
Apakah ilmu sanggup menemukan dan menghitung nilai-nilai
kandungannya?
Wajah Sudrun yang buruk dengan air liur yang selalu mengalir pelan
dari salah
satu sudut bibirnya hampir membuatku marah. Karena tak bisa
kubedakanapakah ia
sedang berduka atau tidak. Sebab, barang siapa tidak berduka oleh
ngerinya
bencana itu dan oleh kesengsaraan para korban yang jiwanya luluh
lantak
terkeping- keping, akan kubunuh.

"Jakarta jauh lebih pantas mendapat bencana itu dibanding
Aceh!," akumenyerbu.

"Kamu juga tak kalah pantas memperoleh kehancuran," Sudrun
menyambutdengan
kata- kata yang, seperti biasa, menyakitkan hati.

"Jadi, kenapa Aceh, bukan aku dan Jakarta?"

"Karena kalian berjodoh dengan kebusukan dunia, sedang rakyat Aceh
dinikahkan
dengan surga."

"Orang Aceh-lah yang selama bertahun-tahun terakhir amat dan
palingmenderita
dibanding kita senegara, kenapa masih ditenggelamkan ke kubangan
kesengsaraan
sedalam itu?"

"Penderitaan adalah setoran termahal dari manusia kepada Tuhannya
sehingga
derajat orang Aceh ditinggikan, sementara kalian ditinggalkan
untukterus
menjalani kerendahan."

"Termasuk Kiai...."

Cuh! Ludahnya melompat menciprati mukaku. Sudah biasa begini.
Sejakdahulu kala.
Kuusap dengan kesabaran.

"Kalau itu hukuman, apa salah mereka? Kalau itu peringatan, kenapa
tidak kepada
gerombolan maling dan koruptor di Jakarta? Kalau itu ujian, apa
Tuhanmasih
kurang kenyang melihat kebingungan dan ketakutan rakyat Aceh
selamaini, di
tengah perang politik dan militer tak berkesudahan?"

Sudrun tertawa terkekeh-kekeh. Tidak kumengerti apa yang lucu dari
kata-kataku.
Badannya terguncang-guncang.

"Kamu mempersoalkan Tuhan? Mempertanyakan tindakan Tuhan?
Mempersalahkan
ketidakadilan Tuhan?" katanya.

Aku menjawab tegas, "Ya."

"Kalau Tuhan diam saja bagaimana?"

"Akan terus kupertanyakan. Dan aku tahu seluruh bangsa
Indonesia akanterus
mempertanyakan."

"Sampai kapan?"

"Sampai kapan pun!"

"Sampai mati?"

"Ya!"

"Kapan kamu mati?"

"Gila!"

"Kamu yang gila. Kurang waras akalmu. Lebih baik kamu
mempertanyakankenapa
ilmumu sampai tidak mengetahui akan ada gempa di Aceh. Kamu bahkan
tidak tahu
apa yang akan kamu katakan sendiri lima menit mendatang. Kamu juga
tidak tahu
berapa jumlah bulu ketiakmu. Kamu pengecut. Untuk apa
mempertanyakantindakan
Tuhan. Kenapa kamu tidak melawanNya. Kenapa kamu memberontak
secarategas kepada
Tuhan. Kami menyingkir dari bumiNya, pindah dari alam semestaNya,
kemudian kamu
tabuh genderang perang menantangNya!"

""Aku ini, Kiai!" teriakku, "datang kemari, untuk merundingkan
hal-hal yang bisa
menghindarkanku dari tindakan menuduh Tuhan adalah diktator dan
otoriter...."

Sudrun malah melompat- lompat. Yang tertawa sekarang seluruh
tubuhnya. Bibirnya
melebar-lebar ke kiri-kanan mengejekku.

"Kamu jahat," katanya, "karena ingin menghindar dari kewajiban."

"Kewajiban apa?"

"Kewajiban ilmiah untuk mengakui bahwa Tuhan itu diktator dan
otoriter.
Kewajiban untuk mengakuinya, menemukan logikanya, lalu belajar
menerimanya, dan
akhirnya memperoleh kenikmatan mengikhlaskannya. Tuhan-lah satu-
satunya yang
ada, yang berhak bersikap diktator dan otoriter, sebagaimana
pelukisberhak
menyayang lukisannya atau merobek-robek dan mencampakkannya ke
tempatsampah.
Tuhan tidak berkewajiban apa- apa karena ia tidak berutang kepada
siapa-siapa,
dan keberadaanNya tidak atas saham dan andil siapa pun. Tuhan
tidakterikat oleh
baik buruk karena justru Dialah yang menciptakan baik buruk. Tuhan
tidak harus
patuh kepada benar atau salah, karena benar dan salah yang
harus taatkepadaNya.
Ainun, Ainun, apa yang kamu lakukan ini? Sini, sini..."-ia meraih
lengan saya
dan menyeret ke tembok-"Kupinjamkan dinding ini kepadamu...."

"Apa maksud Kiai?," aku tidak paham.

"Pakailah sesukamu."

"Emang untuk apa?"

"Misalnya untuk membenturkan kepalamu...."

"Sinting!"

"Membenturkan kepala ke tembok adalah tahap awal pembelajaran yang
terbaik untuk
cara berpikir yang kau tempuh."

Ia membawaku duduk kembali.

"Atau kamu saja yang jadi Tuhan, dan kamu atur nasib terbaik untuk
manusia
menurut pertimbanganmu?," ia pegang bagian atas bajuku.

"Kamu tahu Muhammad?", ia meneruskan, "Tahu? Muhammad Rasulullah
shallallahu
'alaihi wa alihi wasallah, tahu? Ia manusia mutiara yang memilih
hidup sebagai
orang jelata. Tidak pernah makan kenyang lebih dari tiga hari,
karenasesudah
hari kedua ia tak punya makanan lagi. Ia menjahit bajunya
sendiri danmenambal
sandalnya sendiri. Panjang rumahnya 4,80 cm, lebar 4,62 cm. Ia
manusia yang
paling dicintai Tuhan dan paling mencintai Tuhan, tetapi oleh
Tuhanorang
kampung Thaif diizinkan melemparinya dengan batu yang membuat
jidatnya berdarah.
Ia bahkan dibiarkan oleh Tuhan sakit sangat panas badan oleh racun
Zaenab wanita
Yahudi. Cucunya yang pertama diizinkan Tuhan mati diracun istrinya
sendiri. Dan
cucunya yang kedua dibiarkan oleh Tuhan dipenggal kepalanya
kemudiankepala itu
diseret dengan kuda sejauh ratusan kilometer sehingga ada dua
kuburannya.
Muhammad dijamin surganya, tetapi ia selalu takut kepada Tuhan
sehingga menangis
di setiap sujudnya. Sedangkan kalian yang pekerjaannya
mencuri, kelakuannya penuh kerendahan budaya, yang politik kalian
busuk,
perhatian kalian kepada Tuhan setengah-setengah, menginginkan
nasiblebih enak
dibanding Muhammad? Dan kalau kalian ditimpa bencana, Tuhan yang
kalian
salahkan?"

Tangan Sudrun mendorong badan saya keras-keras sehingga saya
jatuh kebelakang.

"Kiai," kata saya agak pelan, "Aku ingin mempertahankan keyakinan
bahwa icon
utama eksistensi Tuhan adalah sifat Rahman dan Rahim...."

"Sangat benar demikian," jawabnya, "Apa yang membuatmu tidak
yakin?"
"Ya Aceh itu, Kiai, Aceh.... Untuk Aceh-lah aku bersedia Kiai
ludahi."
"Aku tidak meludahimu. Yang terjadi bukan aku meludahimu. Yang
terjadi adalah
bahwa kamu pantas diludahi."

"Terserah Kiai, asal Rahman Rahim itu...."

"Rahman cinta meluas, Rahim cinta mendalam. Rahman cinta sosial,
Rahim cinta
lubuk hati. Kenapa?"

"Aceh, Kiai, Aceh."

"Rahman menjilat Aceh dari lautan, Rahim mengisap Aceh dari bawah
bumi. Manusia
yang mulia dan paling beruntung adalah yang segera dipisahkan oleh
Tuhan dari
dunia. Ribuan malaikat mengangkut mereka langsung ke surga dengan
rumah-rumah
cahaya yang telah tersedia. Kepada saudara- saudara mereka yang
ditinggalkan,
porak poranda kampung dan kota mereka adalah medan pendadaran
totalbagi
kebesaran kepribadian manusia Aceh, karena sesudah ini Tuhan
menolongmereka
untuk bangkit dan menemukan kembali kependekaran mereka. Kejadian
tersebut
dibikin sedahsyat itu sehingga mengatasi segala tema Aceh
Indonesiayang
menyengsarakan mereka selama ini. Rakyat Aceh dan Indonesia kini
terbebas dari
blok-blok psikologis yang memenjarakan mereka selama ini,
karena airmata dan
duka mereka menyatu, sehingga akan lahir keputusan dan perubahan
sejarah yang
melapangkan kedua pihak".

"Tetapi terlalu mengerikan, Kiai, dan kesengsaraan para korban
sukardibayangkan
akan mampu tertanggungkan."

"Dunia bukan tempat utama pementasan manusia. Kalau bagimu
orang yangtidak mati
adalah selamat sehingga yang mati kamu sebut tidak selamat, buang
dulu Tuhan dan
akhirat dari konsep nilai hidupmu. Kalau bagimu rumah tidak
ambruk,harta tidak
sirna, dan nyawa tidak melayang, itulah kebaikan; sementara yang
sebaliknya
adalah keburukan? berhentilah memprotes Tuhan, karena toh Tuhan
takberlaku di
dalam skala berpikirmu, karena bagimu kehidupan berhenti ketika
kamumati."

"Tetapi kenapa Tuhan mengambil hamba-hambaNya yang tak berdosa,
sementara
membiarkan para penjahat negara dan pencoleng masyarakat hidup
nikmatsejahtera?"

"Mungkin Tuhan tidak puas kalau keberadaan para pencoleng itu di
neraka kelak
tidak terlalu lama. Jadi dibiarkan dulu mereka memperbanyak
dosa dankebodohannya. Bukankah cukup banyak tokoh negerimu yang baik yang
justru Tuhan
bersegera mengambilnya, sementara yang kamu doakan agar cepat mati
karena luar
biasa jahatnya kepada rakyatnya malah panjang umurnya?"

"Gusti Gung Binathoro!," saya mengeluh, "Kami semua dan saya
sendiri,Kiai,
tidaklah memiliki kecanggihan dan ketajaman berpikir setakaran
denganyang
disuguhkan oleh perilaku Tuhan."

"Kamu jangan tiba-tiba seperti tidak pernah tahu bagaimana pola
perilaku Tuhan.
Kalau hati manusia berpenyakit, dan ia membiarkan terus
penyakit itusehingga
politiknya memuakkan, ekonominya nggraras dan kebudayaannya penuh
penghinaan
atas martabat diri manusia sendiri-maka Tuhan justru menambahi
penyakit itu,
sambil menunggu mereka dengan bencana yang sejati yang jauh lebih
dahsyat. Yang
di Aceh bukan bencana pada pandangan Tuhan. Itu adalah
pemuliaan bagimereka
yang nyawanya diambil malaikat, serta pencerahan dan pembangkitan
bagi yang
masih dibiarkan hidup."

"Bagi kami yang awam, semua itu tetap tampak sebagai
ketidakadilan...."

"Alangkah dungunya kamu!" Sudrun membentak, "Sedangkan ayam
menjadiriang
hatinya dan bersyukur jika ia disembelih untuk kenikmatan manusia
meski ayam
tidak memiliki kesadaran untuk mengetahui, ia sedang riang dan
bersyukur."

"Jadi, para koruptor dan penindas rakyat tetap aman sejahtera
hidupnya?"

"Sampai siang ini, ya. Sebenarnya Tuhan masih sayang kepada mereka
sehingga
selama satu dua bulan terakhir ini diberi peringatan
berturut-turut,baik berupa
bencana alam, teknologi dan manusia, dengan frekuensi jauh lebih
tinggi
dibanding bulan-bulan sebelumnya. Tetapi, karena itu semua tidak
menjadi
pelajaran, mungkin itu menjadikan Tuhan mengambil keputusan untuk
memberi
peringatan dalam bentuk lebih dahsyat. Kalau kedahsyatan Aceh
belummengguncangkan jiwa Jakarta untuk mulai belajar menundukkan
muka, adakemungkinan...."

"Jangan pula gunung akan meletus, Kiai!" aku memotong, karena
ngerimembayangkan
lanjutan kalimat Sudrun.

"Bilang sendiri sana sama gunung!" ujar Sudrun sambil berdiri dan
ngeloyor
meninggalkan saya.

"Kiai!" aku meloncat mendekatinya, "Tolong katakan kepada Tuhan
agarberistirahat sebentar dari menakdirkan bencana-bencana alam...."

"Kenapa kau sebut bencana alam? Kalau yang kau salahkan adalah
Tuhan,kenapa tak
kau pakai istilah bencana Tuhan?"

Sudrun benar-benar tak bisa kutahan. Lari menghilang.

Emha Ainun Nadjib Budayawan



___________________________________________________________
indomail - Your everyday mail - http://indomail.indo.net.id




--[YONSATU - ITB]---------------------------------------------
Arsip : <http://news.mahawarman.net>
News Groups : gmane.org.region.indonesia.mahawarman
Other Info : <http://www.mahawarman.net>




<Prev in Thread] Current Thread [Next in Thread>
Google Custom Search

News | FAQ | advertise