logo       

Riset LPEM UI. was : Re: Re: Indonesia vs Malaysia: msg#00017

org.region.indonesia.bandung.itb-77

Subject: Riset LPEM UI. was : Re: Re: Indonesia vs Malaysia

Wahai bung George T. Santoz, ysh
 
Saya hari ini sedang bingung membaca koran. Isinya sbb:
 
Benarkah Kajian yang Dibuat LPEM?
Iman Sugema Direktur INDEF
[...]
>> Kita coba lihat kenyataannya. Dari hasil Susenas akan tampak bahwa penerima raskin
>> ternyata hanya 25 persen tergolong orang miskin. Jumlah beras yang diterima mereka
>> bukan 20 kilogram per keluarga, tetapi hanya lima kilogram. Harga yang harus dibayar
>> bukan Rp 1.000 per kilogram, tetapi sekitar Rp 1.140 per kilogram. Artinya, tingkat
>> efektivitas penyaluran raskin hanya kurang lebih 6 persen. Apakah lazim kalau kita
>> mengasumsikan tingkat efektivitas 100 persen?
 
>> Dari makalah presentasi Menko Perekonomian terlihat bahwa angka yang digunakan
>> adalah berdasarkan tingkat efektivitas 100 persen. Ini berarti telah terjadi kesalahan
>> persepsi di kalangan pengambil kebijakan bahwa skema kompensasi betul-betul
>> mengangkat orang miskin. Kesalahannya sederhana: Pak Menteri mendapatkan angka
>> yang tidak sesuai dengan kondisi di lapangan.
[...]
 

Ternyata itu merujuk tulisan sebelumnya :
 
Kajian LPEM soal Kenaikan Harga BBM dan Kemiskinan
Mohamad Ikhsan
[...]
>> Siapa yang dimenangkan dan dikalahkan akibat kebijakan ini?
 
>> Kami juga melakukan simulasi untuk melihat dampak distribusi pendapatan subsidi BBM.
>> Secara logis mengingat distribusi subsidi BBM lebih banyak dinikmati kelompok keluarga
>> mampu, sehingga pencabutan subsidi akan memperbaiki distribusi pendapatan, tetapi
>> meningkatkan kemiskinan. Pencabutan subsidi dengan kompensasi akan memperbaiki
>> distribusi pendapatan, sekaligus penurunan tingkat kemiskinan.
 
>> Yang paling dimenangkan dari kebijakan ini adalah rumah tangga miskin yang
>> mendapatkan kompensasi dan yang paling dirugikan sebetulnya kelompok pendapatan
>> menengah, yaitu kelompok kelas pendapatan 40 persen sampai 60 persen teratas. Kalau
>> mereka membayar pajak pendapatan rumah tangga ini sebetulnya sudah terkompensasi
>> dengan kenaikan pendapatan tidak kena pajak sebesar 300 persen sejak Januari 2005.
[...]
 
>> Lalu karena keluarga ini mendapatkan beras untuk keluarga miskin (raskin) 20 kilogram
>> dan membayar hanya Rp 1.000 per kilogram, keluarga ini secara implisit mendapat transfer
>> sebesar 20 x (Rp 2.800 - Rp 1.000) = Rp 36.000 per bulan. Kalaupun beras yang diterima
>> hanya 10 kilogram, transfer yang diterima adalah Rp 18.000 per bulan dan jumlahnya
>> masih lebih besar dari kenaikan biaya tersebut.
[...]
 
 
Jadi yang benar yang mana ?
Saya kudu pesimis atawa optimis ? 
 
salam,


GTS <pdifti-PFVPDdsesP7MDBMIYFQBmryscVyMRj84@xxxxxxxxxxxxxxxx> wrote:
Aduh kok pesimis pisan euy.
Rasanya masih banyak hal-hal baik pada bangsa kita yang bisa ditiru oleh
bangsa lain, contohnya dengan memberikan ke M'sia berupa pulau-pulau yang
diingini oleh mereka, lalu memberikan kemerdekaan kepada timor timur,
mungkin akan menyusul propinsi-propinsi lainnya yang akan menjadi negara
yang merdeka dan berdaulat.
Bukankah itu jiwa besar sebuah bangsa yang harus ditiru oleh bangsa-bangsa
lain ? Amerika saja tidak punya jiwa seperti itu, mereka malah senang
mengobok-obok negara orang, termasuk indonesia.


--
Milis Internal alumni ITB Bandung, angkatan 1977
Yayasan ITB 77
Yayasan Bhakti Ganesha
Bank Niaga Cabang Jakarta Tebet
Rekg No.025.01.23831.00.8

BCA KCP - Tebet
Rekg No.092.3000850

BNI Cabang Tebet
Rekg No.1175 9942

Webnews & Online archive:
http://itb77-news.bhaktiganesha.or.id


Do you Yahoo!?
Yahoo! Small Business - Try our new resources site!
<Prev in Thread] Current Thread [Next in Thread>
Google Custom Search

News | FAQ | advertise