logo       

Ucapan Selamat Hari Raya Keagamaan (I), FYI: msg#00088

org.region.indonesia.mahawarman

Subject: Ucapan Selamat Hari Raya Keagamaan (I), FYI

WCDS,
Pada saat menjelang Natal, terjadi diskusi yang cukup tajam dalam milis
CaniSosPol milik alumni SMP-SMA saya sekolah dulu, mengenai pemberian
ucapan Selamat Natal dari kaum muslim, dimana saya turut berpendapat.
Karena saya pikir barangkali ada gunanya untuk rekan2 ketahui, maka dengan
ini saya forwardkan 2 buah pendapat saya, 1 pengalaman pribadi seorang
anggota milis CaniSospol, dan sebuah posting dari milis yang lain
(Ikaned).

Kalau tak berminat membacanya, saya mohon maaf. Mohon langsung di delete
saja semuanya. Andaikata tertarik untuk membacanya, saya ucapkan terima
kasih. Mudah2an bermanfaat.

Salam hangat,
HermanSyah XIV.


From: hermansyah-qiVc+BLglCs@xxxxxxxxxxxxxxxx
Date: Wed Dec 22, 2004 2:01 pm
Subject: Lagi2 ke agama Re: [CaniSosPol] sedikit komentar awal [Email
Checked - APAC]


Hallo sodera Aulia, sodera Sambas dan rekan Kanisians,

Pendapat sodera Aulia mentrigger saya untuk segera merespons, karena
menurut saya ini adalah salah satu fondasi yang maha penting dalam
membangun demokrasi, sikap anti diskriminasi dan patriotisme di Indonesia
kita ini. Jadi, saya merasa musti segera merespons, sebelum keburu
dilibas oleh berbagai macam topik yang datang silih berganti di milis kita
yang sangat aktif ini.

Saya setuju bahwa kita tak boleh sembrono mengatakan mind seseorang
corrupted hanya karena ia tak mau mengucapkan selamat Natal, misalnya.
Tapi, kalau kita mengabaikan unsur keyakinan dan mengacu kepada common
sense serta nilai2 baik-buruk yang sifatnya universal, maka tak mau
memberi selamat hari raya keagamaan kepada sesama saudara, sesama warga
dan sesama bangsa itu menurut saya adalah suatu sikap yang aneh.

Kenapa?

Karena, memberikan ucapan selamat kepada orang lain yang sedang bergembira
adalah salah satu nilai baik yang diakui semua orang di muka bumi ini,
yang dapat kita katakan sudah inherent menjadi salah satu sifat suci dan
tulus manusia. Dan dalam konteks turut bergembira, mengucapkan selamat
Natal maupun selamat hari raya keagamaan lainnya esensinya sama dengan
mengucapkan selamat ulang tahun, selamat menempuh hidup baru, selamat
lulus sekolah, dlsb, yaitu mengungkapkan rasa turut bergembira. Turut
bergembira ini adalah wujud dari kepekaan dan emphati kita terhadap
sekeliling kita, yang akan saya bahas lebih lanjut lagi kemudian.

Kalau sifat positif yang menjadi bagian dari manusia ini hilang karena
penyakit, maka mungkin kita dengan mudah dapat mengatakan bahwa ybs. itu
sakit. Mungkin ybs. sedang mengalami gangguan jiwa atau gangguan
kesehatan lainnya. Akan tetapi kalau hilangnya sifat2 positif yang
inherent dan universal itu diakibatkan oleh didikan atau pikiran, maka tak
bisa tidak, 'so pasti' didikan atau pikiran itu pastilah tidak universal.
Bagaimana tak universal, wong didikan atau pikiran itu justru mencabut
salah satu sifat baik manusia yang universal dari akarnya. Dalam konteks
didikan dan pikiran yang universal itu, maka dapat dikatakn, menurut saya,
bahwa ybs. mengalami, mengutip istilah KKG, 'corrupted mind'.

Tentu ybs. tak mau dicap mindnya corrupted. Ybs. tentu akan protes, wong
dia tak mau mengucapkan selamat Natal itu kan karena hanya sekedar ingin
menjadi seorang muslim yang baik saja. Sekedar ingin melaksanakan aqidah
(keimanan) dan mempraktekkan ke Tauhidannya (percaya kepada Tuhan yang
Esa) saja. So what's wrong with that? Kenapa dicap mindnya corrupted?

Ya boleh2 saja tak mau memberi ucapan selamat. Setiap orang bebas
menentukan sikap terhadap segala sesuatu yang terjadi didalam jangkauan
panca inderanya. Tapi, menurut saya sikap itu adalah 'wrong', kalau ia
akhirnya dapat menimbulkan atau mengkatalisasi berkembangnya masalah2
sosial seperti ketidak pengertian antar kelompok, terjadinya konflik
sosial dan berkembangnya diskriminasi.

Tentu, seperti sodera Aulia dan Sambas katakan, masalah2 sosial itu dapat
dipecahkan kalau ada dialog diantara umat beragama itu. Tapi, kita lihat
saja faktanya di masyarakat. Apakah para umat beragama mau saling
mendiskusikan keyakinan mereka satu sama lain? Kenyataannya kan nggak.
Kalaupun ada, paling2 hanya terjadi dikalangan orang2 'terpelajar' saja.
Itupun kalangan terpelajar yang 'open minded', bukan yang 'closed minded'.
Kita lihat, yang banyak terjadi adalah mereka justru menghindari diskusi
karena berpendapat bahwa agama bukanlah untuk didiskusikan.

Ya benar juga bahwa agama bukan untuk didiskusikan. Sekalipun semua agama
pada dasarnya memiliki principle yang sama, yaitu mengakui eksistensi Sang
Pencipta, namun pernak-pernik ritualnya menjadikan agama2 itu satu sama
lain berbeda. Maka, kalau kita bukan orang yang 'open minded', tidaklah
mustahil bahwa ketika mendialogkan agama, perbedaan2 inilah yang akan
menguasai pembicaraan, sehingga yang dihasilkan bukannya saling pengertian
melainkan justru pertentangan. Repotnya lagi adalah bahwa perbedaan2 itu
umumnya diyakini sebagai bagian dari keimanan, bukan sekedar 'tata cara
ritual' saja. Maka sudah jelas bahwa keadaan ini hanya akan mempertinggi
kemungkinan timbulnya pertentangan saja, karena bagaimana mungkin
keyakinan dapat didiskusi dan diperdebatkan. Kalaupun alasan seseorang
tak mau mengucapkan selamat Natal dijelaskan, maka yang diberi penjelasan
paling2 cuma manggut2 'basa-basi' saja. Sekalipun hati dan mindnya
barangkali tak dapat menerima penjelasan itu, tapi karena ini sudah
masalah keyak
inan, ya sudahlah, diam saja, biarkan saja, nggak usah cari perkara.

Akibatnya apa?

Akibatnya, yang terjadi kemudian adalah munculnya sikap 'asal tahu sama
tahu'. Lebih jauh lagi, mereka akan berusaha sesedikit mungkin untuk
saling kontak supaya salah pengertian dan konflik tak muncul. Awal
muawalnya hanya 2 orang. Tapi, lama2 menjadi kelompok. Mulai dari hanya
sekedar tak mau memberi ucapan selamat hari raya keagamaan, berkembang
menjadi tak mau bergaul sama orang yang beragama lain. Akibat 'didikan'
atau pikiran itu telah mempengaruhi kelompok, maka tanpa disadari
terjadilah 'pengerasan' sosial. Dari pengerasan terjadi 'gesekan'. Kalau
gesekan ini telah sedemikian intensnya, maka suasana panaspun terjadi.
Kalau suatu ketika gesekan beralih menjadi benturan, maka api pun
memercik.

Maka tak heran kalau hari ini, 2000 tahun sejak agama Kristen lahir, dan
1400 tahun sejak agama Islam lahir, konflik sosial atas dasar agama masih
saja terus terjadi. Bahkan konflik antar negara/wilayahpun sudah bukan
barang aneh lagi. Sejarah telah mencatatnya. Lihat saja Inggris dengan
Irlandia (Protesten vs Katholik), India dengan Pakistan ( Hindu vs Islam),
Israel dengan Palestina (Yahudi vs Islam), Kerajaan2 Eropa dengan
Imperium Persia (Kristen vs Islam).

Apakah misseries ini yang kita inginkan? Inikah pula yang diinginkan
Tuhan?

Padahal persoalannya amatlah sederhana. Awalnya hanya sekedar tak mau
mengucapkan selamat hari raya keagamaan. Tapi tanpa disadari, sikap ini
dapat menimbulkan syak wasangka, rasa di humiliate, rasa dihina, rasa
ditolak, rasa tak diterima, rasa di diskriminasi. Segala rasa ini
akhirnya dapat mengakibatkan empathy sosial seseorang anjlok. Dari hanya
seorang yang empathy sosialnya anjlok, lantas berkembang menjadi 2 orang.
Lantas bertambah lagi menjadi 3 orang dan akhirnya masyarakat.

Kalau empathy sosial suatu masyarakat sudah berkurang, jangan harap kita
bisa bicara soal Hak-hak Azasi Manusia, soal Demokrasi, soal Anti
Diskriminasi, soal Patriotisme.

Jadi, menurut saya, empathy sosial itu jaraknya sangat dekat dengan agama.
Semakin moderat seseorang dalam menganut agamanya, maka akan semakin
tinggi empathy sosial ybs. Sebaliknya, semakin radikal seseorang dengan
agama yang dianutnya, semakin rendah pula empathy sosial ybs. Dengan
perkataan lain, Radikalisme yang menjadi penyebab turunnya empathy sosial
itu, berbanding lurus dengan Pelanggaran HAM, sikap Diskriminatif, sikap
Non-Demokratis dan sikap Non-Patriotik. Mirip dengan Teorema Hypothetical
HermanSyah-Kevin yang menunjukkan hubungan proportional antara Radikalisme
dengan Sikap Diskriminatif (lihat posting saya 4 Desember 2004).

Jadi, terlepas dari seseorang dicap mindnya 'corrupted' kalau ia tak mau
menyatakan turut bergembira pada saudaranya yang sedang merayakan hari
raya keagamaannya, buat saya yang paling penting adalah efek akhir yang
dapat ditimbulkan dari sikap 'eksklusif' dan 'tertutup' seperti itu. Tak
ada gunanya saya mengiyakan bahwa mind ybs. tidak 'corrupted', sementara
sikapnya itu jelas2 potensial dapat mempercepat terjadinya 'pengerasan'
sosial yang dapat menimbulkan bencana masyarakat itu.

Kalau kita masih menginginkan Indonesia yang rukun, bersatu, maju, aman
dan sejahtera, maka kita harus mau menyingkirkan segala macam pasir, batu
kerikil maupun batu besar yang dapat mengganggu perjalanan kita sebagai
bangsa yang bersatu. Kita harus mau dan berani membuang segala simbol2
dan semua perilaku yang dapat menimbulkan benih2 curiga dan syak wasangka
diantara kita. Ini harus terjadi sekarang juga. Jangan tunggu sampai
Islam radikalisme yang saat ini di Indonesia sudah mencapai angka 40%
sebentar lagi meningkat tajam secara eksponential, sesuai dengan
karakteristik massa, yang semakin besar massa itu, maka akan semakin kuat
dan semakin jauh daya jangkaunya menarik massa2 kecil disekelilingnya.

Kalau ini terjadi, sudah jelas wajah republik ini akan berubah total.
Silakan saja amati negara2 Islam disekeliling kita sebagai sekedar
menambah pengetahuan atau untuk bersiap2 menyambut kedatangan Indonesia
yang berwajah baru itu.

Sebagai seorang muslim yang moderat, saya yakin, bahwa sikap saya
mengucapkan selamat Natal dengan tulus dan sepenuh hati kepada saudara2
saya yang beragama Kristen/Katholik, demikian pula halnya ucapan selamat
Waisak, Nyepi atau Tahun Baru Imlek kepada saudara2 saya yang beragama
Budha, Hindu dan Kong Hu Chu, dibenarkan dan diberkati oleh Tuhan Yang
Maha Esa (Allah SWT). There's nothing wrong with it. Ini adalah
keyakinan saya. Dan hanya Tuhan lah yang dapat mengatakan apakah
keyakinan saya itu telah melanggar aqidah Islam atau tidak.

Untuk apa ini semua saya lakukan? Untuk provokasi? Untuk mendiskreditkan
Islam?

Semua ini saya lakukan demi kemanusiaan, dan demi Indonesia yang beraneka
namun bersatu, maju, adil, makmur, aman dan sejahtera, seperti yang
dicita2kan pendiri republik ini, yang saya yakin juga merupakan cita2 kita
semua. Saya lakukan ini dalam namaNya, Allah SWT, Tuhan Yang Maha Besar
Seru Sekalian Alam.

Cheers,
HermanSyah '79.




--[YONSATU - ITB]---------------------------------------------
Arsip : <http://news.mahawarman.net>
News Groups : gmane.org.region.indonesia.mahawarman
Other Info : <http://www.mahawarman.net>




<Prev in Thread] Current Thread [Next in Thread>
Google Custom Search

News | FAQ | advertise