logo       

Re: Ini masuk kategori mengeluh juga! Re: Re: Apakah Kita Masih Butuh Peme: msg#00140

org.region.indonesia.mahawarman

Subject: Re: Ini masuk kategori mengeluh juga! Re: Re: Apakah Kita Masih Butuh Pemerintah?!

Mas HermanSyah ysh,

Dari pada kita mikirin undur2, yang memmang dari sononya udah mundur,
saya coba sebagai orang awam cari solusi.Dengan mencoba menarik salah
satu "ujung dari benang kusut"
Harapan saya untuk pemerintahan yang akan datang, siapa pun Presidennya
dan siapapun alokasi partai2 untuk mendpat jabatan Menteri dalam
Kabinet, maka syarat yang harus dipenuhi adalah :

1. Berkonsentrasi pada APBN untuk menciptakan pertumbuhan ekonomi.
Saat ini secara garis besar 60% APBN adalah untuk Biaya Rutin
Pemerintah, 30% untuk membayar hutang dan hanya 10% untuk Pembangunan.
Inilah sebabnya Pemerintah kesulitan menciptakan pertumbuhan ekonomi
lebih dari 3-4%.
2. Menteri2 yang diangkat dalam Kabinet harus non-partisan, artinya
boleh tetap menjadi anggauta Partai, tetapi harus melepaskan jabatan
fungsionarisnya ( anggaouta biasa saja)
Agar yang bersangkutan tidak terganggu oleh " kebijakan Partai " yang
konotasinya menjadi KKN, atau menjadi sumber pembiayaan Partai.
3. Merundingkan kembali dengan Negara2 Donor dan IMF, agar tenggang
waktu pembayaran hutang di perpanjang hingga 50 tahun, kalau perlu
sebagian minta di write off.Dan menciptakan lebih banyak "Grand" dari
proyek2 kemanusiaan yang dikemas dan dikelola secara profesional untuk
menciptakan kepercayaan internasional ( "merelakan" untuk melepas G to G
Aids pada pengelolaan sepenuhnya oleh masyarakat, yang selama ini
sebagian besar dikelola oleh Pemerintah )Saat ini Grand, Aids berkurang
karena pengelolaannya oleh Pemerintah menjadi amburadul dan tidak
mencapai sasaran.
Usaha ini targetnya harus mengurangi dari 30% APBN menjadi hanya 20%
kalau bisa separuhnya saja jadi 15% APBN untuk pembayaran Hutang Luar
Negeri.
4. Rasionalisasi Pegawai2 Departemen, dengan "golden shakehand" ( jangan
ada penerimaan pegawai baru dan pegawai lama yang berumur 40 tahun
keatas di "pensiunkan dini" dengan imbalan yang sangat menarik )
mudah2an, usaha mengurangi pembayaran hutang luar negeri bisa dipakai
untuk membiayai rasionalisasi ini.
Tenaga2 muda mendapatkan pendidikan (upgrade ) dengan sepenuhnya biaya
Pemerintah.
Menutup Kanwil2 didaerah sejalan dengan otonomi daerah (OTDA).
Target Biaya rutin menjadi 40% APBN.
Problem para Menteri terutama adalah kelemahan dukungan aparatnya yang
lemah di dalam Departemen ybs,karena terlalu banyak pegawai shg tanggung
jawab tumpang tindih, mismanagement dsb,dsb. Yang ujung2nya adalah
"integrated KKN" dari bawah hingga keatas, bahkan kadang2 menjadi "built
in KKN" dalam struktur Departemen.
5. Dengan penghematan di sektor Biaya Rutin dan Pembayaran hutang Luar
Negeri, maka Biaya Pembangunan pada akhir pemerintahan setelah 5 tahun,
harus dicapai sedikitnya 30% APBN untuk Biaya Pembangunan.
Dengan porsi 30% APBN untuk Biaya Pembangunan maka dapat diharapkan
Pertumbuhan Ekonomi dicapai diatas 6%.
Dengan kehidupan ekonomi yang lebih baik, otomatis pengangguran
dikurangi, kehidupan lebih sejahtera, Maka otomatis sektor2 lain akan
terbawa membaik ( Pendidikan, Kesehatan, Hukum dsb. )
6. Kalau Pemerintahan berikutnya dapat mempertahankan bahkan
meningkatkan Biaya Pembangunan Hingga 45% maka akselerasi kesejahteraan
dengan tingkat pertumbuhan 8-10% bisa tercipta.

Segini dulu deh, ntar kepanjangan.
Kalau sempat tolong diberi kritik dan komentar.

Wassalam

-----Original Message-----
From: hermansyah-qiVc+BLglCs@xxxxxxxxxxxxxxxx
[mailto:hermansyah-qiVc+BLglCs@xxxxxxxxxxxxxxxx]
Sent: Monday, April 26, 2004 7:33 PM
To: yonsatu-PA9+dxvo8yQi5wvc6DhUiQ@xxxxxxxxxxxxxxxx
Subject: [yonsatu] Ini masuk kategori mengeluh juga! Re: Re: Apakah Kita
Masih Butuh Pemerintah?!


Apakah pandangan seperti tertuang dalam artikel dibawah ini masuk
kategori
'mengeluh melulu' juga?, atau ini wujud keputus asaan?
Orang putus asa perlu pertolongan. Maka orang2 yang berani bertindak,
yang barangkali juga 'sedikit bekerja banyak bicara, eh...sedikit bicara

banyak bekerja', diharapkan dapat mengambil tindakan yang tepat dan
cepat
untuk menyelamatkan orang yang putus asa itu. Mari kita tunggu para
'pemberani' itu berbuat sesuatu (atau lebih baik lagi, sama2 kita
lakukan). Bagi yang belum membaca cerita keputus asaan ini, selamat
membaca.
Salam hangat,
HermanSyah XIV.


ASAL USUL
S u k a H a r d j a n a
UNDUR-undur itu binatang laut. Tetapi dibilang begitu sebenarnya kurang
tepat juga. Sebab hidup mereka hanya ada di pantai saja, bukan di laut.
Tepatnya ada di daerah pesisir pantai yang berpasir kering. Mereka juga
sering dijumpai di pinggiran sungai yang berpasir. Binatang ini kecil
saja
ukuranya, tak lebih besar dari sebiji kacang tanah. Warnanya
bintik-bintik
hitam-putih atau kelabu, tergantung habitatnya. Di pesisir pantai
binatang
ini sering jadi mainan anak-anak kecil, karena keadaannya yang lemah,
sederhana, tak berbahaya dan cinta damai.
Makhluk lemah ini dibilang undur-undur?arti harfiahnya mundur-mundur?
karena memang suka berjalan mundur. Bagi mereka, jalan mundur itu
artinya
maju. Ibarat berjalan membelakangi arah, datang tampak punggung.
Undur-undur juga punya sifat "kosok- balèn" (kontroversial) yang aneh.
Ngeyelnya minta ampun. Bila ditarik mundur mereka akan bergerak
maju?sebaliknya bila didorong maju mereka malah akan bergerak mundur.
Diarahkan ke kiri mereka akan menyamping ke kanan, disuruh menyamping ke

kanan mereka akan bergerak ke kiri. Bila laju geraknya distop? Mereka
akan
membalikkan badan-mentelentangkan diri dan berputar-putar tak keruan.
Pendek kata, ngeyel! Kecuali dipaksa, binatang lemah yang sederhana ini
tak pernah mau tunduk pada perintah dan aturan orang. Hidup dan bergerak

menurut maunya sendiri. Apakah kita juga punya tabiat seperti
undur-undur?
Susah dibikin maju?
Lha, gerak kita ini kan mundur melulu, tapi dibilang maju-seperti
gerakan
undur-undur. Apanya yang maju?Fisiknya, mungkin. Secara mental, mundur
terus. Contohnya banyak. Jalan-jalan dibangun di mana-mana. Dari jalan
kampung sampai jalan tol, jalan layang, jalan udara, dan jalan
antarpulau.
Lihatlah cara kita berlalu-lalang. Seperti bangsa barbar yang tak kenal
hukum untuk saling menghormati layaknya suatu komunitas sosial yang
memiliki aturan bersama. Tak usah jauh-jauh, tetangga-tetangga kita
orang
Australia, Singapura, dan Malaysia pun geleng-geleng kepala melihat
keprimitifan kita berlalu-lalang di jalan umum. Dan, kita tak pernah
merasa malu bahwa hal itu adalah sebuah set back. Kemunduran. Kita hanya

bangga bisa membeli banyak mobil baru yang tumpah ruah di jalanan tanpa
ukuran dan proporsi (traffic proportion), tapi dalam kenyataan operasi
publiknya ditindaki?bukan dikelola(!)? secara primitif dan gila-gilaan.
Jalan-jalan di Jakarta kecipratan hujan sejam pun langsung lumpuh dan
macet total. Makin hari makin parah. Primitifnya minta ampun. Maju? Kok
seperti undur-undur saja. Mundur, dibilang maju.
Undur-undur juga suka melawan yang seharusnya, kecuali dipaksa.
Tengoklah.
Puluhan tahun lamanya media massa mengkritik adanya kemunduran
solidaritas
sosial di kalangan masyarakat, terutama masyarakat perkotaan. Apa yang
terjadi? Semangat "apa lu apa gue ? siapa lu, siapa gue" semakin
menjadi-jadi dalam bentuk ungkapan "emangnya gue pikirin?" yang
mengalahkan solidaritas gotong-royong dalam semangat Pancasila yang
semakin hari semakin dilupakan orang. Di negeri miskin yang sebagian
besar
masyarakatnya masih terbelakang dan belum mampu menikmati hidup layak,
ada
sementara orang yang menikmati kemewahan berlebih seperti layaknya hidup

di surga dunia. Padahal korupsi, manipulasi, dan premanisme kekuasaan
hedonisme ekonomi yang tidak halal telah lama diserukan sebagai cara
hidup
haram yang dinajiskan?
Begitulah hidup "kosok-balèn" itu ditekuni. Artinya, terus-menerus
semakin
seru mempraktikkan hal yang dilarang dan melawan hal yang dianjurkan.
Korupsi semakin seru, manipulasi semakin seru, tindak kekerasan semakin
seru, tindak ketidakadilan semakin seru, kebohongan semakin seru,
kebodohan semakin seru, yang saru-saru yang membuat kita tak tahu malu
semakin seru ?. Betapa tidak? Kita dikenal sebagai negeri koruptor kelas

satu, negeri pembajak kelas satu, negeri asal pencucian duit kotor kelas

satu, negeri dengan penduduk yang susah dipegang kata-katanya, negeri
yang
orang-orangnya dikenal lemah dalam komitmen, tapi punya sistem birokrasi

bergulung-gulung yang menjamin semua orang bisa dibikin bingung, negeri
orang-orang pandai berdalih yang sangat mengesankan dalam hal mistik dan

ilmu klenik, negeri yang kinerja kebersihan dan tata tertibnya
amburadul,
tapi bisa disulap sebaliknya bila ada tamu yang dimau, negeri yang
anggaran pendidikannya termasuk paling kecil di dunia sehingga sistem
pendidikannya ditakar mandul dan tidak kompetitif bahkan di Asia
Tenggara
sekali pun (banyak caleg, bupati, mungkin juga gubernur, calon presiden
dan calon wakil presiden berijazah palsu lho)? Undur-undur bergerak
mundur
dibilang maju. Itulah kritik orang terhadap negeri ini. Tak usah marah
dan
tersinggung, karena undur-undur itu makhluk lemah, sederhana dan tak
berbahaya. Artinya cinta damai. Ah, masak ??
Sumber: Kompas Cyber Media, 25 April 2004.
--[YONSATU - ITB]---------------------------------------------
Arsip : <http://news.mahawarman.net>
News Groups : gmane.org.region.indonesia.mahawarman
Other Info : <http://www.mahawarman.net>




--[YONSATU - ITB]---------------------------------------------
Arsip : <http://news.mahawarman.net>
News Groups : gmane.org.region.indonesia.mahawarman
Other Info : <http://www.mahawarman.net>




<Prev in Thread] Current Thread [Next in Thread>
Google Custom Search

News | FAQ | advertise