Kedua, Allah menciptakan Sistem Kontrol sebagai mekanisme yang
mengontrol keotentikan Al-Dzikr dari segi tuisan (Al-Kitab) Mushhaf
'Utsmani. Mekanisme itu, yakni ayat:
-- ALYHA TS'AT 'ASyR (S. ALMDTsR, 74:30), dibaca:
-- 'alaiha-
tis'ata 'asyara, artnya:
-- padanya 19.
Yang dikontrol adalah jumlah Surah, jumlah ayat, jumlah kata dan
jumah huruf dengan sistem kelipatan 19. Non-Muslimin yang mencari-cari
kesalahan mempermasalahkan bahwa pada mulanya huruf-huruf Arab tidak bertitik.
Ini tidak ada masalah sebab jumlah huruf tidak berubah, tidak bertambah dan
tidak berkurang. Lagi pula untuk membedakan misalnya huruf Ba dengan Nun
karena tidak punya titik itu, ada saling kontrol, yaitu dari segi mekanisme
pertama, para penghafal Al-Quran menunjukkan perbedaan itu, mana itu huruf
Nun, mana itu huruf Ba, mana itu huruf Tsa dst pada waktu huruf-huruf dalam
Al-Kitab itu diberi bertitik.
Ternyata ayat-ayat dalam Al-Quran bukan hanya sekadar untuk
mengistinbath (menggali) hukum-hukum dalam Ilmu Fiqh, tetapi juga mengistinbath
qaidah (regel, rule), antara lain mengenai potongan-potongan huruf yang disebut
Al-Muqaththa?aat (dari akar kata yang dibentuk oleh Qaf-Tha-?Ain, qatha?a =
potong), yaitu seperti Alif-Lam-Mim, dll. Pada tahun 1972 Rashad Khalifa
berhasil mengistinbath qaidah mengenai Al-Muqaththa?aat ini bahwa itu adalah
kode matematis. Sayangnya angka 19 ini disakralkan oleh agama Bahai, sehingga
Rashad Khalifa dituduh beragama Bahai, padahal dia sama sekali tidak
mensakralkan angka 19 tersebut. Bahkan atasnya dilakukan pula pembunuhan
karakter (character assassination) yaitu dia juga dituduh ingkar sunnah. Padahal
dia ikut shalat berjamaah, mana bisa dia ingkar sunnah kalau shalatnya sama
dengan shalat kita, sebab bukankah cara shalat itu landasannya
Hadits?
Memang sudah tepat
waktunya hal itu telah dapat diungkap, karena dewasa ini para orientalis yang
membenci Islam dan ummat Muslimin, sedang sengit-sengitnya menyerang Al-Quran
Mushhaf 'Utsmani, bahwa itu tidak otentik. Bukan para orientalis tersebut saja
yang menyerang keotentikan Mushhaf 'Utsmani, namun para pseude Muslim, para
benggolan yang menamakan diri Islam Liberal turut pula dalam aktivitas itu,
setelah menimba dari sumur (well) para orientalis yang membenci Islam dan ummat
Muslimin tersebut. Cukup di sini saya sebutkan dua orang di antaranya, yaitu:
Luthfi Asysyaukani, dosen Sejarah Pemikiran Islam di Universitas Paramadina,
Jakarta, yang Editor Jaringan Islam Liberal (JIL) menulis al:
"Alquran
kemudian mengalami berbagai proses 'copy-editing' oleh para sahabat, tabi'in."
Taufik Adnan Amal, dosen mata kuliah ulumul Quran di IAIN (sekarang UIN)
Alauddin Makassar, aktivis JIL, al menulis:
"Bagi rata-rata sarjana Muslim,
keistimewaan rasm utsmani merupakan misteri ilahi dan karakter kemukjizatan
al-Quran. Tetapi, pandangan ini lebih merupakan mitos.
Sistem Kontrol angka
19 sebagai mekanisme untuk mengontrol keotentikan Al-Quran Mushhaf ?Utsmani
telah saya bahas dalam Lampiran I dari Orasi Ilmiyah yang saya presentasikan
dalam Rapat Senat Luar Biasa Universitas Muslim Indnesia (UMI) pada tanggal 25
Muharram 1416 / 24 Juni 1995 dalam Rangka Peringatan Milad (Dies Natalis) UMI
yang ke 41 [1954 - 1995]. Insya Allah pada kesempatan lain akan saya sajikan
nanti dalam rubruik OPINI Lampiran I tersebut.
Dahulu notasi
bilangan itu memakai sistem huruf-huruf
=================================
Sistem menuliskan simbol
bilangan
=================================
Alif A =
1 Sin S =
60
Ba B = 2 ?Ain ?A =
70
Jim J = 3 Fa F
= 80
Dal D = 4 Shad Sh
= 90
Ha (*) H = 5 Qaf Q =
100
Waw W = 6 Ra R
= 200
Zay Z = 7 Syin Sy =
300
ha (#) h = 8 Ta T =
400
Tha Th = 9 Tsa Ts =
500
Ya Y = 10 Kha Kh =
600
Kef K = 20 Dzal Dz =
700
Lam L = 30 Dha Dh =
800
Mim M = 40 Zha Zh =
900
Nun N = 50 Ghain Gh = 1000
----------
(*) H
abjad ke-3 dari belakang
(#) h abjad ke-6
Contoh
_______
D?ADhGh = 1874
Biasanya simbol angka diberi bergaris di
atasnya. Notasi angka dengan simbol huruf-huruf itu gunanya hanya untuk mencatat
saja, tidak bisa dipakai untuk operasi ilmu hitung seperti menambah, mengurangi,
memperbanyak dan membagi.
***
Kode matematis itu
antara lain qaidah bahwa Al-Muqaththa'aat yang membuka sebuah Surah memberikan
isyarat bahwa jumlah huruf dalam Surah bersangkutan adalah kelipatan 19. Seperti
misalnya jumlah huruf Alif+Lam+ Mim+Shad dalam surah Al-A'raaf adalah kelipatan
19. Hasilnya seperti dalam tabel di bawah dengan notasi bilangan dalam
huruf-huruf:
Huruf Jumlah huruf
Shad
_________
Alif
B?ATsGhGh
______
Lam
JKTsGH
_____
Mim
HSQGh
___
Shad
hSh ___
Jumlah ? = ? x ThY
Siapa yang dapat menjumlahkan
angka-angka tersebut di atas, baik orang terdahulu maupun orang dewasa ini?
Belum lagi untuk qaidah huruf-huruf persekutuan yang membentuk Al-Muqaththaat
yang terdapat dalam semua Surah yang sama-sama memiliki huruf -huruf persekutuan
tersebut, jumlahnya adalah kelipatan 19, seperti dalam tabel di bawah, dalam
notasi bilangan yang bukan huruf:
Tabel Persekutuan
[Alif,Lam,Ra]
=======================================
No.Surah
Alif Lam Ra
Alif+Lam+Ra
---------------------------------------
10 Yuwnus
1319 913 257 2489
11 Huwd
1370 794 325 2489
12 Yuwsuf 1306
812 257 2375
14 Ibraahiym 585 452 160 1197
15 al-hijr 493 323 96 912
---------------------------------------
Jumlah
5073 3294 1095 9462=19x498
Tidak usah perubahan
kalimat, atau perubahan kata, dengan perubahan satu huruf saja akan rusaklah
setting seperti di atas itu. Demikianlah kerjanya kontrol sistem 19 itu. Gampang
sekali melakukan kontrol dengan sistem 19 itu, menjumlahkan dan membagi
angka-angka itu. Tetapi coba bagi orang-orang terdahulu sebelum didapatkannya
notasi bilangan dalam sistem desimal. Kalau setiap bilangan dinyatakan dalam
simbol huruf-huruf, mana bisa dilakukan operasi tambah dan membagi.
Maka masuk akal, jika
Nabi Muhammad SAW tidak menceritakan dalam Hadits Sistem 19 itu, bikin susah
orang saja. Barulah setelah didapatkan notasi bilangan dalam sistem desimal
operasi menambah dan membagi itu menjadi gampang. Bahkan menjadi sangat gampang
dan cepat setelah teknologi komputer didapatkan, yaitu dengan adanya Al-Quran
digital, tidak susah membuat program untuk menjumlah huruf-huruf yang
dikehendaki, kemudian membaginya dengan 19. Dan yang mulai dengan pemakaian
kompuer itu adalah Rashad Khalifa. Dialah yang menemukan "telur Columbus",
seperti dikemukakan dalam Seri 771 yang lalu.
Alhasil, jangankan
membuat buku yang redaksionalnya terkait dengan sistem 19 yang mustahil
dilakukan oleh manusia, menambah apapula membagi angka-angka dari banyak tabel
seperti tabel dalam contoh di atas itu, pekerjaan yang begitu gampang, tidak
dapat dilakukan oleh para sahabat, tabi'in tabi'ittabi'in sampai beberapa
generasi sesudahnya hingga didapatkannya notasi bilangan sistem desimal yang
dikenal sebagai Arabic Number tsb. WaLlahu a'lamu
bisshawab.
*** Makassar 1 April
2007
[H.Muh.Nur Abdurrahman]