|
Sungguh memalukan, Menteri Pariwisata kita 'gelagapan'
berbahasa Inggris
Oleh: Satrya Wibawa
Saya ingin bercerita
sesuatu tentang Jero Wacik. Saya bersama rekan sekantor di Komunikasi
Unair adalah satu-satunya peserta regional Tourism &
Communications Conference di Bali yang berasal dari Jawa Timur.
Dinas Pariwisata Jatim pun tak datang, entah kenapa... Padahal,
materi konferensi ini sangat bagus bagi praktisi komunikasi dan
pariwisata. Ada banyak hal menarik dari konferensi ini, tapi yang
ingin saya sampaikan ini cuma satu peristiwa lucu sekaligus
menyedihkan..
Menteri Pariwisata kita yang terhormat, Bapak
Jero Wacik, ternyata sangat sulit atau malah tidak bisa berbahasa
Inggris! Saya bukan orang yang sangat pintar berbahasa Inggris, tapi
melihat penampilan menteri kita itu di atas panggung, saya sungguh
malu. Betapa tidak, konferensi ini memang disajikan dalam Bahasa
Inggris, dan memang menteri kita itu "mencoba" membaca makalah dan
"menjawab" diskusi dalam bahasa Inggris.
Tapi ya ampun,
Bahasa Inggrisnya itu lho....parah banget. Mahasiswa saya saja jauh
lebih jago kali ya. Malah, saat diskusi, Loraine (moderator dari
CNN) sampai harus mengingatkan sang menteri dengan pertanyaan "Do
you understand the question, Mr Minister?" Sebab saat satu peserta
bertanya sesuatu kepada sang menteri, beliau hanya membalas dengan
cuma tersenyum-senyum dan mengangguk-anggukkan kepala. Tapi tidak
dijawab! Begitu juga saat beberapa penyaji menyampaikan 'joke'
dalam Bahasa Inggris, sang menteri hanya mengangguk-anggukkan
kepala, padahal yang lain tertawa, karena memang lucu.
Saya
sampai heran, kenapa menteri yang strategis seperti ini tidak bisa
berbahasa asing, minimal Bahasa Inggris? Untung mantan menteri Gde
Ardika yang tampil esok harinya menunjukkan kefasihannya berbahasa
Inggris, selain menampilkan data yang berguna. Masih jauh
dibandingkan si Jero Wacik yang hanya bisa tersenyum-senyum sambil
ngomong tanpa ada data. Beberapa kawan wartawan yang duduk bersama
saya juga 'nggrundel' karena penampilan Jero Wacik.. Sampai
konferensi berakhir, saya masih dongkol terhadap "kelemahan" menteri
kita itu. Kok bisa ya SBY milih
dia? __________________________ Tanggapan Sirikit Syah, ketua KPID
Jawa Timur: Memang banyak orang 'bisa' Bahasa Inggris. Tetapi untuk
forum resmi, 'sekadar bisa' tidak cukup. Menulis makalah, memaparkan
presentasi lalu menjawab pertanyaan dengan aktif dan dinamis dalam
Bahasa Inggris, memerlukan kemahiran.
Saya percaya Jero Wacik
mungkin 'bisa' omong-omong (street language?), bahasa conversation
yang salah-salah dikit gak papa. Tapi mbok ya, kalau di forum resmi,
internasional, mewakili negara, tidak 'mekso' gitu lho. Tahu diri
..... __________________________ Tanggapan Radityo
Djadjoeri:
Ini satu lagi pertanda bahwa SBY memilih menteri tak
berdasar pada profesionalisme, tapi lebih condong ke 'koncoisme'.
Jero Wacik (JW) adalah tokoh Partai Demokrat asal Bali. Dia seorang
pengusaha yang buka biro perjalanan tak terkenal. Tak semua pelaku
bisnis biro perjalanan punya wawasan bagus untuk pengembangan
pariwisata kita. Apalagi kalau yang dia jual melulu paket outbound.
Belum lagi bicara soal budaya, yang spektrumnya lebih meluas.
Beberapa kesalahan JW yang dapat saya catat diantaranya
adalah:
1. JW telah membuyarkan impian dan harapan kita agar
fiskal perjalanan ke luar negeri dihapus. Sekadar ingin beda dari
pemerintahan sebelumnya yang memberikan 'lampu hijau' bahwa fiskal
akan dihapuskan? Kalau memang bagus buat masyarakat luas dan
mengangkat citra pemerintah RI, kenapa tak diteruskan? Pasalnya,
masalah ini sudah sering diprotes masyarakat pariwisata se-ASEAN.
Para tokoh pariwisata Indonesia juga tak kalah gencarnya
memprotesnya. Kebijakan yang tidak bijak warisan Orde Baru ini
membikin masyarakat Indonesia jadi seperti 'katak dalam
tempurung'. Buat orang-orang kecil, perjalanan ke luar negeri
jatuhnya jadi mahal. Padahal, masyarakat kita yang ke luar negeri tak
cuma 'buang uang' buat belanja, tapi banyak yang bertujuan untuk
menambah wawasan, memperkenalkan seni budaya, menimba ilmu, menjalin
hubungan bisnis kecil dengan sesama pengusaha kecil mancanegara,
kunjungan sosial, dan tujuan positif lainnya. JW sempat bilang,
bahwa penetapan fiskal penting dengan tujuan untuk menambah pemasukan
pemerintah. Lho? Padahal sudah ditegaskan sebelumnya, bahwa fiskal
tersebut dapat mengurangi pajak pendapatan yang kita setor. Mustinya
kan itu bukan pendapatan. Memang, kenyataannya lebih banyak orang
yang tak mau mengurusnya, karena birokrasinya berbelit-belit. Entah,
duit itu nyangkut dimana. Belum lagi petugas di bandara yang nilep
duit setoran fiskal, dan pemalsuan bukti setor.
2. JW
terkesan bersikap 'business as usual' - terkendala birokrasi kantor
ala pemerintah, tentu saja - seperti menteri-menteri lainnya. Jadi
memang birokrasi pemerintah harus 'dirontokkan' terlebih dulu agar
bersih dan mampu bekerja secara profesional. Kalau birokrasinya masih
bergaya Orba, siapapun menterinya, hasilnya ya 'sami mawon'. Proyek
pertunjukan musik di Candi Borobudur, misalnya. Kenapa pemerintah
musti 'cawe-cawe' mensponsori dengan kucuran dana? Soal begini mah
mustinya serahkan 100% ke swasta saja. Biar mereka yang mencari dana
ke sponsor. Soal JW hadir dan membuka acara itu, sah-sah saja. Negeri
tetangga terus berkampanye untuk menggairahkan bisnis pariwisata.
Mereka punya ciri khas dan identitas dalam promonya. Tetapi
Indonesia, mana? Singapura punya STB, Thailand punya TOT,
Malaysia punya MTA, Australia punya ATC. Indonesia punya apa?
Bagaimana nasib ITB (Indonesian Tourism Board) di era Joop Ave? Kalau
memang ITB dihapuskan karena terbelit hutang, apa gantinya? Strategi
kampanyenya seperti apa? Itu yang tak kunjung dijelaskan ke
masyarakat Indonesia dan dunia. Negeri tetangga kita sudah menganggap
bahwa segala aktivitas masyarakat adalah pertunjukan wisata yang bisa
dijual, sementara kita masih berkutat pada obyek wisata saja, itu pun
tak tergarap dengan baik. Fasilitas kesehatan, fasilitas pendidikan,
wisata belanja, pertunjukan seni budaya dan lainnya, semua bisa dijual
dengan baik oleh negeri tetangga. Apa iya kita mau terus jual bencana
dan tsunami? Adanya bencana memang bikin orang-orang asing
berbondong-bondong ke negeri ini, dari mulai volunteer hingga Bush
Senior dan Clinton. Ini kan namanya 'wisata bencana' yang kita semua
tentunya tak kehendaki.
|