logo       

Re: FW: Sungguh memalukan, Menteri Pariwisata kita 'gelagapan' berbahasa In: msg#00028

org.region.indonesia.bandung.itb-77

Subject: Re: FW: Sungguh memalukan, Menteri Pariwisata kita 'gelagapan' berbahasa Inggris

mungkin bhs inggrisnya a la " buy me, sir " dan "massage, sir " seperti yg sering diucapkan pedagang2 asongan di sepanjang Kuta..:-)
sekedar tambahan:
sudah ada studi untuk menjaring inbound tourist dan tidak hanya menjual Bali , meliputi eco-tourism. juga ada studi untuk menggairahkan wisata domestik untk men"discover" puluhan lokasi wisata di Indonesia selain Bali...
 
tapi nggak tahu ya, kok nggak ada tindak lanjutnya dari pak menteri ini...
barangkali premis awalnya sudah keliru...mentang2 pariwisata terus kok menterinya mesti dari Bali...yah perspektifnya nggak berubah...
 
gitu loh...
amrie
----- Original Message -----
Sent: Tuesday, June 07, 2005 9:48 AM
Subject: [itb77] FW: Sungguh memalukan, Menteri Pariwisata kita 'gelagapan' berbahasa Inggris

 
Sungguh memalukan, Menteri Pariwisata kita 'gelagapan' berbahasa Inggris

Oleh: Satrya Wibawa

Saya ingin bercerita sesuatu tentang Jero Wacik. Saya bersama rekan sekantor di Komunikasi Unair adalah satu-satunya peserta regional
Tourism & Communications Conference di Bali yang berasal dari Jawa
Timur. Dinas Pariwisata Jatim pun tak datang, entah kenapa...
Padahal, materi konferensi ini sangat bagus bagi praktisi komunikasi
dan pariwisata. Ada banyak hal menarik dari konferensi ini, tapi yang
ingin saya sampaikan ini cuma satu peristiwa lucu sekaligus
menyedihkan..

Menteri Pariwisata kita yang terhormat, Bapak Jero Wacik,
ternyata sangat sulit atau malah tidak bisa berbahasa Inggris! Saya
bukan orang yang sangat pintar berbahasa Inggris, tapi melihat
penampilan menteri kita itu di atas panggung, saya sungguh malu. Betapa
tidak, konferensi ini memang disajikan dalam Bahasa Inggris, dan memang
menteri kita itu "mencoba" membaca makalah dan "menjawab" diskusi dalam
bahasa Inggris.

Tapi ya ampun, Bahasa Inggrisnya itu lho....parah banget. Mahasiswa saya
saja jauh lebih jago kali ya. Malah, saat diskusi, Loraine (moderator
dari CNN) sampai harus mengingatkan sang menteri dengan pertanyaan
"Do you understand the question, Mr Minister?" Sebab saat satu peserta
bertanya sesuatu kepada sang menteri, beliau hanya membalas dengan
cuma tersenyum-senyum dan mengangguk-anggukkan kepala. Tapi tidak
dijawab! Begitu juga saat beberapa penyaji menyampaikan 'joke'
dalam Bahasa Inggris, sang menteri hanya mengangguk-anggukkan kepala,
padahal yang lain tertawa, karena memang lucu.

Saya sampai heran, kenapa menteri yang strategis seperti ini tidak bisa
berbahasa asing, minimal Bahasa Inggris? Untung mantan menteri Gde Ardika yang tampil esok harinya menunjukkan kefasihannya berbahasa Inggris, selain menampilkan
data yang berguna. Masih jauh dibandingkan si Jero Wacik yang hanya
bisa tersenyum-senyum sambil ngomong tanpa ada data. Beberapa kawan wartawan
yang duduk bersama saya juga 'nggrundel' karena penampilan Jero Wacik..
Sampai konferensi berakhir, saya masih dongkol terhadap "kelemahan"
menteri kita itu. Kok bisa ya SBY milih dia?
__________________________
Tanggapan Sirikit Syah, ketua KPID Jawa Timur:
Memang banyak orang 'bisa' Bahasa Inggris. Tetapi untuk forum resmi,
'sekadar bisa' tidak cukup. Menulis makalah, memaparkan presentasi lalu
menjawab pertanyaan dengan aktif dan dinamis dalam Bahasa Inggris,
memerlukan kemahiran.

Saya percaya Jero Wacik mungkin 'bisa' omong-omong (street language?),
bahasa conversation yang salah-salah dikit gak papa. Tapi mbok ya,
kalau di forum resmi, internasional, mewakili negara, tidak 'mekso'
gitu lho. Tahu diri .....
__________________________
Tanggapan Radityo Djadjoeri:

Ini satu lagi pertanda bahwa SBY memilih menteri tak berdasar pada
profesionalisme, tapi lebih condong ke 'koncoisme'. Jero Wacik (JW)
adalah tokoh Partai Demokrat asal Bali. Dia seorang pengusaha yang buka
biro perjalanan tak terkenal. Tak semua pelaku bisnis biro perjalanan punya
wawasan bagus untuk pengembangan pariwisata kita. Apalagi kalau yang
dia jual melulu paket outbound. Belum lagi bicara soal budaya, yang
spektrumnya lebih meluas.

Beberapa kesalahan JW yang dapat saya catat diantaranya adalah:

1. JW telah membuyarkan impian dan harapan kita agar fiskal perjalanan
ke luar negeri dihapus. Sekadar ingin beda dari pemerintahan sebelumnya
yang memberikan 'lampu hijau' bahwa fiskal akan dihapuskan? Kalau memang
bagus buat masyarakat luas dan mengangkat citra pemerintah RI, kenapa
tak diteruskan? Pasalnya, masalah ini sudah sering diprotes masyarakat
pariwisata se-ASEAN. Para tokoh pariwisata Indonesia juga tak kalah
gencarnya memprotesnya. Kebijakan yang tidak bijak warisan Orde Baru
ini membikin masyarakat Indonesia jadi seperti 'katak dalam tempurung'.
Buat orang-orang kecil, perjalanan ke luar negeri jatuhnya jadi mahal.
Padahal, masyarakat kita yang ke luar negeri tak cuma 'buang uang' buat
belanja, tapi banyak yang bertujuan untuk menambah wawasan, memperkenalkan
seni budaya, menimba ilmu, menjalin hubungan bisnis kecil dengan sesama
pengusaha kecil mancanegara, kunjungan sosial, dan tujuan positif
lainnya. JW sempat bilang, bahwa penetapan
fiskal penting dengan tujuan untuk menambah pemasukan pemerintah. Lho?
Padahal sudah ditegaskan sebelumnya, bahwa fiskal tersebut dapat mengurangi
pajak pendapatan yang kita setor. Mustinya kan itu bukan pendapatan. Memang,
kenyataannya lebih banyak orang yang tak mau
mengurusnya, karena birokrasinya berbelit-belit. Entah, duit itu
nyangkut dimana. Belum lagi petugas di bandara yang nilep duit setoran
fiskal, dan pemalsuan bukti setor.

2. JW terkesan bersikap 'business as usual' - terkendala birokrasi kantor ala
pemerintah, tentu saja - seperti menteri-menteri lainnya. Jadi memang
birokrasi pemerintah harus 'dirontokkan' terlebih dulu agar bersih dan
mampu bekerja secara profesional. Kalau birokrasinya masih bergaya Orba,
siapapun menterinya, hasilnya ya 'sami mawon'. Proyek pertunjukan musik
di Candi Borobudur, misalnya. Kenapa pemerintah musti 'cawe-cawe'
mensponsori dengan kucuran dana? Soal begini mah mustinya serahkan 100% ke swasta saja.
Biar mereka yang mencari dana ke sponsor. Soal JW hadir dan membuka
acara itu, sah-sah saja. Negeri tetangga terus berkampanye untuk menggairahkan
bisnis pariwisata. Mereka punya ciri khas dan identitas dalam promonya.
Tetapi Indonesia, mana? Singapura punya STB, Thailand punya TOT, Malaysia
punya MTA, Australia punya ATC. Indonesia punya apa? Bagaimana nasib
ITB (Indonesian Tourism Board) di era Joop Ave? Kalau memang ITB
dihapuskan karena terbelit hutang, apa gantinya? Strategi kampanyenya
seperti apa? Itu yang tak kunjung dijelaskan ke masyarakat Indonesia
dan dunia. Negeri tetangga kita sudah menganggap bahwa segala aktivitas masyarakat adalah pertunjukan wisata yang bisa dijual, sementara kita masih berkutat pada obyek wisata
saja, itu pun tak tergarap dengan baik. Fasilitas kesehatan, fasilitas
pendidikan, wisata belanja, pertunjukan seni budaya dan lainnya, semua bisa dijual dengan
baik oleh negeri tetangga. Apa iya kita mau terus jual bencana dan tsunami? Adanya bencana memang bikin orang-orang asing berbondong-bondong ke negeri ini, dari mulai volunteer
hingga Bush Senior dan Clinton. Ini kan namanya 'wisata bencana' yang kita semua tentunya tak kehendaki.
<Prev in Thread] Current Thread [Next in Thread>
Google Custom Search

News | FAQ | advertise