logo       

Bhinneka Tunggal Ika, FYI [CaniSosPol] Kesimpulan akhir - Agama.: msg#00027

org.region.indonesia.mahawarman

Subject: Bhinneka Tunggal Ika, FYI [CaniSosPol] Kesimpulan akhir - Agama.

WCDS,
Ada sebuah artikel menarik karangan Emha Ainun Nadjib, posting seorang
rekan, FYI.

Artikel yang sederhana, merakyat dan sangat manusiawi, namun menyentuh
visi berbangsa dan bernegara Indonesia: Bhinneka Tunggal Ika.

Selamat menikmati.

Salam hangat,
HermanSyah XIV.


----- Forwarded by hermansyah/Tjipdo1 on 12-06-2004 09:39 -----


rimbo bawono <rbawono2001-/E1597aS9LQAvxtiuMwx3w@xxxxxxxxxxxxxxxx>
12-06-2004 05:12
Please respond to CaniSosPol


To: canisospol-hHKSG33TihhbjbujkaE4pw@xxxxxxxxxxxxxxxx
cc:
Subject: [CaniSosPol] Kesimpulan akhir - Agama.


Emha Ainun - Istri Orang Lain

Dalam forum Maiyahan, tempat pemeluk berbagai agama
berkumpul melingkar,sering saya bertanya kepada forum:
"Apakah anda punya tetangga?".
Biasanya dijawab: "Tentu punya" "Punya istri enggak
tetangga Anda?"
"Ya,punya dong" "Pernah lihat kaki istri tetangga Anda
itu?" "Secara khusus, tak pernah melihat " " Jari-jari
kakinya lima atau tujuh? " "Tidak pernah
memperhatikan" "Body-nya sexy enggak?" Hadirin
biasanya tertawa. Dan saya lanjutkan tanpa menunggu
jawaban mereka: "Sexy atau tidak bukan urusan kita,
kan? Tidak usah kita perhatikan, tak usah kita amati,
tak usah kita dialogkan, diskusikan atau perdebatkan.
Biarin saja". Keyakinan keagamaan orang lain itu ya
ibarat istri orang lain. Ndak usah diomong-omongkan,
ndak usah dipersoalkan benar salahnya, mana yang lebih
unggul atau apapun. Tentu, masing-masing suami punya
penilaian bahwa istrinya begini begitu dibanding
istri tetangganya, tapi cukuplah disimpan didalam
hati.
Bagi orang non-Islam, agama Islam itu salah. Dan
itulah sebabnya ia menjadi orang non-Islam. Kalau dia
beranggapan atau meyakini bahwa Islam itu benar,
ngapain dia jadi non-Islam? Demikian juga, bagi orang
Islam, agama lain itu salah. Justru berdasar itulah
maka ia menjadi orang Islam. Tapi, sebagaimana istri
tetangga, itu disimpan saja didalam hati, jangan
diungkapkan, diperbandingkan, atau dijadikan bahan
seminar atau pertengkaran. Biarlah setiap orang
memilih istri sendiri-sendiri, dan jagalah kemerdekaan
masing-masing orang untuk menghormati dan mencintai
istrinya masing-masing, tak usah rewel bahwa istri
kita lebih mancung hidungnya karena Bapaknya dulu
sunatnya pakai calak dan tidak pakai dokter,umpamanya.
Dengan kata yang lebih jelas, teologi agama-agama tak
usah dipertengkarkan, biarkan masing-masing pada
keyakinannya.
Sementara itu orang muslim yang mau melahirkan padahal
motornya gembos, silakan pinjam motor tetangganya yang
beragama Katolik untuk mengantar istrinya ke rumah
sakit. Atau, Pak Pastor yang sebelah sana karena baju
misanya kehujanan, padahal waktunya mendesak, ia boleh
pinjam baju koko tetangganya yang NU maupun yang
Muhamadiyah. Atau ada orang Hindu kerjasama bikin
warung soto dengan tetangga Budha, kemudian
bareng-bareng bawa colt bak ke pasar dengan tetangga
Protestan untuk kulakan bahan-bahan jualannya.
Tetangga-tetangga berbagai pemeluk agama, warga
Berbagai parpol, golongan, aliran, kelompok,
atau apapun, silakan bekerja sama di bidang usaha
perekonomian, sosial, kebudayaan, sambil saling
melindungi koridor teologi masing-masing. Bisa
memperbaiki pagar bersama-sama, bisa gugur gunung
membersihi kampung, bisa pergi mancing bareng bisa
main gaple dan remi bersama. Tidak ada masalah
lurahnya Muslim, cariknya Katolik, kamituwonya Hindu,
kebayannya Gatholoco, atau apapun.
Jangankan kerja sama dengan sesama manusia, sedangkan
dengan kerbau dan sapi pun kita bekerja sama nyingkal
dan nggaru sawah. Itulah lingkaran tulus hati dengan
hati. Itulah Maiyah.
Wasallam.
(Emha Ainun Nadjib)








--[YONSATU - ITB]---------------------------------------------
Arsip : <http://news.mahawarman.net>
News Groups : gmane.org.region.indonesia.mahawarman
Other Info : <http://www.mahawarman.net>




<Prev in Thread] Current Thread [Next in Thread>
Google Custom Search

News | FAQ | advertise