|
|
Re: Hitam, siapa takut ?, Re: Pertemuan 16 Januari: msg#00107
org.region.indonesia.bandung.itb-77
|
Subject: |
Re: Hitam, siapa takut ?, Re: Pertemuan 16 Januari |
Perhatian kakak-kakak itu, dari dulu kok hanya kepada mereka-mereka yang berada di lingkar kekuasaan, di pusat negri ini. Seimbang dong, ada juga perhatian bagi mereka yang rela berada di luar ring kekuasaan, mereka yang rela berada di remote area. Karena negri kita bukan hanya Jakarta.
Banyak sekali survival teman-teman yang tak terekspose, namun mereka tetap ikut andil menjaga sendi-sendi kehidupan bernegara, demi NKRI. Dan mereka tersebar di seluruh pelosok, menjadi guru, menjadi petani, menjadi perangkat desa atau RW/RT, menjadi penyuluh pertanian, terpencil di tengah rig di laut lepas, dan yang sendirian menelusuri gunung-gunung menginstalasi tower [telekomunikasi, minyak atau tenaga listrik]. Kebanyakan dari mereka tak terjangkau oleh pemberitaan, sehingga lepas dari perhatian untuk dikembangkan.
Jika perhatian seimbang, dengan demikian, yang namanya Indonesia itu benar-benar terbentang dari Sabang sampai Merauke. Kejadian di Aceh, Alor, Poso, Nabire, Sampit, kasus-kasus IT-KPU di daerah, kasus-kasus Newmont, lepasnya pulau Sipadan dan Ligitan, kasus-kasus di Freeport ataupun ketidak tahuan kita akan aktivitas di Natuna, itu peringatan bagi kita semua, bahwa Indonesia bukan hanya seputar Jakarta.
Pengin tahu urusan penting di sekitar Jakarta ? Itu hanya seputar sabun dan odol pemutih gigi belaka. Hitam, siapa takut ?
salam,
Mustafa Umar <mustafa-Vvu/Et5mqsZopooqXcftPzeeU8AYn+TK@xxxxxxxxxxxxxxxx> wrote:
Kalau 15 Januari sih ada Malari. Tapi tahunnya bukan 78.
Kalau gak salah 16 Januari 78 ada deklarasi tidak mempercayai lagi Soeharto sbg presiden. Yang ngomong antara lain Wimar Witoelar. Betul nggak ya? Saat itu angkatan 77, adalah angkatan paling "bontot" di ITB, sebagaimana bontotnya Djasli di pertemuan 16 Jan tsb.
Kalau melihat point-point pertemuan 16 Januari, tampaknya hal tersebut menjadi kegelisahan banyak orang, termasuk kegelisahan kita-kita juga. Ide untuk solusinya juga sudah cukup banyak disampaikan dalam pertemuan tsb, tinggal dipilih mana yang paling bisa dan efektif untuk dilakukan. Perbaikan sekecil apapun yang kita lakukan pasti punya kontribusi terhadap perbaikan secara "besar". Kalau pake istilahnya A Gym, lakukan sekarang
juga, dimulai dari diri sendiri, dimulai dari hal-hal kecil. Kalau pake istilah lain adalah
continuous improvement. Terus menerus melakukan perbaikan, dan menghargai setiap perbaikan, sekecil apapun. -- Mustafa Umar HP : 0816 62 4557
---------- Original Message ----------- From: "Djasli Djamarus" To: Sent: Mon, 17 Jan 2005 18:35:31 +0700 Subject: [itb77] Pertemuan 16 Januari
> Temans 77 > > Minggu 16 Januari 2005 (siapa ingat 16 Januari 78 ada apa ?), saya ikut > nimbrung dalam suatu pertemuan yang saya karang namanya Student Center > Summit (mayoritas hadirin adalah kakak-kakak kita yang sering ngumpul di > Student Center, tetapi ada juga ada alumni Salemba dan Sukolilo). > Bisa jadi karena relatif "bontot", saya ditugaskan nyatet dan lapor kepada > mereka (sudah saya kerjakan). Dan karena saya juga berharap banyak kepada > temans 77
, tidak ada salahnya catatan saya ini, saya bocorkan disini. > > Setelah membaca
catatan ini, pakailah prinsip ambil yang baik tinggalkan > yang buruk (Awas prinsip ini tidak boleh dipakai kalau sembahyang Jumat, > "Ambil sendal yang baik tinggal kan yang buruk" ..he .. he ) > > Salam > DD > > === > > Resume Student Center Summit > > Jakarta, 16 Januari 2004 > > (Ditulis oleh Djasli) > > Refleksi: > > 1. Tidak terlihat komitmen dari politikus dalam membangun Bangsa > > 2. Orang-orang pinter belum dapat membawa suasana kehidupan yang lebih > baik. Bicara banyak tetapi kenyataannya tidak ada > > 3. Kondisi birokrasi yang menyedihkan. Birokrasi sangat terlambat dalam > mereformasi diri. > > 4. KKN tetap berjalan, tidak ada penegakkan hukum, pengangkatan pejabat > hanya deal politik bukan merit sistem &g
t; > 5. Sebentar lagi akan terjadi dagang sapi untuk eselon I dan juga CEO > BUMN
(tarif 10 - 20 Milyar) > > 6. Banyak pejabat yang hanya rent seeker. > > 7. Apakah birokrasi bisa mereformasi diri, pada hal ada orang-orang > senayan yang seringkali mengarahkan birokrasi pada arah yang salah > > 8. Terjadi dagang sapi antara politikus dengan birokrasi. > > 9. Legislatif tidak lebih baik dari birokrat > > 10. Desentralisasi kok menyebabkan kenaikan anggaran ? > > 11. LSM juga tidak bersih > > 12. Harus ada value nasional yang mengarahkan bangsa ini > > 13. Keberanian menghadapi tembok birokrasi/hukum dll harus di encourage > terus > > 14. Hampir semua orang tahu masalah, tetapi ada gap antara knowledge dengan > action > > 15. Berbuat sesuatu tidak cukup, tetapi harus bebrbuat sesuatu yang lebih > baik > >
16. Ada kesalahan sistem dalam: > > a.. menempatkan posisi birokrat, seharusnya
birokrasi sebagai menangani > administrasi pembangunan, bukan pelaksana proyek > b.. pembiayaan partai politik. Harusnya partai politik jugamendapat > anggaran, sehingga tidak memeras birokrat dan BUMN. > 17. Politik sekarang tidak jauh berbeda dengan tahun 1978, ketika Pak Harto > berkuasa > > 18. Politik harus punya platform yang jelas, sekarang politik tidak punya > ideologi > > 19. Partai berideologi tidak laku > > 20. Bangsa ini lemah dalam karakter, integritas rendah > > 21. Demi mengisi APBN, BUMN yang sehat dijualin, siapa yang akan bantu UKM > yang belum siap untuk globalisasi > > 22. Generasi ini hopeless. Hanya dengan membangun generasi muda, 20 tahun > lagi MUNGKIN bangsa ini bisa bangkit > > 23. Pemuka agama juga banyak yang ngaco > > 24
. Dunia pesantren juga sudah terkontaminasi > > 25. Pada semua bidang teknologi
bangsa ini Cuma konsumen, beda dengan Cina, > Malaysia, dan sebentar lagi Vietnam > > 26. Media juga tidak bertanggung jawab. Terlalu mengarah pada apa yang bisa > dijual (hiburan, bahkan bencana pun dijual), tidak peduli pada pendidikan > publik. > > Tindak Lanjut: > > 1. Reformasi mulai dari pribadi-pribadi > > 2. Masing-masing harus jadi virus perubahan, bila diperlukan minta > dukungan teman (bukan kenalan) melalui network yang ada ini > > 3. Perlu diskusi kelanjutan untuk membicarakan masalah-masalah > spesifik, lalu hasil pembicaraan diusulkan kepada yang mempunyai kekuatan > dan komit pada bangsa ini, untuk mempengaruhi kebijakan politik > > 4. Pemikiran ini harus juga dihubungkan dengan pemikiran pihak lain dan > > 5. Perlu stamina, perlu capital untuk b
ergerak bersama > > 6. Ambil bagian dalam: > > a.. Munas Partai
Politik > b.. PILKADAL > 7. Reformasi harus diikuti dengan Rekonsialiasi dan Kebenaran (contoh > Afrika Selatan) > > 8. Konkritkan pemikiran-pemikiran > > 9. Kelompok ini jadikan sebagai sumber informasi > > 10. Agendakan kegiatan bersama > > 11. Janagan enggan melakukan langkah kecil untuk suatu perubahan > > 12. Pilih masalah yang mendesak untuk agenda berikutnya > > === > > -- > Milis Internal alumni ITB Bandung, angkatan 1977 > Yayasan ITB 77 > Yayasan Bhakti Ganesha > Bank Niaga Cabang Jakarta Tebet > Rekg No.025.01.23831.00.8 > > BCA KCP - Tebet > Rekg No.092.3000850 > > BNI Cabang Tebet > Rekg No.1175 9942 > > Webnews & Online archive: > http://itb77-news.bhaktiganesha.or.id -
------ End of Original Message -------
-- Milis Internal alumni ITB Bandung,
angkatan 1977 Yayasan ITB 77 Yayasan Bhakti Ganesha Bank Niaga Cabang Jakarta Tebet Rekg No.025.01.23831.00.8
BCA KCP - Tebet Rekg No.092.3000850
BNI Cabang Tebet Rekg No.1175 9942
Webnews & Online archive: http://itb77-news.bhaktiganesha.or.id
Do you Yahoo!?
Read only the mail you want - Yahoo! Mail SpamGuard.
|
|