logo       

Re: To HMNA and FeiFei Re: [debat_antar_agama] Respon unt Charlie: msg#00258

culture.religion.healer.mayapada

Subject: Re: To HMNA and FeiFei Re: [debat_antar_agama] Respon unt Charlie

Itu feifei kentara tidak tahu Network Planning, membuka buku ttg Network Planning saja ternyata juga tidak pernah, cuma pintar maki-maki saja, kasihan betul. Anak panah putus-putus dalam Network Planning itulah yang disebut dengan Dummy acitivity. Cobalah feifei masuk toko buku cari salah satu buku tentang Network Planning di situ feifei akan dapat melihat itu Dummy acitivity.
 
Ho, ho, feifei dengan sinis menyindir bilang: Saat inipun masih ada aja yg mengkait-kaitkan ilmu pengetahuan/ sains dgn agama he he. Orang bodohpun (sic?-HMNA) tahu sains dgn agama pasti saling bertentangan.
Ha, ha, ha, mengaitkan (bukan mengkaitkan) sains dengan agama cq Al-Quran, why not? Sains dipakai sebagai ilmu bantu untuk dapat memahami Al-Quran dengan baik, why not! fei, fei cs, saya bikin kenyang kalian dengan sains sebagai ilmu bantu untuk dapat memahami ayat-ayat Al-Quran dengan baik. Baca rentetan Seri 003 hingga 768, yaitu: Seri 003, 435, 508, 732 dan 768 di bawah ! Kemudian renungkanlah yang bodoh itu siapa ? Think !
HMNA
*************************************************************************************
 
BISMILLA-HIRRAHMA-NIRRAHIYM
 
WAHYU DAN AKAL - IMAN DAN ILMU
[Kolom Tetap Harian Fajar]
003. Interaksi Iman dan Ilmu, Pencemaran Thermal
 
Antara tumbuh-tumbuhan di pihak yang lain dengan manusia dan binatang di pihak yang lain membentuk sistem yang dalam ungkapan bidal Melayu lama berbunyi: Seperti aur dengan tebing, atau dalam ungkapan modern yang canggih bunyinya: Mutualis simbiosis, suatu ekosistem saling menghidupi dan menghidupkan. Aur yang tumbuh di tebing mendapat zat-zat yang dibutuhkan tanaman untuk bertumbuh. Akar-akar aur menusuk ke dalam tanah di tebing untuk dapat mengisap zat-zat yang dibutuhkannya itu. Di pihak yang lain tebing mendapatkan manfaat dari akar-akar rumpun aur, tebing menjadi kuat, tidak mudah terban (tidak pakai g).
 
Untuk dapat hidup, manusia dan binatang harus mengisi perut, makan dan minum dan mengisap udara, bernafas. Tujuan makan bukan untuk kenyang, karena itu hanya sekadar kesan saja, melainkan makan pada hakekatnya adalah mengisi tubuh dengan bahan bakar. Dan bernafas bukan hanya sekadar menghirup udara segar supaya tidak mati lemas, melainkan mengisi tubuh dengan oksigen dari udara. Di dalam tubuh manusia dan binatang terjadilah reaksi kimia yang disebut oksidasi. Reaksi kimia ini menimbulkan panas dan proses tersebut disebut respirasi. Demikianlah tubuh manusia dan binatang menjadi panas, dan panas ini dipertahankan suhunya oleh suatu sistem yang musykil dalam tubuh manusia dan binatang, yaitu sistem pengatur suhu. Menarik nafas artinya memasukkan oksigen ke dalam tubuh, sedangkan mengeluarkan nafas artinya membuang sampah hasil pembakaran ke udara. Sebenarnya yang dibuang ke udara itu pada hakekatnya hanya sejenis yang berupa sampah dan yang lain tidak dipandang sampah. Yang pertama adalah karbon dioksida, zat asam arang, CO2. Yang kedua adalah air dalam bentuk uap. Air yang berasal dari mengeluarkan nafas ini dapat dilihat jika kita ada di tempat dingin. Uap air itu mengembun di udara berupa titik-titik air yang halus, kelihatannya seperti asap putih atau kabut.
 
CO2 ayang dihasilkan/dikeluarkan dari tubuh manusia dan binatang merupakan polutan, zat pencemar yang mencemarkan udara. Pencemaran udara oleh CO2 ini bukan semata-mata dari manusia dan binatang saja, melainkan, dan ini yang lebih banyak, berasal dari budak-budak tenaga, energy slaves. Tidaklah berperi-kemanusiaan, jika manusia memperbudak sesamanya manusia. Akan tetapi oleh karena pada dasarnya manusia suka memperbudak, maka manusia memperbudak binatang, tenaga otot binatang dimanfaatkan untuk bekerja. Setelah James Watt mendapatkan mesin uap, maka manusia memproduksi budak-budak tenaga secara massal, yaitu mesin-mesin yang dayanya lebih besar dari daya otot binatang. Dan mesin-mesin ini menghasilkan CO2 jauh lebih banyak ketimbang CO2 yang berasal dari manusia dan binatang. Sehingga sangat perlu sekali dilaksanakan birth control terhadap budak-budak tenaga ini. Mengapa? Oleh karena CO2 ini adalah zat pencemar yang menyebabkan terjadinya pencemaran thermal, thermal pollution. Bumi jadi panas, suhunya naik, es di kutub utara dan selatan mencair, air laut naik, maka terjadilah banjir yang akan lebih hebat dari banjir di zaman Nabi Nuh AS. Dan naiknya permukaan laut ini bukan teori omong kosong, betul-betul naik menurut hasil intizhar atau observasi.
 
Mengapa CO2 itu menjadi penyebab pencemaran thermal, informasinya seperti berikut: Lapisan udara yang mengandung CO2 yang banyak, menyebabkan permukaan bumi ditutupi oleh lapisan CO2. Ini menyebabkan terjadinya efek rumah kaca. Di tempat yang beriklim dingin, jika ingin menanam buah-buahan dan sayur-sauran yang membutuhkan suhu yang lebih tinggi dari suhu udara luar, maka buah-buahan dan sayur-sayuran itu ditanam di dalam rumah kaca. Gelas atau kaca adalah zat bening, radiasi matahari yang disebut photon gampang menerobos masuk. Photom itu memukul molekul-molekul udara dalam rumah  kaca. Getaran molekul udra itu dipacu oleh photon itu, maka bertambah intensiflah getaran molekul udara itu, yang membawa kesan fenomena naiknya suhu udara, karena itulah udara bertambah panas. Kaca adalah penghantar panas yang jelek. Maka terperangkaplah panas itu dalam rumah kaca. Photon mudah menerobos masuk, namun setelah tenaga radiasi itu sudah ditransfer menjadi tenaga panas dalam rumah kaca, gelombang panas tidak/kurang mampu menerobos keluar. Inilah efek rumah kaca. Juga CO2 adalah zat bening mudah ditembus photon. Juga CO2 adalah zat pengantar panas yang jelek. Maka terperangkaplah gelombang panas dalam ruang antara lapisan CO2 dengan permukaan bumi, seperti halnya gelombang panas dalam rumah kaca.
 
Demikianlah seriusnya gejala alam berupa naiknya suhu di permukaan bumi ini, atau globalisasi thermal ini, maka Allah SWT memberikan informasi kepada ummat manusia sejak lebih 14 abad yang lalu. Berfirman Allah SWT dalam Al Quran, S. Yasin, ayat 80 sebagai berikut:
-- Alladzie ja'alalakum minasysyajari-lakhdhari naaran faidzaa antum minu tuuqiduun. artinya: Yaitu Yang menjadikan bagimu api dalam (zat) hijau pohon dan dengan itu kamu dapat membakar.
 
Sepintas lalu secara common sence, kita menjumpai pertentangan antara akal dengan wahyu. Akal kita mengatakan, bahwa api itu atau yang dibakar itu bukan dari pohon yang hijau, melainkan dari kayu-kayuan dan daun-daunan yang kering berwarna coklat. Memang pepohonan hijau dapat terbakar dalam bencana alam berupa kebakaran hutan, tetapi penlesan ini tidak relevan, karena ayat itu menjelaskan "kamu" membakar, maksudnya dengan sengaja membakar. Kebakaran hutan terjadi karena ketidak sengajaan.Ada kitab tafsir yang mencoba menjelaskan bahwa ada sejenis pohon  yang dapat dijadikan kayu bakar, walaupun masih hijau. Tetapi akal kita mengatakan bahwa menurut qaidah bahasa Arab, bentuk mudzakkar (laki-laki) asysyjaru-lakhdhar dalam ayat di atas menunjuk kepada pohon secara keseluruhan, bukan hanya sekadar sejenis pohon. Kalaulah yang dimaksud hanya sejenis, atau sebahagian pohon, maka harus memakai bentuk muannats (perempuan), yaitu asysyaratu-lkhadhraau. Jadi penafsiran dalam kitab tafsir trersebut tidak/belum dapat memecahkan permasalahan adanya pertentangan antara akal dengan wahyu. Ada yang menempuh pendekatan majazi (kiasan, metaphor), yaitu hijau dimaknai dengan "subur"
 
Namun masih ada upaya lain dengan paradigma seperti dijelaskan dalam Seri 001, yaitu akal harus tunduk pada wahyu. Kalau terjadi pertentangan antara akal dengan wahyu, maka akal harus mengalah. Seperti telah dijelaskan dalam Seri 001, akal membutuhkan informasi untuk berpikir. Akal harus mengalah kepada wahyu, oleh karena dalam keadaan yang demikian itu adalah suatu isyarat bahwa akal membutuhkan informasi yang lebih canggih untuk dapat merujuk akal itu kepada wahyu. Dan informasi ini bersumber dari ilmu fisika, kimia, botani dengan pengkhususan anatomi tumbuh-tumbuhan.
 
Reaksi thermonuklir di matahari mentransfer wujud tenaga nuklir menjadi tenaga radiasi yang berwujud sinar gamma yang menembus ke lapisan bagian luar dari matahari. Sinar gamma itu mengalami penyusutan energi karena menembus lapisan matahari itu. Setelah sampai di bagian luar sinar yang telah berdegradasi energinya itu dikenal sebagai photon, lalu memancar ke sekeliling matahari, antara lain menyiram permukaan bumi.
 
Tumbuh-tumbuhan dibangun oleh bahagian-bahagian kecil yang disebut sel. Di dalam inti sel terdapat butir-butir pembawa zat warna. Yang terpenting di antara butir-butir itu adalah pembawa zat warna hijau, yang disebut khlorophyl, zat hijau daun (istilah ilmiyah dari bahasa Yunani, Kholoros = hijau, Phyllon = daun). Khlorophyl ini menangkap photon dari matahari dan mengubah wujud tenaga photon itu menjadi tenaga potensial kimiawi dalam makanan dan bahan bakar hidrokarbon di dalam molekul-molekul melalui proses photosynthesis. Dalam proses photosynthesis oleh khlorophyl ini dari bahan baku CO2 dan air dan photon, dihasilkan makanan dan bahan bakar hidrokarbon dan oksigen. Selanjutnya melalui proses respirasi dalam tubuh manusia dan binatang dan budak-budak tenaga, makanan dan bahan bakar itu dengan oksigen dari udara berubahlah pula menjadi CO2 dan air. Demikianlah sterusnya daur atau siklus itu berlangsung. Photosynthesis - CO2 dan air - respirasi - makanan, bahan bakar, dan oksigen. Jadi tumbuh-tumbuhan mengambil CO2 dan mengeluarkan oksigen. Sebaliknya manusia dan binatang mengambil oksigen dan mengeluarkan CO2.
 
Secara gampangnya asysyajaru-lakhdhar itu adalah pabrik makanan / bahan bakar dan oksigen. Bahan mentahnya adalah air dan CO2. Mesin pabrik adalah photon dan proses dalam pabrik yang mengolah air dan CO2 menjadi makanan / bahan bakar dan oksigen disebut proses photosynthesis (sintesa atau penyusunan oleh photon). Makanan dibakar dengan oksigen dalam tubuh manusia, oksigen dihisap dari udara, demikian pula bahan bakar dibakar dengan oksigen dalam mesin-mesin pabrik. Oksigen disedot dari udara. Itulah ma'na minasysyajari-lakhdhari naaran faidzaa antum minhu tuuqiduun. Demikianlah ilmu fisika, kimia, botani dengan pengkhususan anatomi tumbuh-tumbuhan membantu kita untuk dapat memahami S. Yasin, ayat 80 dengan baik, memberikan informasi yang cukup bagi akal kita, sehingga menghilangkan pertentangan antara akal dengan wahyu.
 
Alhasil, jika informasi itu cukup lengkap bagi akal, akan hilanglah pertentangan antara akal dengan wahyu. Pemakaian istilah asysyjaru-lakhdhar, zat hijau pohon dalam Al Quran lebih tepat dari istilah ilmiyah khlorophyl, zat hijau daun, oleh karena zat tersebut bukan hanya terdapat dalam daun saja, melainkan pada seluruh bagian pohon asal masih berwarna hijau, mulai akar yang tersembul asala masih hijau, dari batang asal masih hijau, cabang asal masih hijau, ranting, daun, sampai ke pucuk serta buah yang masih hijau.
 
Dari S. Yasin, ayat 80 itu, dengan penjelasan berupa informasi dari ilmu fisika, kimia, botani dengan pengkhususan anatomi tumbuh-tumbuhan sebagai ilmu bantu untuk dapat mengerti wahyu dengan baik dan jelas, dapatlah kita lihat bagaimana pentingnya hutan. Bukan hanya sekadar mengendalikan air di dalam tanah dan permukaan bumi, tidak banjir di musim hujan dan tidak kering di musim kemarau. Akan tetapi, dan ini yang lebih penting, adalah untuk terjadinya daur: tumbuh-tumbuhan penghasil oksigen, yang membutuhkan CO2 - manusia dan binatang penghasil CO2, yang membutuhkan oksigen. Maka terjadilah seperti yang diungkapkan oleh bidal Malatyu lama: seperti aur dengan tebing, mutualis simbiosis.
 
Demikianlah uraian interaksi iman dan ilmu dalam ruang lingkup daur CO2 dan oksigen dalam pengetahuan lingkungan khusus globalisasi pencemaran thermal dan pentingnya hutan. WaLlahu a'lamu bishshawab.
 
*** Makassar, 3 November 1991
    [H.Muh.Nur Abdurrahman]
================================
 
BISMILLA-HIRRAHMA-NIRRAHIYM
 
WAHYU DAN AKAL - IMAN DAN ILMU
[Kolom Tetap Harian Fajar]
435. Terjemahan yang Berbeda, Tetapi Semuanya Benar
 
Firman Allah SWT:
-- YKWR ALYL 'ALY ALNHAR WYKWR ALNHAR 'ALY ALYL (ALZMR,  5), dibaca:
-- yukawwirul layla 'alan naha-ri  wayukawwirun naha-ra  'alal layli (azzumar, 35:5), artinya ke dalam 3 bahasa:
 
==>He maketh night to succeed  day, and He maketh day to succeed night (Mohammed M.Pikthall-USA).
==>He makes  the  night cover the day, and makes the day  overtake  the night (M.H.Shakir-Iran).
==Hij laat den nacht de dag overdekken  en laat  den  dag de nacht overdekken (M.Muhammad  Ali-Pakistan, ke dalam Bahasa Belanda oleh Soedewo).
==>Dia memutarkan malam  kepada siang dan memutarkan siang kepada malam (Mahmud Junus-Indonesia).   
Dalam  keempat terjemahan itu YKWR (yukawwiru)  diterjemahkan berbeda-beda, yaitu succeed (=come next, follow, mengikuti), cover,  overdekken (=cover, menutup) overtake (=menyusul), dan memutar. Itulah  sebabnya  setiap  terjemahan  Al Quran perlu diindahkan untuk menyertakan teksnya yang asli. Ini pula  jawaban pertanyaan  yang sering saya terima baik secara langsung, maupun melalui telpon, yaitu pertanyaan yang mengatakan  mengapa dalam kolom  ini  jika  menterjemahkan ayat-ayat Al Quran senantiasa disertakan  teksnya.  Bahkan ada yang bukan  pertanyaan,  malahan anjuran dengan sangat supaya teks asli itu dituliskan bukan dalam huruf-kapital Latin,  melainkan  dalam huruf asli  ejaan  'Utsman  (Rasm 'Utsman).  Anjuran  menuliskan teks Al Quran  dengan  huruf  asli ejaan  'Utsman tidak dapat terpenuhi disebabkan oleh dua hal: Pertama,  alasan  prinsipiel, yaitu kalau  menuliskan  teks  asli dalam  huruf asli di atas harian ataupun tabloid pekanan, tengah bulanan, bulanan (yang bukan buku ataupun majallah), adalah sangat riskan, karena mudah sekali tercecer di mana-mana, lalu  diinjak-injak  orang. Kedua, alasan teknis, yaitu program huruf Arab tidak belum tersedia di Fajar.
 
Kembali kepada terjemahan di atas: mengikuti, menutup, menyusul,  memutar.  Tanpa menyertakan teksnya yang  asli,  orang orang  dalam kalangan negeri-negeri yang berbahasa  Inggris  akan berdebat dengan sesamanya, karena to cover berbeda artinya dengan to  succeed, antara orang Belanda dengan orang  Indonesia,  sebab overdekken berbeda artinya dengan memutar. Akan tetapi dengan mengikut sertakan teksnya yang asli YKWR, yang berasal dari akar kata  KWR, kef, wau, ra, kawwara artinya memutar kain  serban  di kepala,  maka semua terjemahan itu tidak ada yang  salah,  karena perbedaan  itu  terletak dalam hal visi yang  berbeda,  ada  yang melihatnya dari segi proses, ada yang melihatnya dari segi luaran (ouput).  Yang berorientasi proses akan menterjemahkannya dengan mengikuti (succeed), menyusul (overtake) dan memutar. Bukankah kain serban itu melilit kepala,  lilitan  pertama diikuti oleh  lilitan kedua, ketiga, susul-menyusul? Bukankah kain serban itu memutar keliling kepala? Namun yang berorientasi output akan menterjemahkannya dengan menutup (cover, overdekken). Bukankah outputnya ialah serban itu menutup kepala? Apabila dibawa kepada kenyataan sehari-hari antara malam dengan siang,  siang dengan malam, maka terjemahan mengikuti (succeed), menyusul (overtake) adalah terjemahan yang  sederhana, gampang  difahami  orang awwam, yaitu malam dengan  siang,  siang dengan  malam saling mengikuti, susul-menyusul. Namun  terjemahan menutup agak sukar difahami orang-orang yang tinggal dekat kattulistiwa, di mana perbedaan lama antara malam dengan siang tidak  begitu  kentara,  karena malam dengan  siang  hampir  sama lamanya.  Lain halnya dengan penduduk pada belahan  bumi  sebelah utara  ataupun  selatan.  Jika matahari sedang  di  belahan  bumi utara,  seperti sekarang ini, (pada pelajaran ilmu  bumi-alam  di Indonesia  biasanya  di  sebut matahari di atas  Asia),  maka  di negeri-negeri Eropah, siang lebih panjang dari malam. Pada  waktu posisi  matahari  di atas Asia seperti sekarang  ini,  di  negeri Belanda  misalnya orang groeten (memberi salam),  goeden  (dibaca khuyen)  avond, artinya malam baik, atau selamat  malam,  padahal matahari masih tinggi di ufuk barat. Artinya dalam rentang  waktu selisih jarak-waktu kelebihan siang atas malam, berlakulah  siang menutup malam, Hij laat den dag de nacht overdekken.
 
Seperti kita telah lihat, terjemahan menutup di atas itu dijelaskan dengan memakai ilmu-bantu berupa ilmu bumi-alam, maka terjemahan memutar perlu dibantu  oleh  ilmu-bantu berupa ilmu falak (astronomi). Setengah bola bumi yang  tidak  kena sinar matahari menjadi malam, sedangkan setengah bola bumi yang menghadap ke matahari menjadi siang. Malam berganti siang,  siang berganti  malam,  adalah akibat perputaran  bumi  pada  sumbunya. Itulah   dia  makna:  Dia  memutarkan  malam kepada siang dan memutarkan  siang  kepada  malam. Jadi  terjemahan  Mahmud Junus menunjukkan kemu'jizatan Al Quran, karena pada waktu Al Quran diturunkan dari Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW, peradaban dan kebudayaan  dunia belum mengenal bumi sebagai bola yang  berputar pada sumbunya. WaLla-hu a'lamu bishshawa-b.
 
***  Makassar, 6 Agustus 2000
     [H.Muh.Nur Abdurrahman]
 
============================================
BISMILLA-HIRRAHMA-NIRRAHIYM
 
WAHYU DAN AKAL - IMAN DAN ILMU
[Kolom Tetap Harian Fajar]
508. Cosmic Affairs
 
      Sistem Koordinat
 
      Sistem Koordinat dipakai sebagai patokan bagi gerak titik benda. Biasanya memakai sistem orthogonal (Koordinat Kartesis), dalam ruang memakai 3 sumbu saling tegak lurus X, Y, Z dimulai dari titik O yang disebut pusat sistem koordinat. Dalam praktek yang dijadikan titik O ialah bumi, matahari dan kendaraan yang sedang bergerak (termasuk space ship). Di dalam kinematika (ilmu gerak) semua gerak adalah gerak relatif terhadap titik pusat sistem koordinat.
 
      Bumi Sebagai Pusat Sistem Koordinat
 
      Jika orang misalnya menembakkan proyektil dengan sudut @, maka dalam ilmu mekanika dikatakan lintasan proyektil itu membentuk garis lengkung yang disebut dengan "lintasan peluru" yang dalam kacamata matematika disebut kurva berbentuk parabola, dengan pengertian bahwa itu berbentuk parabola terhadap bumi.
 
      Dalam kalkulasi mencari konstante U (urusan, al amr = cosmic affair), terlebih dahulu dikemukakan definisi apa itu satu tahun. Al Quran memakai sistem qamariyah (lunar system), satu tahun = 12 bulan qamariyah. Dalam sistem syamsiyah (solar system) pengertian satu  bulan itu tidak tegas/eksak, artinya tidak dapat dirujuk pada gerak bulan dari mana ke mana . Sedangkan dalam sistem qamariyah (lunar system) satu bulan itu tegas/eksak. Dalam bidang falakiyah (astronomis) satu bulan ditegaskan dengan satu kali bulan mengelilingi bumi, dengan bumi sebagai pusat sistem koordinat dengan lintasan mendekati lingkaran. Ini disebut dengan siderial month. Dalam penanggalan (kalender) ditegaskan satu bulan qamariyah adalah jarak waktu antara dua posisi ijtima'. Ini disebut dengan synodic month. (Yang disebut posisi ijtima', ialah bumi, bulan dan matahari hampir-hampir dalam satu garis. Dikatakan hampir-hampir, karena ada kalanya ketiganya betul-betul terletak dalam satu garis, yang dalam hal itu terjadi gerhana matahari, karena bulan menutup matahari).
 
    Jadi kalau dikatakan satu tahun 12 kali bulan mengelilingi bumi (pure lunar system), dan 1000 tahun 12000 kali bulan mengelilingi bumi, maka itu berarti bumi sebagai pusat sistem koordinat, gerak bulan relatif terhadap bumi dalam lintasan mendekati lingkaran. Inilah dasar dari rumus dasar cosmic affair dan untuk menghitung kecepatan tangensial bulan terhadap bumi, seperti yang dilakukan dalam kalkulasi di bawah.
 
    Buruwjun Sebagai Pusat Sistem Koordinat
 
    Dalam tahap permulaan menghitung bumi dijadikan pusat sistem koordinat, sehingga perlu dikoreksi setelah buruwjun dijadikan pusat sistem koordinat. Kalau pada waktu bumi dijadikan pusat sistem koordinat kecepatan tangensial V selalu tegak lurus pada jari-jari lingkaran orbit bulan mengelilingi pusat sistem koordinat yaitu bumi. Namun setelah buruwjun yang dijadikan pusat sistem koordinat, maka V sudah tidak lagi merupakan kecepatan tangensial. Maka dalam satu siderial month arah vektor V perlu dikoreksi dengan mengambil proyeksinya terhadap garis kerja yang tegak lurus jari-jari tak terhingga dari tatasurya ke buruwjun. Dalam satu siderial month bulan sudah menempuh busur @ dan sudut ini sama besar dengan sudut yang dibentuk oleh vektor V dengan garis kerja, sebab masing-masing dari kedua kaki dari kedua sudut itu saling tegak lurus, sehingga V harus dikoreksi menjadi V cos @.
 
***
Demi keotentikan, sebagai pertanggung-jawaban kepada Allah SWT, dalam kolom ini setiap ayat Al Quran ditransliterasikan huruf demi huruf. Bila pembaca merasa "terusik" dengan transliterasi ini, tolong dilampaui, langsung ke cara membacanya saja.
 
Perhitungan
 
      Perkara yang tidak ghaib yang disebutkan dalam ayat Qawliyah (Al Quran) pada umumnya dapat diperoleh kejelasannya baik yang kualitatif maupun yang kuantitatif dengan mengkaji ayat Kawniyah (alam syahadah, physical world). Berdasarkan hal itu, maka ilmu pengetahuan alam dapat dipakai sebagai "ilmu bantu" dalam memahamkan ayat Qawliyah yang berhubungan dengan perkara yang tidak ghaib. Di bawah ini disajikan sebuah ilustrasi menyangkut seperti yang dinyatakan judul di atas: "Satu Hari pada Cosmic Affair Setara Seribu Tahun di Bumi."
 
      Firman Allah SWT: YDBR ALAMR MN ALSMAa ALY ALARDH TSM Y'ARJ FYH FY YWM KAAN MQDARH ALF SNT MMA T'ADWN (S. ALSJDT, 5), dibaca: Yudabbirul amra minas sama-i ilal ardhi tsumma ya'ruju ilayhi fi- yawming ka-na miqda-ruhu- alfa sanatin mimma- ta'uddu-n (s. as sajadah), artinya  (Dia) mengatur urusan dari langit sampai ke bumi, kemudian naik kepadaNya dalam hari yang kadarnya seribu tahun dari apa yang kamu hitung (32:5).
 
      Yang menjadi focus perhatian kita dalam ayat (32:5) di atas itu ada dua perkara, pertama, yang kualitatif, yaitu substansi "urusan dari langit" (cosmic affair) dan kedua, yang kuantitatif, yaitu satu hari dalam cosmic affair yang setara dengan seribu tahun di bumi.
 
    Firman Allah SWT: Inna 'iddatasy syuhu-ri 'indaLla-hitsna 'asyara syahran (S. at Tawbah, 36), artinya: Sesungguhnya perhitungan bulan disisi Allah adalah 12 bulan (9:36). Jadi menurut ta'rif (definisi) yang diambil dari Al Quran itu satu tahun terdiri atas 12 bulan qamariyah. Demikianlah pengertian sanatun (tahun) dalam alfa sanatin mimma- ta'uddu-n haruslah ditransformasikan bukan kepada sembarang gerak benda langit, melainkan sudah tertentu ditransformasikan pada gerak bulan, karena menurut ayat (9:36), tahun didefinisikan sebagai bulan 12 kali mengedari bumi. Seperti dijelaskan di atas, bulan qamariyah itu ada dua macam, yaitu siderial month dan synodic month. Satu sidereal month = 27,321661 hari sedangkan satu synodic month = 29,53059 hari.
 
     Ya'ruju ilayhi fi- yawming ka-na miqda-ruhu- alfa sanatin mimma- ta'uddu-n. Ya'ruju adalah fi'il mudha-ri' (present and future tenses), sehingga al amru mina ssamaai (urusan dari langit, cosmic affair) masih sedang dalam perjalanan menempuh ilayhi. Jadi tidak berarti cosmic affair itu telah menempuh "seluruh" jarak dalam satu hari itu. Artinya masih menempuh "sepotong" jarak = Sj dari "seluruh" jarak. Demikianlah urusan langit itu = U, melintasi jarak Sj, sehingga dalam satu hari setara dengan jarak yang ditempuh bulan sejauh 12000 kali mengelilingi bumi. Maka dapatlah ditulis persamaan sederhana, yaitu "rumus cosmic affair" seperti berikut:
 
      Sj = U t = 12000  L, di mana
 
Sj sepotong jarak yang ditempuh cosmic affair dalam satu hari dan yang ditempuh oleh bulan 12000 kali mengelilingi bumi, U = laju cosmic affair, t  = satu hari (terrestrial siderial day) = satu kali bumi berpusing pada sumbunya = 23 jam, 56 menit, 4,0906 detik = 86164,0906 detik dan L = jarak inersial yang ditempuh bulan dalam satu kali mengorbit bumi dalam pengetian gerak geosentrik, bumi menjadi titik pusat sistem koordinat, artinya gerak relatif bulan terhadap bumi.
 
      Karena gerak geosentrik bulan mendekati gerak lingkaran beraturan, maka dengan rumus sederhana dapatlah dihitung kecepatan tangensial bulan:
 
      V = 2 Pi R/T, di mana
 
V = kecepatan tangensial bulan relatif terhadap bumi, Pi = 3,1416, R = radius rata-rata orbit gerak geosentrik bulan = 384264 km dan T = satu bulan siderial = 27,321661 hari =  655,71986 jam.
 
      Dengan mensubstitusi harga-harga itu dalam persamaan tersebut di atas, kita dapatkan:
 
V = [2 x 3,1416 x  384264] : 655,71986 = 3682,07 km/jam, harga ini merupakan harga astronomis yang dipakai pula oleh NASA.
 
      Dengan demikian L sudah dapat dihitung, yaitu dengan rumus sederhana:
 
      L = V T
 
      Namun karena kita berurusan dengan cosmic affair maka harga V yang relatif terhadap bumi di atas itu harus dikoreksi, bukan lagi relatif terhadap bumi, melainkan relatif terhadap buruwjun (cosmic, fixed stars). Yaitu harus dikoreksi dengan cos @, seperti telah dijelaskan pada pendahuluan dalam fasal Buruwjun menjadi pusat sistem koordinat. Jadi yang harus dihitung sekarang ialah besarnya sudut @. Ini dapat dihitung dengan rumus sederhana, yaitu perbandingan antara satu siderial month (27, 321661 hari) dengan satu tahun syamsiyah (365,25636 hari). Maka kita dapatkan sudut @ seperti berikut:
 
      @ =  27, 321661 : 365,25636 x 360  = 26,92848 derajat busur.  cos @ = cos 26,92848 = 0,89157    
 
Setelah dikoreksi dengan cos @, maka
 
      L = V T menjadilah
 
      L  = 0,89157 V T,  dan apabila rumus ini disubstitusi ke dalam rumus cosmic affair:
 
U t = 12000  L, kita akan peroleh:
 
U t = 12000 x 0,89157 V T
 
Dengan demikian laju cosmic affair dapatlah dihitung:
 
U = 12000 x 0,89157 VT/t, dan dengan mensubsitusi harga-harga V, T dan t ke dalamnya, kita akan dapatkan:
 
U = (12000 x 0,89157 x 3682,07[km/jam] x 655,71986 [jam]) / 86164,0906 [detik] 
 
U = 299792,4989 km/detik.(*)
 
            Hasil ini adalah konstante yang diperoleh dalam cosmic affair. Berdasar atas Firman Allah: Wayasta'jilu-naka bil 'adza-bi  wa lan yukhallifaLla-hu wa'dahu- wa inna yawman 'inda rabbika ka alfi sanatin mimma- t'uddu-n (S. al Hajj, 47), artinya: Mereka minta segerakan siksa kepada engkau, padahal Allah tiada akan memungkiri janjiNya. Sesungguhnya sehari di sisi Maha Pengaturmu seperti seribu tahun dalam perhitunganmu (22:47). Apa yang di sisi Allah Yang Maha Mutlak, itu mutlak juga keadaannya. Sehingga patokan 1000 tahun dalam cosmic affair yang melaju U = 299792,4989 km/detik itu merupakan laju mutlak yang INVARIAN terhadap semua sistem koordinat. Dengan demikian Laju U TIDAKLAH dinyatakan laju relatif terhadap bulan, laju relatif terhadap matahari, laju relatif terhadap galaxy Milky way, laju relatif terhadap cluster Local Group, melainkan berarti laju terhadap bulan = laju terhadap bumi = laju terhadap matahari = laju terhadap Milky Way = laju terhadap Local Group = U = 299792,4989 km/detik. Harus dapat difahami bahwa U yang invarian terhadap semua sistem koordinat tidak identik pengertiannya dengan laju maximum. Sebab menurut Al Quran ada yang melebihi laju U yaitu seperti firman Allah SWT: Ta'rujul mala-ikatu ar ru-hu ilayhi fi- yawmin ka-na miqda-ruhu- khamsi-na alfa sanatin (S.al a'a-rij, 4), artinya: Malaikat-malaikat dan ruh (Jibril AS) naik kepadaNya dalam sehari yang kadarnya lima puluh ribu tahun (70:4). Artinya malaikat-alaikat itu naik kepadaNya dengan laju 50 kali dari "cosmic affair"., yaitu = 50 U. Tidak ada penegasan dari ayat lain, sehingga laju malaikat ini walaupun lebih besar dari U, namun ia tidaklah invarian.
 
*** Makassar, 20 Januari, 2002
    [H.Muh.Nur Abdurrahman]
--------------------------------------------------------
(*)
 Data yang diperoleh menurut ilmu fisika ekperimental:
 --Weber dan Kohlrauch (1856) C = 310000 km /detik,
 --Curtis (1929) C = 299790 km /detik,
 --Froome (1952) C = 299792 km/detik,
 --the US National Bureau of Standards, C = 299792,4574 +- 0,0011 km/detik,
 --the British National Physical Laboratory, C = 299792,4590 +- 0,0008 km/detik
 (C adalah laju cahaya di tempat vakum).
 
          Maka konstante C itu identik dengan konstante U = 299792,4989 km/detik, yaitu laju semua cosmic affairs seperti laju cahaya, laju semua jenis gelombang elektro-magnet, laju gelombang gravitasional, laju semua partikel yang melaju seperti neutrino, dll yang belum didapatkan (discovered), yang melaju merambat di langit di seantero cosmos, ya, seluruh cosmos affairs.
 
==========================================
BISMILLA-HIRRAHMA-NIRRAHIYM
 
WAHYU DAN AKAL- IMAN DAN ILMU
[Kolom Tetap Harian Fajar]
732. Masalah Terjemahan S. Al-Anbiyaa' (21:33)
 
Pertama-tama diucapkan syukur alhamduliLlah, karena al-Ustadz H.Abu Bakar Ba'asyir pada tgl 14 Juni telah mengirup udara bebas. Kepada Australia yang usil karena mengemukakan penyesalannya, yang berarti mencampuri urusan dalam negeri Republik Indonesia, sungguh patut diucapkan kepadanya: "To hell with your regret." Kepada Pemerintah diucapkan penghargaan, karena tidak menghiraukan tekanan negeri-negeri imperialis.
 
***
 
-- WHW ALDzY KhALAQA ALYL WALNHAR WALSyMS WALQMR KL FY FLK YSBhWN (S. ALANBYAa, 21:33), dibaca:
-- wahuwal ladzi- khalaqal laila wannaha-ra wasysyamsa walqamara kullun fi- falakin yasbahu-n.
Terjemahn dari Al-Quran digital:
-- Dan dialah yang Telah menciptakan malam dan siang, matahari dan bulan. masing-masing dari keduanya itu beredar di dalam garis edarnya.
Terjemahan Kitab: Al-Quran dan terjemahnnaya oleh Yayaysan Penyelenggara Penterjemah Al-Qur'an, Hak Penterjemah Pada Departemen Agama Republik Indonesia, Edisi Revisi 1994: 
-- Dan Dialah yang telah menciptakan malam dan siang, matahari dan bulan. Masing-masing dari keduanya itu beredar di dalam garis edarnya.
Terjemahan  dari Kitab Tarjamah Al-Quran Al-Karim oleh Prof.H.Mahmud Yunus, Penerbit PT Al-Ma'arif Bandung, 1988:
-- Dia yang menjadikan malam dan siang, matahari dan bulan. Masing-masingnya itu beredar di falak (tempat peredarannya)
Terjemahan dari Kitab The Meaning of The Glorious Koran oleh Mohammed M. Pickthall, Published by The New American Library, New York, 1954:
-- And He it is Who created the night and the day, and the sun and the moon. They float, each in an orbit.
 
Dalam terjemahan dari Al-Quran digital dan Departemen Agama tidak mengikuti aturan menterjemah, yaitu sisipan "dari keduanya itu", seyogianya diletakkan di antara dua tanda kurung, karena "dari keduanya itu" bukan bagian dari ayat. Besar kemungkinan terjemahan dari Al-Quran digital diambil dari terjemahan Departemen Agama, namun Al-Quran digital salah dalam membubuhkan huruf kapital Telah, yang semestinya kata Dia yang pakai huruf kapital, karena dalam ayat (21:33), Dia adalah kata ganti untuk Allah. Terjemahan Mahmud Yunus mengikuti aturan menterjemah, karena meletakkan sisipan, yang bukan bagian dari ayat dalam dua tanda kurung (tempat peredarannya), namun Mahmud Yunus tidak tepat terjemahannya "menjadikan" untuk kata "khalaqa". Menciptakan = khalaqa, menjadikan = ja'ala. Terjemahan Mohammed M. Pickthall "float" untuk "yasbahuwn" sudah hampir sama dengan makna aslinya "berenang", yaitu bersentuhan dengan fluida.
 
Terjemahan Departemen Agama yang pakai sisipan "dari keduanya itu" yaitu dalam konteks memberikan penekanan pada kedua benda langit itu. Namun dengan penekanan itu, terjemahan tersebut sudah melanggar ilmu nahwu (tata-bahasa) dari segi tasrif (konyugasi, conjugation of Arabic verbs) "yasbahuwn". Karena seperti diketahui dalam bahasa Arab ada tiga tingkatan, mufrad (tunggal, singular), mutsanna (ganda, dual) dan jama' (tiga keatas). Kalau yang dimaksud hanya "dari keduanya itu", yaitu mutsanna, maka tasrifnya "yasbahaan".
 
Secara keseluruhan terjemahan itu tidak ada yang murni tekstual, yaitu yasbahuwn berarti berenang. Mengapa mesti murni tekstual, silakan dibaca penjelasan berikut:    
 
***
 
Yasbahuwna berasal dari akar kata yang dibentuk oleh huruf-huruf Sin-Ba-ha, sabaha artinya berenang. Orang yang berenang mempunyai kecepatan relatif terhadap air yang direnanginya. Demikian pula benda-benda langit yang merenangi dukhan (fluida interstallair) yang memenuhi alam semesta. Benda-benda langit di samping mempunyai gerak bersama dengan dukhan mengedari pusat Milky Way, dalam kecepatan sudut yang sama besar, ibaratnya bintang-bintang itu hanyut dibawa arus fluida interstellair. Sedemikian jauh terjemahan "float" oleh Pickthal sudah mengena, namun benda-benda langit itu mempunyai pula gerak relatif terhadap dukhan, jadi ibarat orang berenang dalam gerakan arus laut. Matahari berenang dalam dukhan dengan laju relatif sekitar 24 km per detik. Matahari dibawa arus fluida interstallair mengedari pusat galaxy Milky Way dengan kecepatan tangensial 450 km per detik. Dalam sekali edar matahari memerlukan waktu sekitar 224-juta tahun. Sejak Allah SWT menjadikan matahari dari dukhan, baru 20 kali beredar keliling pusat Milky Way. Laju matahari yang berenang dalam dukhan itu tampaknya tidak tetap. Ada korelasi antara laju berenang dengan banyaknya dukhan yang disedot, yaitu makin lambat makin banyak dukhan yang disedot.
 
Tidak jauh dari kutub utara orang mendapatkan di sana batu bara. Itu berarti pernah di tempat itu beriklim seperti iklim tropis dewasa ini. Itu menunjukkan bahwa pada era itu matahari berenang lebih lambat (kurang dari 24 km per detik), sehingga lebih banyak dukhan yang disedotnya, yang menyebabkan volume matahari membesar, lalu jarak antara bumi dengan matahari menjadi lebih dekat, sehingga suhu di permukaan bumi menjadi naik. Itulah penjelasan mengapa di kutub utara juga didapatkan batubara.
 
Allah SWT sebagai Ar-Rabb, Maha Pengatur, berkehendak agar kita manusia ini dapat hidup di bumi di tatasurya ini. Bayangkan jika matahari mempunyai laju berenang hanya 2 sampai 3 km per detik, ia akan menjadi raksasa, seperti bintang raksasa sejenis matahari, yaitu. Betelgeuze, Razalgethi dan Epsilon Aurigae. Bumi ini yang pada mulanya berwujud fluida gas yang panas, tidak akan sempat menjadi fluida cair apalagi padat, karena matahari kian membesar, andaikata laju berenangnya hanya 2 sampai 3 km per detik. Artinya dalam keadaan itu jarak matahari dengan bumi kian dekat, bumi malahan makin panas, mana sempat membeku. Maka dalam proses menjadi raksasa itu akhirnya matahari akan melahap planet-planetnya. Kalau diameternya sudah sebesar raksasa Betelgeuze akan melahap bumi, sebesar raksasa Razalgethi akan melahap Saturnus dan 1,5 kali sebesar raksasa Epsilon Aurigae akan melahap Pluto. WaLlahu a'lamu bisshawab.
 
*** Makassar, 18 Juni 2006
   [H.Muh.Nur Abdurrahman]
 
=============================================================
 
BISMILLAHIRRAHMA-NIRRAHIYM
 
WAHYU DAN AKAL ? IMAN DAN ILMU
[kOLOM tETAP hARIAN fAJAR]
768. Surah Ath-Thaariq, 1-3
 
Sudah lama kita tidak menengadah, melihat ke atas ke bola langit, maka kita tinggalkan dahulu bumi yang hiruk-pikuk ini. Marilah kita bertamasya ke bola langit. Maka dengarlah, bacalah Firman Allah SWT:
-- W ALSMAa W ALThARQ . WMA ADRK MA ALThARQ . ALNJM ALTsAQB (S. ALThARQ, 86:1-2), dibaca:
-- was sama-i wath tha-riq  .  wa ma- adra-ka math thariq  .  annajmuts tsa-qib (tanda ? dipanjangkan membacanya)
 
Wa dalam permulaan ayat diikuti oleh kata yang bunyi akhirnya dikasrah (seperti dalam huruf Latin konsonan yang mendapat i) , itu menyatakan sebuah sumpah, namun tidak cocok untuk dibahasa-Indonesiakan dengan "demi". Sebab dalam bahasa Indonesia "demi" itu menyatakan penguatan yang ditumpukan kepada sesuatu yang lebih "tinggi" dari yang bersumpah. Yang bersumpah dalam ayat ini adalah Allah, Yang A?lay, Yang Maha Tinggi, jadi dalam hal ini Wa bermakna penegasan, sehingga Wa tidak cocok di-Indonesia-kan dengan "demi?, melainkan "perhatikanlah?. Maka ayat (86:1-3) berarti:
-- Perhatikanlah (benda-benda) langit dan perhatikanlah ath-Thaariq . Tahukah kamu apakah ath-Thaariq? . Itulah bintang ats-Tsaaqib.
 
Ath-Thaariq dan ats-Tsaaqib belum diterjemahkan. Kata "Thaariq," berasal dari akar kata [Tha-Ra-Qaf], yang makna dasarnya adalah memukul dengan cukup keras untuk menimbulkan bunyi/getaran yang berdenyut. Makna turunannya adalah "yang datang pada malam hari", oleh karena orang yang datang pada malam hari biasanya mendapati pintu yang sedang terkunci, lalu pintu itu diketuk yang menimbulkan bunyi/getaran yang berdenyut. Kata "Tsaaqib"  berasal dari akar kata [Tsa-Qaf-Ba], yang makna dasarnya cemerlang. Makna turunannya menembus, karena cahaya cemerlang itu, seperti sinar laser menembus kegelapan malam.
 
Dalam Seri 343 telah dikemukakan klasifikasi benda-benda langit berdasar atas kriteria menurut Al-Quran, yang berbeda dengan kriteria menurut ilmu falak (astronnomi) kontemporer. Dalam Seri 343 dikemukakan bahwa menurut Al-Quran klasifikasi bintang-bintang berdasar atas jarak, keadaan fisik dan penggugusan. Dengan klasifikasi tersebut, bintang-bintang itu dibedakan dalam: tiga jenis bintang yaitu: kawkabun, najmun dan buruwjun. Seperti diketahui klasifikasi bintang-bintang menurut astronomi kontemporer berdasar atas kriteria geraknya, sehingga jenis bintang-bintang dibedakan dalam: bintang-bintang tetap dan planet. Padahal menurut S.Al Anbiyaa 33 dan S.Yasin  40, artinya saja ditliskan: semuanya
berenang dalam jalurnya, dan menurut hasil observasi memang tidak ada benda-benda langit yang diam. Sehingga klasifikasi bintang-bintang berdasar atas geraknya sudah ketinggalan kereta api kemajuan hasil observasi.
 
Dalam Seri 343 telah dikemukakan benda-benda langit itu secara lengkap seperti berikut:
 
1. Kawa-kibun:              
Utarid (Merkuri),            
Kejora (bintang Timur, Venus),
Bumi,                              
Marikh (Mars),                      
Mustari (Jupiter),                 
Zuhal (Saturnus),                   
Uranus,                           
Neptunus,                          
Pluto,                            
komet,
planetoid (astroid), meteor
 
2. Nujuwmun:
bintang-bintang tunggal,
bintang-bintang kembar,
bintang-bintang raksasa,
bintang-bintang redup (kerdil) dan pulsar (bintang bersenyut),
lubang-lubang hitam (black holes)
 
3. Burujun:
galaxy,
cluster
 
4. Dukhan (fluida interstellair), dll yang manusia belum dapat dan belum sempat mengenalnya.
 
Adapun pembahasan ayat (86:1-3) difokuskan pada arti dasar "Thaariq", yaitu memukul dengan cukup keras untuk menimbulkan bunyi/getaran yang berdenyut dan "Tsaaqib", yaitu cemerlang. Silakan dilihat dalam perincian Nujumun ada yang disebut bintang-bintang raksasa, pulsar dan lubang hitam. Akan dipergunakan hasil observasi sebagai ilmu bantu untuk menjelaskan ayat (86:1-3).
 
Bintang-bintang biru yang merupakan julukan bagi deret kelompok bintang raksasa yang massanya lebih besar dari 1,4 kali massa matahari, yang telah menghabiskan seluruh bahan bakarnya ambruk hancur ke dalam dirinya, mengalami keruntuhan gravitasi menghasilkan ledakan dahsyat yang disebut supernova dengan peningkatan kecemerlangan cahaya hingga miliaran kali cahaya bintang biasa, yang kemudian "memperanakkan" dua jenis benda langit, yaitu pulsar dan lubang hitam tersebut.
 
Melalui penelitian oleh Jocelyn Bell Burnell, di Universitas Cambridge pada tahun 1967, sinyal elektromagnet yang terpancar secara teratur ditemukan. Namun, hingga saat itu belumlah diketahui bahwa terdapat benda langit yang berkemungkinan menjadi sumber getaran atau denyut/detak teratur yang agak mirip pada jantung. Para pakar astronomi menyatakan bahwa, ketika materi menjadi semakin rapat di bagian inti karena perputarannya mengelilingi sumbunya sendiri, medan magnet bintang tersebut juga menjadi semakin kuat, sehingga memunculkan sebuah medan magnet pada kutub-kutubnya sebesar 1 triliun kali lebih kuat dari yang dimiliki Bumi. Sebuah benda yang berputar sedemikian cepat dan dengan medan magnet yang sedemikian kuat memancarkan berkas-berkas sinar yang terdiri dari gelombang-gelombang elektromagnet yang sangat kuat berbentuk kerucut di setiap putarannya. Tak lama kemudian, dapat diobservasi bahwa sumber sinyal-sinyal ini adalah perputaran cepat dari bintang-bintang  yang disebut pulsar tersebut. Sejumlah pulsar berputar 600 kali per detik. Pulsar berputar pada sumbunya sendiri dengan sangat cepat. Telah dihitung bahwa terdapat lebih dari 500 pulsar di galaksi Milky Way (Kabut Susu), yang di dalamnya terdapat Tata-Surya kita. Pulsar itu dikenal pula dengan nama bintang neutron.
 
Lubang hitam itu mempunyai kerapatan tak terhingga serta medan magnet yang amat kuat. Kita tidak mampu melihat lubang hitam dengan teropong terkuat sekalipun, sebab tarikan gravitasi lubang hitam tersebut sedemikian kuatnya. Bahkan, cahaya pun tidak mampu melepaskan diri darinya. Di dalam kaidah fisika, besaran gaya gravitasi berbanding terbalik dengan kuadrat jarak menurut rumus:
F = µ 1/r^2.
Dari rumus tsb dapat difahami mengapa lubang hitam mempunyai gaya gravitasi yang sangat dahsyat. Dengan nilai r yang makin kecil atau mendekati nol, gaya gravitasi akan menjadi tak hingga besarnya. Materi pembentuk lubang hitam mengalami pengerutan yang tidak dapat mencegah apapun darinya. Lubang hitam menjadi sangat mampat sampai menjadi suatu titik massa yang kerapatannya tidak terhingga, yang disebut singularitas.
 
Jadi ayat [86:1-3] terjemahannya spb;
Perhatikanlah (benda-benda) langit dan perhatikanlah pulsar yaitu bintang neutron yang datang pada malam hari . Tahukah kamu apakah pulsar atau bintang neutron yang datang pada malam hari itu? . Itulah bintang yang terjadi melalui ledakan supernova yang cemerlang yang menembus kegelapan malam.
 
WaLlahu a'lamu bishshawab.
 
*** Makassar, 4 Maret 2007
   [H.Muh.Nur Abdurrahman]
 
 
 
*************************************************************************************************************
#############################################################################################################
 
 
 
----- Original Message -----
Sent: Monday, March 26, 2007 23:24
Subject: Re: To HMNA and FeiFei Re: [debat_antar_agama] Respon unt Charlie

Loh, anda ini ngakunya pengikut ajaran Jesus yang penuh dengan cinta kasih... masak sih ngak kelihatan disini... yang terlihat hanya emosi dan merasa yang paling ..... saja.
 
Kalau ngak salah, ada ajaran di Kristen yang mengajarkan untuk mendoakan sesama dan bahkan musuh-musuhmu,... 
Disini, menurut saya, kita (anggota milis) ngak ada yang musuh khan... maka itu kita bertukar pendapat. Kalau blom mengerti, yah wajar orang bertanya dan mengajukan argumen nya doong.  Tujuannya untuk saling memberi dan mengasah dengan asih.
 
Kalau argumen pihak lain ada celahnya,.. beritahu dia dan berikan kesempatan dia berfikir dengan kepala dingin...  Begini kan lebih enjoy jadinya. Kalau ada yang menyerang,... disanalah kesempatan anda untuk menjawabnya dengan bentuk iman yang anda yakini... (bagaimana anda bereaksi, apakah sesuai ajaran agama yang anda imani atau malah bertolak belakang?) Ini sekaligus buat intropeksi (cek and ri-cek) kedalam diri dan sejauh mana keimanan anda sampai saat ini.
 
Salam,
Charlie


 
----- Original Message ----
From: feifei2899 <feifei2899@yahoo.com.sg>
To: debat_antar_agama@yahoogroups.com
Sent: Monday, March 26, 2007 10:49:15 PM
Subject: To HMNA and FeiFei Re: [debat_antar_agama] Respon unt Charlie


Hai Iblis tidak usah membodohi orang awan dgn ajaran Ilmiah

Jaringan yg anda gambarkan aja sudah tidak masuk di logika mana bisa 1
GARIS PUTUS PUTUS DISEJAJARKAN DGN YG BERSAMBUNG MENDAPATKAN HASIL YG
SAMA. He he kalau anak kecil mungkin bisa km perdaya.

Network Planning itupun ilmu ekonomi unt meletakan suatu mesin di pabrik
agar terjadi efisiensi ruang yg membuat terciptanya biaya/cost rendah.

network planning jg digunakan bukan saja di dlm ekonomi tp jg digunakan
dlm teknologi nanomolekul saat ini.

Saat inipun masih ada aja yg mengkait-kaitkan ilmu pengetahuan/ sains dgn
agama he he ,yg orang bodohpun tau sains dgn agama pasti saling
bertentangan.

Ayat2 quran yg saling bertentangan satu dan yg lainnya terus di coba
dikait kaitkan dgn ilmu pengetahuan yg memakai logika dan uji coba mana
akan nyambung itu sama saja melawan hukum alam.

.

__._,_.___

Mayapada Prana Quotes:
"Think Good, Feel Good, Do Good. This is the way to God"
- Sathya Sai Baba

Mayapada Prana Links:

<*> Indonesian Lesbian Forum
http://www.voy.com/6346/

<*> Gay Indonesian Buddhist Fellowship
http://groups.yahoo.com/group/gibf

<*> Bike To Work Indonesia
http://sports.groups.yahoo.com/group/b2w-indonesia

<*> Food Combining Indonesia
http://health.groups.yahoo.com/group/FOOD_COMBINING_INDONESIA/




Your email settings: Individual Email|Traditional
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe

__,_._,___
<Prev in Thread] Current Thread [Next in Thread>
Google Custom Search

News | FAQ | advertise