logo       

Indonesia vs Malaysia: msg#00011

org.region.indonesia.bandung.itb-77

Subject: Indonesia vs Malaysia

Kebetulan ketika ramai-ramainya kasus Ambalat saya lagi disuruh ke Malaysia
untuk melihat-lihat pendidikan di sana. Ketika Jakarta ribut-ribut ramai
bendera Malaysia, saya perhatikan mereka tenang-tenag aja tuh. Secara
pribadi saya gondok dengan Malaysia yang mau ngambil harta karun NKRI, dan
jelas berpihak kepada NKRI untuk mempertahankan wilayah tersebut. Selain
harus terus ngotot (waktunya TNI unjuk gigi !!), tentunya agar bisa hidup
berbangsa kita harus patuh dengan aturan/hukum-hukum yang berlaku, dan ini
hanya bisa dilakukan oleh bangsa yang berpendidikan.

Terlampir adalah tulisan rekan saya diskusi yang membandingkan Indonesia
dengan Malaysia, saya rasa pesan yang ada pada tulisan ini bermanfaat buat
kita angkatan 77. Enjoy ....

Salam
DD


===

Makin hari rasanya ogut makin merasa bego aja.
Th 70-an, mhs malayasia antri belajar di Universitas2
di Indonesia, mereka bangga bisa kuliah dan lulus dari
ITB, UNPAD, UI, IAIN dsb.. Lalu kemudian, dosen-dosen
kita banyak dipinjam Universitas di Malayasia. Kini?,
kuliah di itb/unpad/iu dsb, dibayarpun kalo utk kuliah
betulan, ogah!, kecuali utk program pertukaran atau
kuliah piknik/rekreasi. Khabarnya hanya satu saja yg
masih banyak mhsnya di Ind yaitu di IAIN. Saat ini
Universitas2 di Malayasia jauh lebih bermutu ketimbang
di Indonesia.

Mulai thn 70-an pula guru2 SMA dari Ind "dipinjam"
M'sia, tentu guru pilihan, sebagian malah keterusan
dan tinggal disana, jadi Guru di M'sia secara
permanent.
Saat ini Sekolah-sekolah di M'sia, tak satupun ada
sekolah favorit gila-gilaan, karena hamper merata dan
jauh lebih bermutu dari Indonesia, Namun katanya,..
Bakat alam anak Indonesia masih bisa bersaing!

Anda yang muda2 mesti tahu nih, mahasiswa M'sia yg
belajar di Indonesia termasuk mahasiswa yang dijadikan
andalan, karena itu mereka sangat dicukupi segala
kebutuhan kuliah dan hidupnya selama di Indonesia.
Tapi yg namanya sangat dicukupi, jauh lebih rendah
ketimbang yang sangat dicukupi utk ukuran Mhs
Indonesia. Kalo sekarang ogut berani bilang, mereka
saat itu katagori "Prihatin".

Angkatan 70-an di Malayasia itulah, sebagai
pionir-pionir Pengembang SDM Malayasia. Tentunya
mereka sdh melahirkan murid2nya, .. kira2 angkatan
80-an. Nah angkatan 80-an itulah yang sekarang lagi
hot2 nya dan sdg dominan di Malayasia. (Angkatan 70-an
sedang berada di puncak dan segera parkir).

Angkatan 80-an di Malayasia jauh lebih disiapkan
dibandingkan angkatan 70-an, karena kondisi negaranya
memang lebih memungkinkan. Jadi dlm 10 thn, SDM mereka
jauh lbh membaik, komo mun dibandingkeun jeung
Indonesia mah. (ini tanpa maksud merendahkan ya).

Entah benar atau ngga, katanya banyak juga
konsep-konsep pengelolaan yang lahir di Indonesia tapi
tewas dinegri sendiri, malah berkembang di negri jiran
itu. Sebut saja konsep PIR (Perkebunan Inti Rakyat),
Perusahaan Negara Strategis, Pertamina adalah Gurunya
Petronas, tapi saat ini Pertamina sdh semakin kacau
balau dan sampai hari ini masih saja ada kasus kasus
yang merugikan Negara yang bikin otak kita berfikir
habis, sementara Petronas yang bikin gedung dengan
menara tertinggi itu, memiliki saham diberbagai
perusahan di berbagai negri.

Dongeng itu belum cukup. Bahkan Tentara Malayasia yang
baru saja lepas konfrontasi dengan Indonesia, pada
belajar dan berlatih sbg pasukan elit di Indonesia,
khabarnya mereka waktu itu terhitung tentara lembek
manja, maklum memang karena kalo berantem dng Negara
lain, akan dibantu Inggris.


Sebelum krismon melabrak dan menggulung, Indonesia
masuk kandidat macan asia. Saat mengalami Booming
minyak, Indonesia juga mengalaminya (padahal waktu itu
harga minyak tak setinggi sekarang). Sayangnya, kita
terus saja berhutang untuk mengejar "kemakmuran"
sehingga kita jadi kecanduan, maksudnya sebagian kita
yang makmur.
Apa yang dilakukan di Malayasia?. Saat menikmati
"booming" minyak, mereka mempersiapkan petronas
menjadi perusahaan minyak kelas dunia dan berkiprah
dimana-mana. Berhutang? Sy krg tahu, tapi nampaknya
Malayasia sangat hati2 soal hutang walaupun tak anti
spt India.

Sektor Perbankan, di Malayasia sangat berperan sebagai
jantung yang memompakan darah keseluruh tubuh
perekonomian. Bahkan mereka mampu membeli Bank di
Indonesia yang rawat inap di BPPN (ntah cerdik apa
ketipu?). Di Indonesia, pada saat puncak pertumbuhan
ekonomi dan meriahnya perbankan, ternyata menjadi
tempat korupsi rame-rame, sbg alat pompa darah tetapi
hanya utk "sebagian tubuh" yaitu perusahaan2 kakap
bahkan diantaranya utk grupnya sendiri. Atau dengan
kerjasama yang luar biasa, nilai jaminan di-markup,
shg mendapat pinjaman jauh diatas nilai jaminan yang
sebenarnya. Disini lapangan korupsi sangat meriah,
kalangan swasta kakap dengan para pejabat bank (tentu
dari mulai BI sampai operator Bank yg melayani dunia
usaha).Hasilnya?. Utang-utang mereka disaat krismon,
saat ini jadi utang Negara. Kok bisa?. Karena uang
yang dipinjamkan oleh bank, berasal dari BI yang
berasal dari Pinjaman luar negri. Jadi wal hasil
bukannya alat pompa darah tetapi penyedot darah!.
Siapa yang menyedot darah itu?, sebagian sampai saat
ini masih sangat makmur dan makin berkibar bahkan
dalam skala dunia. Sebagian, tadinya akan dilacak
dinegri singa. Tapi SBY terlalu naif, dia fikir negri
singa adalah sahabat. Padahal, sang tetangga memang
sengaja mencari keuntungan dari situasi korup dirumah
kita, dengan mengatakan: "Urus aja rumah tangga anda",
jangan mikir ekstradisi segala (itu kan sumber
kantung darah gue). Duit hasil nyolong dinegri singa
sangat haram, akan menjadi halal kalau nyolongnya di
Indonesia, dibawa kesana.

Jumlah Hutang Indonesia dan bunganya, saat ini sangat
disumbang oleh kasus-kasus gila tadi, sangat membebani
anggaran belanja. Sehingga sejak beberapa tahun lalu
pontang pantinglah mencari cara untuk mengurangi beban
atau menambah pendapatan.Diantaranya, hapuskan
subsidi!. Khabarnya, menaikan BBM sebetulnya bukan
mengurangi subsidi tapi menambah penghasilan, entah
mana yang benar. Tapi yang lebih penting, kita jangan
pernah lupa bahwa beban negara saat ini akibat
gila-gilaan tadi. Tapi saat ini nampaknya kita sudah
lupa dengan para penghisap darah yang sangat makmur
itu. Koruptor baru harus diberantas, tapi jangan lupa
koruptor yang jelas-jelas sdh membebani. Mustinya kita
teriak: "Uber terus para penghisap itu!". Tapi suara
itu tak pernah kita dengar!, kita cuma debat harga BBM
naik bisa dimaklumi, lawan membebani rakyat, itu sih
Cuma ngomongin dilema.

Ogut sih menilai bahwa kita masih saja bisa dikibulin,
digiring lalu lupa dan cape kelelahan. Kualitas
pemerintahan itu takan jauh dari kualitas Masyarakat.
Kalau kita ingin Pemerintah bersih cerdas,
.............. yah masyarakatnya harus bersih cerdas!,
memangnya pemerintah itu berasal dari mana?. Kan bukan
dari India.
Kenapa Malayasia berani amat ngusik soal kedaulatan?,
waktu Sipadan dan Ligitan dicoret dari peta rumah
kita, rasanya empuk betul itu prosesnya, maju ke
mahkamah Internasional lalu kalah, lalu geus we kitu,
tak ada ada reaksi yang memadai baik pemerintah maupun
rakyatnya (ogut juga Cuma manggut2 baca koran, oh
kalah!). Kalau kita berfikir kotor bisa juga:"Jangan
jangan ada yang main mata-duitan dng Sipadan-Ligitan".
Mungkin M'sia coba-coba lagi dengan gudang minyak
ambalat, siapa tahu bisa di-"SIPADAN-LIGITAN"-kan.
Kalau kita urut cerita dari awal tulisan ini, memang
kita serba ketinggalan, kalau ketinggalan dalam banyak
hal, bisa diasumsikan lebih Lemah!. makanya dalam
banyak hal Singapore dan Malayasia begitu berani
melecehkan kita. Soal ambalat, masyarakat & pemerintah
sekarang sih reaksinya terhitung lumayan (walaupun
hasil akhirnya kayak apa? Blm ketahuan).

Ilegal Logging yang sangat merusak lingkungan dan
kantong duit eh Cukongnya dari Tetangga + Tim Lokal
yang kuat. TKI ga digajih juragannya diuber-uber. Mau
nguber Pengemplang Utang Negara dirumah tetangga, eh
dikatain:"Urus aja rumah anda dulu". Naikin harga BBM
ditolak dimana-mana, Ga Naikin BBM dari mana lagi cari
duit. Kalau harga bensin dibawah harga dunia, eh malah
diangkutin keluar, bikin perut tambah buncit aja kayak
mobil tangki. Korupsi ga mereda juga. Mitra ngurusin
negara malah berantem kayak Preman aja. Tapi yang
paling asyik, semua merasa paling pinter!, he....he.
Entah Isu mana dikuatkan dan dilemahkan karena
semuanya kelas berat! Tapi yang penting.....
------ JANGAN LUPAKAN PENGHISAP DARAH YANG JELAS-JELAS
SUDAH BIKIN SENGSARA -----------, nasihat
terakhir, mau lebih maju?: "Berbarislah yang rapih dan
jangan bego!". Kejar masyarakat negri tetangga!

Salam
DD





--
Milis Internal alumni ITB Bandung, angkatan 1977
Yayasan ITB 77
Yayasan Bhakti Ganesha
Bank Niaga Cabang Jakarta Tebet
Rekg No.025.01.23831.00.8

BCA KCP - Tebet
Rekg No.092.3000850

BNI Cabang Tebet
Rekg No.1175 9942

Webnews & Online archive:
http://itb77-news.bhaktiganesha.or.id




<Prev in Thread] Current Thread [Next in Thread>
Google Custom Search

News | FAQ | advertise