|
Lapor ke beliau? Lapor ke siapa,Eddy?
Money - laundering itu susah pembuktiannya, katanya
lho. Apalagi yg punya duit pasti sudah melindungi dirinya dengan segala macam
tax consultant, ahli stretching hukum, dll yang dibayar per jam untuk memelototi
lobang2 peraturan dan undang2 yang bisa dimanfaatkan.
Logika berpikirnya kan begini ya : menurut bung
Eddy, bank2 di Indonesia mengklaim dalam 2-3 th ini mereka tidak mengeluarkan
kredit untk membangun ITC2, Kompleks Ruko dan Mall2 ini. Lalu darimana uangnya?
Gitu,kan?
Asumsi kita, mereka pakai uang yang dulu dibawa
lari ke luar negeri, istilah kerennya: capital flight. Terus mereka bangun mall2
dan ITC2 itu. Menurut gue, mereka menciptakan lapangan kerja di sektor
konstruksi yang banyak melibatkan orang ( labor-intensive ).
Lalu, kalau misalnya jeblok nggak ada yg beli,
biarin aja dia yg gigit jari, kan nggak pake uang kredit bank. Berarti nggak ada
kredit macet. So, there is no bubbles to burst.
Lain dengan situasi sebelum krisis ketika yang
dipakai jor2an untuk membangun segala macam apartemen dan office building pakai
kredit lunak dari bank ( pinjaman dalam dollar tanpa collateral yg setara
).
Ketika ada glut dan rupiah melorot, mereka nggak
sanggup bayar utang pokok sama bunganya ( atau memang niatnya mau ngemplang )
terpaksa Soeharto bela2in pakai BLBI yang ternyata juga kena dikerjain sama
banker2 gombal tersebut.
Akibatnya, kitalah yg merana. Kalau ini dia pake
duit sendiri, biarin aja. Kalau nggak laku ya syukurin aja....
Ini logika ala street-smart lho. Kalau ada yg punya
data lebih ilmiah silakan berargumentasi...
Salam,
Amrie Noor
----- Original Message -----
Sent: Monday, May 31, 2004 4:04 PM
Subject: [itb77] PekanBaru !!
Pada hari Jumat dan Sabtu (28-29 Mei 2004) mas Agus Sosiawan dan saya ( kebetulan saya sekalian
meresmikan berdirinya Serikat Karyawan BII Cabang Pekanbaru) berkunjung ke Pekanbaru Riau, menemui beberapa teman alumni yang ada disana. Temu muka dengan Feizal Karim (SI76 & Wakil Dinas
Perhubungan Riau), Syafril Rivai (AR75&Konsultan), Budhi Agung
(TM89&PNM) , Bambang Widiotomo (TI73 & Caltex) dll. Banyak pembicaraan yang berguna untuk konsolidasi alumni, namun intinya para alumni ITB menginginkan adanya suatu manfaat yang didapat dari pada hanya sekedar kongko-kongko. Bahkan mas Feizal mengatakan, banyak rekan2 yg berkata untuk apa dengan IA kalau akan secara personal mereka bisa sukses dan dengan IA tidak bisa mendatangkan suatu added-value. Namun saya katakan bahwa tak kenal satu sama
lain, maka tentu tidak ada
yang bisa diperbuat. Nah kalau mungkin saya kenal dengan Hengki atau Nurudin
atau Sutedjo atau Parulihan, tentu kita bisa saling membantu . Dan
itu pulalah perlunya kita banyak teman, termasuk kolega saya angkatan 77. Betul nggak
Hengki.??.
Namun yang lebih mengusik saya ketika di Pekanbaru adalah beberapa asumsi yang pernah saya
explain beberapa waktu yang lalu tentang money-laundry. Disepanjang jalan utama Pekanbaru atau jalan2 arteri yang baru
dibangun berderet Ruko, Mall ataupun pertokoan yang lebih banyak kosong tanpa adanya aktivitas business.
Bahkan dijalan Nangka yang sering disebut jalan Seribu Ruko, lebih banyak ruko yang kosong atau sangat minim aktivitasnya. Ruko2 yang ratusan jumlahnya sepanjang jalan tembus/arteri sama sekali belum dipakai untuk usaha, namun mungkin hanya untuk saving. Bubble-development bukannya tidak mungkin mengarah ke bubble-economical, yang dapat menjadi
salah satu variable economic declining. Dengan
keterbatasan saya yg bekerja di sector perbankan, adalah mustahil perbankan mau memberikan modal investasi atau modal kerja jika melihat potitioning pembangunan ruko yang sama sekali tidak valuable tersebut. Dan jika dana perbankan digunakan
untuk pembangunan ruko tersebut,
adalah sangat mustahil bisa kembali dalam waktu yang cepat. Normal-Investor mana yang mau menanamkan
modalnya jika internal rate of return nya sangat lama atau bahkan tidak tahu kapan kembalinya. Seorang Amrie atau A.Z.A pun pasti akan berfikir lebih baik untuk trading dari pada untuk
investasi , yang dari segi secure
sangat jauh memadainya.
Nah, satu-satunya
yang ada dikepala saya adalah dana tersebut pasti dari sono alias dana money-laundrey. Dan ketika ini saya diskusikan dengan teman2 disana, mereka juga meng amini dugaan tersebut. Gimana bang Amrie ??. Sudah lapor ke beliau ?..
Eddy Purnomo MA-77
![]()
|