logo       

Re: Riset LPEM UI. was : Re: Re: Indonesia vs Malaysia: msg#00018

org.region.indonesia.bandung.itb-77

Subject: Re: Riset LPEM UI. was : Re: Re: Indonesia vs Malaysia

Lho bukankah hasil kajian tersebut semakin membuat optimis ?

Contohnya begini, saya sebagai ketua RT ditanya oleh petugas sensus kependudukan yang mendata keluarga miskin di RT yang saya ketuai, mengingat tempat saya tinggal kompleks yang elit, mana ada keluarga miskin, lalu saya isi saja sebanyak jumlah KK yang ada karena saya pikir disetiap rumah pasti ada pembantu yang miskin dan di kompleks ada tukang sampah yang miskin. Apalagi petugas sensus bilang untuk keperluan pemberian bantuan, nah tentu saja kalau nanti bantuan turun maka pembantu dan tukang sampah akan dapat jatah bantuan sehingga mengurangi kemiskinan mereka, dan saya optimis kalau bantuan untuk rakyat miskin akan mengalir, pengalaman saya dulu waktu mendapat pekerjaan untuk pemberdayaan rakyat miskin, dana mengucur deras dan saya tinggal mengarang laporan tanpa harus susah payah memberdayakan rakyat miskin, karena saya optimis tidak akan diaudit.

Jadi lalau pak witarto bingung mana yang benar, maka saya jadi bingung, mengapa pak witarto bingung ?

Rakyat miskin sih dibantu bagaimanapun akan tetap menjadi rakyat miskin, lalu LPEM UI yang melakukan riset mendapat dana darimana (semoga bukan dipotong dari bantuan yg didistribusikan atau perbedaan harga) dan hasilnya semoga bukan disusun sebelum proposal penelitian dibuat, atau dengan kata lain proposal dibuat berdasarkan laporan penelitian, artinya begitu disetujui besoknya laporan diserahkan.

Jadi kita harus OPTIMIS bahwa bangsa Indonesia akan tetap menjadi bangsa yang besar seperti jaman majapahit !

 

GTS

 

-----Original Message-----
From: witarto adi [mailto:witart2001-/E1597aS9LQAvxtiuMwx3w@xxxxxxxxxxxxxxxx]
Sent: 17 Maret 2005 20:09
To:
itb77-DzvTHOYnpihaCN38hz+VB57PR6L3/7vP@xxxxxxxxxxxxxxxx
Subject: [itb77] Riset LPEM UI. was : Re: Re:
Indonesia vs Malaysia

 

Wahai bung George T. Santoz, ysh

 

Saya hari ini sedang bingung membaca koran. Isinya sbb:

 

Benarkah Kajian yang Dibuat LPEM?
Iman Sugema Direktur INDEF

[...]
>> Kita coba lihat kenyataannya. Dari hasil Susenas akan tampak bahwa penerima raskin

>> ternyata hanya 25 persen tergolong orang miskin. Jumlah beras yang diterima mereka

>> bukan 20 kilogram per keluarga, tetapi hanya lima kilogram. Harga yang harus dibayar

>> bukan Rp 1.000 per kilogram, tetapi sekitar Rp 1.140 per kilogram. Artinya, tingkat

>> efektivitas penyaluran raskin hanya kurang lebih 6 persen. Apakah lazim kalau kita

>> mengasumsikan tingkat efektivitas 100 persen?

 

>> Dari makalah presentasi Menko Perekonomian terlihat bahwa angka yang digunakan

>> adalah berdasarkan tingkat efektivitas 100 persen. Ini berarti telah terjadi kesalahan

>> persepsi di kalangan pengambil kebijakan bahwa skema kompensasi betul-betul

>> mengangkat orang miskin. Kesalahannya sederhana: Pak Menteri mendapatkan angka

>> yang tidak sesuai dengan kondisi di lapangan.

[...]

 


Ternyata itu merujuk tulisan sebelumnya :

 

Kajian LPEM soal Kenaikan Harga BBM dan Kemiskinan
Mohamad Ikhsan

[...]
>> Siapa yang dimenangkan dan dikalahkan akibat kebijakan ini?

 

>> Kami juga melakukan simulasi untuk melihat dampak distribusi pendapatan subsidi BBM.

>> Secara logis mengingat distribusi subsidi BBM lebih banyak dinikmati kelompok keluarga

>> mampu, sehingga pencabutan subsidi akan memperbaiki distribusi pendapatan, tetapi

>> meningkatkan kemiskinan. Pencabutan subsidi dengan kompensasi akan memperbaiki

>> distribusi pendapatan, sekaligus penurunan tingkat kemiskinan.

 

>> Yang paling dimenangkan dari kebijakan ini adalah rumah tangga miskin yang

>> mendapatkan kompensasi dan yang paling dirugikan sebetulnya kelompok pendapatan

>> menengah, yaitu kelompok kelas pendapatan 40 persen sampai 60 persen teratas. Kalau

>> mereka membayar pajak pendapatan rumah tangga ini sebetulnya sudah terkompensasi

>> dengan kenaikan pendapatan tidak kena pajak sebesar 300 persen sejak Januari 2005.
[...]

 

>> Lalu karena keluarga ini mendapatkan beras untuk keluarga miskin (raskin) 20 kilogram

>> dan membayar hanya Rp 1.000 per kilogram, keluarga ini secara implisit mendapat transfer

>> sebesar 20 x (Rp 2.800 - Rp 1.000) = Rp 36.000 per bulan. Kalaupun beras yang diterima

>> hanya 10 kilogram, transfer yang diterima adalah Rp 18.000 per bulan dan jumlahnya

>> masih lebih besar dari kenaikan biaya tersebut.

[...]

 

 

Jadi yang benar yang mana ?

Saya kudu pesimis atawa optimis ? 

 

salam,

No virus found in this outgoing message.
Checked by AVG Anti-Virus.
Version: 7.0.300 / Virus Database: 266.7.3 - Release Date: 15-Mar-2005
<Prev in Thread] Current Thread [Next in Thread>
Google Custom Search

News | FAQ | advertise