logo       

Penanggulangan Bencana Aceh: msg#00143

org.region.indonesia.bandung.itb-77

Subject: Penanggulangan Bencana Aceh

Rekans ITB 77

Tadi malam saya mengikuti pertemuan yang diselenggarakan oleh Yayasan
Mandiri (YM, bossnya bernama D. Agus Poernomo - ada di milist ini juga),
yang membahas apa yang dapat dilakukan oleh YM.

Kalau saya tidak salah mengerti YM berpendapat bahwa dalam penanggulangan
bencana yang seperti ini perlu dilakukan beberapa tindakan seperti yang
dituliskan oleh Gegep (Hendra Setiawan - KI 76), yang saya bocorkan
dibawah ini.

Selanjutnya juga terungkap pada umumnya bantuan yang bersifat sangat
darurat akan datang berbondong-bondong diawal bencana, seperti yang kita
lihat saat ini. Pada saat ini sebetulnya yang sangat diperlukan adalah
manajemen pengaturan agar bantuan betul-betul sampai ke pihak yang
memerlukan (berdasarkan pengalaman sering yang dapat makanan adalah
mereka yang ngantri, pada hal mereka yang sangat membutuhkan tidak lagi
sanggup ngantri). Jadi perlu pemetaan daerah mana perlu apa.

Selanjutnya apabila masa ini telah berlalu diperlukan tindakan pasca
bencana yang bersifat teknis, yaitu diperlukan air bersih, sanitasi,
perumahan darurat bagi para korban. Pada saat ini seringkali
bantuan/perhatian sudah mengendur.

Jadi karena hal tersebut saya kira warga ITB (terutama bapak/ibu yang
belum selesai sekolahnya) mestinya kita bisa berperan lebih banyak. Pada
saat ini seringkali diperlukan peralatan tukang seperti cangkul, drum,
dan juga rancangan mck/bangunan sederhana.

Setelah itu akan ada masalah sosial, yaitu akan banyak anak-anak yatim
piatu yang perlu disantuni dan dibantu keberlangsungan sekolahnya, jadi
diperlukan semacam program foster parent.

Nah teman-teman ... jadi jalan saudara-saudara kita di ACEH/SUMUT masih
panjang ... jadi tolong bantu mereka ...

Salam
DD

===
Menindak-lanjuti pertemuan tadi malam di Kemang.
Berdasarkan pengalaman sewaktu di Satgas Penanggulangan Penanggulangan
Bencana Alam (DM/KM ITB 1977-1979), berikut ini hal-hal (operasi
penanggulangan) yang mungkin relevan dan dapat menjadi masukan untuk
rencana aksi penanggungan bencana gempa dan tsunami di wilayah Sumatera
bagian utara.
Berdasarkan daftar operasi ini, dapat dibuat tabel untuk identifikasi
macam bantuan yang diperlukan untuk tiap langkah operasi (pada kolom
kedua), dengan cara prediksi dan/atau inventarisasi di lapangan.

Operasi Penanggulangan :

1. Pencarian dan penyelamatan korban, termasuk evakuasi korban (yang
hidup dan juga yang meninggal).
o Untuk operasionalnya mengikuti SOP (standard operation procedure)
yang telah ada dalam rangka SAR
o Tahap operasi ini dilakukan pada periode awal bencana sampai
seminggu setelah bencana, mungkin lebih dari seminggu tergantung situasi
lapangan.

2.Pertolongan pertama korban hidup (sakit/luka/cedera)
o Untuk operasionalnya mengikuti SOP yang telah ada, baik dalam
rangka SAR maupun P3K (antara lain ada di PMI, DEPKES, Rumah Sakit,
Pramuka)
o Pencatatan data korban
o Pemindahan korban ke Rumah Sakit ? Rumah Sakit yang memiliki
kapasitas yang lebih memadai. Hal ini mengingat pada hari-hari awal
setelah bencana, sering korban ditangani pada ?RS? darurat dan atau
Puskemas. Untuk ini, perlu konsolidasi/mobilisasi RS-RS di kota-kota
sekitar daerah bencana. Untuk persiapan/ pelaksanaannya perlu koordinasi
dengan DEPKES.
o Untuk evakuasi korban perlu mobilisasi kendaraan ambulan dan
kendaraan yang dimodifikasi untuk berfungsi sbg ambulan.
o Tahap operasi ini dilakukan pada periode awal (bersamaan dengan
operasi SAR) sampai beberapa minggu, tergantung situasi bencana dan
situasi korban.

3.Penanganan jenazah korban meninggal
o Untuk operasionalnya mengikuti SOP yang telah ada, termasuk
pencatatan data identifikasi jenazah.
o Pelayanan informasi kepada keluarga almarhum.
o Pengurusan jenazah mengikuti tatacara agama dan adat (pengurusan
jenazah pada keadaan darurat), dan pelayanan kepada pihak keluarga yang
akan mengurus jenazah (jika akan diurus sendiri oleh keluarga masing-
masing)
o Pencatatan data identifikasi jenazah

4.Konsolidasi manajemen penanggulangan bencana
o Pengendalian operasi
o Koordinasi personil, baik dari unit-unit birokrasi, polisi,
militer, maupun para sukarelawan dan penduduk setempat
o Koordinasi data dan informasi serta pengelolaan komunikasi
o Koordinasi pengumpulan bantuan, penerimaan bantuan, penampungan
(gudang), dan distribusi bantuan. Termasuk penyampaian informasi mengenai
daftar jenis bantuan yang diperlukan.

5.Penetapan kawasan bahaya (jika diperkirakan akan terjadi bencana
susulan dan atau bencana sekunder)

6.Penanganan pengungsi dan pengadaan kebutuhan dasar hidup.
o Evakuasi pengungsi yang selamat
o Penetapan tempat-tempat pengungsian
o Penyiapan tempat pengungsian
a.Tempat tinggal sementara : mobilisasi gedung/rumah, tenda darurat.
b.Pengaturan pembagian dan penempatan pengungsi, termasuk
pendataan/pencatatan dan pengangkutan para pengungsi.
c.Penyediaan air minum. Sering sulit untuk memasak air dalam jumlah
besar, sehingga perlu diadakan alat penyaring air dan/atau kaporit. Juga
sering sulit untuk mendapatkan tempat penyimpan stok air minum dalam
jumlah besar (tanki air, jeringen, drum, dsb), dan tempat air minum untuk
disimpan oleh masing-masing pengungsi (jeringen, botol air minum, termos,
dsb). Jika dimungkinkan perlu dibuat sumur-sumur baru (sebaiknya sumur
pantek).
d.Penyediaan makanan. Pada situasi yang sulit untuk memasak (terbatasnya
kompor dan BBM serta tempat untuk dijadikan dapur), maka perlu disediakan
makanan yang siap makan dan berkalori tinggi (misalnya biscuit, roti, kue
kering, korma, dsb), terutama pada periode minggu pertama setelah bencana
dan/atau pada situasi yg tidak memungkinkan untuk mengadakan dapur umum.
e.Penyediaan obat2an dan tenaga medis (dokter dan/atau para medis). Untuk
ini perlu mengacu pada prediksi jenis-jenis penyakit dan gangguan
kesehatan yang potensial terjangkit pada suatu bencana, termasuk
pencegahan timbulnya wabah (mengacu pada PMI dan DEPKES).
f.Penyediaan kakus, termasuk air bersih. Pada situasi yang jumlah
pengungsi cukup besar, apalagi jika akan tinggal cukup lama di tempat
penampungan pengungsi, perlu diantisipasi bahwa kakus yang ada tidak
cukup kapasitasnya sehingga menimbulkan sanitasi yang buruk dan mengancam
pada kesehatan penduduk dan pengungsi. Untuk itu perlu disediakan kakus-
kakus darurat, termasuk air pembilasnya. Jika dimungkinkan perlu dibuat
sumur-sumur baru (sebaiknya sumur pantek).
g.Penyediaan tempat sampah dan pengangkutannya. Jika tidak memungkinkan
diangkut, maka lebih baik ditimbun (dibuat lubang pada tanah sbg tempat
sampah, yg dalam 2 hari akan penuh, lalu ditimbun)
h.Penyediaan tempat mandi, termasuk air bersih dan sabun.
i.Penyediaan pakaian, terutama pada situasi dimana pengungsi tidak sempat
membawa pakaian ketika bencana terjadi. Untuk tempat penampungan
pengungsi yang terbuka (tertepa angin), dan/atau di daerah dingin,
dan/atau musim hujan, maka perlu bantuan berupa selimut/sarung.
j.Penyediaan sarana untuk mencuci pakaian dan tempat menjemur.

7.Pengamanan harta milik korban pada kawasan yang ?dikosongkan? (yang
ditinggal oleh korban/pengungsi).

8.Inventarisasi kerusakan dan kerugian.

9.Pemulihan sarana dan prasarana pemukiman, terutama
o Sekolah (jika belum bisa permanen, maka dibuat bangunan sementara)
o Puskemas
o Tempat ibadah


CATATAN :
Untuk wilayah NAD (Aceh) perlu dipertimbangkan kemungkinan adanya aturan
prosedur birokrasi/militer mengingat situasi sosial politik disana
sekarang ini.




--
Milis Internal alumni ITB Bandung, angkatan 1977
Yayasan ITB 77
Yayasan Bhakti Ganesha
Bank Niaga Cabang Jakarta Tebet
Rekg No.025.01.23831.00.8

BCA KCP - Tebet
Rekg No.092.3000850

BNI Cabang Tebet
Rekg No.1175 9942

Webnews & Online archive:
http://itb77-news.bhaktiganesha.or.id




<Prev in Thread] Current Thread [Next in Thread>
Google Custom Search

News | FAQ | advertise