logo       

SQ was Re: [anggota] Re: ESQ: msg#00059

org.region.indonesia.mahawarman

Subject: SQ was Re: [anggota] Re: ESQ

Content-Type: text/plain; charset="us-ascii"
Menurut salah satu sumber (lihat:
http://www.lifepositive.com/mind/evolution/iq-genius/intelligence.asp) ada
8 faktor yang mengindikasikan tingkat SQ (Spiritual Quotient) seseorang:

1. Flexibility
2. Self-awareness
3. An ability to face and use suffering
4. The ability to be inspired by a vision
5. An ability to see connections between diverse things (thinking
holistically)
6. A desire and capacity to cause as little harm as possible
7. A tendency to probe and ask fundamental questions
8. An ability to work against convention

Hubungan antara IQ, EQ dan SQ diuraikan sebagai berikut:

'The transformative power of SQ distinguishes it from IQ and EQ. IQ
primarily solves logical problems. EQ allows us to judge the situation we
are in and behave appropriately. SQ allows us to ask if we want to be in
that situation in the first place. It might motivate us to create a new
one. '


Dan hubungan antara agama dengan tingkat ESQ seseorang ternyata sangat
kecil, seperti dikatakan berikut ini:

'SQ has little connection to formal religion. Atheists and humanists may
have high SQ while someone actively religious may not. '


Teori Tasawuf (dengan syariat, tarikat , hakikat dan makrifat) yang
diuraikan oleh mas Hudaya tampaknya memang dapat berpengaruh pada tingkat
SQ seseorang, akan tetapi, saya melihat bahwa akhirnya penekanannya adalah
pada submission (tunduk, dekat, penyerahan total) kita kepada Tuhan. Saya
nggak tahu apakah submission kepada Tuhan itu, apalagi jika sudah sampai
pada tingkat yang ekstrim dan irrasional dapat berakibat pada menurunkan
tingkat ESQ seseorang, terutama menurunkan items no. 1, 5, 6 dan 8.

Tapi menurut saya, ceritanya akan lain, kalau penekanan akhir bukan pada
submission, melainkan pada 'inspiration', sehingga Tuhan tidak kita lihat
sebagai 'superior' kita, melainkan sebagai 'inspirator' kita untuk
bersikap dan berbuat sebanyak2nya hal2 yang bersifat 'divine' (suci,
hollistic) dengan tingkat 'awareness' (kesadaran) yang setinggi-tingginya.

Membaca informasi diatas, terkesan bahwa Spiritual Intelligence berangkat
dari Hinduisme, yang kadar filsafatnya, menurut saya, sangat tinggi,
sehingga dapat disimpulkan bahwa SQ lahir dari agama (Hindu), sekalipun
terbukti bahwa tinggi rendahnya SQ seseorang ternyata tidak harus
merupakan fungsi dari beragama tidaknya seseorang itu.

Senyawa antara EQ dan SQ tampaknya menghasilkan apa yang disebut disebut
ESQ.

Salam hangat,
HermanSyah XIV.








"Henndy Ginting"
<henndy.ginting-HUsnZ73NFQyvfQCltya7iYdd74u8MsAO@xxxxxxxxxxxxxxxx>
12/13/2004 08:10 AM
Please respond to anggota


To: anggota-PA9+dxvo8yQi5wvc6DhUiQ@xxxxxxxxxxxxxxxx
cc:
Subject: [anggota] Re: ESQ


Salut pak atas ulasan bapak. Jadi dari sana makin jelas korelasinya.
Karena melalui perbuatanlah kita punya kesempatan untuk "mengalami".
Perbuatan itu sudah jelas dapat diadopsi dari ajaran agama yang sedemikian
lengkap dan detail. Spiritualitas, oleh Maslow disebut sebagai peak
experience. Hal ini membuat di dalam ilmu psikologi berkembang aliran baru
yang disebut transpersonal, di luar 3 aliran besar yang ada. Memang jadi
lebih mudah mencapai kematangan spiritual melalui agama. Para ahli
mengakui itu. Tetapi mereka tetap berpegang bahwa secara teoritis orang
bisa mencapainya tanpa agama. Walaupun sekarang memang sangat jarang
bahkan tidak ada.

Salam
Henndy Ginting

-----Original Message-----
From: hudaya.taudjidi-OgnZCrYFxlldtzx+TpIdMQ@xxxxxxxxxxxxxxxx
[mailto:hudaya.taudjidi-OgnZCrYFxlldtzx+TpIdMQ@xxxxxxxxxxxxxxxx]
Sent: Mon 12/13/2004 11:27 AM
To: anggota-PA9+dxvo8yQi5wvc6DhUiQ@xxxxxxxxxxxxxxxx
Cc:
Subject: [anggota] Re: ESQ




Agama, Spiritualitas, ESQ? ikutan aaaaaah....!

*****AGAMA DAN SPRITUALITAS
Kalau mengikuti konsep "agama dan spiritualitas"
sebagaiman yang
disampaikan Mas Hendi di bawah, hubungannya akan terlihat
jelas dalam "ilmu
tasawuf " disini terlihat adanya benang merah keduanya.

Dalam konsep ilmu tasawuf , dikatakan bahwa pengamalan
agama (islam)
belumlah dinilai sempurna bila belum/tidak menjalankan
empat hal yaitu :
syariat, tarikat, hakikat dan makrifat, yang bisa
dikatakan sebagai sebuah
proses/tahapan.

Syariat:
Merupakan peraturan-peraturan berdasarkan kitab suci yang
merupakan sendi
hukum.

Tarikat:
Perbuatan untuk melaksanakan syariat , tarikat
mengajarkan tentang
amalan-amalan kesempurnaan moral yang merupakan jalan
untuk menyempurnakan
syariat.
Dengan kata lain tarikat adalah suatu sistem untuk
menempuh jalan yang pada
akhirnya akan menjadikan seseorang mengenal Tuhan dengan
mata hatinya.
.
Secara ringkas , syariat mengajarkan apa yang lahir,
tarikat mengajarkan
yang batin, hakikat mengajarkan batin dari yang batin.
Dan akhirnya makrifat artinya mengenal Tuhan dengan
sebenar-benarnya
mengenal (haqqul yakin), ini merupakan puncak
keberuntungan yang didapat
seorang manusia.
Makrifat menurut ahli tasawuf merupakan tingkat
kerohanian tertinggi dan
tujuan akhir yang ingin dicapai oleh orang-orang sufi.

Maqam dan Ahwal
Untuk mencapat tujuan empat hal tersebut diatas, akan
ditempuh dan dicapai
suatu hasil dengan apa yang disebut "maqam" dan "ahwal".
Maqam
Adalah suatu peringkat/tingkat pencapaian rohani manusia
dalam usaha
mendekatkan diri kepada Tuhan,
Maqam merupakan "hasil upaya" manusia yang diperoleh
dalam perjalanan
rohaninya
Ahwal
Suatu keadaan /suasana jiwa/batiniah yang diperoleh dalam
perjalanan rohani
spiritualitas manusia.
Ahwal merupakan anugrah , anugrah yang datang dari Tuhan
ke dalam hati
seseorang, tanpa ia mampu menolaknya bila ia datang ,
atau menariknya bila
ia pergi.

Macam-macam maqam dan ahwal
Seorang tokoh, Syekh Abu nash As Sarraj menjelaskan
macam-macam maqam dan
ahwal.
Maqam: Taubat (mohon ampun), zuhud(asketis), sabar,
tawakal , ridha, dll
Ahwal(keadaan atau tingkatann jiwa) antara lain:
- pemusatan diri selamanya ingat kepada Allah
(muraqabah)
- kedekatan kepada Allah (qarb)
- kecintaan kepada Allah (mahabbah)
- rasa takut (khauf)
- harapan (raja')
- rindu kerohanian,
- karib, ketenangan , yakin.
- dll

Teori tasawuf mengatakan: "Amal perbuatan adalah gerak
jasmani manusia,
sedangkan ahwal adalah gerak hati manusia dan maqam
adalah tingkat
kedudukan hatinya. Orang yang amalnya tidak baik
menunjukkan ahwal-nya juga
tidak baik, dan ahwal yang tidak baik tiada lain karena
tiadanya keteguhan
hati untuk mempertahankan maqamnya"

Apakah untuk mencapai kondisi maqam atau ahwal diatas
harus jadi "sufi"
atau pengikut tarekat tertentu dulu? Saya rasa nggak
juga, karena hubungan
Allah dengan manusia sangat individual dan unik/subtil
sekali, Tak
adaseorangpun yang pernah tahu seberapa dekat dia Tuhan,
diantara kita
semua tiada tahu siapa diantara kita yang paling yang
mulia di sisi Allah.

Kisah nyata dari seorang sahabat alumnus ITB, dia
menceritakan ada suatu
masa, dimana dia pada masa itu ketika 1 jam-1/2 jam
menjelang waktu shalat
merasakan adanya rasa kegembiraan yang sangat dengan
masuknya waktu
sholat, ada keinginan bercepat-cepat untuk dapat segera
melaksanakan
sholat.
Dimanapun berada dalam perjalanan, saat menjelang waktu
shalat akan segera
bergesa-gesa mencari mesjid, tidak mau terlambat, semacam
kekangenan ingin
bertemu dengan orang yang sangat dikasihi.
Ketika sholat malam, dadanya sudah sesak ketika baru
selesai mengucap
takbir "Allahu akbar" dan seluruh bacaan shalat diiringi
dengan linangan
air mata.

Sekarang ini, dia tidak dapat lagi merasakan semua itu,
dia sangat ingin,
dan merindukan sekali kembalinya suasana jiwa(ahwal?)
seperti itu , tapi
itu tidak pernah ada lagi......

Ada suatu resep yang pernah saya dengar dari Aa Gym,
kalau rohani kita
sedang posisi "low- bat", atau sedang "bebal " gitu, dan
mungkin kitapun
menyadari,maka resepnya kata Aa Gym adalah " Jangan
pernah meninggalkan
perintah Tuhan yang wajib", mungkin supaya gak
"kebablasan".
Kita harus selalu mencoba meningkatkan ibadah kita,
insyaallah mendapat
anugrah dari Allah.

Kemudian kalau ada yang tidak pas dengan realitas
kehidupan beragama,
tentunya kita jangan menyalahkan pada agama-nya tetapi
mungkin lebih
tepat pada pemeluknya saja.

Hubungan Agama dan spiritualitas terlihat jelas dalam
konsep ilmu tasawuf
di atas, kematangan spiritualitas manusia dimulai dari
proses , hasil,
sampai kepada pencapaian akhir perjalanan rohani
(spiritualitas)manusia.

Spritualitas tanpa agama? Kalau sekarang ,kayaknya nggak
deh,kalau dulu,
mungkin iya.
Sebagaimana perjalanan rohani orang-orang dulu seperti
Sidharta, Nabi
Ibrahim atau orang-orang suci lainnya mencari Tuhan.
Kalau sekarang...., kalau masih ada orang hidup dengan
spiritualitas tanpa
agama, berarti orang tersebut kurang gaul!, dengan
kemudahan komunikasi dan
informasi saat ini, dia akan tahu dan dapat belajar
sangat banyak dari
agama yang sudah ada.
Atau, dengan spiritualitasnya dia ingin mencoba
menemukan agama baru
seperti orang suci zaman dulu? Udah telat ! Karena Tuhan
sudah menyatakan
telah menyempurnakan agama manusia di muka bumi ini,
sudah tidak ada lagi
agama baru.

Kalau penulis barat masih bingung (berbeda-beda)
memahami agama dan
spiritualitas , mungkin karena "ilmu"nya masih kurang !


*****IP, IQ, EQ yes !, dan ESQ?

Buat mas Handoko, tentang ESQ.
Terus terang saya belum banyak tahu tentang ESQ juga
belum sempat membaca
bukunya.
Mengulang ucapan Om jauhnya Ida Royani (Pak Rama Royani)
: "Waaah jangan
gitu ah......."

Menyangkut, sikap phobi atau apriori kepada sesuatu ,
dalam kisah sufisme,
ada seorang pemuda yang begitu sengitnya mencemooh
tasawuf dan sang tokoh
sufi. Sesudah si pemuda puas melampiaskan kebenciannya,
sang sufi melepas
cincin dari jarinya dan berkata, " Bawa deh cincin ini ke
pasar, gadaikan
dengan harga satu dinar saja."
Pemuda itu heran, namun cincin itu diterimanya juga dan
dibawa ke pasar. Ia
menawarkankannya kepada para pedagang,dari penjual buah
sampai pedagang
makanan. Tak seorangpun melirik ataupun tertarik, dengan
wajah cemberut
pemuda itu kembali kepada Al Misri, "Engkau membohongi
saya, cincin ini
tidak berharga."
Jawab sang sufi, "Jangan marah dulu, sekarang juallah
cincin itu ke ahli
permata. Tawarkan 1000 dinar."
Tentu saja pemuda ini menjadi gusar, tapi rasa ingin
tahunya membuat ia
menuruti perintah sang sufi. Dan sungguh mengherankan,
ternyata para
pedagang permata berebut untuk membeli permata itu.
Pemuda itu takjub, dan
bergegas mendatangi sang sufi dan berkata, "Gila bok!
Mereka bersaing untuk
membelinya."
"Nah" kata sang sufi. Orang tidak akan mengetahui
sesuatu benda berharga
atau tidak jika ia belum mengenalnya. Bagaimana mungkin
kamu berani mencaci
sesuatu kalau kamu belum tahu isinya? Pelajari dulu
baik-baik, baru
tentukan pendapatmu. Itulah sikap orang yang bijak".

Mas Handoko tanya apakah ESQ ini ada di luar
negeri(barat)? Saya gak yakin
kalau ESQ ada, kalau gak ada, terus gak canggih dong?
Nggak juga.....
Barat bukan segala-galanya lho, orang barat lebih
rasioanalis sedangkan
orang timur lebih spiritualis dan menghormati tradisi
leluhur.
Orang barat mana ada yang sakti kaya di cerita Kho Ping
Ho , biksu dari
Shao Lin atau Sun Go Kong?

Jadi, sutralah.......
Kita ikuti saja ,sebagaimana kata pak Rama dulu:
"....................Jadi
ikuti/pelajari saja yang bagus-bagus tersebut siapa tahu
bahwa salah
satunya merupakan yang cocok bagi kita................"

Pengalaman pribadi nih, anak saya protes untuk apa dia
diikutkan beberapa
les (bahasa, dll). Saya bilang, ikuti saja dulu, sekarang
mungkin tidak
bermanfaat siapa tahu berguna suatu saat nanti. Ibarat
pohon, ditanam
dulu, buahnya dipetik nanti setelah beberapa tahun
kemudian. Terus saya
tambahkan lagi, "Waktu kecil dulu, tahu nggak kenapa
harus belajar baca?
Coba sekarang, gimana kalau gak bisa baca?Dia diam, nggak
ngerti? He...
he.... biarin aja, yang penting dia nurut dulu.

Sekian dulu ah, udah kepanjangan.
Mohon maaf kalau ada yang gak berkenan.

Hudaya -ekek xiii





"Henndy Ginting"

<henndy.ginting-5BpzcLoUyFQ@xxxxxxxxxxxxxxxx To:
anggota-PA9+dxvo8yQi5wvc6DhUiQ@xxxxxxxxxxxxxxxx
anatha.edu> cc:

Subject: [anggota] Re: ESQ
12/09/2004 03:15 PM
Please respond to
anggota






Dear Pak DZ Arifin,

Maaf kalau terlalu texbook minded, Pargament dan Mahoney
(dalam Snyder,
2002) mengakui sulitnya merumuskan suatu definisi yang
akurat tentang
spiritualitas, bahkan para ahli psikologipun memandang
konsep ini secara
berbeda-beda. Perbedaan spiritualitas dengan agama, yaitu
bahwa agama
mengacu pada institusi, dogmatis, dan aturan-aturan,
sedangkan
spiritualitas bersifat personal, subjektif, dan
peningkatan kualitas hidup.
Akan tetapi secara empiris, banyak orang yang menyatakan
dirinya beragama
dan sekaligus spiritual karena spiritualitas adalah kunci
atau fungsi yang
unik dalam agama. Oleh karenanya, spiritualitas
didefinisikan sebagai
proses mencari (search), menemukan, dan mempertahankan
hubungan yang lebih
baik dengan Tuhan (sacred).

Thanks

-----Original Message-----
From: Andoko
[mailto:andoko-nOOBwSVEXbSpklxv0McUS57PR6L3/7vP@xxxxxxxxxxxxxxxx]
Sent: Thu 12/9/2004 1:51 PM
To: anggota-PA9+dxvo8yQi5wvc6DhUiQ@xxxxxxxxxxxxxxxx
Cc:
Subject: [anggota] Re: ESQ



> AWW.
>
> Pak Henndy, kalau seseorang bisa memiliki tingkat
spiritual
> yang lebih tinggi tanpa harus beragama, jadi agama itu
> sebetulnya apa menurut pendekatan ini? Atau secara
sederhana,
> apa definisi agama sehingga seseorang bisa memiliki
tingkat
> spiritual tanpa harus beragama???
>
> Wassalam. DZArifin

>Jangan terlalu naif begitu Pak, bahkan tanpa IP-pun
orang bisa
>jadi Presiden kok........... Jadi kalau menganggap EQ
dan ESQ
>sebagai "pelarian", maka IP-pun sebetulnya "tidak ada
gunanya"
>hehehe.......

nah, itu dia Pak, kurang lebih itulah yang membuat saya
sampai sekarang
nggak bisa menggambarkan ESQ itu wujudnya seperti apa.
karena kalau dikait-kaitkan dengan agama, saya melihat
batas antara agama
sebagai kebenaran dan sebagai pembenaran sangat-sangat
tipis.

Di satu sisi, kita semua setuju, bahwa (misalnya) lebih
baik hidup
sederhana, namun hidup "soleh".
tapi dilain pihak, apakah hidup kaya artinya tidak bisa
hidup "soleh" ?
Banyak koq orang kristen yang hari minggu gak beribadah
karena harus
kerja,
buka toko, cari uang, bayangkan kalau orang kaya, kalau
perlu 7 x 24 jam
dia
beribadah, karena dia sudah gak perlu kerja lagi kan ?

Di satu sisi, kita semua setuju, bahwa manusia berusaha,
Tuhan menentukan.
tapi dilain pihak, Tuhan kan Maha maha maha adil, kalau
Tuhan menimpakan
karma pada orang yang berbuat dosa, mengapa Tuhan tidak
menghargai manusia
yang sudah berusaha? Seringkali kita lihat orang yang
sudah berusaha namun
gagal dan mengatakan "yah, Tuhan belum merestui" ....

Saya sering melihat orang kaya dan sukses, namun tidak
beragama - dan saya
juga sering mendengar cibiran terhadap orang orang
seperti itu.
"Money can't buy happiness" tapi kenyataannya "I never
feel happy having
no
money" :-)
mengapa saya masih belum bisa melihat wujud ESQ, mungkin
karena saya
memang
gak suka kalau sedikit sedikit harus dihubungkan dengan
Tuhan.
Saya cari rizki dari Tuhan, tapi saya cari uang dengan
bekerja.

Mengenai IP, betul bahwa kita pernah punya presiden yang
hanya tamat SD
(kalau gak salah Presiden ke-2), yang drop-out dari
Unpad juga ada :-)
Ada orang-orang yang "tidak kuliah" dan "tidak ber-IP
tinggi" tapi sukses,
namun pertanyaannya, apakah semua orang dapat seperti
itu ?
Dalam surat lamaran pekerjaan, semua orang akan
mem"bual" memiliki
kemampuan
kepemimpinan, communication skill, teamworker, dll.
Faktanya ? Biasanya saringan lowongan pekerjaan melewati
tahap berurutan :
Seleksi IP minimal(IQ) - Ujian tertulis / Psikotest (IQ)
- Diskusi
kelompok
(EQ) - Presentasi (EQ) - Interview (EQ).
So, sekarang ini, tanpa IP yang "cukup" memenuhi syarat,
surat lamaran
kita
itu gak bakal dilirik sama sekali (kecuali ganteng atau
cantik ^_^)

Mengenai IP ini, dalam hidup menurut saya kita harus
sebisa mungkin
menghindari yang namanya "bertaruh" dengan kehidupan.
Ada banyak orang yang malas kuliah, dan memilih jadi
enterpreneur, dan
sukses, nah,
faktanya : orang sukses pastilah disorot dan diberitakan
dari mulut ke
mulut, bahkan sering dimuat di majalah/ surat kabar, 10
orang drop out
kuliah, jadi entrepreneur, sukses, saya yakin semuanya
akan dimuat di
surat
kabar, minimal satu kali - realistis sajalah.
pertanyaannya : apakah orang orang dari "sisi" yang
gagal akan dimuat juga
di majalah / surat kabar ?
nah, logikanya : apakah orang-orang yang demikian lebih
banyak yang
berhasil, atau lebih banyak yang gagal ?
Kalau kita memiliki IP yang cukup baik, memang bukan
jaminan kita bisa
sukses, namun at least itu memperbesar peluang kita
untuk sukses.
Sometimes we gamble in life, but life itself is not a
gamble.

Adalah benar kalau leadership skill,dll (EQ) itu perlu,
tapi.... justru
menurut saya, kalau kita mementingkan EQ sehingga
melupakan IP (IQ) justru
itu adalah sangat naif.
Kalau saya gak punya EQ, umur 30 tahun pun saya masih
bisa berlatih -dapat
dikatakan kapanpun masih belum terlambat.
Tapi kalau kita mengejar IP, ada batas umurnya. SPMB
(Sipenmaru/UMPTN)
jelas
jelas ada batas umurnya - jadi yang bisa masuk ITB
misalkan batasnya max
20
tahun, lalu dengan batas studi 4 tahun, maka untuk
mengejar IP, batas umur
kita cuma sampai 24 tahun.
Jadi bukan masalah IQ cuma 20% dan EQ 80%, tapi
masalahnya adalah "First
Thing First", IQ,EQ,ESQ, semuanya saya yakin penting,
masalahnya kadang
kita
harus memilih, mana yang kita dahulukan.
Umur 28 pun kalau perlu saya masih bisa belajar
presentasi, tapi kalau
lulus
umur 28, apalagi IP dibawah 2,75 kecil sekali peluangnya
untuk dapat
kerja.
Mau jadi entrepreneur ? Kalau Lim Sioe Liong yang
lulusan SD bisa jadi
konglomerat - wajar - karena dulu kala, mungkin 90%
lebih orang Indonesia
(kompetitor) memang cuma lulus SD, kalau sekarang ?


Salam,
Andoko







---[Anggota YON-1
ITB]-------------------------------------
Diluar anggota dilarang masuk!
Anggota dilarang keluar, hanya boleh cuti :-)

Donasi untuk Corps Menwa bisa disampaikan ke rekening
Bank : BCA KCU Dago, Bandung
Rekening # : 777-049-4529 a/n Teti Indriati




(See attached file: winmail.dat)









-- Binary/unsupported file stripped by Listar --
-- Type: application/octet-stream
-- File: winmail.dat


--[YONSATU - ITB]---------------------------------------------
Arsip : <http://news.mahawarman.net>
News Groups : gmane.org.region.indonesia.mahawarman
Other Info : <http://www.mahawarman.net>




<Prev in Thread] Current Thread [Next in Thread>
Google Custom Search

News | FAQ | advertise