osdir.com
mailing list archive

Subject: FW: Sungguh memalukan, Menteri Pariwisata kita 'gelagapan' berbah asa Inggris - msg#00026

List: org.region.indonesia.bandung.itb-77

Date: Prev Next Index Thread: Prev Next Index
  Sungguh memalukan, Menteri Pariwisata kita 'gelagapan' berbahasa Inggris

Oleh: Satrya Wibawa

Saya ingin bercerita sesuatu tentang Jero Wacik. Saya bersama rekan sekantor di Komunikasi Unair adalah satu-satunya peserta regional
Tourism & Communications Conference di Bali yang berasal dari Jawa
Timur. Dinas Pariwisata Jatim pun tak datang, entah kenapa...
Padahal, materi konferensi ini sangat bagus bagi praktisi komunikasi
dan pariwisata. Ada banyak hal menarik dari konferensi ini, tapi yang
ingin saya sampaikan ini cuma satu peristiwa lucu sekaligus
menyedihkan..

Menteri Pariwisata kita yang terhormat, Bapak Jero Wacik,
ternyata sangat sulit atau malah tidak bisa berbahasa Inggris! Saya
bukan orang yang sangat pintar berbahasa Inggris, tapi melihat
penampilan menteri kita itu di atas panggung, saya sungguh malu. Betapa
tidak, konferensi ini memang disajikan dalam Bahasa Inggris, dan memang
menteri kita itu "mencoba" membaca makalah dan "menjawab" diskusi dalam
bahasa Inggris.

Tapi ya ampun, Bahasa Inggrisnya itu lho....parah banget. Mahasiswa saya
saja jauh lebih jago kali ya. Malah, saat diskusi, Loraine (moderator
dari CNN) sampai harus mengingatkan sang menteri dengan pertanyaan
"Do you understand the question, Mr Minister?" Sebab saat satu peserta
bertanya sesuatu kepada sang menteri, beliau hanya membalas dengan
cuma tersenyum-senyum dan mengangguk-anggukkan kepala. Tapi tidak
dijawab! Begitu juga saat beberapa penyaji menyampaikan 'joke'
dalam Bahasa Inggris, sang menteri hanya mengangguk-anggukkan kepala,
padahal yang lain tertawa, karena memang lucu.

Saya sampai heran, kenapa menteri yang strategis seperti ini tidak bisa
berbahasa asing, minimal Bahasa Inggris? Untung mantan menteri Gde Ardika yang tampil esok harinya menunjukkan kefasihannya berbahasa Inggris, selain menampilkan
data yang berguna. Masih jauh dibandingkan si Jero Wacik yang hanya
bisa tersenyum-senyum sambil ngomong tanpa ada data. Beberapa kawan wartawan
yang duduk bersama saya juga 'nggrundel' karena penampilan Jero Wacik..
Sampai konferensi berakhir, saya masih dongkol terhadap "kelemahan"
menteri kita itu. Kok bisa ya SBY milih dia?
__________________________
Tanggapan Sirikit Syah, ketua KPID Jawa Timur:
Memang banyak orang 'bisa' Bahasa Inggris. Tetapi untuk forum resmi,
'sekadar bisa' tidak cukup. Menulis makalah, memaparkan presentasi lalu
menjawab pertanyaan dengan aktif dan dinamis dalam Bahasa Inggris,
memerlukan kemahiran.

Saya percaya Jero Wacik mungkin 'bisa' omong-omong (street language?),
bahasa conversation yang salah-salah dikit gak papa. Tapi mbok ya,
kalau di forum resmi, internasional, mewakili negara, tidak 'mekso'
gitu lho. Tahu diri .....
__________________________
Tanggapan Radityo Djadjoeri:

Ini satu lagi pertanda bahwa SBY memilih menteri tak berdasar pada
profesionalisme, tapi lebih condong ke 'koncoisme'. Jero Wacik (JW)
adalah tokoh Partai Demokrat asal Bali. Dia seorang pengusaha yang buka
biro perjalanan tak terkenal. Tak semua pelaku bisnis biro perjalanan punya
wawasan bagus untuk pengembangan pariwisata kita. Apalagi kalau yang
dia jual melulu paket outbound. Belum lagi bicara soal budaya, yang
spektrumnya lebih meluas.

Beberapa kesalahan JW yang dapat saya catat diantaranya adalah:

1. JW telah membuyarkan impian dan harapan kita agar fiskal perjalanan
ke luar negeri dihapus. Sekadar ingin beda dari pemerintahan sebelumnya
yang memberikan 'lampu hijau' bahwa fiskal akan dihapuskan? Kalau memang
bagus buat masyarakat luas dan mengangkat citra pemerintah RI, kenapa
tak diteruskan? Pasalnya, masalah ini sudah sering diprotes masyarakat
pariwisata se-ASEAN. Para tokoh pariwisata Indonesia juga tak kalah
gencarnya memprotesnya. Kebijakan yang tidak bijak warisan Orde Baru
ini membikin masyarakat Indonesia jadi seperti 'katak dalam tempurung'.
Buat orang-orang kecil, perjalanan ke luar negeri jatuhnya jadi mahal.
Padahal, masyarakat kita yang ke luar negeri tak cuma 'buang uang' buat
belanja, tapi banyak yang bertujuan untuk menambah wawasan, memperkenalkan
seni budaya, menimba ilmu, menjalin hubungan bisnis kecil dengan sesama
pengusaha kecil mancanegara, kunjungan sosial, dan tujuan positif
lainnya. JW sempat bilang, bahwa penetapan
fiskal penting dengan tujuan untuk menambah pemasukan pemerintah. Lho?
Padahal sudah ditegaskan sebelumnya, bahwa fiskal tersebut dapat mengurangi
pajak pendapatan yang kita setor. Mustinya kan itu bukan pendapatan. Memang,
kenyataannya lebih banyak orang yang tak mau
mengurusnya, karena birokrasinya berbelit-belit. Entah, duit itu
nyangkut dimana. Belum lagi petugas di bandara yang nilep duit setoran
fiskal, dan pemalsuan bukti setor.

2. JW terkesan bersikap 'business as usual' - terkendala birokrasi kantor ala
pemerintah, tentu saja - seperti menteri-menteri lainnya. Jadi memang
birokrasi pemerintah harus 'dirontokkan' terlebih dulu agar bersih dan
mampu bekerja secara profesional. Kalau birokrasinya masih bergaya Orba,
siapapun menterinya, hasilnya ya 'sami mawon'. Proyek pertunjukan musik
di Candi Borobudur, misalnya. Kenapa pemerintah musti 'cawe-cawe'
mensponsori dengan kucuran dana? Soal begini mah mustinya serahkan 100% ke swasta saja.
Biar mereka yang mencari dana ke sponsor. Soal JW hadir dan membuka
acara itu, sah-sah saja. Negeri tetangga terus berkampanye untuk menggairahkan
bisnis pariwisata. Mereka punya ciri khas dan identitas dalam promonya.
Tetapi Indonesia, mana? Singapura punya STB, Thailand punya TOT, Malaysia
punya MTA, Australia punya ATC. Indonesia punya apa? Bagaimana nasib
ITB (Indonesian Tourism Board) di era Joop Ave? Kalau memang ITB
dihapuskan karena terbelit hutang, apa gantinya? Strategi kampanyenya
seperti apa? Itu yang tak kunjung dijelaskan ke masyarakat Indonesia
dan dunia. Negeri tetangga kita sudah menganggap bahwa segala aktivitas masyarakat adalah pertunjukan wisata yang bisa dijual, sementara kita masih berkutat pada obyek wisata
saja, itu pun tak tergarap dengan baik. Fasilitas kesehatan, fasilitas
pendidikan, wisata belanja, pertunjukan seni budaya dan lainnya, semua bisa dijual dengan
baik oleh negeri tetangga. Apa iya kita mau terus jual bencana dan tsunami? Adanya bencana memang bikin orang-orang asing berbondong-bondong ke negeri ini, dari mulai volunteer
hingga Bush Senior dan Clinton. Ini kan namanya 'wisata bencana' yang kita semua tentunya tak kehendaki.
Was this page helpful?
Yes No
Thread at a glance:

Previous Message by Date: click to view message preview

Re: Renungan Jum'at

Mbak Lies,   Ass WW,   Kalau kedua orang tuanya meninggal sewaktu si anak masih kecil, kemudian setelah dewasa si anak menjadi penjahat, tentu saja orang tuanya tidak akan dituntut pertanggung jawaban atas "menjadi jahatnya" anaknya...sepanjang selagi 'mereka' masih hidup, 'mereka' telah melaksanakan kewajibannya "memelihara" anaknya dengan baik sesuai dengan amanah Allah. Mereka telah menafkahi, mendidik, mengajari, dan membimbing si anak sesuai dengan ajaran agama. Kalau ini sudah dilaksanakan, maka setelah orang tuanya meninggal, maka "lingkungan" (lingkungan keluarga, sekolah, pergaulan, dsb) dan "dirinya sendiri" lah yang akan berperan terhadap jalan hidup si anak sampai dewasa. Oleh karena itu, menjadi kewajiban keluarga terdekat (paman/tante, kakek/nenek, saudara) untuk meneruskan bimbingan kepada si anak ini, agar tetap menjadi "anak yang sholeh" yang akan mendo'akan kedua orang tuanya.   Wassalam, NHA          -----Original Message-----From: Liestyawati [mailto:liesaja@xxxxxxxxx]Sent: Saturday, June 04, 2005 10:17 PMTo: itb77@xxxxxxxxxxxxxxxxxxxSubject: [itb77] Re: Renungan Jum'at Mas Wahyoe, saya kira tidak ada satupun orang tua yang mau anaknya celaka baik di dunia ini apalagi di akherat kelak. Oleh karena itu, selayaknyalah kita berhati-hati di dalam membimbing anak, jangan sampai sikap/tindakan kita justru akan menjerumuskan si anak.dan kalau sampai ini terjadi. kita sebagai orang tua akan "sangat menyesal" dan "dituntut tanggung jawabnya" dihadapan Allah SWT, sementara bagi si anak."alangkah kasihannya" dia, sampai harus celaka gara-gara sikap/tindakan orang tuanya yang salah!! Bagaimana kalau ketika si anak masih kecil (belum baligh) lalu kedua orang tuanya meninggal, kemudian setelah dewasa sianak menjadi rampok atau orang jahat..apakah orang tuanya juga dituntut pertanggung jawaban? Salam, Lies Nurhasan Achmad-QSG2781 <QSG2781@xxxxxxxxxxxx> wrote: Mas Wahyoe,Ass WW,Saya juga masih belajar koq mas (belum mampu jadi guru).belajar memahami hakekat hidup yang sebenarnya. Mas Wahyoe, anak kita memang lahir bukan atas kehendaknya sendiri.tapi atas kehendak Allah SWT. (dan saya kira juga atas keinginan kita untuk memperoleh anak/keturunan). Hal ini bisa kita lihat dengan jelas di dalam Q.S. Ali Imran: 6; "Dialah yang membentuk kamu dalam rahim sebagaimana dikehendaki-Nya. Tak ada Tuhan (yang behak disembah) melainkan Dia, Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana". Seorang anak adalah amanah Allah di tangan kedua orang tuanya. Maka kita sebagai orang tua wajib memeliharanya lahir dan batin agar selamat di dunia dan akherat, sebagaimana firman Allah dalam Q.S. At-Tahrim: 6; "Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka." "Memelihara" disini tentu me! mpunyai arti yang sangat luas, termasuk didalamnya; memberi nafkah, mendidik, mengajari, membimbing, menumbuhkan akhlak mulia, dsb, yang muaranya adalah menjadikan dia "anak yang sholeh" yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya, dan berbakti kepada kedua orang tuanya, yang dengan itu insyaallah ia akan selamat di dunia dan akherat kelak.Rasulullah SAW bersabda: "Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah (bersih dan suci), maka kedua orang tuanyalah yang membuatnya menjadi Yahudi, Nasrani ataupun Majusi".Mengenai 'cara' atau 'gaya' yang dipakai oleh orang tua untuk "memelihara" anak bisa berbeda-beda, tentunya disesuaikan dengan situasi dan kondisi lingkungan keluarga masing-masing. Ada yang efektif dengan cara tegas, disiplin ketat yang cenderung keras, ada pula yang efektif dengan gaya yang lembut, persuasif, dan akomodatif, sesuai dengan karakter dan kondisi psikologis anak dan kedua orang tuanya.Bagi saya, yang penting "tujuan akhirnya tercapai" yaitu bagai! mana anak kita menjadi "anak yang sholeh", yang akan selamat di dunia maupun di akherat. Mas Wahyoe, saya kira tidak ada satupun orang tua yang mau anaknya celaka baik di dunia ini apalagi di akherat kelak. Oleh karena itu, selayaknyalah kita berhati-hati di dalam membimbing anak, jangan sampai sikap/tindakan kita justru akan menjerumuskan si anak.dan kalau sampai ini terjadi. kita sebagai orang tua akan "sangat menyesal" dan "dituntut tanggung jawabnya" dihadapan Allah SWT, sementara bagi si anak."alangkah kasihannya" dia, sampai harus celaka gara-gara sikap/tindakan orang tuanya yang salah!! Hanya ini yang bisa saya sampaikan mas, dan mohon maaf kalau hal ini kurang memuaskan Mas Wahyoe, maklum pengetahuan saya memang masih sangat cetek. Semoga Allah SWT selalu membimbing kita..Amien.Wassalam WW,NHA -----Original Message-----From: Wahyoe Prawoto [mailto:wprawoto@xxxxxxxxxxxxxx]Sent: Friday, June 03, 2005 6:03 PMTo: itb77@xxxxxxxxxxxxxxxxxxxSubject: [itb77] Re: Renungan Jum'atPak Guru NHA,soal anak dan orang tua ini sampai saat ini selalu masih terbersit dalam hati saya bahwa sebetulnya anak itu lahir bukan atas kehendaknya sendiri. Dia nggak lahir pur bagi dia nggak ada soal. Tapi setelah lahir kita bimbing (kalau nggak boleh kita sebut 'atur') dia sampai kadang2 setengah memaksa sampai maksa. Dari sisi ini kayaknya kog nggak fair juga yang orang2 tua ini.Kalau sudah sampai pada pikiran ini hati saya selalu gundah sehingga seringkali saya memilih 'lembek' kepada anak, suka membiarkan dan banyak ngalah.Bagaimana cara menjelaskan duduk soal ini ya Pak Guru?Salam,wpAt 04:55 PM 6/3/05 +0700, you wrote:>Sahabat-2 ku seiman,>>Ass WW,>Di hari Jum'at yang baik ini, marilah kita merenung sejenak... Dan dengan >renungan ini, mudah-mudahan dibukakan mata hati! kita, untuk lebih berbakti >dengan penuh kasih sayang kepada kedua orang tua kita. Amien...>Wassalam WW.>>Salam,>Nur Hasan Achmad>> <

Next Message by Date: click to view message preview

Pentagon Details Abuse Of Koran

  Jagonya HAM akhirnya mengaku..... Pentagon Details Abuse Of Koran Detainees' Holy Books Were Kicked, Got Wet By Josh White and Dan EggenWashington Post Staff WritersSaturday, June 4, 2005; Page A01 The U.S. military released new details yesterday about five confirmed cases of U.S. personnel mishandling the Koran at the prison in Guantanamo Bay, Cuba, acknowledging that soldiers and interrogators kicked the Muslim holy book, got copies wet, stood on a Koran during an interrogation and inadvertently sprayed urine on another copy. Brig. Gen. Jay W. Hood, commander of Joint Task Force Guantanamo, who completed the three-week inquiry this week into alleged mishandling of the Koran, confirmed five cases of intentional or unintentional mishandling of the holy book, which appear to be unrelated, from among 19 alleged incidents since the detention facility opened in January 2002. His investigation also found 15 incidents of detainees desecrating Korans. In a news release from the U.S. Southern Command late yesterday, Hood expanded on statements he made at a Pentagon news briefing last week, when he characterized the incidents as rare, isolated and largely inadvertent. Officials said they have issued more than 1,600 Korans at the facility. "Mishandling a Koran at Guantanamo Bay is a rare occurrence," Hood said in the statement. "Mishandling of a Koran here is never condoned. When one considers the many thousands of times detainees have been moved and cells have been searched since detention operations first began here in January 2002, I think one can only conclude that respect for detainee religious beliefs was embedded in the culture of [the task force] from the start." In a statement, White House spokesman Scott McClellan said that "our men and women in the military adhere to the highest standards, including when it comes to respecting and protecting religious freedom." Detainees, human rights groups and some military personnel have complained about desecration of the Koran at Guantanamo Bay. Tom Wilner, an attorney for 11 Kuwaiti nationals being held at the prison, said yesterday that the number and persistence of reports of Koran abuse from detainees indicate a much broader problem than indicated by the Hood inquiry. "It's sort of amazing today that we define truth as only when the government confirms something happened," Wilner said. "I think there is no question that, especially in the early days of Guantanamo, there was a persistent pattern of physical abuse and religious discrimination, including desecration of the Koran. . . . But it hasn't been fully looked at." Investigators were specifically looking into allegations that U.S. personnel had flushed a Koran down a toilet at Guantanamo Bay. Newsweek reported in early May that such an allegation had been confirmed, setting off riots in Muslim nations that left 16 people dead, but then retracted the story. Hood's inquiry determined that no such incident took place. The probe did find, however, that rumors of such an event swirled around the facility in the summer of 2002 after a detainee dropped his Koran on the floor and other detainees blamed the mishandling on U.S. guards. The story, according to a U.S. Southern Command news release, changed as detainees passed it along, escalating to rumors that U.S. troops ripped pages out of the book and then flushed it. But the investigation's results also are contrary to a recent claim by a top Pentagon spokesman that there were no credible accounts of Korans being mishandled -- though he added that officials would nevertheless conduct an investigation. The first case, in February 2002, arose when a detainee complained that guards at Camp X-Ray kicked the Koran of a detainee in a neighboring cell. Though interrogators and guards noted the incident at the time, there was no further investigation. In another case, in August 2003, two detainees complained to their guards that a number of Korans were wet "because the night shift guards had thrown water balloons on the block." No further details of the incident were provided, but Hood's team determined the complaints to be credible and found "no evidence that the incident, although clearly inappropriate, caused any type of disturbance on the block." Other confirmed reports included a two-word obscenity being written in the inside cover of a Koran, though investigators were unable to determine who wrote the phrase and concluded it was possible that the complaining detainee -- who was conversant in English -- may have defaced his own book. Another report, in July 2003, detailed an incident in which a contract interrogator stood on a detainee's Koran during an interrogation. The interrogator was fired for a "pattern of unacceptable behavior, an inability to follow direct guidance and poor leadership," according to the news release yesterday. The most recent, and perhaps strangest, case of mishandling was documented on March 25, 2005, when a detainee complained to the guards that urine came through an air vent in his cell and "splashed on him and his Koran while he laid near the air vent." According to Hood's investigation, the guard who was responsible reported himself to his superiors and was reassigned to gate duty. The detainee was given a new uniform and Koran. "The guard had left his observation area post and went outside to urinate," according to a summary of the incident. "He urinated near an air vent and the wind blew his urine through the vent into the block." Hood's investigation also turned up 15 incidents in which detainees mishandled Korans between Nov. 19, 2002, and Feb. 18, 2005. Many of the cases involved detainees ripping up their own Korans, throwing the Koran or its pages out of their cells, or trying to deface a Koran belonging to another detainee. One detainee used his Koran as a pillow, one used pages from it to cover the air vent in his cell, and another ripped up his Koran and handed it to a guard, stating that he had "given up on being a Muslim." Three of the detainee cases involved spitting or throwing urine on Korans, and in one case, on Jan. 19, 2005, a detainee allegedly "tore up his Koran and tried to flush it down the toilet," according to the report. Four days later, a detainee ripped pages from the book and tried to flush them down the toilet as a protest, because he wanted to be moved to another part of the camp. Staff writer Michael A. Fletcher in Waco, Tex., contributed to this report.

Previous Message by Thread: click to view message preview

Cerita di sekitar sang Ratu Mariyuana dari negara tetangga ..

Cerita di sekitar sang Ratu Mariyuana dari negara tetangga .. -------------------------------------------------------Corby and the mobAndrew Bolt01jun05 AND now to the verdict on the Schapelle Corby case. I find the defendant guiltyof xenophobia, spite, boorishness and a self-righteous tribal hysteria. No, I don't mean Corby.  I'm referring to the weeping and bellowing mob that is demanding we do all ittakes -- even starve the poorest Indonesians -- to free this convicted drugtrafficker. "Our" Schapelle.  What a shock to see the beast of mob rule roar like this, and in support of awoman who seems on the evidence more likely to be guilty than she's painted.  Yes, Corby may be as innocent as she says. But picture how she must look, andhow we all now look, to an Indonesian, whether a judge or a citizen.  Here is a surfer girl who worked as a bar hostess in Tokyo's nightclub area,flying into Bali for reportedly the fifth time in six years.  (Corby, a student beautician who'd scraped up cash from working at afish-and-chip shop, told 60 Minutes she'd been to Bali "five or six times sinceI was 16".)  Customs officials screen her bags and detect something suspicious. They watchher, and later tell a court she seems nervous. Her bodyboard bag is more thantwice its usual weight, bulging with an extra something the size of a stuffedpillow.  Actually, she says later, she'd only dragged her bag, and had so much otherluggage she couldn't tell its weight was unusual, or that there was anythinginside but a bodyboard and flippers. Yes, well.  Two police and two customs officials agree on what happened next. They sayCorby's brother James carried the bag for her to the customs area, where officerI Gusti Nyoman Winata asked her to op en it.  Corby zipped open the front pocket. Now the main zip, demanded Winata.  "The suspect (seemed) to panic," he later testified.  "When I opened the bag a little bit, she stopped me and said, 'No!'  "I asked why. She answered, 'I have some . . .' She looked confused."  ABC's Lateline showed Winata re-enacting Corby's lunge to stop him opening herbag. He seemed as honest as Corby does, and said he had no doubt of her guilt.  Winata looked inside and found 4.1kg of top-quality marijuana, stowed in twoairlock plastic bags, one tucked inside the other.  What is it, he asked?  "It's marijuana," the officials heard Corby reply.  Keep thinking how this all must look to an Indonesian. Who would you believe?  Think how it seems when the marijuana turns out to be hydroponically grown, andworth anywhere up to $80,000 in Bali, where it is prized by expatriates who aresick of the weak local weed and feel safer buying from a tourist. Big profits.  Keep picturing. The Indonesians learn that Corby, although having no criminalrecord, comes from a wild and woolly family.  One of her brothers is in jail for burglary and stealing, her mother is on toher fourth partner after having six children by three men. Her father had aminor conviction some 30 years ago for possessing marijuana.  Sure, none of that makes her guilty, but how would all this make Corby seem toan Indonesian? Here's a tip: Not like she came from the responsible land of thestraight-and-narrow.  I T gets worse. Corby's defence team is soon headed by a salesman who looks likea spiv and is a former bankrupt who still owes creditors plenty.  Her main defence witness becomes an alleged rapist flown in from a Melbournejail to tell how he heard some crook who'd heard some othe r crook say Corby wasunwittingly carrying drugs for crooks operating at the Brisbane and Sydneyairport terminals.  With Australians like this behind Corby, it's a wonder the whole country wasn'ttossed into the cell with her.  The judges are then asked to believe these unknown smugglers took the marijuanainto a high-security area at Brisbane in easy-to-see-through plastic and poppedit into a random bag to be flown to another high-security area in Sydney.  Why the smugglers would do that, rather than simply drive the drugs down toSydney by car, all safe, no one can say. That they then let their valuable drugsfly off to Bali is another mystery.  No wonder our own Australian Federal Police Commissioner Mick Keelty dismissedCorby's theory as "flimsy". Corby's judges must have thought her team took themfor idiots.  Idiots? They soon learned plenty of Australians took them for far wors e. And nowit was not Corby on trial, and losing, but Australia.  In one heady spasm, hundreds of thousands of Australians became certain thatCorby the beautiful battler was in fact innocent.  Suddenly she was the star of a reality-TV Perils of Pauline -- complete withcartoon-like big breasts, every-woman prettiness and more tears than a soapie.It helped the plot that she was repeatedly filmed hands bound and besieged, palein a jabbering, jostling crowd of brown foreigners.  Damn those natives. "The judges don't even speak English, mate, they're straightout of the trees, if you excuse my _expression," raged 2GB Sydney fill-in hostMalcolm T. Elliott.  "Whoa, give them a banana and away they go."  Others screamed that the judges were lying Muslims out for revenge (in fact, thechief judge was a Christian, and the other two Hindus).  Newspapers attacked Indonesia's courts as c orrupt and their jails as temples of"gloating sadism" where there was "little sympathy of foreigners, for which youmay perhaps read Christians". Save "our" Schapelle from the demon heathen!  No surprise, then, that Indonesian officials here were bombarded with so manythreats and insults that Foreign Affairs Minister Alexander Downer had to pleadfor them to be left alone. What would we say of Indonesians if our own diplomatswere monstered like this?  Now Corby's defenders demand we boycott struggling Bali. Actor Russell Crowe,among others, even warned Indonesia to remember we gave money for its tsunamivictims -- as if we only gave charity in exchange for passes out of jail.  Sick, but the feeling has grown. The Salvation Army, out on its Red Shieldappeal, had to promise not to send donations to Indonesia. Let their poor sufferfor "our" Schapelle.  Meanwhile, radio hosts insisted the Prime Mini ster call the Indonesian Presidentto fix things in court for Corby, as if such interference wasn't plainlycorrupt.  Worryingly, even senior politicians lost their heads in the hysteria, withJustice Minister Chris Ellison vowing to try bringing Corby home in a "one-off"prisoner exchange. The other 150 Australians in jail overseas should get breastimplants.  HAVE we lost our heads? Are we really such a vile rabble?  What must Indonesians make of this hissing mob that threatens their diplomats,vilifies their country, blackmails them with aid and treats their judges as thecorrupt playthings of our politicians? And all this for the sake of a convicteddrug smuggler who seems quite probably guilty, and only possibly innocent.  Even our whinges about their drug laws must seem bizarre. Guess who truly hasthe worst laws -- Indonesia, which gave Corby 20 years' jail for having 4.1kg ofmarijuana; or Vi ctoria, which meanwhile gave a mere 12-month community serviceorder to a teacher found with 29kg -- and let her keep her teaching licence?  So how must we seem to Indonesians? Like barbarians, or even terrorists, andit's hard at the moment to think them very wrong.  __________________________________________________Do You Yahoo!?Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around http://mail.yahoo.com

Next Message by Thread: click to view message preview

Re: FW: Sungguh memalukan, Menteri Pariwisata kita 'gelagapan' berbahasa Inggris

mungkin bhs inggrisnya a la " buy me, sir " dan "massage, sir " seperti yg sering diucapkan pedagang2 asongan di sepanjang Kuta..:-) sekedar tambahan: sudah ada studi untuk menjaring inbound tourist dan tidak hanya menjual Bali , meliputi eco-tourism. juga ada studi untuk menggairahkan wisata domestik untk men"discover" puluhan lokasi wisata di Indonesia selain Bali...   tapi nggak tahu ya, kok nggak ada tindak lanjutnya dari pak menteri ini... barangkali premis awalnya sudah keliru...mentang2 pariwisata terus kok menterinya mesti dari Bali...yah perspektifnya nggak berubah...   gitu loh... amrie ----- Original Message ----- From: Nurhasan Achmad-QSG2781 To: itb77-DzvTHOYnpihaCN38hz+VB57PR6L3/7vP@xxxxxxxxxxxxxxxx Sent: Tuesday, June 07, 2005 9:48 AM Subject: [itb77] FW: Sungguh memalukan, Menteri Pariwisata kita 'gelagapan' berbahasa Inggris   Sungguh memalukan, Menteri Pariwisata kita 'gelagapan' berbahasa InggrisOleh: Satrya WibawaSaya ingin bercerita sesuatu tentang Jero Wacik. Saya bersama rekan sekantor di Komunikasi Unair adalah satu-satunya peserta regional Tourism & Communications Conference di Bali yang berasal dari Jawa Timur. Dinas Pariwisata Jatim pun tak datang, entah kenapa...Padahal, materi konferensi ini sangat bagus bagi praktisi komunikasidan pariwisata. Ada banyak hal menarik dari konferensi ini, tapi yang ingin saya sampaikan ini cuma satu peristiwa lucu sekaligus menyedihkan..Menteri Pariwisata kita yang terhormat, Bapak Jero Wacik,ternyata sangat sulit atau malah tidak bisa berbahasa Inggris! Saya bukan orang yang sangat pintar berbahasa Inggris, tapi melihat penampilan menteri kita itu di atas panggung, saya sungguh malu. Betapa tidak, konferensi ini memang disajikan dalam Bahasa Inggris, dan memang menteri kita itu "mencoba" membaca makalah dan "menjawab" diskusi dalam bahasa Inggris.Tapi ya ampun, Bahasa Inggrisnya itu lho....parah banget. Mahasiswa saya saja jauh lebih jago kali ya. Malah, saat diskusi, Loraine (moderator dari CNN) sampai harus mengingatkan sang menteri dengan pertanyaan "Do you understand the question, Mr Minister?" Sebab saat satu peserta bertanya sesuatu kepada sang menteri, beliau hanya membalas dengan cuma tersenyum-senyum dan mengangguk-anggukkan kepala. Tapi tidak dijawab! Begitu juga saat beberapa penyaji menyampaikan 'joke' dalam Bahasa Inggris, sang menteri hanya mengangguk-anggukkan kepala, padahal yang lain tertawa, karena memang lucu.Saya sampai heran, kenapa menteri yang strategis seperti ini tidak bisa berbahasa asing, minimal Bahasa Inggris? Untung mantan menteri Gde Ardika yang tampil esok harinya menunjukkan kefasihannya berbahasa Inggris, selain menampilkan data yang berguna. Masih jauh dibandingkan si Jero Wacik yang hanya bisa tersenyum-senyum sambil ngomong tanpa ada data. Beberapa kawan wartawan yang duduk bersama saya juga 'nggrundel' karena penampilan Jero Wacik..Sampai konferensi berakhir, saya masih dongkol terhadap "kelemahan" menteri kita itu. Kok bisa ya SBY milih dia?__________________________Tanggapan Sirikit Syah, ketua KPID Jawa Timur:Memang banyak orang 'bisa' Bahasa Inggris. Tetapi untuk forum resmi, 'sekadar bisa' tidak cukup. Menulis makalah, memaparkan presentasi lalu menjawab pertanyaan dengan aktif dan dinamis dalam Bahasa Inggris, memerlukan kemahiran.Saya percaya Jero Wacik mungkin 'bisa' omong-omong (street language?), bahasa conversation yang salah-salah dikit gak papa. Tapi mbok ya, kalau di forum resmi, internasional, mewakili negara, tidak 'mekso' gitu lho. Tahu diri .....__________________________Tanggapan Radityo Djadjoeri:Ini satu lagi pertanda bahwa SBY memilih menteri tak berdasar padaprofesionalisme, tapi lebih condong ke 'koncoisme'. Jero Wacik (JW) adalah tokoh Partai Demokrat asal Bali. Dia seorang pengusaha yang bukabiro perjalanan tak terkenal. Tak semua pelaku bisnis biro perjalanan punyawawasan bagus untuk pengembangan pariwisata kita. Apalagi kalau yangdia jual melulu paket outbound. Belum lagi bicara soal budaya, yang spektrumnya lebih meluas. Beberapa kesalahan JW yang dapat saya catat diantaranya adalah:1. JW telah membuyarkan impian dan harapan kita agar fiskal perjalanan ke luar negeri dihapus. Sekadar ingin beda dari pemerintahan sebelumnyayang memberikan 'lampu hijau' bahwa fiskal akan dihapuskan? Kalau memangbagus buat masyarakat luas dan mengangkat citra pemerintah RI, kenapatak diteruskan? Pasalnya, masalah ini sudah sering diprotes masyarakatpariwisata se-ASEAN. Para tokoh pariwisata Indonesia juga tak kalahgencarnya memprotesnya. Kebijakan yang tidak bijak warisan Orde Baruini membikin masyarakat Indonesia jadi seperti 'katak dalam tempurung'.Buat orang-orang kecil, perjalanan ke luar negeri jatuhnya jadi mahal.Padahal, masyarakat kita yang ke luar negeri tak cuma 'buang uang' buatbelanja, tapi banyak yang bertujuan untuk menambah wawasan, memperkenalkanseni budaya, menimba ilmu, menjalin hubungan bisnis kecil dengan sesamapengusaha kecil mancanegara, kunjungan sosial, dan tujuan positif lainnya. JW sempat bilang, bahwa penetapanfiskal penting dengan tujuan untuk menambah pemasukan pemerintah. Lho?Padahal sudah ditegaskan sebelumnya, bahwa fiskal tersebut dapat mengurangipajak pendapatan yang kita setor. Mustinya kan itu bukan pendapatan. Memang, kenyataannya lebih banyak orang yang tak maumengurusnya, karena birokrasinya berbelit-belit. Entah, duit itunyangkut dimana. Belum lagi petugas di bandara yang nilep duit setoranfiskal, dan pemalsuan bukti setor. 2. JW terkesan bersikap 'business as usual' - terkendala birokrasi kantor alapemerintah, tentu saja - seperti menteri-menteri lainnya. Jadi memangbirokrasi pemerintah harus 'dirontokkan' terlebih dulu agar bersih danmampu bekerja secara profesional. Kalau birokrasinya masih bergaya Orba,siapapun menterinya, hasilnya ya 'sami mawon'. Proyek pertunjukan musikdi Candi Borobudur, misalnya. Kenapa pemerintah musti 'cawe-cawe' mensponsori dengan kucuran dana? Soal begini mah mustinya serahkan 100% ke swasta saja.Biar mereka yang mencari dana ke sponsor. Soal JW hadir dan membukaacara itu, sah-sah saja. Negeri tetangga terus berkampanye untuk menggairahkanbisnis pariwisata. Mereka punya ciri khas dan identitas dalam promonya.Tetapi Indonesia, mana? Singapura punya STB, Thailand punya TOT, Malaysiapunya MTA, Australia punya ATC. Indonesia punya apa? Bagaimana nasibITB (Indonesian Tourism Board) di era Joop Ave? Kalau memang ITBdihapuskan karena terbelit hutang, apa gantinya? Strategi kampanyenya seperti apa? Itu yang tak kunjung dijelaskan ke masyarakat Indonesiadan dunia. Negeri tetangga kita sudah menganggap bahwa segala aktivitas masyarakat adalah pertunjukan wisata yang bisa dijual, sementara kita masih berkutat pada obyek wisatasaja, itu pun tak tergarap dengan baik. Fasilitas kesehatan, fasilitas pendidikan, wisata belanja, pertunjukan seni budaya dan lainnya, semua bisa dijual denganbaik oleh negeri tetangga. Apa iya kita mau terus jual bencana dan tsunami? Adanya bencana memang bikin orang-orang asing berbondong-bondong ke negeri ini, dari mulai volunteerhingga Bush Senior dan Clinton. Ini kan namanya 'wisata bencana' yang kita semua tentunya tak kehendaki.
Loading Comments...
Home | News | Patents | Sitemap | FAQ | advertise

Advertising by