logo       

Ini masuk kategori mengeluh juga! Re: Re: Apakah Kita Masih Butuh Pemerint: msg#00135

org.region.indonesia.mahawarman

Subject: Ini masuk kategori mengeluh juga! Re: Re: Apakah Kita Masih Butuh Pemerintah?!

Apakah pandangan seperti tertuang dalam artikel dibawah ini masuk kategori
'mengeluh melulu' juga?, atau ini wujud keputus asaan?
Orang putus asa perlu pertolongan. Maka orang2 yang berani bertindak,
yang barangkali juga 'sedikit bekerja banyak bicara, eh...sedikit bicara
banyak bekerja', diharapkan dapat mengambil tindakan yang tepat dan cepat
untuk menyelamatkan orang yang putus asa itu. Mari kita tunggu para
'pemberani' itu berbuat sesuatu (atau lebih baik lagi, sama2 kita
lakukan). Bagi yang belum membaca cerita keputus asaan ini, selamat
membaca.
Salam hangat,
HermanSyah XIV.


ASAL USUL
S u k a H a r d j a n a
UNDUR-undur itu binatang laut. Tetapi dibilang begitu sebenarnya kurang
tepat juga. Sebab hidup mereka hanya ada di pantai saja, bukan di laut.
Tepatnya ada di daerah pesisir pantai yang berpasir kering. Mereka juga
sering dijumpai di pinggiran sungai yang berpasir. Binatang ini kecil saja
ukuranya, tak lebih besar dari sebiji kacang tanah. Warnanya bintik-bintik
hitam-putih atau kelabu, tergantung habitatnya. Di pesisir pantai binatang
ini sering jadi mainan anak-anak kecil, karena keadaannya yang lemah,
sederhana, tak berbahaya dan cinta damai.
Makhluk lemah ini dibilang undur-undur?arti harfiahnya mundur-mundur?
karena memang suka berjalan mundur. Bagi mereka, jalan mundur itu artinya
maju. Ibarat berjalan membelakangi arah, datang tampak punggung.
Undur-undur juga punya sifat "kosok- balèn" (kontroversial) yang aneh.
Ngeyelnya minta ampun. Bila ditarik mundur mereka akan bergerak
maju?sebaliknya bila didorong maju mereka malah akan bergerak mundur.
Diarahkan ke kiri mereka akan menyamping ke kanan, disuruh menyamping ke
kanan mereka akan bergerak ke kiri. Bila laju geraknya distop? Mereka akan
membalikkan badan-mentelentangkan diri dan berputar-putar tak keruan.
Pendek kata, ngeyel! Kecuali dipaksa, binatang lemah yang sederhana ini
tak pernah mau tunduk pada perintah dan aturan orang. Hidup dan bergerak
menurut maunya sendiri. Apakah kita juga punya tabiat seperti undur-undur?
Susah dibikin maju?
Lha, gerak kita ini kan mundur melulu, tapi dibilang maju-seperti gerakan
undur-undur. Apanya yang maju?Fisiknya, mungkin. Secara mental, mundur
terus. Contohnya banyak. Jalan-jalan dibangun di mana-mana. Dari jalan
kampung sampai jalan tol, jalan layang, jalan udara, dan jalan antarpulau.
Lihatlah cara kita berlalu-lalang. Seperti bangsa barbar yang tak kenal
hukum untuk saling menghormati layaknya suatu komunitas sosial yang
memiliki aturan bersama. Tak usah jauh-jauh, tetangga-tetangga kita orang
Australia, Singapura, dan Malaysia pun geleng-geleng kepala melihat
keprimitifan kita berlalu-lalang di jalan umum. Dan, kita tak pernah
merasa malu bahwa hal itu adalah sebuah set back. Kemunduran. Kita hanya
bangga bisa membeli banyak mobil baru yang tumpah ruah di jalanan tanpa
ukuran dan proporsi (traffic proportion), tapi dalam kenyataan operasi
publiknya ditindaki?bukan dikelola(!)? secara primitif dan gila-gilaan.
Jalan-jalan di Jakarta kecipratan hujan sejam pun langsung lumpuh dan
macet total. Makin hari makin parah. Primitifnya minta ampun. Maju? Kok
seperti undur-undur saja. Mundur, dibilang maju.
Undur-undur juga suka melawan yang seharusnya, kecuali dipaksa. Tengoklah.
Puluhan tahun lamanya media massa mengkritik adanya kemunduran solidaritas
sosial di kalangan masyarakat, terutama masyarakat perkotaan. Apa yang
terjadi? Semangat "apa lu apa gue ? siapa lu, siapa gue" semakin
menjadi-jadi dalam bentuk ungkapan "emangnya gue pikirin?" yang
mengalahkan solidaritas gotong-royong dalam semangat Pancasila yang
semakin hari semakin dilupakan orang. Di negeri miskin yang sebagian besar
masyarakatnya masih terbelakang dan belum mampu menikmati hidup layak, ada
sementara orang yang menikmati kemewahan berlebih seperti layaknya hidup
di surga dunia. Padahal korupsi, manipulasi, dan premanisme kekuasaan
hedonisme ekonomi yang tidak halal telah lama diserukan sebagai cara hidup
haram yang dinajiskan?
Begitulah hidup "kosok-balèn" itu ditekuni. Artinya, terus-menerus semakin
seru mempraktikkan hal yang dilarang dan melawan hal yang dianjurkan.
Korupsi semakin seru, manipulasi semakin seru, tindak kekerasan semakin
seru, tindak ketidakadilan semakin seru, kebohongan semakin seru,
kebodohan semakin seru, yang saru-saru yang membuat kita tak tahu malu
semakin seru ?. Betapa tidak? Kita dikenal sebagai negeri koruptor kelas
satu, negeri pembajak kelas satu, negeri asal pencucian duit kotor kelas
satu, negeri dengan penduduk yang susah dipegang kata-katanya, negeri yang
orang-orangnya dikenal lemah dalam komitmen, tapi punya sistem birokrasi
bergulung-gulung yang menjamin semua orang bisa dibikin bingung, negeri
orang-orang pandai berdalih yang sangat mengesankan dalam hal mistik dan
ilmu klenik, negeri yang kinerja kebersihan dan tata tertibnya amburadul,
tapi bisa disulap sebaliknya bila ada tamu yang dimau, negeri yang
anggaran pendidikannya termasuk paling kecil di dunia sehingga sistem
pendidikannya ditakar mandul dan tidak kompetitif bahkan di Asia Tenggara
sekali pun (banyak caleg, bupati, mungkin juga gubernur, calon presiden
dan calon wakil presiden berijazah palsu lho)? Undur-undur bergerak mundur
dibilang maju. Itulah kritik orang terhadap negeri ini. Tak usah marah dan
tersinggung, karena undur-undur itu makhluk lemah, sederhana dan tak
berbahaya. Artinya cinta damai. Ah, masak ??
Sumber: Kompas Cyber Media, 25 April 2004.
--[YONSATU - ITB]---------------------------------------------
Arsip : <http://news.mahawarman.net>
News Groups : gmane.org.region.indonesia.mahawarman
Other Info : <http://www.mahawarman.net>




<Prev in Thread] Current Thread [Next in Thread>
Google Custom Search

News | FAQ | advertise