|
Re: Apakah Kita Masih Butuh Pemerintah?!: msg#00175org.region.indonesia.mahawarman
Pak Oetomo dkk. Terima kasih simpati sampeyan, tetapi terus terang saya tidak merasa "dikuyo-kuyo" karena niat saya semula ingin mendapat tanggapan dari rekan-rekan yang saat ini berada di luar Indonesia. Kalau kita baca ulang tulisan Dosen Fisip UI, Amir Santosa.., menurut saya itu sah-sah saja mengkritik dalam alam demokrasi ini....mungkin lebih tepatnya dikatakan "ketidak puasan"... Jadi dimana letak salahnya email saya itu bung Syafril? Apa saya melanggar ketentuan milis ini dengan memforward suatu issue sebagai topic yang kita diskusikan? Kalau dibilang saya tidak siap diskusi, aneh juga yah....lha buktinya saya mau ngebales email ini kok...Yah..moga-moga saja ini bukan "character assassination" atau karena .......... Apa yang ditulis Amir Santosa patut kita renungkan kebenarannya, mengapa kehidupan di luar negeri (Amerika, Eropa dsb) kehidupan sosialnya serba diurus oleh Negara sementara hal itu sangat berbeda dengan kehidupan di Indonesia?. Sayapun pernah mengalami kehidupan seperti itu meski hanya beberapa bulan saja di Eropa atau Amerika bahkan pada saat bulan puasa, yang memang sangat berbeda karena segala sesuatunya seperti "berjalan pada relnya". Karena itu ketika saya melempar topic tsb, semula berharap mendapat sanggahan atau pembenaran dari rekan-rekan yang saat ini di luar Indonesia, atau rekan-rekan yang sering bepergian ke luar negeri. Bukankah para wakil kita (DPR) sering melawat ke luar negeri untuk studi banding, yang tentunya harapan kita sebagai rakyat bahwa lawatan itu tidak sia-sia dengan membawa perubahan-perubahan pada tatanan kehidupan kita di Indonesia. Mungkin saja apa yang disampaikan Amir santosa ini tidak "terekam" dengan baik oleh anggota DPR atau terekam tetapi tidak diimplementasikan, sehingga muncullah rasa ketidak puasan atau kritikan seperti itu. Jadi menurut saya itu bukan keluhan, taetapi adalah kritikan atau ketidak puasan. Tentunya tidak bijak kalau sampai dikatakan agar Amir Santosa sebaiknya dikeluarkan dari Indonesia, atau coab Amir Santosa jadi Presiden. Kalau itu tanggapan kita, artinya kita yang tidak siap menerima kritik demi perbaikan! Padahal seorang kritikus tidak harus mampu melakukan seperti yang sedang dikritik. Contoh ketika kita nonton sepakbola, kita merasa lebih tahu dari pemain Internasional itu. Dalam benak saya yang tidak pinter (pinjam istilah pak Yanto), saya masih kesulitan menalar tentang Negara kita yang "gemah ripah loh jinawi" dengan berbagai kekayaan sumberdaya alam yang luar biasa, tetapi kita malah "terjerat" hutang Rp2000triliun. Sementara aset BUMN kita Rp1500triliun, yang konon sebagian akan dijual untuk mentup hutang, maka kita masih belum terbebas dari hutang. Sampai kapan? Yah tentunya sampai Negara kita diurus dengan benar (manajemennya). Karena itu saya diawal posting email juga menyindir, memang "hebat" Negara kita ini yah. Kalau saja kita sebagai rakyat Indonesia ini diperlakukan seperti rakyat di negara maju (banyak hal diurus dan ditanggung negara),mungkin hutang Indonesia tidak sebanyak sekarang (sekitar Rp2000 triliun), atau justru sebaliknya? Salam Asodik -----Original Message----- From: Syafril Hermansyah [mailto:syafril-OWdeXufdmv3Nl5DuOh8T8A@xxxxxxxxxxxxxxxx] Sent: Monday, April 26, 2004 7:48 PM To: yonsatu-PA9+dxvo8yQi5wvc6DhUiQ@xxxxxxxxxxxxxxxx Subject: [yonsatu] Re: Apakah Kita Masih Butuh Pemerintah?! On Mon, 26 Apr 2004 18:22:46 +0700 "Oetomo Tri Winarno" <tomo-/npS1JhB0yy8rHFcjEY/OA@xxxxxxxxxxxxxxxx> wrote: > Pak Sodik, Sabtu kemarin kita ketemu di lapangan Saraga. Saya merasa simpati > pada pak Sodik, karena sering "dikuyo-kuyo" setiap melempar isu di milis > ini. Bukan soal di kuyo-2x, akan tetapi begitulah kalau posting di Milis yg membernya kritis-2x. Kalau tidak dikritik nanti dibilang, membiarkan pendapat yg salah menyesatkan orang lain. Ingat postingnya Sodik bukan pendapat Sodik sendiri melainkan pendapat orang lain yg di forward, dpl meneruskan pendapat orang. Yg dikritik juga isinyakan, bukan fisik ? Tinggal tergantung ybs menanggapi kritik itu bagaimana, kalau kata AA Gym kemarin di TV, kritik itu justru membangun diri; orang yg tidak mau terima kritik akan sulit membangun diri (pendapat senada dari penyanyi Ii yg jadi juri di Akademi Fantasi 2 sabtu malam kemarin <g>). Pak Djoni dari dulu sudah mengingatkan utk dibaca dulu tulisan/pendapat orang lain sebelum diforward, baca sampai selesai agar tidak salah mengartikannya. Saya bbr kali mengingatkan juga, bhw jangan melempar topik ke milis jika kita tidak siap untuk diskusi; memforward tulisan orang lain ke Milis dg catatan " ... ini ada issue menarik, silakan diskusi ..." adalah tindakan yg tidak sopan. Mungkin kebiasaan jelek itu susah diberantas, tp mestinya ybs menyadari "yes, I have problem ... fine, means I have a change to build myself more better then). Jangan takut dg problem, problem make us stronger, tanpa problem kita tidak terpacu untuk menjadi lebih baik. > Saya setuju, bahwa akar segala permasalahan adalah KKN. Semua pranata tidak > jalan sebagaimana mestinya karena KKN. Kenapa Indonesia jadi begini, kenapa > hukum jadi begini, kenapa pendidikan jadi begini, dst. dst., karena KKN. > > Saya yakin semua orang setuju dengan pemberantasan KKN. Tapi bagaimana > caranya? Hampir semua orang terlibat dalam KKN (baik aktif atau pasif). Apa > yang pak Doedoeng alami juga saya alami, dan mungkin semua kita yang ada di > milis ini juga pernah alami. Kan sudah disampaikan "buat ongkos utk ber KKN jadi mahal" (baca thread "Dari KPU ke Aji Mumpung"). Kalau seseorang melakukan korupsi dan ongkos (hukumannya) murah, semua orang berani saja melakukan korupsi. Misalkan saja, jika seseorang membobol Bank 100 M, dihitung-2x biaya nyogok spy bisa kabur ke LN sebesar 15 M saja, ya berani donk ... wong murah kok cuma 15% ongkosnya. Memberantas KKN tidak cukup/bisa dilakukan oleh Lembaga resmi yg dibentuk utk itu, tenaga mereka terbatas, mata mereka masing-2x cuma 2 demikian pula telinganya. Perlu ada orang lain yg "merasa memiliki negara ini" untuk kasih tahu ada KKN dilingkungannya masing-2x. Buang itu budaya "EGP, asal bukan gue ajah ...", buang prilaku ewuh pakewuh kalau menyangkut soal KKN. Agar bisa membuang EGP dls itu, perlu dibangkitkan rasa memiliki yg kuat, negara ini milik kita semua bung! Kalau negara ini bangkrut maka kita semua akan mengalaminya, KKN membuat kita bangkrut bukan jadi tambah kaya. -- syafril ------- Syafril Hermansyah --[YONSATU - ITB]--------------------------------------------- Arsip : <http://news.mahawarman.net> News Groups : gmane.org.region.indonesia.mahawarman Other Info : <http://www.mahawarman.net> --[YONSATU - ITB]--------------------------------------------- Arsip : <http://news.mahawarman.net> News Groups : gmane.org.region.indonesia.mahawarman Other Info : <http://www.mahawarman.net> |
|
| <Prev in Thread] | Current Thread | [Next in Thread> |
|---|---|---|
| Previous by Date: | Re: Apakah Kita Masih Butuh Pemerintah?!: 00175, Abdullah Sodik |
|---|---|
| Next by Date: | Fw: Re: Apakah Kita Masih Butuh Pemerintah?!: 00175, Syafril Hermansyah |
| Previous by Thread: | Re: Apakah Kita Masih Butuh Pemerintah?!i: 00175, Abdullah Sodik |
| Next by Thread: | Fw: Re: Apakah Kita Masih Butuh Pemerintah?!: 00175, Syafril Hermansyah |
| Indexes: | [Date] [Thread] [Top] [All Lists] |
| News | FAQ | advertise |