logo       

Fw: Re: Apakah Kita Masih Butuh Pemerintah?!: msg#00176

org.region.indonesia.mahawarman

Subject: Fw: Re: Apakah Kita Masih Butuh Pemerintah?!



Begin forwarded message:

Date: Wed, 28 Apr 2004 17:59:27 +0700
From: Abdullah Sodik <asodik-XNbuPGYthTOB+jHODAdFcQ@xxxxxxxxxxxxxxxx>
To: 'Syafril Hermansyah' <syafril-OWdeXufdmv3Nl5DuOh8T8A@xxxxxxxxxxxxxxxx>
Subject: FW: [yonsatu] Re: Apakah Kita Masih Butuh Pemerintah?!


Email yang tidak tayang

-----Original Message-----
From: Abdullah Sodik
Sent: Tuesday, April 27, 2004 3:39 PM
To: 'yonsatu-PA9+dxvo8yQi5wvc6DhUiQ@xxxxxxxxxxxxxxxx'
Subject: RE: [yonsatu] Re: Apakah Kita Masih Butuh Pemerintah?!

Pak Oetomo dkk.
Terima kasih simpati sampeyan, tetapi terus terang saya tidak merasa
"dikuyo-kuyo" karena niat saya semula ingin mendapat tanggapan dari
rekan-rekan yang saat ini berada di luar Indonesia.

Kalau kita baca ulang tulisan Dosen Fisip UI, Amir Santosa.., menurut saya
itu sah-sah saja mengkritik dalam alam demokrasi ini....mungkin lebih
tepatnya dikatakan "ketidak puasan"... Jadi dimana letak salahnya email saya
itu bung Syafril? Apa saya melanggar ketentuan milis ini dengan memforward
suatu issue sebagai topic yang kita diskusikan?
Kalau dibilang saya tidak siap diskusi, aneh juga yah....lha buktinya saya
mau ngebales email ini kok...Yah..moga-moga saja ini bukan "character
assassination" atau karena ..........

Apa yang ditulis Amir Santosa patut kita renungkan kebenarannya, mengapa
kehidupan di luar negeri (Amerika, Eropa dsb) kehidupan sosialnya serba
diurus oleh Negara sementara hal itu sangat berbeda dengan kehidupan di
Indonesia?. Sayapun pernah mengalami kehidupan seperti itu meski hanya
beberapa bulan saja di Eropa atau Amerika bahkan pada saat bulan puasa, yang
memang sangat berbeda karena segala sesuatunya seperti "berjalan pada
relnya".

Karena itu ketika saya melempar topic tsb, semula berharap mendapat
sanggahan atau pembenaran dari rekan-rekan yang saat ini di luar Indonesia,
atau rekan-rekan yang sering bepergian ke luar negeri. Bukankah para wakil
kita (DPR) sering melawat ke luar negeri untuk studi banding, yang tentunya
harapan kita sebagai rakyat bahwa lawatan itu tidak sia-sia dengan membawa
perubahan-perubahan pada tatanan kehidupan kita di Indonesia. Mungkin saja
apa yang disampaikan Amir santosa ini tidak "terekam" dengan baik oleh
anggota DPR atau terekam tetapi tidak diimplementasikan, sehingga muncullah
rasa ketidak puasan atau kritikan seperti itu.

Jadi menurut saya itu bukan keluhan, taetapi adalah kritikan atau ketidak
puasan. Tentunya tidak bijak kalau sampai dikatakan agar Amir Santosa
sebaiknya dikeluarkan dari Indonesia, atau coab Amir Santosa jadi Presiden.
Kalau itu tanggapan kita, artinya kita yang tidak siap menerima kritik demi
perbaikan! Padahal seorang kritikus tidak harus mampu melakukan seperti yang
sedang dikritik. Contoh ketika kita nonton sepakbola, kita merasa lebih tahu
dari pemain Internasional itu.

Dalam benak saya yang tidak pinter (pinjam istilah pak Yanto), saya masih
kesulitan menalar tentang Negara kita yang "gemah ripah loh jinawi" dengan
berbagai kekayaan sumberdaya alam yang luar biasa, tetapi kita malah
"terjerat" hutang Rp2000triliun. Sementara aset BUMN kita Rp1500triliun,
yang konon sebagian akan dijual untuk mentup hutang, maka kita masih belum
terbebas dari hutang. Sampai kapan? Yah tentunya sampai Negara kita diurus
dengan benar (manajemennya).

Karena itu saya diawal posting email juga menyindir, memang "hebat" Negara
kita ini yah. Kalau saja kita sebagai rakyat Indonesia ini diperlakukan
seperti rakyat di negara maju (banyak hal diurus dan ditanggung
negara),mungkin hutang Indonesia tidak sebanyak sekarang (sekitar Rp2000
triliun), atau justru sebaliknya?

Salam
Asodik

-----Original Message-----
From: Syafril Hermansyah
[mailto:syafril-OWdeXufdmv3Nl5DuOh8T8A@xxxxxxxxxxxxxxxx]
Sent: Monday, April 26, 2004 7:48 PM
To: yonsatu-PA9+dxvo8yQi5wvc6DhUiQ@xxxxxxxxxxxxxxxx
Subject: [yonsatu] Re: Apakah Kita Masih Butuh Pemerintah?!

On Mon, 26 Apr 2004 18:22:46 +0700
"Oetomo Tri Winarno" <tomo-/npS1JhB0yy8rHFcjEY/OA@xxxxxxxxxxxxxxxx> wrote:

> Pak Sodik, Sabtu kemarin kita ketemu di lapangan Saraga. Saya merasa
simpati
> pada pak Sodik, karena sering "dikuyo-kuyo" setiap melempar isu di milis
> ini.

Bukan soal di kuyo-2x, akan tetapi begitulah kalau posting di Milis yg
membernya
kritis-2x.
Kalau tidak dikritik nanti dibilang, membiarkan pendapat yg salah
menyesatkan
orang lain.

Ingat postingnya Sodik bukan pendapat Sodik sendiri melainkan pendapat orang
lain yg di forward, dpl meneruskan pendapat orang. Yg dikritik juga
isinyakan,
bukan fisik ?
Tinggal tergantung ybs menanggapi kritik itu bagaimana, kalau kata AA Gym
kemarin di TV, kritik itu justru membangun diri; orang yg tidak mau terima
kritik akan sulit membangun diri (pendapat senada dari penyanyi Ii yg jadi
juri
di Akademi Fantasi 2 sabtu malam kemarin <g>).

Pak Djoni dari dulu sudah mengingatkan utk dibaca dulu tulisan/pendapat
orang
lain sebelum diforward, baca sampai selesai agar tidak salah mengartikannya.
Saya bbr kali mengingatkan juga, bhw jangan melempar topik ke milis jika
kita
tidak siap untuk diskusi; memforward tulisan orang lain ke Milis dg catatan
"
... ini ada issue menarik, silakan diskusi ..." adalah tindakan yg tidak
sopan.

Mungkin kebiasaan jelek itu susah diberantas, tp mestinya ybs menyadari
"yes, I
have problem ... fine, means I have a change to build myself more better
then). Jangan takut dg problem, problem make us stronger, tanpa problem kita
tidak terpacu untuk menjadi lebih baik.

> Saya setuju, bahwa akar segala permasalahan adalah KKN. Semua pranata
tidak
> jalan sebagaimana mestinya karena KKN. Kenapa Indonesia jadi begini,
kenapa
> hukum jadi begini, kenapa pendidikan jadi begini, dst. dst., karena KKN.
>
> Saya yakin semua orang setuju dengan pemberantasan KKN. Tapi bagaimana
> caranya? Hampir semua orang terlibat dalam KKN (baik aktif atau pasif).
Apa
> yang pak Doedoeng alami juga saya alami, dan mungkin semua kita yang ada
di
> milis ini juga pernah alami.


Kan sudah disampaikan "buat ongkos utk ber KKN jadi mahal" (baca thread
"Dari
KPU ke Aji Mumpung").
Kalau seseorang melakukan korupsi dan ongkos (hukumannya) murah, semua orang
berani saja melakukan korupsi. Misalkan saja, jika seseorang membobol Bank
100
M, dihitung-2x biaya nyogok spy bisa kabur ke LN sebesar 15 M saja, ya
berani
donk ... wong murah kok cuma 15% ongkosnya.

Memberantas KKN tidak cukup/bisa dilakukan oleh Lembaga resmi yg dibentuk
utk
itu, tenaga mereka terbatas, mata mereka masing-2x cuma 2 demikian pula
telinganya. Perlu ada orang lain yg "merasa memiliki negara ini" untuk kasih
tahu ada KKN dilingkungannya masing-2x. Buang itu budaya "EGP, asal bukan
gue
ajah ...", buang prilaku ewuh pakewuh kalau menyangkut soal KKN.
Agar bisa membuang EGP dls itu, perlu dibangkitkan rasa memiliki yg kuat,
negara
ini milik kita semua bung!
Kalau negara ini bangkrut maka kita semua akan mengalaminya, KKN membuat
kita
bangkrut bukan jadi tambah kaya.

--
syafril
-------
Syafril Hermansyah



--[YONSATU - ITB]---------------------------------------------
Arsip : <http://news.mahawarman.net>
News Groups : gmane.org.region.indonesia.mahawarman
Other Info : <http://www.mahawarman.net>




--
syafril
-------
Syafril Hermansyah



--[YONSATU - ITB]---------------------------------------------
Arsip : <http://news.mahawarman.net>
News Groups : gmane.org.region.indonesia.mahawarman
Other Info : <http://www.mahawarman.net>




<Prev in Thread] Current Thread [Next in Thread>
Google Custom Search

News | FAQ | advertise