logo       

Ucapan Selamat Hari Raya Keagamaan (IV), FYI [ikaned] Revisi: Natal dan Pes: msg#00091

org.region.indonesia.mahawarman

Subject: Ucapan Selamat Hari Raya Keagamaan (IV), FYI [ikaned] Revisi: Natal dan Pesan Dialog Agama (Kompas 27/12 hal 4)

WCDS,
Ini bagian ke IV (terakhir).

Salam hangat,
HermanSyah XIV.


----- Forwarded by hermansyah/Tjipdo1 on 12/27/2004 02:34 PM -----

"Omega" <omega.post1-3OrEi1aPhNasTnJN9+BGXg@xxxxxxxxxxxxxxxx>
12/27/2004 08:29 AM
Please respond to ikaned
Subject: [ikaned] Revisi: Natal dan Pesan Dialog Agama (Kompas 27/12 hal
4)

Senin, 27 Desember 2004


Natal dan Pesan Dialog Agama
Oleh Mohamad Guntur Romli

SEBAGAI muslim saya ingin mengucapkan Selamat Hari Natal yang Kudus bagi
seluruh umat Kristen. Bagi saya pribadi, ucapan selamat itu sangat penting
guna menghormati kelahiran Nabi Isa (Jesus) nabi umat Kristiani dan umat
Islam.

Natal tahun ini mengingatkan sebuah pertemuan besar di Douha, Qatar.
Menjelang Natal kali ini, digelar "Muktamar Dialog Islam-Kristen." Tampil
sebagai pembicara, Grand Syekh Azhar Dr Sayyid Tantawi; Pimpinan Kristen
Ortodoks Mesir, Bapa Shanouda III; pemikir Islam, Dr Yusuf Al-Qaradlawi;
Kardinal John Touran utusan Gereja Katolik Roma, beberapa pemikir Islam
dan Kristen.

Perdana Menteri Qatar Syekh Abdullah bin Khalifah Âl Tsâni, dalam
pembukaan mengatakana, muktamar ini telah dilaksanakan dua kali di Qatar.
Tujuannya untuk meperkuat gagasan dialog Islam-Kristen, menemukan
al-qawâsim al-musytarakah (titik-titik temu) antara dua agama itu, dan
menepis asumsi adanya peperangan dan kekerasan yang diatasnamakan agama.

Sedangkan Grand Syekh Al-Azhar, Dr Sayyid Tantawi menegaskan, setiap agama
ditegakkan atas prinsip kebebasan bukan paksaan. Menurutnya, agama dan
pemaksaan, seperti dua kutub magnet yang saling bertolak belakang, tidak
pernah bisa bertemu. Sedangkan Bapa Shanouda III berharap agar muktamar
menghasilkan program nyata. Dialog Islam-Kristen yang ditegakkan itu, demi
kemaslahatan bersama dan menuju cita-cita bersama pula.

Modal utama dalam dialog antaragama adalah budaya qabûl al-akhar (sikap
menerima yang lain). Seperti ditegaskan Dr Milad Hanna, peraih "Simon
Bolivar Prize" 1998, budaya qabûl al-akhar dimulai dari saling memahami,
dan membuka diri. Nantinya jalan menuju qabûl al-âkhar (the otherness)
akan terbuka sendiri. Jika kita telah memiliki budaya qabûl al-akhar kita
akan dianungrahi hubb al-âkhar (mencintai yang lain). (Milad Hanna, Cairo:
2000, 93)

NUANSA kehidupan beragama di Mesir bisa dijadikan panutan. Kerukunan umat
beragama menjadi tradisi yang mengakar kuat dalam masyarakat. Tradisi itu
bersumber dari karakteristik masyarakat Mesir yang toleran, terbuka, dan
kosmopolit. Apalagi Mesir dikenal sebagai melting pot berbagai macam
peradaban. Peradaban Mesir Kuno (Firaun), Yunani-Romawi, Kristen-Koptik,
Islam, Laut Medetarian, Arab dan Afrika. Selain Mesir memiliki julukan
yang telah masyhur, umm al-dunyâ (induk peradaban), Dr Milad Hanna
menyebutkan, Mesir sebagai akumulasi serpihan-serpihan peradaban
(tarâkumât li raqâ'iq min al-hadlârât).

Setiap dialog antaragama multak melahirkan sikap terbuka dan menerima.
Tetapi jika setelah dialog antaragama semakin mempertebal sikap fanatis
dan curiga, maka dialog itu adalah dialog yang gagal dan mandul.

Sebagai seorang muslim saya akan memulai memahami ajaran Kristen dengan
pemahaman yang saya miliki. Ada tiga poin ajaran Kristiani, tetapi bisa
dipahami melalui ajaran Islam. Yaitu, mengenai kehadiran Tuhan, penyaliban
Yesus, dan ajaran cinta kasih. Selama ini dua ajaran pertama-kehadiran
Tuhan dan pengorbanan Yesus-bagi umat Islam merupakan ajaran yang
kontroversial.

Pertama, tentang kehadiran Tuhan. Firthjof Schuon dalam buku Filsafat
Parenial berpendapat sumber ketegangan teologi Kristen-Islam disebabkan
teologi Kristen lebih menekankan kehadiran Tuhan, sedangkan teologi Islam
menekankan pada keesaan Tuhan. Umat Kristen lebih mementingkan Tuhan itu
Hadir dalam kehidupan manusia, kalau perlu ia menjelma menjadi manusia.
Sedangkan umat Islam mementingkan Tuhan itu Esa. Pilihan umat Islam atas
konsep keesaan Tuhan pada dasarnya sebagai perlawanan terhadap konsep
teologi Kristen.

Tetapi apakah Islam tidak berbicara tentang kehadiran Tuhan? Konsep
kehadiran Tuhan juga merupakan ajaran inti Islam. Sayang, konsep kehadiran
Tuhan ini dikubur para teolog Islam. Makna kehadiran Tuhan dalam Islam
bisa dipahami melalui ayat-ayat al-Quran sebagai "kalimat" Tuhan. Dan Isa
(Yesus) disebut dalam al-Quran sebagai "kalimat" dan "ruh" Allah. Paham
yang mengatakan, al-Quran mengandung unsur-unsur ketuhanan disepakai oleh
mayoritas pengikut teologi Islam (Ahl Sunnah wal Jama'ah). Maka al-Quran
merupakan bukti kehadiran Tuhan seperti Yesus sebagai bukti kehadiran
Tuhan.

Al-Quran juga menegaskan, Allah hadir dan bersama manusia, wa huwa ma'akum
aynamâ kuntum (Dan Dia [Allah] bersama kalian di manapun berada). Allah
hadir dan lebih dekat dari urat leher (aqrab min habl al-warîd) manusia.
Nabi Muhammad menegaskan, Allah turun ke langit bumi di sepertiga malam
untuk menemani hamba-hamba-Nya yang sedang bermunajat. Dalam hadis qudsi
(makna dari Allah lafadz dari Muhammad) disebutkan Allah hadir dan bersama
orang-orang yang menderita dan tertindas. Orang sakit, miskin, lapar, dan
lainnya. Jika umat-Nya ingin menemui dan bercengkrama bersama-Nya, maka
kebersamaannya dengan orang-orang tertindas tadi merupakan kebersamaan
dengan Tuhan (Nashâihul 'Ibâd, 1993: 03).

Kedua, peristiwa penyaliban Yesus merupakan peristiwa yang kontroversial
dalam ajaran Kristen dan Islam. Siapakah yang disalib? Bagi umat Islam,
bukan Isa (Yesus) tetapi bagi umat Kristiani adalah Yesus. Saya ingin
mengajak umat Islam dan Kristiani mengindari perdebatan teologis klasik
itu. Menurut saya yang lebih urgen adalah kontekstualisasi peristiwa itu
dalam kehidupan sekarang sebagai hikmah pengorbanan. Pemaknaan kembali
urgensi pengorbanan merupakan "titik temu" antara ajaran Islam-Kristen.

Perjuangan dan pengorbanan bisa berbentuk harta atau jiwa. Tetapi
pengorbanan jiwa merupakan pengorbanan yang tertinggi dan disebut mati
syahid. Proses perjuangannya disebut jihad. Namun makna jihad jangan
dipahami secara sempit. Jihad bukan aksi-aksi terorisme, dan kekerasan
atas nama Tuhan dan agama. Jihad adalah perjuangan menegakkan keadilan dan
kebenaran hingga titik darah penghabisan.

Begitu juga seorang Kristiani yang ingin mengikuti jejak pengorbanan Yesus
tidak harus mati disalib. Tetapi bagaimana ia mampu memperjuangkan
kebenaran, keadilan, menebar kasih dan membangun kedamaian dengan risiko
nyawa sekalipun.

Umat Islam tidak bisa menolak, penyaliban itu sebagai penebusan dosa.
Karena dalam Islam sendiri mengakui adanya syafaat (pertolongan) dari Nabi
Muhammad kepada umatnya di hari Kiamat. Umat Islam akan menerima ampunan
dari Allah jika ia menerima syafaat dari Nabi Muhammad, sebesar apapun
dosanya, sepanjang dia pernah mengucapkan syahadat.
Ketiga, dua aliran ajaran Kristen-Islam bertemu di muara cinta kasih.
Memang cinta identik ajaran Kristen sedangkan Islam identik dengan rahmat.
Tetapi kata rahmat dari bahasa Arab yang berarti kasih. Tidak ada
perbedaan antara cinta dan kasih. Biasanya kita memadukannya, cinta kasih.

Ajaran cinta kasih merupakan esensi ajaran agama-agama di dunia. Syekhul
Akbar Ibnu 'Arabî, seorang sufi muslim asal Andalusia (Spanyol)
bersenandung dalam Tarjumân al-Asywâq.

Mohamad Guntur Romli Mahasiswa Filsafat Universitas Al-Azhar Kairo Mesir;
aktivis KOSIEM (Komunitas Islam Emansipatoris)
--[YONSATU - ITB]---------------------------------------------
Arsip : <http://news.mahawarman.net>
News Groups : gmane.org.region.indonesia.mahawarman
Other Info : <http://www.mahawarman.net>




<Prev in Thread] Current Thread [Next in Thread>
Google Custom Search

News | FAQ | advertise