----- Original Message -----
Sent: Tuesday, March 27, 2007 6:31
AM
Subject: [Mayapada Prana] Re: To HMNA and
FeiFei Re: [debat_antar_agama] Respon unt Charlie
Itu feifei kentara tidak
tahu Network Planning, membuka buku ttg Network Planning saja ternyata
juga tidak pernah, cuma pintar maki-maki saja, kasihan betul. Anak panah
putus-putus dalam Network Planning itulah yang disebut dengan Dummy acitivity. Cobalah
feifei masuk toko buku cari salah satu buku tentang Network Planning di situ
feifei akan dapat melihat itu Dummy
acitivity.
Ho, ho, feifei dengan
sinis menyindir bilang: Saat inipun masih
ada aja yg mengkait-kaitkan ilmu pengetahuan/ sains dgn agama he
he. Orang bodohpun (sic?-HMNA) tahu sains dgn agama pasti saling
bertentangan.
Ha, ha, ha, mengaitkan (bukan
mengkaitkan) sains dengan agama cq Al-Quran,
why not? Sains dipakai sebagai ilmu
bantu untuk dapat memahami Al-Quran dengan baik, why not! fei,
fei cs, saya bikin kenyang kalian dengan sains sebagai ilmu bantu untuk dapat memahami ayat-ayat Al-Quran
dengan baik. Baca rentetan Seri 003 hingga 768, yaitu: Seri 003,
435, 508, 732 dan 768 di bawah ! Kemudian renungkanlah yang bodoh itu siapa ? Think
!
HMNA
*************************************************************************************
BISMILLA-HIRRAHMA-NIRRAHIYM
WAHYU DAN AKAL -
IMAN DAN ILMU
[Kolom Tetap Harian Fajar]
003. Interaksi Iman dan Ilmu,
Pencemaran Thermal
Antara
tumbuh-tumbuhan di pihak yang lain dengan manusia dan binatang di pihak yang
lain membentuk sistem yang dalam ungkapan bidal Melayu lama berbunyi: Seperti
aur dengan tebing, atau dalam ungkapan modern yang canggih bunyinya: Mutualis
simbiosis, suatu ekosistem saling menghidupi dan menghidupkan. Aur yang tumbuh
di tebing mendapat zat-zat yang dibutuhkan tanaman untuk bertumbuh. Akar-akar
aur menusuk ke dalam tanah di tebing untuk dapat mengisap zat-zat yang
dibutuhkannya itu. Di pihak yang lain tebing mendapatkan manfaat dari
akar-akar rumpun aur, tebing menjadi kuat, tidak mudah terban (tidak pakai
g).
Untuk dapat hidup,
manusia dan binatang harus mengisi perut, makan dan minum dan mengisap udara,
bernafas. Tujuan makan bukan untuk kenyang, karena itu hanya sekadar kesan
saja, melainkan makan pada hakekatnya adalah mengisi tubuh dengan bahan bakar.
Dan bernafas bukan hanya sekadar menghirup udara segar supaya tidak mati
lemas, melainkan mengisi tubuh dengan oksigen dari udara. Di dalam tubuh
manusia dan binatang terjadilah reaksi kimia yang disebut oksidasi. Reaksi
kimia ini menimbulkan panas dan proses tersebut disebut respirasi. Demikianlah
tubuh manusia dan binatang menjadi panas, dan panas ini dipertahankan suhunya
oleh suatu sistem yang musykil dalam tubuh manusia dan binatang, yaitu sistem
pengatur suhu. Menarik nafas artinya memasukkan oksigen ke dalam tubuh,
sedangkan mengeluarkan nafas artinya membuang sampah hasil pembakaran ke
udara. Sebenarnya yang dibuang ke udara itu pada hakekatnya hanya sejenis yang
berupa sampah dan yang lain tidak dipandang sampah. Yang pertama adalah karbon
dioksida, zat asam arang, CO2. Yang kedua adalah air dalam bentuk uap. Air
yang berasal dari mengeluarkan nafas ini dapat dilihat jika kita ada di tempat
dingin. Uap air itu mengembun di udara berupa titik-titik air yang halus,
kelihatannya seperti asap putih atau kabut.
CO2 ayang
dihasilkan/dikeluarkan dari tubuh manusia dan binatang merupakan polutan, zat
pencemar yang mencemarkan udara. Pencemaran udara oleh CO2 ini bukan
semata-mata dari manusia dan binatang saja, melainkan, dan ini yang lebih
banyak, berasal dari budak-budak tenaga, energy slaves. Tidaklah
berperi-kemanusiaan, jika manusia memperbudak sesamanya manusia. Akan tetapi
oleh karena pada dasarnya manusia suka memperbudak, maka manusia memperbudak
binatang, tenaga otot binatang dimanfaatkan untuk bekerja. Setelah James Watt
mendapatkan mesin uap, maka manusia memproduksi budak-budak tenaga secara
massal, yaitu mesin-mesin yang dayanya lebih besar dari daya otot binatang.
Dan mesin-mesin ini menghasilkan CO2 jauh lebih banyak ketimbang CO2 yang
berasal dari manusia dan binatang. Sehingga sangat perlu sekali dilaksanakan
birth control terhadap budak-budak tenaga ini. Mengapa? Oleh karena CO2 ini
adalah zat pencemar yang menyebabkan terjadinya pencemaran thermal, thermal
pollution. Bumi jadi panas, suhunya naik, es di kutub utara dan selatan
mencair, air laut naik, maka terjadilah banjir yang akan lebih hebat dari
banjir di zaman Nabi Nuh AS. Dan naiknya permukaan laut ini bukan teori omong
kosong, betul-betul naik menurut hasil intizhar atau observasi.
Mengapa CO2 itu menjadi penyebab pencemaran thermal,
informasinya seperti berikut: Lapisan udara yang mengandung CO2 yang banyak,
menyebabkan permukaan bumi ditutupi oleh lapisan CO2. Ini menyebabkan
terjadinya efek rumah kaca. Di tempat yang beriklim dingin, jika ingin menanam
buah-buahan dan sayur-sauran yang membutuhkan suhu yang lebih tinggi dari suhu
udara luar, maka buah-buahan dan sayur-sayuran itu ditanam di dalam rumah
kaca. Gelas atau kaca adalah zat bening, radiasi matahari yang disebut photon
gampang menerobos masuk. Photom itu memukul molekul-molekul udara dalam
rumah kaca. Getaran molekul udra itu dipacu oleh photon itu, maka
bertambah intensiflah getaran molekul udara itu, yang membawa kesan fenomena
naiknya suhu udara, karena itulah udara bertambah panas. Kaca adalah
penghantar panas yang jelek. Maka terperangkaplah panas itu dalam rumah kaca.
Photon mudah menerobos masuk, namun setelah tenaga radiasi itu sudah
ditransfer menjadi tenaga panas dalam rumah kaca, gelombang panas tidak/kurang
mampu menerobos keluar. Inilah efek rumah kaca. Juga CO2 adalah zat bening
mudah ditembus photon. Juga CO2 adalah zat pengantar panas yang jelek. Maka
terperangkaplah gelombang panas dalam ruang antara lapisan CO2 dengan
permukaan bumi, seperti halnya gelombang panas dalam rumah
kaca.
Demikianlah
seriusnya gejala alam berupa naiknya suhu di permukaan bumi ini, atau
globalisasi thermal ini, maka Allah SWT memberikan informasi kepada ummat
manusia sejak lebih 14 abad yang lalu. Berfirman Allah SWT dalam Al Quran, S.
Yasin, ayat 80 sebagai berikut:
-- Alladzie ja'alalakum
minasysyajari-lakhdhari naaran faidzaa antum minu tuuqiduun. artinya: Yaitu
Yang menjadikan bagimu api dalam (zat) hijau pohon dan dengan itu kamu dapat
membakar.
Sepintas lalu
secara common sence, kita menjumpai pertentangan antara akal dengan wahyu.
Akal kita mengatakan, bahwa api itu atau yang dibakar itu bukan dari pohon
yang hijau, melainkan dari kayu-kayuan dan daun-daunan yang kering berwarna
coklat. Memang pepohonan hijau dapat terbakar dalam bencana alam berupa
kebakaran hutan, tetapi penlesan ini tidak relevan, karena ayat itu
menjelaskan "kamu" membakar, maksudnya dengan sengaja membakar. Kebakaran
hutan terjadi karena ketidak sengajaan.Ada kitab tafsir yang mencoba
menjelaskan bahwa ada sejenis pohon yang dapat dijadikan kayu bakar,
walaupun masih hijau. Tetapi akal kita mengatakan bahwa menurut qaidah bahasa
Arab, bentuk mudzakkar (laki-laki) asysyjaru-lakhdhar dalam ayat di atas
menunjuk kepada pohon secara keseluruhan, bukan hanya sekadar sejenis pohon.
Kalaulah yang dimaksud hanya sejenis, atau sebahagian pohon, maka harus
memakai bentuk muannats (perempuan), yaitu asysyaratu-lkhadhraau. Jadi
penafsiran dalam kitab tafsir trersebut tidak/belum dapat memecahkan
permasalahan adanya pertentangan antara akal dengan wahyu. Ada yang menempuh
pendekatan majazi (kiasan, metaphor), yaitu hijau dimaknai dengan
"subur"
Namun masih ada
upaya lain dengan paradigma seperti dijelaskan dalam Seri 001, yaitu akal
harus tunduk pada wahyu. Kalau terjadi pertentangan antara akal dengan wahyu,
maka akal harus mengalah. Seperti telah dijelaskan dalam Seri 001, akal
membutuhkan informasi untuk berpikir. Akal harus mengalah kepada wahyu, oleh
karena dalam keadaan yang demikian itu adalah suatu isyarat bahwa akal
membutuhkan informasi yang lebih canggih untuk dapat merujuk akal itu kepada
wahyu. Dan informasi ini bersumber dari ilmu fisika, kimia, botani dengan
pengkhususan anatomi tumbuh-tumbuhan.
Reaksi thermonuklir
di matahari mentransfer wujud tenaga nuklir menjadi tenaga radiasi yang
berwujud sinar gamma yang menembus ke lapisan bagian luar dari matahari. Sinar
gamma itu mengalami penyusutan energi karena menembus lapisan matahari itu.
Setelah sampai di bagian luar sinar yang telah berdegradasi energinya itu
dikenal sebagai photon, lalu memancar ke sekeliling matahari, antara lain
menyiram permukaan bumi.
Tumbuh-tumbuhan
dibangun oleh bahagian-bahagian kecil yang disebut sel. Di dalam inti sel
terdapat butir-butir pembawa zat warna. Yang terpenting di antara butir-butir
itu adalah pembawa zat warna hijau, yang disebut khlorophyl, zat hijau daun
(istilah ilmiyah dari bahasa Yunani, Kholoros = hijau, Phyllon = daun).
Khlorophyl ini menangkap photon dari matahari dan mengubah wujud tenaga photon
itu menjadi tenaga potensial kimiawi dalam makanan dan bahan bakar hidrokarbon
di dalam molekul-molekul melalui proses photosynthesis. Dalam proses
photosynthesis oleh khlorophyl ini dari bahan baku CO2 dan air dan photon,
dihasilkan makanan dan bahan bakar hidrokarbon dan oksigen. Selanjutnya
melalui proses respirasi dalam tubuh manusia dan binatang dan budak-budak
tenaga, makanan dan bahan bakar itu dengan oksigen dari udara berubahlah pula
menjadi CO2 dan air. Demikianlah sterusnya daur atau siklus itu berlangsung.
Photosynthesis - CO2 dan air - respirasi - makanan, bahan bakar, dan oksigen.
Jadi tumbuh-tumbuhan mengambil CO2 dan mengeluarkan oksigen. Sebaliknya
manusia dan binatang mengambil oksigen dan mengeluarkan CO2.
Secara gampangnya
asysyajaru-lakhdhar itu adalah pabrik makanan / bahan bakar dan oksigen. Bahan
mentahnya adalah air dan CO2. Mesin pabrik adalah photon dan proses dalam
pabrik yang mengolah air dan CO2 menjadi makanan / bahan bakar dan oksigen
disebut proses photosynthesis (sintesa atau penyusunan oleh photon). Makanan
dibakar dengan oksigen dalam tubuh manusia, oksigen dihisap dari udara,
demikian pula bahan bakar dibakar dengan oksigen dalam mesin-mesin pabrik.
Oksigen disedot dari udara. Itulah ma'na minasysyajari-lakhdhari naaran
faidzaa antum minhu tuuqiduun. Demikianlah ilmu fisika, kimia, botani dengan
pengkhususan anatomi tumbuh-tumbuhan membantu kita untuk dapat memahami S.
Yasin, ayat 80 dengan baik, memberikan informasi yang cukup bagi akal kita,
sehingga menghilangkan pertentangan antara akal dengan
wahyu.
Alhasil, jika
informasi itu cukup lengkap bagi akal, akan hilanglah pertentangan antara akal
dengan wahyu. Pemakaian istilah asysyjaru-lakhdhar, zat hijau pohon dalam Al
Quran lebih tepat dari istilah ilmiyah khlorophyl, zat hijau daun, oleh karena
zat tersebut bukan hanya terdapat dalam daun saja, melainkan pada seluruh
bagian pohon asal masih berwarna hijau, mulai akar yang tersembul asala masih
hijau, dari batang asal masih hijau, cabang asal masih hijau, ranting, daun,
sampai ke pucuk serta buah yang masih hijau.
Dari S. Yasin, ayat
80 itu, dengan penjelasan berupa informasi dari ilmu fisika, kimia, botani
dengan pengkhususan anatomi tumbuh-tumbuhan sebagai ilmu bantu untuk dapat
mengerti wahyu dengan baik dan jelas, dapatlah kita lihat bagaimana pentingnya
hutan. Bukan hanya sekadar mengendalikan air di dalam tanah dan permukaan
bumi, tidak banjir di musim hujan dan tidak kering di musim kemarau. Akan
tetapi, dan ini yang lebih penting, adalah untuk terjadinya daur:
tumbuh-tumbuhan penghasil oksigen, yang membutuhkan CO2 - manusia dan binatang
penghasil CO2, yang membutuhkan oksigen. Maka terjadilah seperti yang
diungkapkan oleh bidal Malatyu lama: seperti aur dengan tebing, mutualis
simbiosis.
Demikianlah uraian
interaksi iman dan ilmu dalam ruang lingkup daur CO2 dan oksigen dalam
pengetahuan lingkungan khusus globalisasi pencemaran thermal dan pentingnya
hutan. WaLlahu a'lamu bishshawab.
*** Makassar, 3
November 1991
[H.Muh.Nur
Abdurrahman]
================================
BISMILLA-HIRRAHMA-NIRRAHIYM
WAHYU DAN AKAL -
IMAN DAN ILMU
[Kolom Tetap Harian Fajar]
435. Terjemahan yang Berbeda,
Tetapi Semuanya Benar
Firman Allah SWT:
-- YKWR ALYL 'ALY
ALNHAR WYKWR ALNHAR 'ALY ALYL (ALZMR, 5), dibaca:
-- yukawwirul layla
'alan naha-ri wayukawwirun naha-ra 'alal layli (azzumar, 35:5),
artinya ke dalam 3 bahasa:
==>He maketh
night to succeed day, and He maketh day to succeed night (Mohammed
M.Pikthall-USA).
==>He makes the night cover the day, and
makes the day overtake the night (M.H.Shakir-Iran).
==Hij laat
den nacht de dag overdekken en laat den dag de nacht
overdekken (M.Muhammad Ali-Pakistan, ke dalam Bahasa Belanda oleh
Soedewo).
==>Dia memutarkan malam kepada siang dan memutarkan
siang kepada malam (Mahmud Junus-Indonesia).
Dalam
keempat terjemahan itu YKWR (yukawwiru) diterjemahkan berbeda-beda,
yaitu succeed (=come next, follow, mengikuti), cover, overdekken
(=cover, menutup) overtake (=menyusul), dan memutar. Itulah
sebabnya setiap terjemahan Al Quran perlu diindahkan untuk
menyertakan teksnya yang asli. Ini pula jawaban pertanyaan yang
sering saya terima baik secara langsung, maupun melalui telpon, yaitu
pertanyaan yang mengatakan mengapa dalam kolom ini
jika menterjemahkan ayat-ayat Al Quran senantiasa disertakan
teksnya. Bahkan ada yang bukan pertanyaan, malahan anjuran
dengan sangat supaya teks asli itu dituliskan bukan dalam huruf-kapital
Latin, melainkan dalam huruf asli ejaan 'Utsman
(Rasm 'Utsman). Anjuran menuliskan teks Al Quran
dengan huruf asli ejaan 'Utsman tidak dapat terpenuhi
disebabkan oleh dua hal: Pertama, alasan prinsipiel, yaitu
kalau menuliskan teks asli dalam huruf asli di atas
harian ataupun tabloid pekanan, tengah bulanan, bulanan (yang bukan buku
ataupun majallah), adalah sangat riskan, karena mudah sekali tercecer di
mana-mana, lalu diinjak-injak orang. Kedua, alasan teknis, yaitu
program huruf Arab tidak belum tersedia di Fajar.
Kembali kepada
terjemahan di atas: mengikuti, menutup, menyusul, memutar. Tanpa
menyertakan teksnya yang asli, orang orang dalam kalangan
negeri-negeri yang berbahasa Inggris akan berdebat dengan
sesamanya, karena to cover berbeda artinya dengan to succeed, antara
orang Belanda dengan orang Indonesia, sebab overdekken berbeda
artinya dengan memutar. Akan tetapi dengan mengikut sertakan teksnya yang asli
YKWR, yang berasal dari akar kata KWR, kef, wau, ra, kawwara artinya
memutar kain serban di kepala, maka semua terjemahan itu
tidak ada yang salah, karena perbedaan itu terletak
dalam hal visi yang berbeda, ada yang melihatnya dari segi
proses, ada yang melihatnya dari segi luaran (ouput). Yang berorientasi
proses akan menterjemahkannya dengan mengikuti (succeed), menyusul (overtake)
dan memutar. Bukankah kain serban itu melilit kepala, lilitan
pertama diikuti oleh lilitan kedua, ketiga, susul-menyusul? Bukankah
kain serban itu memutar keliling kepala? Namun yang berorientasi output akan
menterjemahkannya dengan menutup (cover, overdekken). Bukankah outputnya ialah
serban itu menutup kepala? Apabila dibawa kepada kenyataan sehari-hari antara
malam dengan siang, siang dengan malam, maka terjemahan mengikuti
(succeed), menyusul (overtake) adalah terjemahan yang sederhana,
gampang difahami orang awwam, yaitu malam dengan
siang, siang dengan malam saling mengikuti, susul-menyusul.
Namun terjemahan menutup agak sukar difahami orang-orang yang tinggal
dekat kattulistiwa, di mana perbedaan lama antara malam dengan siang
tidak begitu kentara, karena malam dengan siang
hampir sama lamanya. Lain halnya dengan penduduk pada
belahan bumi sebelah utara ataupun selatan. Jika
matahari sedang di belahan bumi utara, seperti
sekarang ini, (pada pelajaran ilmu bumi-alam di Indonesia
biasanya di sebut matahari di atas Asia), maka
di negeri-negeri Eropah, siang lebih panjang dari malam. Pada waktu
posisi matahari di atas Asia seperti sekarang ini,
di negeri Belanda misalnya orang groeten (memberi salam),
goeden (dibaca khuyen) avond, artinya malam baik, atau
selamat malam, padahal matahari masih tinggi di ufuk barat.
Artinya dalam rentang waktu selisih jarak-waktu kelebihan siang atas
malam, berlakulah siang menutup malam, Hij laat den dag de nacht
overdekken.
Seperti kita telah
lihat, terjemahan menutup di atas itu dijelaskan dengan memakai ilmu-bantu
berupa ilmu bumi-alam, maka terjemahan memutar perlu dibantu oleh
ilmu-bantu berupa ilmu falak (astronomi). Setengah bola bumi yang
tidak kena sinar matahari menjadi malam, sedangkan setengah bola bumi
yang menghadap ke matahari menjadi siang. Malam berganti siang, siang
berganti malam, adalah akibat perputaran bumi
pada sumbunya. Itulah dia makna: Dia
memutarkan malam kepada siang dan memutarkan siang
kepada malam. Jadi terjemahan Mahmud Junus menunjukkan
kemu'jizatan Al Quran, karena pada waktu Al Quran diturunkan dari Allah SWT
kepada Nabi Muhammad SAW, peradaban dan kebudayaan dunia belum mengenal
bumi sebagai bola yang berputar pada sumbunya. WaLla-hu a'lamu
bishshawa-b.
*** Makassar,
6 Agustus 2000
[H.Muh.Nur
Abdurrahman]
============================================
BISMILLA-HIRRAHMA-NIRRAHIYM
WAHYU DAN AKAL -
IMAN DAN ILMU
[Kolom Tetap Harian Fajar]
508. Cosmic Affairs
Sistem
Koordinat
Sistem Koordinat dipakai sebagai
patokan bagi gerak titik benda. Biasanya memakai sistem orthogonal (Koordinat
Kartesis), dalam ruang memakai 3 sumbu saling tegak lurus X, Y, Z dimulai dari
titik O yang disebut pusat sistem koordinat. Dalam praktek yang dijadikan
titik O ialah bumi, matahari dan kendaraan yang sedang bergerak (termasuk
space ship). Di dalam kinematika (ilmu gerak) semua gerak adalah gerak relatif
terhadap titik pusat sistem koordinat.
Bumi Sebagai Pusat Sistem
Koordinat
Jika orang misalnya menembakkan
proyektil dengan sudut @, maka dalam ilmu mekanika dikatakan lintasan
proyektil itu membentuk garis lengkung yang disebut dengan "lintasan peluru"
yang dalam kacamata matematika disebut kurva berbentuk parabola, dengan
pengertian bahwa itu berbentuk parabola terhadap bumi.
Dalam kalkulasi mencari
konstante U (urusan, al amr = cosmic affair), terlebih dahulu dikemukakan
definisi apa itu satu tahun. Al Quran memakai sistem qamariyah (lunar system),
satu tahun = 12 bulan qamariyah. Dalam sistem syamsiyah (solar system)
pengertian satu bulan itu tidak tegas/eksak, artinya tidak dapat dirujuk
pada gerak bulan dari mana ke mana . Sedangkan dalam sistem qamariyah (lunar
system) satu bulan itu tegas/eksak. Dalam bidang falakiyah (astronomis) satu
bulan ditegaskan dengan satu kali bulan mengelilingi bumi, dengan bumi sebagai
pusat sistem koordinat dengan lintasan mendekati lingkaran. Ini disebut dengan
siderial month. Dalam penanggalan (kalender) ditegaskan satu bulan qamariyah
adalah jarak waktu antara dua posisi ijtima'. Ini disebut dengan synodic
month. (Yang disebut posisi ijtima', ialah bumi, bulan dan matahari
hampir-hampir dalam satu garis. Dikatakan hampir-hampir, karena ada kalanya
ketiganya betul-betul terletak dalam satu garis, yang dalam hal itu terjadi
gerhana matahari, karena bulan menutup matahari).
Jadi kalau dikatakan satu tahun 12 kali bulan mengelilingi bumi (pure lunar
system), dan 1000 tahun 12000 kali bulan mengelilingi bumi, maka itu berarti
bumi sebagai pusat sistem koordinat, gerak bulan relatif terhadap bumi dalam
lintasan mendekati lingkaran. Inilah dasar dari rumus dasar cosmic affair dan
untuk menghitung kecepatan tangensial bulan terhadap bumi, seperti yang
dilakukan dalam kalkulasi di bawah.
Buruwjun Sebagai Pusat Sistem Koordinat
Dalam tahap permulaan menghitung bumi dijadikan pusat sistem koordinat,
sehingga perlu dikoreksi setelah buruwjun dijadikan pusat sistem koordinat.
Kalau pada waktu bumi dijadikan pusat sistem koordinat kecepatan tangensial V
selalu tegak lurus pada jari-jari lingkaran orbit bulan mengelilingi pusat
sistem koordinat yaitu bumi. Namun setelah buruwjun yang dijadikan pusat
sistem koordinat, maka V sudah tidak lagi merupakan kecepatan tangensial. Maka
dalam satu siderial month arah vektor V perlu dikoreksi dengan mengambil
proyeksinya terhadap garis kerja yang tegak lurus jari-jari tak terhingga dari
tatasurya ke buruwjun. Dalam satu siderial month bulan sudah menempuh busur @
dan sudut ini sama besar dengan sudut yang dibentuk oleh vektor V dengan garis
kerja, sebab masing-masing dari kedua kaki dari kedua sudut itu saling tegak
lurus, sehingga V harus dikoreksi menjadi V cos @.
***
Demi
keotentikan, sebagai pertanggung-jawaban kepada Allah SWT, dalam kolom ini
setiap ayat Al Quran ditransliterasikan huruf demi huruf. Bila pembaca merasa
"terusik" dengan transliterasi ini, tolong dilampaui, langsung ke cara
membacanya saja.
Perhitungan
Perkara yang tidak ghaib yang
disebutkan dalam ayat Qawliyah (Al Quran) pada umumnya dapat diperoleh
kejelasannya baik yang kualitatif maupun yang kuantitatif dengan mengkaji ayat
Kawniyah (alam syahadah, physical world). Berdasarkan hal itu, maka ilmu
pengetahuan alam dapat dipakai sebagai "ilmu bantu" dalam memahamkan ayat
Qawliyah yang berhubungan dengan perkara yang tidak ghaib. Di bawah ini
disajikan sebuah ilustrasi menyangkut seperti yang dinyatakan judul di atas:
"Satu Hari pada Cosmic Affair Setara Seribu Tahun di
Bumi."
Firman Allah SWT: YDBR ALAMR MN
ALSMAa ALY ALARDH TSM Y'ARJ FYH FY YWM KAAN MQDARH ALF SNT MMA T'ADWN (S.
ALSJDT, 5), dibaca: Yudabbirul amra minas sama-i ilal ardhi tsumma ya'ruju
ilayhi fi- yawming ka-na miqda-ruhu- alfa sanatin mimma- ta'uddu-n (s. as
sajadah), artinya (Dia) mengatur urusan dari langit sampai ke bumi,
kemudian naik kepadaNya dalam hari yang kadarnya seribu tahun dari apa yang
kamu hitung (32:5).
Yang menjadi focus perhatian
kita dalam ayat (32:5) di atas itu ada dua perkara, pertama, yang kualitatif,
yaitu substansi "urusan dari langit" (cosmic affair) dan kedua, yang
kuantitatif, yaitu satu hari dalam cosmic affair yang setara dengan seribu
tahun di bumi.
Firman Allah SWT: Inna 'iddatasy syuhu-ri 'indaLla-hitsna 'asyara syahran (S.
at Tawbah, 36), artinya: Sesungguhnya perhitungan bulan disisi Allah adalah 12
bulan (9:36). Jadi menurut ta'rif (definisi) yang diambil dari Al Quran itu
satu tahun terdiri atas 12 bulan qamariyah. Demikianlah pengertian sanatun
(tahun) dalam alfa sanatin mimma- ta'uddu-n haruslah ditransformasikan bukan
kepada sembarang gerak benda langit, melainkan sudah tertentu
ditransformasikan pada gerak bulan, karena menurut ayat (9:36), tahun
didefinisikan sebagai bulan 12 kali mengedari bumi. Seperti dijelaskan di
atas, bulan qamariyah itu ada dua macam, yaitu siderial month dan synodic
month. Satu sidereal month = 27,321661 hari sedangkan satu synodic month =
29,53059 hari.
Ya'ruju ilayhi fi- yawming ka-na
miqda-ruhu- alfa sanatin mimma- ta'uddu-n. Ya'ruju adalah fi'il mudha-ri'
(present and future tenses), sehingga al amru mina ssamaai (urusan dari
langit, cosmic affair) masih sedang dalam perjalanan menempuh ilayhi. Jadi
tidak berarti cosmic affair itu telah menempuh "seluruh" jarak dalam satu hari
itu. Artinya masih menempuh "sepotong" jarak = Sj dari "seluruh" jarak.
Demikianlah urusan langit itu = U, melintasi jarak Sj, sehingga dalam satu
hari setara dengan jarak yang ditempuh bulan sejauh 12000 kali mengelilingi
bumi. Maka dapatlah ditulis persamaan sederhana, yaitu "rumus cosmic affair"
seperti berikut:
Sj = U t = 12000 L, di
mana
Sj sepotong jarak
yang ditempuh cosmic affair dalam satu hari dan yang ditempuh oleh bulan 12000
kali mengelilingi bumi, U = laju cosmic affair, t = satu hari
(terrestrial siderial day) = satu kali bumi berpusing pada sumbunya = 23 jam,
56 menit, 4,0906 detik = 86164,0906 detik dan L = jarak inersial yang ditempuh
bulan dalam satu kali mengorbit bumi dalam pengetian gerak geosentrik, bumi
menjadi titik pusat sistem koordinat, artinya gerak relatif bulan terhadap
bumi.
Karena gerak geosentrik bulan
mendekati gerak lingkaran beraturan, maka dengan rumus sederhana dapatlah
dihitung kecepatan tangensial bulan:
V = 2 Pi R/T, di mana
V = kecepatan
tangensial bulan relatif terhadap bumi, Pi = 3,1416, R = radius rata-rata
orbit gerak geosentrik bulan = 384264 km dan T = satu bulan siderial =
27,321661 hari = 655,71986 jam.
Dengan mensubstitusi harga-harga
itu dalam persamaan tersebut di atas, kita dapatkan:
V = [2 x 3,1416
x 384264] : 655,71986 = 3682,07 km/jam, harga ini merupakan harga
astronomis yang dipakai pula oleh NASA.
Dengan demikian L sudah dapat
dihitung, yaitu dengan rumus sederhana:
L = V T
Namun karena kita berurusan
dengan cosmic affair maka harga V yang relatif terhadap bumi di atas itu harus
dikoreksi, bukan lagi relatif terhadap bumi, melainkan relatif terhadap
buruwjun (cosmic, fixed stars). Yaitu harus dikoreksi dengan cos @, seperti
telah dijelaskan pada pendahuluan dalam fasal Buruwjun menjadi pusat sistem
koordinat. Jadi yang harus dihitung sekarang ialah besarnya sudut @. Ini dapat
dihitung dengan rumus sederhana, yaitu perbandingan antara satu siderial month
(27, 321661 hari) dengan satu tahun syamsiyah (365,25636 hari). Maka kita
dapatkan sudut @ seperti berikut:
@ = 27, 321661 : 365,25636
x 360 = 26,92848 derajat busur. cos @ = cos 26,92848 =
0,89157
Setelah dikoreksi
dengan cos @, maka
L = V T menjadilah
L = 0,89157 V T, dan
apabila rumus ini disubstitusi ke dalam rumus cosmic
affair:
U t = 12000
L, kita akan peroleh:
U t = 12000 x
0,89157 V T
Dengan demikian
laju cosmic affair dapatlah dihitung:
U = 12000 x 0,89157
VT/t, dan dengan mensubsitusi harga-harga V, T dan t ke dalamnya, kita akan
dapatkan:
U = (12000 x
0,89157 x 3682,07[km/jam] x 655,71986 [jam]) / 86164,0906 [detik]
U = 299792,4989
km/detik.(*)
Hasil ini adalah konstante yang diperoleh dalam cosmic affair. Berdasar atas
Firman Allah: Wayasta'jilu-naka bil 'adza-bi wa lan yukhallifaLla-hu
wa'dahu- wa inna yawman 'inda rabbika ka alfi sanatin mimma- t'uddu-n (S. al
Hajj, 47), artinya: Mereka minta segerakan siksa kepada engkau, padahal Allah
tiada akan memungkiri janjiNya. Sesungguhnya sehari di sisi Maha Pengaturmu
seperti seribu tahun dalam perhitunganmu (22:47). Apa yang di sisi Allah Yang
Maha Mutlak, itu mutlak juga keadaannya. Sehingga patokan 1000 tahun dalam
cosmic affair yang melaju U = 299792,4989 km/detik itu merupakan laju mutlak
yang INVARIAN terhadap semua sistem koordinat. Dengan demikian Laju U TIDAKLAH
dinyatakan laju relatif terhadap bulan, laju relatif terhadap matahari, laju
relatif terhadap galaxy Milky way, laju relatif terhadap cluster Local Group,
melainkan berarti laju terhadap bulan = laju terhadap bumi = laju terhadap
matahari = laju terhadap Milky Way = laju terhadap Local Group = U =
299792,4989 km/detik. Harus dapat difahami bahwa U yang invarian terhadap
semua sistem koordinat tidak identik pengertiannya dengan laju maximum. Sebab
menurut Al Quran ada yang melebihi laju U yaitu seperti firman Allah SWT:
Ta'rujul mala-ikatu ar ru-hu ilayhi fi- yawmin ka-na miqda-ruhu- khamsi-na
alfa sanatin (S.al a'a-rij, 4), artinya: Malaikat-malaikat dan ruh (Jibril AS)
naik kepadaNya dalam sehari yang kadarnya lima puluh ribu tahun (70:4).
Artinya malaikat-alaikat itu naik kepadaNya dengan laju 50 kali dari "cosmic
affair"., yaitu = 50 U. Tidak ada penegasan dari ayat lain, sehingga laju
malaikat ini walaupun lebih besar dari U, namun ia tidaklah
invarian.
*** Makassar, 20
Januari, 2002
[H.Muh.Nur
Abdurrahman]
--------------------------------------------------------
(*)
Data yang
diperoleh menurut ilmu fisika ekperimental:
--Weber dan
Kohlrauch (1856) C = 310000 km /detik,
--Curtis (1929) C = 299790 km
/detik,
--Froome (1952) C = 299792 km/detik,
--the US
National Bureau of Standards, C = 299792,4574 +- 0,0011 km/detik,
--the British National Physical Laboratory, C = 299792,4590 +-
0,0008 km/detik
(C adalah laju cahaya di tempat vakum).
Maka
konstante C itu identik dengan konstante U = 299792,4989 km/detik, yaitu laju
semua cosmic affairs seperti laju cahaya, laju semua jenis gelombang
elektro-magnet, laju gelombang gravitasional, laju semua partikel yang melaju
seperti neutrino, dll yang belum didapatkan (discovered), yang melaju merambat
di langit di seantero cosmos, ya, seluruh cosmos
affairs.
==========================================
BISMILLA-HIRRAHMA-NIRRAHIYM
WAHYU DAN AKAL-
IMAN DAN ILMU
[Kolom Tetap Harian Fajar]
732. Masalah Terjemahan S.
Al-Anbiyaa' (21:33)
Pertama-tama diucapkan syukur alhamduliLlah,
karena al-Ustadz H.Abu Bakar Ba'asyir pada tgl 14 Juni telah mengirup udara
bebas. Kepada Australia yang usil karena mengemukakan penyesalannya, yang
berarti mencampuri urusan dalam negeri Republik Indonesia, sungguh patut
diucapkan kepadanya: "To hell with your regret." Kepada Pemerintah diucapkan
penghargaan, karena tidak menghiraukan tekanan negeri-negeri
imperialis.
***
-- WHW ALDzY
KhALAQA ALYL WALNHAR WALSyMS WALQMR KL FY FLK YSBhWN (S. ALANBYAa, 21:33),
dibaca:
-- wahuwal ladzi- khalaqal laila wannaha-ra wasysyamsa walqamara
kullun fi- falakin yasbahu-n.
Terjemahn dari Al-Quran digital:
-- Dan
dialah yang Telah menciptakan malam dan siang, matahari dan bulan.
masing-masing dari keduanya itu beredar di dalam garis edarnya.
Terjemahan
Kitab: Al-Quran dan terjemahnnaya oleh Yayaysan Penyelenggara Penterjemah
Al-Qur'an, Hak Penterjemah Pada Departemen Agama Republik Indonesia, Edisi
Revisi 1994:
-- Dan Dialah yang telah menciptakan malam dan siang,
matahari dan bulan. Masing-masing dari keduanya itu beredar di dalam garis
edarnya.
Terjemahan dari Kitab Tarjamah Al-Quran Al-Karim oleh
Prof.H.Mahmud Yunus, Penerbit PT Al-Ma'arif Bandung, 1988:
-- Dia yang
menjadikan malam dan siang, matahari dan bulan. Masing-masingnya itu beredar
di falak (tempat peredarannya)
Terjemahan dari Kitab The Meaning of The
Glorious Koran oleh Mohammed M. Pickthall, Published by The New American
Library, New York, 1954:
-- And He it is Who created the night and the day,
and the sun and the moon. They float, each in an orbit.
Dalam terjemahan
dari Al-Quran digital dan Departemen Agama tidak mengikuti aturan menterjemah,
yaitu sisipan "dari keduanya itu", seyogianya diletakkan di antara dua tanda
kurung, karena "dari keduanya itu" bukan bagian dari ayat. Besar kemungkinan
terjemahan dari Al-Quran digital diambil dari terjemahan Departemen Agama,
namun Al-Quran digital salah dalam membubuhkan huruf kapital Telah, yang
semestinya kata Dia yang pakai huruf kapital, karena dalam ayat (21:33), Dia
adalah kata ganti untuk Allah. Terjemahan Mahmud Yunus mengikuti aturan
menterjemah, karena meletakkan sisipan, yang bukan bagian dari ayat dalam dua
tanda kurung (tempat peredarannya), namun Mahmud Yunus tidak tepat
terjemahannya "menjadikan" untuk kata "khalaqa". Menciptakan = khalaqa,
menjadikan = ja'ala. Terjemahan Mohammed M. Pickthall "float" untuk
"yasbahuwn" sudah hampir sama dengan makna aslinya "berenang", yaitu
bersentuhan dengan fluida.
Terjemahan
Departemen Agama yang pakai sisipan "dari keduanya itu" yaitu dalam konteks
memberikan penekanan pada kedua benda langit itu. Namun dengan penekanan itu,
terjemahan tersebut sudah melanggar ilmu nahwu (tata-bahasa) dari segi tasrif
(konyugasi, conjugation of Arabic verbs) "yasbahuwn". Karena seperti diketahui
dalam bahasa Arab ada tiga tingkatan, mufrad (tunggal, singular), mutsanna
(ganda, dual) dan jama' (tiga keatas). Kalau yang dimaksud hanya "dari
keduanya itu", yaitu mutsanna, maka tasrifnya
"yasbahaan".
Secara keseluruhan
terjemahan itu tidak ada yang murni tekstual, yaitu yasbahuwn berarti
berenang. Mengapa mesti murni tekstual, silakan dibaca penjelasan
berikut:
***
Yasbahuwna berasal
dari akar kata yang dibentuk oleh huruf-huruf Sin-Ba-ha, sabaha artinya
berenang. Orang yang berenang mempunyai kecepatan relatif terhadap air yang
direnanginya. Demikian pula benda-benda langit yang merenangi dukhan (fluida
interstallair) yang memenuhi alam semesta. Benda-benda langit di samping
mempunyai gerak bersama dengan dukhan mengedari pusat Milky Way, dalam
kecepatan sudut yang sama besar, ibaratnya bintang-bintang itu hanyut dibawa
arus fluida interstellair. Sedemikian jauh terjemahan "float" oleh Pickthal
sudah mengena, namun benda-benda langit itu mempunyai pula gerak relatif
terhadap dukhan, jadi ibarat orang berenang dalam gerakan arus laut. Matahari
berenang dalam dukhan dengan laju relatif sekitar 24 km per detik. Matahari
dibawa arus fluida interstallair mengedari pusat galaxy Milky Way dengan
kecepatan tangensial 450 km per detik. Dalam sekali edar matahari memerlukan
waktu sekitar 224-juta tahun. Sejak Allah SWT menjadikan matahari dari dukhan,
baru 20 kali beredar keliling pusat Milky Way. Laju matahari yang berenang
dalam dukhan itu tampaknya tidak tetap. Ada korelasi antara laju berenang
dengan banyaknya dukhan yang disedot, yaitu makin lambat makin banyak dukhan
yang disedot.
Tidak jauh dari
kutub utara orang mendapatkan di sana batu bara. Itu berarti pernah di tempat
itu beriklim seperti iklim tropis dewasa ini. Itu menunjukkan bahwa pada era
itu matahari berenang lebih lambat (kurang dari 24 km per detik), sehingga
lebih banyak dukhan yang disedotnya, yang menyebabkan volume matahari
membesar, lalu jarak antara bumi dengan matahari menjadi lebih dekat, sehingga
suhu di permukaan bumi menjadi naik. Itulah penjelasan mengapa di kutub utara
juga didapatkan batubara.
Allah SWT sebagai
Ar-Rabb, Maha Pengatur, berkehendak agar kita manusia ini dapat hidup di bumi
di tatasurya ini. Bayangkan jika matahari mempunyai laju berenang hanya 2
sampai 3 km per detik, ia akan menjadi raksasa, seperti bintang raksasa
sejenis matahari, yaitu. Betelgeuze, Razalgethi dan Epsilon Aurigae. Bumi ini
yang pada mulanya berwujud fluida gas yang panas, tidak akan sempat menjadi
fluida cair apalagi padat, karena matahari kian membesar, andaikata laju
berenangnya hanya 2 sampai 3 km per detik. Artinya dalam keadaan itu jarak
matahari dengan bumi kian dekat, bumi malahan makin panas, mana sempat
membeku. Maka dalam proses menjadi raksasa itu akhirnya matahari akan melahap
planet-planetnya. Kalau diameternya sudah sebesar raksasa Betelgeuze akan
melahap bumi, sebesar raksasa Razalgethi akan melahap Saturnus dan 1,5 kali
sebesar raksasa Epsilon Aurigae akan melahap Pluto. WaLlahu a'lamu
bisshawab.
*** Makassar, 18
Juni 2006
[H.Muh.Nur Abdurrahman]
=============================================================
BISMILLAHIRRAHMA-NIRRAHIYM
WAHYU DAN AKAL ?
IMAN DAN ILMU
[kOLOM tETAP hARIAN fAJAR]
768. Surah Ath-Thaariq,
1-3
Sudah lama kita
tidak menengadah, melihat ke atas ke bola langit, maka kita tinggalkan dahulu
bumi yang hiruk-pikuk ini. Marilah kita bertamasya ke bola langit. Maka
dengarlah, bacalah Firman Allah SWT:
-- W ALSMAa W ALThARQ . WMA ADRK MA
ALThARQ . ALNJM ALTsAQB (S. ALThARQ, 86:1-2), dibaca:
-- was sama-i wath
tha-riq . wa ma- adra-ka math thariq . annajmuts
tsa-qib (tanda ? dipanjangkan membacanya)
Wa dalam permulaan
ayat diikuti oleh kata yang bunyi akhirnya dikasrah (seperti dalam huruf Latin
konsonan yang mendapat i) , itu menyatakan sebuah sumpah, namun tidak cocok
untuk dibahasa-Indonesiakan dengan "demi". Sebab dalam bahasa Indonesia "demi"
itu menyatakan penguatan yang ditumpukan kepada sesuatu yang lebih "tinggi"
dari yang bersumpah. Yang bersumpah dalam ayat ini adalah Allah, Yang A?lay,
Yang Maha Tinggi, jadi dalam hal ini Wa bermakna penegasan, sehingga Wa tidak
cocok di-Indonesia-kan dengan "demi?, melainkan "perhatikanlah?. Maka ayat
(86:1-3) berarti:
-- Perhatikanlah (benda-benda) langit dan perhatikanlah
ath-Thaariq . Tahukah kamu apakah ath-Thaariq? . Itulah bintang
ats-Tsaaqib.
Ath-Thaariq dan
ats-Tsaaqib belum diterjemahkan. Kata "Thaariq," berasal dari akar kata
[Tha-Ra-Qaf], yang makna dasarnya adalah memukul dengan cukup keras untuk
menimbulkan bunyi/getaran yang berdenyut. Makna turunannya adalah "yang datang
pada malam hari", oleh karena orang yang datang pada malam hari biasanya
mendapati pintu yang sedang terkunci, lalu pintu itu diketuk yang menimbulkan
bunyi/getaran yang berdenyut. Kata "Tsaaqib" berasal dari akar kata
[Tsa-Qaf-Ba], yang makna dasarnya cemerlang. Makna turunannya menembus, karena
cahaya cemerlang itu, seperti sinar laser menembus kegelapan
malam.
Dalam Seri 343
telah dikemukakan klasifikasi benda-benda langit berdasar atas kriteria
menurut Al-Quran, yang berbeda dengan kriteria menurut ilmu falak (astronnomi)
kontemporer. Dalam Seri 343 dikemukakan bahwa menurut Al-Quran klasifikasi
bintang-bintang berdasar atas jarak, keadaan fisik dan penggugusan. Dengan
klasifikasi tersebut, bintang-bintang itu dibedakan dalam: tiga jenis bintang
yaitu: kawkabun, najmun dan buruwjun. Seperti diketahui klasifikasi
bintang-bintang menurut astronomi kontemporer berdasar atas kriteria geraknya,
sehingga jenis bintang-bintang dibedakan dalam: bintang-bintang tetap dan
planet. Padahal menurut S.Al Anbiyaa 33 dan S.Yasin 40, artinya saja
ditliskan: semuanya
berenang dalam jalurnya, dan menurut hasil observasi
memang tidak ada benda-benda langit yang diam. Sehingga klasifikasi
bintang-bintang berdasar atas geraknya sudah ketinggalan kereta api kemajuan
hasil observasi.
Dalam Seri 343
telah dikemukakan benda-benda langit itu secara lengkap seperti
berikut:
1.
Kawa-kibun:
Utarid
(Merkuri),
Kejora (bintang Timur, Venus),
Bumi,
Marikh
(Mars),
Mustari
(Jupiter),
Zuhal
(Saturnus),
Uranus,
Neptunus,
Pluto,
komet,
planetoid (astroid), meteor
2.
Nujuwmun:
bintang-bintang tunggal,
bintang-bintang kembar,
bintang-bintang raksasa,
bintang-bintang redup (kerdil) dan pulsar
(bintang bersenyut),
lubang-lubang hitam (black
holes)
3.
Burujun:
galaxy,
cluster
4. Dukhan (fluida interstellair),
dll yang manusia belum dapat dan belum sempat mengenalnya.
Adapun pembahasan
ayat (86:1-3) difokuskan pada arti dasar "Thaariq", yaitu memukul dengan cukup
keras untuk menimbulkan bunyi/getaran yang berdenyut dan "Tsaaqib", yaitu
cemerlang. Silakan dilihat dalam perincian Nujumun ada yang disebut
bintang-bintang raksasa, pulsar dan lubang hitam. Akan dipergunakan hasil
observasi sebagai ilmu bantu untuk menjelaskan ayat (86:1-3).
Bintang-bintang
biru yang merupakan julukan bagi deret kelompok bintang raksasa yang massanya
lebih besar dari 1,4 kali massa matahari, yang telah menghabiskan seluruh
bahan bakarnya ambruk hancur ke dalam dirinya, mengalami keruntuhan gravitasi
menghasilkan ledakan dahsyat yang disebut supernova dengan peningkatan
kecemerlangan cahaya hingga miliaran kali cahaya bintang biasa, yang kemudian
"memperanakkan" dua jenis benda langit, yaitu pulsar dan lubang hitam
tersebut.
Melalui penelitian oleh Jocelyn Bell Burnell, di
Universitas Cambridge pada tahun 1967, sinyal elektromagnet yang terpancar
secara teratur ditemukan. Namun, hingga saat itu belumlah diketahui bahwa
terdapat benda langit yang berkemungkinan menjadi sumber getaran atau
denyut/detak teratur yang agak mirip pada jantung. Para pakar astronomi
menyatakan bahwa, ketika materi menjadi semakin rapat di bagian inti karena
perputarannya mengelilingi sumbunya sendiri, medan magnet bintang tersebut
juga menjadi semakin kuat, sehingga memunculkan sebuah medan magnet pada
kutub-kutubnya sebesar 1 triliun kali lebih kuat dari yang dimiliki Bumi.
Sebuah benda yang berputar sedemikian cepat dan dengan medan magnet yang
sedemikian kuat memancarkan berkas-berkas sinar yang terdiri dari
gelombang-gelombang elektromagnet yang sangat kuat berbentuk kerucut di setiap
putarannya. Tak lama kemudian, dapat diobservasi bahwa sumber sinyal-sinyal
ini adalah perputaran cepat dari bintang-bintang yang disebut pulsar
tersebut. Sejumlah pulsar berputar 600 kali per detik. Pulsar berputar pada
sumbunya sendiri dengan sangat cepat. Telah dihitung bahwa terdapat lebih dari
500 pulsar di galaksi Milky Way (Kabut Susu), yang di dalamnya terdapat
Tata-Surya kita. Pulsar itu dikenal pula dengan nama bintang
neutron.
Lubang hitam itu
mempunyai kerapatan tak terhingga serta medan magnet yang amat kuat. Kita
tidak mampu melihat lubang hitam dengan teropong terkuat sekalipun, sebab
tarikan gravitasi lubang hitam tersebut sedemikian kuatnya. Bahkan, cahaya pun
tidak mampu melepaskan diri darinya. Di dalam kaidah fisika, besaran gaya
gravitasi berbanding terbalik dengan kuadrat jarak menurut rumus:
F
= µ 1/r^2.
Dari rumus tsb dapat difahami mengapa lubang hitam
mempunyai gaya gravitasi yang sangat dahsyat. Dengan nilai r yang makin kecil
atau mendekati nol, gaya gravitasi akan menjadi tak hingga besarnya. Materi
pembentuk lubang hitam mengalami pengerutan yang tidak dapat mencegah apapun
darinya. Lubang hitam menjadi sangat mampat sampai menjadi suatu titik massa
yang kerapatannya tidak terhingga, yang disebut
singularitas.
Jadi ayat [86:1-3]
terjemahannya spb;
Perhatikanlah (benda-benda) langit dan perhatikanlah
pulsar yaitu bintang neutron yang datang pada malam hari . Tahukah kamu apakah
pulsar atau bintang neutron yang datang pada malam hari itu? . Itulah bintang
yang terjadi melalui ledakan supernova yang cemerlang yang menembus kegelapan
malam.
WaLlahu a'lamu
bishshawab.
*** Makassar, 4
Maret 2007
[H.Muh.Nur Abdurrahman]
*************************************************************************************************************
#############################################################################################################
----- Original Message -----
Sent: Monday, March 26, 2007
23:24
Subject: Re: To HMNA and FeiFei Re:
[debat_antar_agama] Respon unt Charlie
Loh,
anda ini ngakunya pengikut ajaran Jesus yang penuh dengan cinta kasih...
masak sih ngak kelihatan disini... yang terlihat hanya emosi dan merasa yang
paling ..... saja.
Kalau
ngak salah, ada ajaran di Kristen yang mengajarkan untuk mendoakan sesama
dan bahkan musuh-musuhmu,...
Disini,
menurut saya, kita (anggota milis) ngak ada yang musuh khan... maka itu kita
bertukar pendapat. Kalau blom mengerti, yah wajar orang bertanya dan
mengajukan argumen nya doong. Tujuannya untuk saling memberi dan
mengasah dengan asih.
Kalau
argumen pihak lain ada celahnya,.. beritahu dia dan berikan kesempatan dia
berfikir dengan kepala dingin... Begini kan lebih enjoy jadinya. Kalau
ada yang menyerang,... disanalah kesempatan anda untuk menjawabnya
dengan bentuk iman yang anda yakini... (bagaimana anda bereaksi, apakah
sesuai ajaran agama yang anda imani atau malah bertolak belakang?) Ini
sekaligus buat intropeksi (cek and ri-cek) kedalam diri dan sejauh mana
keimanan anda sampai saat ini.
Salam,
Charlie
-----
Original Message ----
From: feifei2899
<feifei2899@yahoo.
com.sg>
To:
debat_antar_agama@yahoogroups.com
Sent: Monday, March 26, 2007
10:49:15 PM
Subject: To HMNA and FeiFei Re: [debat_antar_agama]
Respon unt Charlie
Hai Iblis tidak usah membodohi orang awan dgn ajaran
Ilmiah
Jaringan yg anda gambarkan aja sudah tidak masuk di logika
mana bisa 1
GARIS PUTUS PUTUS DISEJAJARKAN DGN YG BERSAMBUNG MENDAPATKAN
HASIL YG
SAMA. He he kalau anak kecil mungkin bisa km
perdaya.
Network Planning itupun ilmu ekonomi unt meletakan suatu
mesin di pabrik
agar terjadi efisiensi ruang yg membuat terciptanya
biaya/cost rendah.
network planning jg digunakan bukan saja di dlm
ekonomi tp jg digunakan
dlm teknologi nanomolekul saat ini.
Saat
inipun masih ada aja yg mengkait-kaitkan ilmu pengetahuan/ sains
dgn
agama he he ,yg orang bodohpun tau sains dgn agama pasti
saling
bertentangan.
Ayat2 quran yg saling bertentangan satu dan
yg lainnya terus di coba
dikait kaitkan dgn ilmu pengetahuan yg memakai
logika dan uji coba mana
akan nyambung itu sama saja melawan hukum alam.
.
Disclaimer:
Although this message has been checked for all known viruses using
Trend Micro InterScan Messaging Security Suite, Bukopin accept no
liability for any loss or damage arising from the use of this E-Mail
or attachments.
|