Pada hari Jumat dan Sabtu (28-29 Mei 2004) mas Agus Sosiawan dan saya ( kebetulan saya sekalian
meresmikan berdirinya Serikat Karyawan BII Cabang Pekanbaru) berkunjung ke Pekanbaru Riau, menemui beberapa teman alumni yang ada disana. Temu muka dengan Feizal Karim (SI76 & Wakil Dinas
Perhubungan Riau), Syafril Rivai (AR75&Konsultan), Budhi Agung
(TM89&PNM) , Bambang Widiotomo (TI73 & Caltex) dll. Banyak pembicaraan yang berguna untuk konsolidasi alumni, namun intinya para alumni ITB menginginkan adanya suatu manfaat yang didapat dari pada hanya sekedar kongko-kongko. Bahkan mas Feizal mengatakan, banyak rekan2 yg berkata untuk apa dengan IA
kalau akan secara personal
mereka bisa sukses dan dengan IA tidak bisa mendatangkan suatu added-value. Namun saya katakan bahwa tak kenal satu sama
lain, maka tentu tidak ada
yang bisa diperbuat. Nah kalau mungkin saya kenal dengan Hengki atau Nurudin
atau Sutedjo atau Parulihan, tentu kita bisa saling membantu . Dan
itu pulalah perlunya kita banyak teman, termasuk kolega saya angkatan 77. Betul nggak
Hengki.??.
Namun yang lebih mengusik saya ketika di Pekanbaru adalah beberapa asumsi yang pernah saya
explain beberapa waktu yang lalu tentang money-laundry. Disepanjang jalan utama Pekanbaru atau jalan2 arteri yang baru
dibangun berderet Ruko, Mall ataupun pertokoan yang lebih banyak kosong tanpa adanya aktivitas business. Bahkan
dijalan Nangka yang sering disebut jalan Seribu Ruko, lebih banyak ruko yang kosong atau sangat minim aktivitasnya. Ruko2 yang ratusan jumlahnya sepanjang jalan tembus/arteri sama sekali belum dipakai untuk usaha, namun mungkin hanya untuk saving. Bubble-development bukannya tidak mungkin mengarah ke bubble-economical, yang dapat menjadi
salah satu variable economic declining. Dengan
keterbatasan saya yg bekerja di sector perbankan, adalah mustahil perbankan mau memberikan modal investasi atau modal kerja jika melihat potitioning pembangunan ruko yang sama sekali tidak valuable tersebut. Dan jika dana perbankan digunakan untuk
pembangunan ruko tersebut,
adalah sangat mustahil bisa kembali dalam waktu yang cepat. Normal-Investor mana yang mau menanamkan modalnya
jika internal rate of return nya sangat lama atau bahkan tidak tahu kapan kembalinya. Seorang Amrie atau A.Z.A pun pasti akan berfikir lebih baik untuk trading dari pada untuk investasi
, yang dari segi secure sangat jauh
memadainya. Nah,
satu-satunya yang ada dikepala saya adalah dana tersebut pasti dari sono alias dana money-laundrey. Dan ketika ini saya diskusikan dengan teman2 disana, mereka juga meng amini dugaan tersebut. Gimana bang Amrie ??. Sudah lapor ke
beliau ?..
Eddy Purnomo MA-77
