logo       

Re: PekanBaru !!: msg#00282

org.region.indonesia.bandung.itb-77

Subject: Re: PekanBaru !!

Lapor ke beliau? Lapor ke siapa,Eddy?
Money - laundering itu susah pembuktiannya, katanya lho. Apalagi yg punya duit pasti sudah melindungi dirinya dengan segala macam tax consultant, ahli stretching hukum, dll yang dibayar per jam untuk memelototi lobang2 peraturan dan undang2 yang bisa dimanfaatkan.
 
Logika berpikirnya kan begini ya : menurut bung Eddy, bank2 di Indonesia mengklaim dalam 2-3 th ini mereka tidak mengeluarkan kredit untk membangun ITC2, Kompleks Ruko dan Mall2 ini. Lalu darimana uangnya? Gitu,kan?
 
Asumsi kita, mereka pakai uang yang dulu dibawa lari ke luar negeri, istilah kerennya: capital flight. Terus mereka bangun mall2 dan ITC2 itu. Menurut gue, mereka menciptakan lapangan kerja di sektor konstruksi yang banyak melibatkan orang ( labor-intensive ).
 
Lalu, kalau misalnya jeblok nggak ada yg beli, biarin aja dia yg gigit jari, kan nggak pake uang kredit bank. Berarti nggak ada kredit macet. So, there is no bubbles to burst.
 
Lain dengan situasi sebelum krisis ketika yang dipakai jor2an untuk membangun segala macam apartemen dan office building pakai kredit lunak dari bank ( pinjaman dalam dollar tanpa collateral yg setara ).
 
Ketika ada glut dan rupiah melorot, mereka nggak sanggup bayar utang pokok sama bunganya ( atau memang niatnya mau ngemplang ) terpaksa Soeharto bela2in pakai BLBI yang ternyata juga kena dikerjain sama banker2 gombal tersebut.
 
Akibatnya, kitalah yg merana. Kalau ini dia pake duit sendiri, biarin aja. Kalau nggak laku ya syukurin aja....
Ini logika ala street-smart lho. Kalau ada yg punya data lebih ilmiah silakan berargumentasi...
 
Salam,
Amrie Noor
----- Original Message -----
From: Purnomo
Sent: Monday, May 31, 2004 4:04 PM
Subject: [itb77] PekanBaru !!

Pada hari Jumat  dan Sabtu (28-29 Mei 2004)   mas Agus Sosiawan dan  saya ( kebetulan saya sekalian meresmikan berdirinya Serikat Karyawan BII Cabang Pekanbaru)  berkunjung ke Pekanbaru Riau,  menemui beberapa teman  alumni  yang  ada disana.  Temu muka dengan  Feizal Karim (SI76 & Wakil Dinas Perhubungan Riau), Syafril Rivai (AR75&Konsultan), Budhi Agung (TM89&PNM) , Bambang Widiotomo (TI73 & Caltex)  dll.    Banyak  pembicaraan  yang  berguna untuk konsolidasi alumni,  namun intinya  para alumni ITB  menginginkan    adanya  suatu  manfaat  yang  didapat  dari  pada  hanya  sekedar  kongko-kongko.   Bahkan  mas Feizal  mengatakan,  banyak rekan2 yg berkata  untuk apa  dengan  IA  kalau akan  secara personal mereka bisa  sukses dan  dengan IA tidak bisa mendatangkan  suatu added-value.   Namun saya katakan   bahwa tak kenal satu sama lain,  maka tentu tidak ada yang  bisa diperbuat.  Nah kalau mungkin  saya kenal dengan Hengki atau Nurudin atau Sutedjo  atau Parulihan,  tentu kita bisa saling membantu . Dan itu pulalah  perlunya kita   banyak  teman, termasuk  kolega saya angkatan 77. Betul nggak Hengki.??.

Namun yang lebih  mengusik saya ketika di Pekanbaru  adalah  beberapa asumsi yang pernah saya explain  beberapa waktu yang  lalu  tentang  money-laundry.   Disepanjang jalan utama  Pekanbaru atau jalan2 arteri yang baru dibangun  berderet Ruko,  Mall  ataupun pertokoan yang lebih  banyak kosong  tanpa adanya aktivitas business. Bahkan dijalan Nangka yang sering disebut jalan Seribu Ruko,  lebih  banyak ruko yang kosong  atau sangat minim aktivitasnya.   Ruko2 yang  ratusan  jumlahnya sepanjang  jalan tembus/arteri  sama sekali  belum dipakai untuk  usaha,  namun mungkin hanya untuk saving. Bubble-development  bukannya tidak mungkin  mengarah ke  bubble-economical, yang dapat menjadi salah  satu  variable economic declining. Dengan keterbatasan  saya yg  bekerja di sector perbankan,  adalah mustahil  perbankan mau memberikan  modal investasi atau modal kerja  jika melihat potitioning  pembangunan  ruko  yang sama sekali tidak  valuable tersebut.  Dan jika dana perbankan digunakan untuk pembangunan ruko tersebut,  adalah  sangat  mustahil bisa kembali  dalam  waktu yang cepat.  Normal-Investor   mana yang mau menanamkan modalnya jika  internal rate of return nya  sangat lama  atau  bahkan tidak  tahu  kapan kembalinya.   Seorang  Amrie atau A.Z.A pun pasti  akan  berfikir  lebih  baik  untuk trading dari pada untuk investasi ,  yang dari segi secure sangat jauh memadainya.   Nah, satu-satunya  yang  ada dikepala  saya  adalah  dana tersebut pasti dari  sono  alias dana money-laundrey.  Dan  ketika  ini  saya diskusikan dengan  teman2 disana,  mereka  juga meng amini  dugaan tersebut.  Gimana  bang Amrie ??. Sudah  lapor  ke  beliau ?..

 

 

Eddy Purnomo MA-77

 

<Prev in Thread] Current Thread [Next in Thread>
Google Custom Search

News | FAQ | advertise