|
Dari KPU ke Aji Mumpung Re: Re: [anggota] KPU (Re: Re: Kablevision (Re:: msg#00115org.region.indonesia.mahawarman
Syafril Hermansyah <syafril-OWdeXufdmv3Nl5DuOh8T8A@xxxxxxxxxxxxxxxx> 04/23/2004 06:41 wrote: >...ternyata DepKeu ini sdh punya aturan yg berlaku sdh >lama sekali, y.i. budget ATK dihitung per kepala (pegawai tetap), dan >besarnya adalah Rp. 1.000,- per kepala/bulan. Nah di lembaga itu cuma >ada 30 karyawan, jadi budgetnya ATK yg bisa dia dapat max. Rp. 30.000,- >saja per bulan ... mana cukup ? Kok Depkeu begitu ya?, semuanya disama ratain. Mustinya kan organisasi itu bisa juga dikelompok2kan pada organisasi yang volume penggunaan ATKnya tinggi dan yang volume penggunaan ATKnya rendah. Sehingga standard Rp. 1.000.- per kepala/bulan itu musti dikaliin lagi dengan suatu 'weighting factor'. Kalau penentuan standard itu nggak dirubah, maka akal2an yang anda tulis dibawah ini, ya akan terus terjadi: >Jadi dg terpaksa dia harus menggelembungkan biaya pembelian alat >peralatan diluar ATK, buat proyek konsultasi (entah beneran entah >fiktif) dan melakukan renovasi ruangan; untuk menutupi overhead cost >dibagian lain. Yang seperti ini, seperti anda juga bilang, kan rawan menimbulkan korupsi, akibat dana yang berlebih. Memang 'cita-cita'nya sih tadinya kan buat beli ATK. Tapi karena godaan, bisa aja nggak jadi dibeliin ATK, melainkan masuk ke kantong sendiri lewat kwitansi fiktif. Repotnya, kita sudah mengenal istilah 'mumpung'. Jadi, kalau ya nggak kuat2 prinsip, maka setiap fasilitas apa aja yang gratisan ya disantap aja. Misalnya, karena di kantor tidak ada pembatasan pemakaian ATK, maka setiap orang seenak udelnya sendiri memakai ATK itu untuk keperluan pribadi (dengan nyolong2 tentunya). Akibatnya biaya ATK jadi membengkak melampau kebutuhan normal. Hal yang sama juga dalam hal pengajuan anggaran. Mumpung masih bisa 'sama sama tau' bahwa akal2an untuk memperolah biaya operasional adalah dengan cara memasukkannya kedalam biaya investasi, maka ya masukkan aja extra cost yang guedee sekali ke pengajuan anggaran investasi. Kenapa gede, soalnya nanti pasti akan dipotong oleh DepKeu. Kalau dipotong, kan masih ada sisa, Kalau nggak dipotong (sekalipun ini rada mustahil), berarti kelebihan dananya besar sekali, maka banyak yang bisa dipakai untuk beli ATK itu, atau .... lari ke kantong sendiri (baik sebagian atau seluruhnya). Praktek begini kan sudah menjadi semacam 'norm' di organisasi2/lembaga2 pemerintahan/BUMN. Para suppliernya yang pada pinter akhirnya memanfaatkan peluang 'mark -up' ini dengan iming2 'ang-pauw', baik itu diminta oleh si 'buyer', maupun nggak. Tapi, soal 'angpauw' ini keliatannya juga sudah menjadi 'norm' dalam dunia bisnis di republik kita ini, sampai2 dunia peradilan dan kepolisianpun disebut bisnis, karena adanya 'angpauw' ini. Yang rugi adalah rakyat kecil yang nggak bisa ber 'aji mumpung'. Kalaupun bisa, karena sudah keburu menjadi 'norm', ya mereka cuma bisa kecil2an aja, yaitu majekin orang kecil lagi. Yang rugi berikutnya ya, negara, karena banyak duit yang hilang untuk hal2 yang nggak produktif, sementara negara itu kan duitnya kalau nggak dari pajak ya dari ngutang. Yang untung cuma orang2 yang bisa 'beraji mumpung' dengan sekali pukul bisa hidup 1 sampe 7 generasi. Untuk menyadarkan mereka ini, apalagi menyeretnya ke pengadilan sulitanya minta ampun. Malah, orang kecil yang coba2 melakukannya justru masuk penjara seperti yang dialami oleh kakak mas Saiful Hakim. Di sebuah BUMN, ribuan karyawannya harus rela di PHK dengan cara yang nggak manusiawi, dan hanya dapat hidup selama 4 tahun kalau harus mengandalkan pesangon yang diperoleh. Sementara kita tahu sendiri, saat ini 30 juta rakyat Indonesia sedang berkutat untun cari kerja. Sementara para bekas pejabat yang membuat BUMN ini sekarat, yang selama memegang jabatan hanya 'beraji mumpung', sekarang tenang2 saja menikmati hari pensiunnya, atau penugasannya di tempat lain, dengan innocentnya. Lumayan kan hasil 'aji mumpungnya' bisa dipake buat 1 sampe 7 generasi. Ini baru 2 kasus. Padahal kasus yang sudah dan sedang terjadi, saya yakin puluhan ribu kalau nggak jutaan, kalau yang kecil2 juga dihitung. Sudah jelas Indonesia kita ini menderita sakit keras. Musti ada dokter yang sangat ahli yang bisa menyembuhkannya. Disamping itu, Indonesianya sendiri, dus pemimpin dan rakyatnya, juga musti punya kemauan untuk sembuh. Kalau nggak, yaaa, tau sendiri aja resikonya. Mudah2an penyakit yang diderita Indonesia belum separah AIDS, yang membuat daya tahan tubuh seseorang secara perlahan tapi pasti makin lemah dan akhirnya ya terpaksa mencium tanah. Diantara kita yang sudah bisa hidup cukup dan nyaman dengan cara2 terhormat, ya tentu bravo. Anda tidak merugikan siapa2. Anda berhak untuk menikmati prestasi anda itu dengan senang hati dan riang gembira dan have a lot of fun. Dan saya percaya bahwa alumni Yon I adalah para pekerja keras yang berjiwa ksatria dan terhormat itu. Semoga kita semua selalu menjadi contoh dimanapun kita berada. Salam hangat, HermanSyah XIV. Syafril Hermansyah <syafril-OWdeXufdmv3Nl5DuOh8T8A@xxxxxxxxxxxxxxxx> 04/23/2004 06:41 Please respond to yonsatu To: yonsatu-PA9+dxvo8yQi5wvc6DhUiQ@xxxxxxxxxxxxxxxx cc: Subject: [yonsatu] Re: [anggota] KPU (Re: Re: Kablevision (Re: Koneksi Internet dan Cuti Paksa dari Listserver [ Re: Re: Daftar peserta Kunjungan ke Bosscha])) On Thu, 22 Apr 2004 23:42:57 +0700 "Akhmad Bukhari Saleh" <absaleh-AognTR6Re/Oez0ei9/+7zw@xxxxxxxxxxxxxxxx> wrote: [ saya pindah ke milis yonsatu yg lebih sesuai utk diskusi ini, maaf tulisan ini panjang] > Justru itu, maksud saya memang seharusnya KPU saja, sebagai lembaga > formal, yang bikin quick count dengan stratified random sampling a'la > NDI dan LP3ES itu, kalau toh hanya untuk sekedar show informasi > tambahan yang informal. Itu jadi kerjaan 2 kali Pak, kalau yg sekarangkan data collectionnya satu, beda antara yg manual dg yg melalui komputer cuma dimasalah data flow of data entrynya saja. Dg demikian bisa digunakan sbg cross check karena data yg sama dan formula yg sama mestinya menghasilkan output yg sama (mirip dg kalau saya membuat spreadsheet tabel, saya selalu membuat crosscheck, Total Row harus sama dg Total Column). Kalau sistem komputer hasilnya tidak cocok dg sistem manual maka pasti ada yg salah (bisa salah satu bisa keduanya), karena raw data sama maka hasilnya harus sama. Kesalahan bisa terjadi di formula atau data slip atau hal lain, dan ini akan membantu learning curve di next event. Kalau kita pakai 2 metode yg berbeda maka tidak bisa mendapatkan learning curve, yg bisa dilakukan cuma "saling menyalahkan". > Daripada gaya-gayaan dengan show informasi yang informal juga, yang > tetapinya seharga 200 milyar, lantas gagal total... Ha..ha..ha.. kalau memang betul duit segitu semuanya digunakan utk keperluan IT sih ya boros dan tidak sesuai dg objective yg ingin didapat, dan tidak akan ada operator yg mengeluh "... kerja bakti nih ..." atau " ... ini kerjaan cuci piring ...". Besar dugaan saya sebagian dana itu digunakan utk "kickback" untuk keperluan lain (bukan di korupsi melainkan dipakai utk job lain, misalkan cetak ulang formulir, kartu suara yg sdh over budget). Masalahnya tinggal "budget mana yg perlu digelembungkan", untuk menutupi kekurangan budget di project lain. Cash Flow (budget) Manager atau Audit Manager di perusahaan-2x swastapun mengenal hal ini dg baik walau case atau penyebabnya berbeda jauh dg yg terjadi di pemerintahan (salah satu sebab s/w utk cash flow management itu mahal, ya akibat harus bisa menangani banyak kasus ad hoc macam ini). Di Pemerintahan itu banyak dilakukan "cross budgeting" yg dengan sangat terpaksa dilakukan mereka karena sistem yg diterapkan departemen keuangan. Ini cerita nyata yg disampaikan salah satu customer saya. Dia ini tadinya kerja di perusahaan swasta besar (customer saya juga), lalu dia pindah ke Lembaga Non Struktural Pemerintah yg dibentuk melalui Keppres dg persetujuan DPR. Dia membuat budget untuk ATK (alat tulis kantor) seperti kertas, toner utk printer, CD media dan keperluan kantor yg kecil-2x seperti utk beli kopi, teh, dispenser dll. Saat diajukan ke Departemen Keuangan, budgetnya ditolak, ternyata DepKeu ini sdh punya aturan yg berlaku sdh lama sekali, y.i. budget ATK dihitung per kepala (pegawai tetap), dan besarnya adalah Rp. 1.000,- per kepala/bulan. Nah di lembaga itu cuma ada 30 karyawan, jadi budgetnya ATK yg bisa dia dapat max. Rp. 30.000,- saja per bulan ... mana cukup ? Anehnya kalau untuk beli alat peralatan baru (mis. beli Komputer, merombak tampilan atau renovasi ruang/gedung) berapapun besarnya DepKeu ini OK-2x saja, demikian pula kalau utk "biaya konsultan", sementara biaya pemeliharaan sama seretnya dg biaya ATK. Jadi dg terpaksa dia harus menggelembungkan biaya pembelian alat peralatan diluar ATK, buat proyek konsultasi (entah beneran entah fiktif) dan melakukan renovasi ruangan; untuk menutupi overhead cost dibagian lain. Saya tahu betul orang ini jujur, akan tetapi kalau dia lama harus pegang dana non budgeter di bank accountnya, maka tidak tahu saya berapa lama dia tidak tergiur utk melakukan korupsi. Pihak DepKeu menyadari juga soal ini, anehnya alih-2x dia membereskan soal aturan mainnya yg goblok itu malahan mereka sering melakukan cut budgeting dari project yg diusulkan tanpa memikirkan atau menanyakan dampak dari pemotongan budget itu. Misalkan saja dana utk IT KPU ini (back to the topic) budget atau anggaran yg diajukan awalnya lebih dari 200 milyar mestinya, akan tetapi karena dipotong jadi 200 milyar saja maka tidak semua mata kegiatan bisa dilakukan, tidak semua alat peralatan bisa dibeli akibatnya ya sistemnya tidak jalan normal. Ibaratnya kita ajukan anggaran untuk membuat masakan gado-2x, akan tetapi anggaran untuk beli minyak tanah tidak di approve, maka dg amat sangat terpaksa kita tidak membuat gado-2x (yg perlu direbus) melainkan membuat Karedok (yg mentahan semua). Mirip sih kelihatannya saat jadi, akan tetapi "rasa" nya kan beda jauh :-)))) Itu baru masalah pengajuan anggaran, soal realisasinya bisa lebih pusing kepala lagi. Karena anggaran sudah disetujui, maka kepala proyek lalu melakukan tender/pengadaan dan membuat jadwal implementasi. Pemenang sdh ditentukan, demikian pula jadwalnya akan tetapi dana tidak kunjung turun shg tidak bisa membayar down payment ...wah piye iki ? Sebelum jaman krisis moneter dulu, supplier bisa beli barang dg pembayaran dibelakang atau Open L/C shg pembayaran bisa dilakukan sesuai dg jadwal pengiriman barang baik FOB atau CIF, nah sekarang ini semuanya harus dibeli cash in advance. Dulu kurs 1 USD = 2000 IDR, sekarang 1 USD = 8500 IDR, dulu SPK bisa dijadikan jaminan kredit ke Bank, sekarang mana ada Bank yg mau terima. Jadi keputusan yg realistis adalah ya terima down payment dulu utk nambah-2x beli raw material (yg harus dibayar in advance). Saya tidak tahu persisnya problem di masalah distribusi kartu/surat dan box suara yg telat kemarin ini, akan tetapi besar dugaan saya soal lambatnya dana yg turun ini yg menjadi kendala. -- syafril ------- Syafril Hermansyah --[YONSATU - ITB]--------------------------------------------- Arsip : <http://news.mahawarman.net> News Groups : gmane.org.region.indonesia.mahawarman Other Info : <http://www.mahawarman.net> |
|
| <Prev in Thread] | Current Thread | [Next in Thread> |
|---|---|---|
| Previous by Date: | Re: Boarding site: 00115, Wimoko Gardjito |
|---|---|
| Next by Date: | Re: Apakah Kita Masih Butuh Pemerintah?!: 00115, Andoko |
| Previous by Thread: | Re: Boarding sitei: 00115, Wimoko Gardjito |
| Next by Thread: | Re: Dari KPU ke Aji Mumpung Re: Re: [anggota] KPU (Re: Re: Kablevision (Re: Koneksi Internet dan Cuti Paksa dari Listserver [ Re: Re: Daftar peserta Kunjungan ke Bosscha])): 00115, Syafril Hermansyah |
| Indexes: | [Date] [Thread] [Top] [All Lists] |
| News | FAQ | advertise |