----- Original Message -----
Sent: Tuesday, December 07, 2004 5:49
PM
Subject: [itb77] Re: Fw: [Telematika]
Email Berita : Infrastruktur, 'Lokomotif' yang Terbengkalai
Teman kita yg di PT. KAI masih mngikuti milis ini ?
--[Begin
forwarded message]--
Date: Mon, 6 Dec 2004 10:00:42 +0700
From:
To: ,
Subject: [Telematika] Email Berita :
Infrastruktur, 'Lokomotif' yang
Terbengkalai
Berikut kiriman
berita dari teman Anda yang beralamat di:
rusdiah-4DLADJoJZZS8rHFcjEY/OA@xxxxxxxxxxxxxxxx
----------------------------------------
Pesan
Pengirim :
tahun 1939 zaman Belanda ada 6,811 km bentangan rel kereta
api dengan
1314 unit lokomotif, sedangkan saat ini tahun 2000 hanya sisa
4,030 km
dan 530 loko motif.. bener ngak sih... kalau begini bagaimana
mimpi
membangun mimpi serat optik dan lain sebagainya, karena
mempertahankan
yang ada saja sulit ? salam,
rr
----------------------------------------
![]()
Senin, 06 Desember 2004 00:00 WIB
Infrastruktur, 'Lokomotif'
yang Terbengkalai
PERSOALAN infrastruktur, setelah terpendam selama
beberapa tahun
terakhir, kini kembali muncul ke permukaan. Pemerintahan
SBY mengangkat
lagi isu ini sebagai prioritas pembangunan. Akankah proyek
ini berhasil?
Akhir November lalu, di perhelatan Konferensi Tingkat
Tinggi ASEAN di
Vientiene, Laos, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY)
secara
terang-terangan mencanangkan fokus pembangunan Indonesia lima
tahun
mendatang pada sektor infrastruktur.
Sektor yang sejak
terjadi krisis ekonomi di Indonesia sempat
terbengkalai, sehingga saat
ini sektor infrastruktur pula cenderung
menjadi penghambat kegiatan
perekonomian saat kita hendak bangkit.
[...]
Contoh Thailand
Terlepas dari kendala tersebut Yuke E Susiloputro,
arsitek lulusan
Southern California Institute yang juga Presiden Direktur
PT Lippo
Cikarang Tbk, pengelola kawasan industri di Cikarang
berpendapat,
pembangunan infrastruktur saat ini sebaiknya diawali pada
pembangunan
jalan.
Yuke menilai pembangunan telekomunikasi dan
teknologi di Indonesia saat
ini sudah cukup pesat dibanding pembangunan
jalan. Sehingga akan lebih
baik bila alokasi dana pembangunan
infrastruktur dialokasikan pada
pembangunan jalan, untuk memperlancar
kegiatan ekspor dan impor.
Pasalnya, saat ini meski di beberapa
lokasi di Indonesia sudah ada
kawasan industri dengan fasilitas yang
memilik standar internasional,
tetap kalah bersaing dengan negara
tetangga hanya karena akses ke
pelabuhan sangat buruk. Selain secara
fisik kondisinya semakin tidak
memadai, kemacetan juga merupakan hambatan
tersendiri.
Saya dulu ada kenalan karyawan PT KAI, yang tugasnya membangun rel
Citayam-Cibinong. Kata beliau, pendanaan untuk menambah panjang jalan kereta
api, sulit. Berbeda dengan pendanaan untuk menambah panjang jalan aspal untuk
mobil/motor. Karena, kata beliau, biasanya terkait dengan produk yang nanti
akan berjalan di jalan tersebut.
Mestinya, para pabrikan dan importir mobil/motor harus ikut "invest" untuk
menambah panjang jalan raya, agar produknya bukannya menambah kemacetan jalan
Tol, seperti sekarang ini.
Di sisi lain kalau dihitung-hitung, duit yang terkumpul dari dana STNK itu
banyak, loh. Kalau sehari SAMSAT Bandung melayani +/- 1500 perpanjangan STNK,
@ 500.000,-, sebulan berapa ? Mestinya jalan-jalan di kota Bandung
mulus-mulus. Nggak tahu kalau dana itu disubsidi silangkan ke sektor lain.
Pak Habibie dulu pernah punya rencana mau mengupgrade banyak bandar udara
di daerah-daerah agar pesawat produk PT DI bisa dioperasikan untuk mendukung
sarana perhubungan. Nggak tahu sekarang, gimana kelanjutannya.
Apakah kita masih ngimport lokomotif untuk kereta api ? Jika ya, harusnya
negeri yang punya pabrik lokomotif itu harusnya bisa mbantu pendanaan
penambahan jalan kereta. Jadi kayak Indosat/Telkom, mau jualan HP, ya harus
pasang tower dulu.
salam,
--
Do you Yahoo!?
Yahoo! Mail - now with 250MB free storage. Learn
more.