logo       

Re: Mhs perlu bantuan [was FW: [IA-ITB] Mohon Info IA ITB]: msg#00166

org.region.indonesia.bandung.itb-77

Subject: Re: Mhs perlu bantuan [was FW: [IA-ITB] Mohon Info IA ITB]

Alhamdullillah banyak teman2 di itb 77 yang tergolong "Orang Baik" dan
pastilah juga "Orang Beragama"...silahkan disimak artikel dr milis tetangga,
mungkin relevan dg subjectnya, kalau nggak ya dipaksain dikit... pumpung
bulan Ramadhan.
Salam, - Nanang

Subject: [suraukita] Orang Beragama atau Orang Baik? -Artikel yg Menarik


Orang Beragama atau Orang Baik?

Seorang lelaki berniat untuk menghabiskan seluruh waktunya untuk
beribadah. Seorang nenek yang merasa iba melihat kehidupannya membantunya
dengan membuatkan sebuah pondok kecil dan memberinya makan,sehingga lelaki
itu dapat beribadah dengan tenang..
>Setelah berjalan selama 20 tahun, si nenek ingin melihat kemajuan yang
telah dicapai lelaki itu. Ia memutuskan untuk mengujinya dengan seorang
wanita cantik. "Masuklah ke dalam pondok," katanya kepada wanita itu,
"Peluklah ia dan katakan 'Apa yang akan kita lakukan sekarang ?' "
>Maka wanita itu pun masuk ke dalam pondok dan melakukan apa yang
disarankan oleh si nenek. Lelaki itu menjadi sangat marah karena tindakan
yang tak sopan itu. Ia mengambil sapu dan mengusir wanita itu keluar dari
pondoknya.
>Ketika wanita itu kembali dan melaporkan apa yang terjadi, si nenek menjadi
marah. "Percuma saya memberi makan orang itu selama 20 tahun,"serunya.
"Ia tidak menunjukkan bahwa ia memahami kebutuhanmu,tidak bersedia untuk
membantumu ke luar dari kesalahanmu. Ia tidak perlu menyerah pada nafsu,
namun sekurang-kurangnya setelah sekian lama beribadah seharusnya ia
memiliki rasa kasih pada sesama."
> Apa yang menarik dari cerita diatas? Ternyata ada kesenjangan yang cukup
besar antara taat beribadah dengan memiliki budi pekerti yang luhur. Taat
beragama ternyata sama sekali tak menjamin perilaku seseorang.
> Ada banyak contoh yang dapat kita kemukakan disini.Anda pasti sudah
sering mendengar cerita mengenai guru mengaji yang suka memperkosa muridnya.
Seorang kawan yang rajin shalat lima waktu baru-baru ini di PHK dari
kantornya karena memalsukan dokumen. Seorang kawan yang berjilbab rapih
ternyata suka berselingkuh. Kawan yang lain sangat rajin ikut pengajian tapi
tak henti-hentinya menyakiti orang lain. Adapula kawan yang berkali-kali
menunaikan haji dan umrah tetapi terus melakukan korupsi di kantornya.
> Lantas dimana letak kesalahannya?
Saya kira persoalan utamanya adalah pada kesalahan cara berpikir. Banyak
orang yang memahami agama dalam pengertian ritual dan fiqih belaka. Dalam
konsep mereka, beragama berarti melakukan shalat, puasa, zakat, haji dan
melagukan (bukannya membaca) Alquran. Padahal esensi beragama bukan disitu.
Esensi beragama justru pada budi pekerti yang mulia. Kedua, agama sering
dipahami sebagai serangkaian peraturan dan larangan.
Dengan demikian makna agama telah tereduksi sedemikian rupa menjadi
kewajiban dan bukan kebutuhan. Agama diajarkan dengan pendekatan hukum
(outside-in), bukannya dengan pendekatan kebutuhan dan komitmen inside-out).
Ini menjauhkan agama dari makna sebenarnya yaitu sebagai sebuah sebuah cara
hidup (way of life), apalagi cara berpikir (way of thinking).
> Agama seharusnya dipahami sebagai sebuah kebutuhan tertinggi manusia. Kita
tidak beribadah karena surga dan neraka tetapi karena kita lapar secara
rohani. Kita beribadah karena kita menginginkan kesejukan dan kenikmatan
batin yang tiada taranya. Kita beribadah karena rindu untuk menyelami jiwa
sejati kita dan merasakan kehadiran Tuhan dalam keseharian kita. Kita
berbuat baik bukan karena takut tapi karena kita tak ingin melukai diri
kita sendiri dengan perbuatan yang jahat.
> Ada sebuah pengalaman menarik ketika saya bersekolah di London dulu.
Kali ini berkaitan dengan polisi. Berbeda dengan diIndonesia, bertemu dengan

polisi disana akan membuat perasaan kita aman dan tenteram. Bahkan
masyarakat Inggris memanggil polisi dengan panggilan kesayangan: Bobby.
Suatu ketika dompet saya yang berisi surat-surat penting dan sejumlah uang
hilang. Kemungkinan tertinggal di dalam taksi. Ini tentu membuat saya agak
panik, apalagi hal itu terjadi pada hari-hari pertama saya tinggal di
London. Tapi setelah memblokir kartu kredit dan sebagainya, sayapun
perlahan-lahan melupakan kejadian tersebut. Yang menarik, beberapa hari
kemudian, keluarga saya di Jakarta menerima surat dari kepolisian London
yang menyatakan bahwa saya dapat mengambil dompet tersebut di kantor
kepolisian setempat.
>Ketika datang kesana, saya dilayani dengan ramah. Polisi memberikan dompet
yang ternyata isinya masih lengkap. Ia juga memberikan kuitansi resmi berisi
biaya yang harus saya bayar sekitar 2,5 pound. Saking gembiranya, saya
memberikan selembar uang 5 pound sambil mengatakan, "Ambil saja
kembalinya." Anehnya, si polisi hanya tersenyum dan memberikan uang
kembalinya kepada saya seraya mengatakan bahwa itu bukan haknya. Sebelum
saya pergi, ia bahkan meminta saya untuk mengecek dompet itu baik-baik
seraya mengatakan bahwa kalau ada barang yang hilang ia bersedia membantu
saya untuk menemukannya.
> Hakekat keberagamaan sebetulnya adalah berbudi luhur. Karena itu orang
yang "beragama" seharusnya juga menjadi orang yang baik.
Itu semua ditunjukkan dengan integritas dan kejujuran yang tinggi serta
kemauan untuk menolong dan melayani sesama manusia.

> Sumber: Orang Beragama atau Orang Baik?
oleh Arvan Pradiansyah, direktur pengelola Institute for Leadership & Life
Management (ILM) & penulis buku Life is Beautiful



--
Milis Internal alumni ITB Bandung, angkatan 1977
Yayasan ITB 77
Yayasan Bhakti Ganesha
Bank Niaga Cabang Jakarta Tebet
Rekg No.025.01.23831.00.8

BCA KCP - Tebet
Rekg No.092.3000850

BNI Cabang Tebet
Rekg No.120.000000872.001

Webnews & Online archive:
http://itb77-news.bhaktiganesha.or.id




<Prev in Thread] Current Thread [Next in Thread>
Google Custom Search

News | FAQ | advertise