logo       

Re: Budaya Melayani, bisakah diterapkan di Indonesia ?: msg#00265

org.region.indonesia.bandung.itb-77

Subject: Re: Budaya Melayani, bisakah diterapkan di Indonesia ?

> Hi,
Kalau soal aturan, ingat Hukum Firaun. Semakin kelam kulit semakin sulit
mengaturnya. Jadi semakin afrika semakin kamu sulit untuk mengatur atau
menerapkan aturan. Lihat dimana benua semakin hitam semakin kacau. Benua
putih bisa teratur, benua kuning teratur, coklat mulai kacau. Hitam sangat
kacau. Orang putih sayang tanah air, kuning juga, coklat mulai goyah,
hitam penjual tanah air, hidup dinegaranya sendiri ogah, negaranya hancur
masa bodoh. So jangan berharap suatu saat negara kita akan sangat teratur.
Thanks. Aristo.

On Sun, 30 May 2004 20:58:37 -0700 (PDT)
> Firman Carol <firmancarol-/E1597aS9LQAvxtiuMwx3w@xxxxxxxxxxxxxxxx> wrote:
>
>> Pengalaman saya di Indonesia ... setiap kali saya menyalakan sign unt
>> belok/pindah-jalur, pengemudi lain cenderung malah memepetkan kendaraan
>> <berusaha unt tidak memberikan jalan> ... setiap pengendara di Jkt pasti
>> hafal
>> dengan fenomena ini !!
>
> Itu sih response dari "budaya menyerobot" (shortcut) :-), symptom nya dari
> budaya me(di) layani.
>
> --
> syafril
> -------
> Syafril Hermansyah
>
>
>
> --
> Milis Internal alumni ITB Bandung, angkatan 1977
> Yayasan ITB 77-Yayasan Bhakti Ganesha
> Bank Niaga Cabang Jakarta Tebet
> Rekg No.025.01.23831.00.8
>
> Webnews & Online archive:
> http://itb77-news.bhaktiganesha.or.id
>
>



--
Milis Internal alumni ITB Bandung, angkatan 1977
Yayasan ITB 77-Yayasan Bhakti Ganesha
Bank Niaga Cabang Jakarta Tebet
Rekg No.025.01.23831.00.8

Webnews & Online archive:
http://itb77-news.bhaktiganesha.or.id




<Prev in Thread] Current Thread [Next in Thread>
Google Custom Search

News | FAQ | advertise