^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^
HMNA menjawab
Kelima:
Mengenai QS 5 : 69 Baca Seri 570 di
bawah
Mengenai QS 3 : 85 Baca Seri di bawah, tentang pengertian
Islam
**********************************************************************
BISMILLA-HIRRAHMA-NIRRAHIYM
WAHYU DAN AKAL - IMAN DAN
ILMU
[Kolom Tetap Harian Fajar]
570. Surah Al Baqarah, Ayat 62(#)
-- AN ALDZYN AMNWA WLDZYN
HADWA WALNSHRY WALSHABaYN MN AMN BALLH WALYWM ALAKHR W'AML SHALhA FLHM AJRAN
'AND RBHM WLA KHWF 'LYHM WLAHM YhZNWN (S. ALBQRt, 62), dibaca: Innal ladzi-na
a-manuw wal ladzi-na ha-du- wan nasha-ra- wash sha-bii-na man a-mana
biLla-hi wal yawmil a-khiri wa 'amila sha-lihan falahum ajruhum 'inda
Rabbihim wa la- khawfun 'alayhim wa la-hum yahzanu-n (s. al baqarah), artinya:
Sesungguhnya orang-orang beriman, orang-orang Yahudi (ha-du-), orang-orang
Nashrani (nasha-ra-), dan orang-orang Sha-bii-n, barang siapa beriman kepada
Allah dan Hari Akhirat serta beramal shalih, maka untuk mereka pahala di sisi
Rabbnya, tidak ada kekhawatiran atas mereka dan tiada mereka berduka cita
(2:62).
Siapa-siapa itu:
1.
a-manu-
2. ha-du-
3. nasha-ra-
4. sha-bii-n.
1. A-manu-, orang-orang
beriman, ini menunjuk kepada ummat Nabi Muhammad SAW, yaitu iman yang
dita'rifkan (didefinisikan) menurut Hadits (Shahih Bukhari), Rukun Iman: 1.
Allah; 2. Malaikat- malaikatNya; 3. Kitab-KitabNya; 4. Rasul-RasulNya, 5. Hari
Kemudian; 6. Qadha dan Qadar.
2. Ha-du- dibentuk oleh akar
kata fi'il madhi [Ha, Alif, Dal] atau mashdar [Ha, Waw, Dal] artinya berpaling
menuju kepada kebenaran, menuju kepada Allah, dapat pula berarti kembali
perlahan-lahan kepada sesuatu. Kata Ha-du- menunjuk kepada ummat Nabi Musa
AS.
3. Nasha-ra- dibentuk oleh
akar kata [Nun, Shad, Ra] artinya menolong. Nasha-ra- berarti penolong-penolong
agama Allah.
-- QAL MN ANSHARY ALA ALLH QAL ALhWARYWN NhN ANSHAR ALLH (S.AL
'AMRAN, 52), dibaca: qa-la man ansha-ri- ilaLla-hi qa-lal hawa-riyyu-na nahnu
ansha-ruLla-hi (s. ali 'imra-n), artinya: Berkata ('Isa) siapa yang menolongku
kepada Allah?, (sahabat-sahabat) hawariyyun berkata kami penolong (-mu kepada)
Allah (3:52). Dapat pula kata itu terkait dengan kata Na-sharah (Nazaret), suatu
perkampungan tempat 'Isa bnu Maryam menempuh masa kecil beliau. Nasha-ra-
menunjuk kepada ummat Nabi 'Isa AS.
4. Sha-bii-n, Shabiah
(Sabean) berasal dari bahasa Aramik (Al-'Ibriyyah Al-Jadiydah), shaba'a. Padanan
katanya dalam bahasa Arab adalah ta`ammada yang berarti pembabtisan dan
penyucian diri dengan air. Sha-bii-n adalah agama yang dianut oleh Salman al
Farisi RA sebelum masuk Islam. Salman al Farisi RA bertanya kepada Nabi Muhammad
SAW tentang nasib teman-temannya penganut Sha-bii-n.(##) Maka turunlah ayat (2:62). Sha-bii-n, dibentuk oleh akar kata
[Shad, Ba, Alif], artinya meninggalkan. Sha-bii-n berarti orang-orang yang
meninggalkan agama mereka untuk memeluk agama lain. Sha-bii-n menunjuk kepada
sejenis sekte yang bermukim di semenanjung Arabia dan di negeri-negeri yang
berbatasan dengannya. Maka Sha-bii-n adalah (1) kaum monotheist di Mesopotamia
dengan menjadikan bintang-bintang sebagai perantara, (2) sebuah keyakinan yang
berupa potongan-potongan dari agama Yahudi, Nashrani dan Zarathustra, (3)
orang-orang yang bermukim dekat Mosul di Iraq yang monotheist, namun tidak
mempunyai kitab dan syari'at, mereka berkeyakinan mengikuti agama yang dibawakan
Nabi Nuh AS, (4) orang-orang yang sekarang bermukin sekitar Iraq Selatan yang
beriman kepada semua Nabi-Nabi dan mempunyai cara bersembahyang dan puasa
tersendiri,(###) (5) ada yang berpendapat
mereka tergolong dalam Ahli Kitab.
Kalau kita perhatikan
sejarah, bahwa Raja Parsi Cyrus yang taat beragama Zarathustra, yang
mengembalikan ke Palestina komunitas Bani Israil yang ditawan di Babilonia, maka
saya lebih cenderung berpendapat bahwa Sha-bii-n adalah para penganut agama
Zarathustra. Boleh jadi (mungkin ya atau tidak) Zarathustra ini seorang Nabi,
hanya saja sulit untuk melacaknya, oleh karena Kitab Suci mereka, yaitu Gatha
telah ikut terbakar semua tatkala Iskandar Raja Macedonia membakar habis ibu
kota Kerajaan Parsi, yaitu Percepolis, sehingga Kitab Suci agama Zarathustra
hanya berupa rekaman ingatan dari para pendetanya. Ada aliran agama Zarathustra
di Amerika yang bersemboyan: "Kembali ke Gatha", mereka ini berkeyakinan
Zatahustra tidak mengajarkan dua tuhan: Tuhan Terang Ahura Mazda (ormuzd) dan
Tuhan Gelap, Angra Manyu (Ahriman). Zarathustra mengajarkan Satu Tuhan, yaitu
Ahura Mazda menciptakan Angra Manyu, seperti Allah menciptakan iblis dalam agama
Yahudi, Nashrani dan Islam.
Maka makna potongan ayat:
"barang siapa beriman kepada Allah dan Hari Akhirat serta beramal shalih, untuk
mereka pahala di sisi Rabbnya, tidak ada kekhawatiran atas mereka dan tiada
mereka berduka cita", adalah dalam konteks para penganut agama-agama Yahudi,
Nashrani dan Sha-bii-n pada zamannya Nabi mereka itu masing-masing, yaitu
penganut agama Yahudi pada zaman rentang waktu dari Nabi Musa AS hingga Nabi
'Isa AS, penganut Nashrani pada rentang waktu dari Nabi 'Isa AS hingga Nabi
Muhammad SAW dan penganut Sha-bii-n pada rentang waktu dari Nabi(?) Zarathustra
hingga Nabi Muhammad SAW. Tegasnya ayat (2:63) tidak kena mengena dengan para
penganut agama Yahudi, Kristen dan penganut Zaratshustra yang hidup setelah Nabi
Muhammad SAW membawa Risalah.
Ayat (2:62) menekankan
beriman kepada Allah dan Hari Akhirat, oleh karena kenyataan sejarah mencatat
bahwa ada sekelompok penganut agama Yahudi yang tidak percaya kepada hari
akhirat, penganut agama Trinitarian Christian yang menyembah Jesus Kristus, dan
umumnya penganut Zarathustra yang menyembah dua tuhan. WaLlahu a'lamu
bishshawab.
*** Makassar, 13 April
2003
[H.Muh.Nur
Abdurrahman]
-------------------------------------
(#)
Ayat yang sama dengan ini S. Al-Maaidah,
5:69)
(##)
Hadits ttg Salman al Farisi, asbabun nuzul S
Albaqarah-62
Diriwayatkan Ibnu Jarir dari
Mujahid bahwa Salman al-Farisi bertanya kepada Nabi saw tentang orang-orang
Nasrani dan pandapat beliau tentang amal mereka. Beliau menjawab, "Mereka tidak
mati dalam keadaan Islam." Salman berkata, "Bumi terasa gelap bagiku dan aku pun
mengingat kesungguhan mereka." Lalu turunlah ayat ini. Setelah itu Rasulullah
saw memanggil Salman
seraya bersabda, "Ayat ini turun utuk para sahabatmu."
Beliau kemudian bersabda, "Barangsiapa yang mati dalam agama Isa sebelum
mendengar aku, maka dia mati dalam kebaikan. Barangsiapa telah mendengar aku dan
mengimaniku maka dia celaka.
***
Diriwayatkan oleh al Wahidi
dan al Tsa'labi dari al Kalbi dari Abi Shalih yang bersumber dsri Ibnu Abbas,
dikemukakan bahwa Salman al Farisi bertanya kepada Nabi Muhammad SAW tentang
penganut agama yang pernah ia anut bersama mereka. Maka turunlah ayat
(2:62).
***
Masih bersumber dari al
Wahidi menurut jalur lain, dari Abdullah bin Katsir yang bersumber dari Mujahid
dikemukakan bahwa ayat (2:62) turun berhubungan dengan teman-teman Salman al
Farisi. Ini memberikan isyarat bahwa Sha-bi.iyn adalah agama yang dianut oleh
orang Parsi.
***
Mengenai HaaduW dan
Nasha-ra- dalam ayat (2:62) belum saya dapatkan sebab-sebab turunnya, namun
menurut hemat saya itu terkait pada ayat: Wa qaalati lyahuwdu laysa nNasha-ra-
'ala- syay.in wa qaalati nNasha-ra- laysati lyahuwdu 'ala- syay.in wahum
yatluwna lkita-ba ....(S. al Baqarah, 113), dan berkata orang Yahudi tidaklah
orang Nashara mempunyai pegangan suatu juapun dan berkata orang Nashara tidaklah
orang Yahudi mempunyai pegangan suatu juapun, padahal mereka (sama-sama) membaca
Kitab (2:113).
***
Diriwayatkan oleh Ibnu Abi
Hatim dan Ikrimah yang bersumber dari Ibnu Abbas, bahwa suatu waktu
pendeta-pendeta Nashara dari Bani Najran bertengkar dengan pendeta-pendeta
Yahudi di depan Nabi Muhammad SAW. Berkata Rafi' bin Khusaimah (Yahudi): Kamu
tidak berada pada jalan yang benar, karena menyatakan kekufuran kepada Nabi 'Isa
(tuhan-anak?) dan Kitab Injilnya." Nashara dari Bani Najran membantahnya:
Kamupun tidak berada di atas jalan yang benar, karena menentang Nabi Musa (bosan
makan manna dan salwa?) dan (di gunung Sinai?) kufur kepada Tawrat (tidak
percaya adanya hari akhirat?)." Maka turunlah ayat (2:113)
tersebut.
(###)
Golongan no.4 ini punya Kitab Suci yang dalam bahasa
Mandaiyah, disebut Kanza Raba (Harta Karun yang Agung),
****************************************************
BISMILLA-HIRRAHMA-NIRRAHIYM
WAHYU DAN AKAL - IMAN DAN
ILMU
[Kolom Tetap Harian Fajar]
071. Pengertian yang Umum dan
Khusus
Beberapa orang bertanya
kepada saya tentang kisah Nabi Ibrahim AS yang ditayangkan RCTI , bahwa agama
yang dibawakan Nabi Ibrahim AS adalah Islam. Apakah itu tidak salah? Bukankah
agama Islam dibawakan oleh Nabi Muhammad SAW? Boleh jadi pertanyaan yang
dikemukakan kepada Pak Kiyai dan Daeng Naba mengenai Islam ini oleh seorang
penanya, dilatar belakangi juga oleh tayangan RCTI tersebut. Lalu saya berpikir
lebih baik saya tuliskan jawabannya dalam kolom Wahyu dan akal - Iman dan Ilmu.
Islam adalah bahasa Al Quran
yang dibentuk oleh akar kata yang terdiri dari 3 huruf: sin, lam dan mim, yang
berarti patuh, selamat dan murni. Dari segi ruang lingkup, Islam
mempunyai pengertian yang teramat umum, umum, khusus dan sangat
khusus.
Marilah kita mulai dahulu
dengan memabahas pengertian Islam dalam ruang lingkup yang teramat umum. Allah
SWT sebagai Al Khaliq, Maha Pencipta juga adalah Ar Rabb, Maha Pengatur. Allah
mengatur hasil ciptaanNya itu dengan sunnatuLlah, aturan Allah. DiaturNya
makrokosmos dengan sunnatulLah yang dikenal dalam ilmu fisika dan astronomi
dengan medan gravitasi. Allah mengontrol gerak matahari misalnya dengan
gravitasi ini. Yang menurut penafsiran Newton medan gravitasi ini menyebabkan
timbulnya gaya centripetal, yaitu gaya yang menuju ke titik pusat galaxy Milky
Way. Atau menurut penafsiran Einstein gravitasi itu adalah garis geodesik berupa
alur yang dilalui oleh matahari dan semua benda langit yang lain. Di samping
gravitasi ini Allah mengontrol hasil ciptaanNya dengan sunnatuLlah berupa gaya
elektromagnet, seperti misalnya gaya tarik menarik antara proton dengan
elektron dalam atom. Juga sunnatulLah berupa gaya kuat yang menahan proton dalam
inti atom supaya tidak pecah berhamburan akibat gaya elektromagnet yang saling
menolak di antara proton yang bermuatan sama itu, yakni bermuatan positif. Juga
sunnatuLlah yang disebut gaya lemah yang menyebabkan inti atom menjadi tidak
stabil, menjadi lapuk dengan mengeluarkan sinar radio aktif. Sampai
sekarang ilmu fisika baru mengenal keempat jenis sunnatuLllah ini, yang tentu
saja masih banyak jenis sunnatuLlah yang lain yang belum diketahui oleh manusia,
karena Allah hanya memberikan ilmu yang sedikit kepada manusia. Wa ma uwtietum
mina-l'ilmi illa qalielan. Semua makhluq ciptaan Allah tunduk pada keempat jenis
sunnatuLlah tersebut: medan gravitasi, medan elektromagnet, gaya kuat dan gaya
lemah. Artinya semua makhluq di langit, makrokosmos dan di bumi (mikrokosmos)
adalah Islam, tunduk dan patuh pada sunnatuLlah. Dengan gaya personifikasi Allah
berfirman dalam S. Ali 'Imran 83:
...wa lahu aslama man fie
ssamawati wa l-ardhi ..., dan Islamlah barang siapa yang ada di langit
(makrokosmos) dan di bumi (mikrokosmos). Dikatakan gaya personifikasi,
oleh karena benda-benda ciptaan Allah dinyatakan dalam ungkapan man, barang
siapa.
Selanjutnya kita akan
membicarakan pengertian Islam dalam ruang lingkup setingkat di bawah yang
teramat umum, yaitu yang umum. Dalam ruang lingkup ini, Islam berarti semua
risalah (message) dalam bentuknya yang otentik, asli yang dibawakan oleh
semua nabi. Maka dalam ruang lingkup inilah risalah yang dibawakan oleh
Nabi Ibrahim AS adalah Islam. Allah berfirman dallam S. Ali 'Imran 19: Inna
ddiena 'inda Llahi l-islam .... sesungguhnya addien menurut Allah adalah Islam.
Ungkapan ad dien lebih luas dari pengertian agama, artinya bukan hanya sekadar
yang ibadah ritual saja. Maka lebih elok jika ad dien diterjemahkan dalam
ungkapan agama dalam pengertian yang lebih luas.
Ayat yang dikutip di atas
lebih diperinci dalam S. Al Baqarah, 136: Quwluw amanna biLlahi wa ma unzila
ilayna wa ma unzila ila ibrahima wa 'ismaila wa is-haqa wa ya'quwba wa l-asbathi
wa ma uwtiya muwsa wa 'iesa wa ma utiya min rabbihim la nufarriqu bayna ahadin
minhum wa nahnu lahu muslimuwn. Katakanlah (hai Muhammad) kami beriman kepada
Allah dan apa yang diturunkan kepada Ibrahim, dan Ismail, dan Ishak dan Ya'qub
dan anak-cucunya, dan apa yang diberikan kepada Musa dan Isa dan apa yang
diberikan (kepada para nabi) dari Maha Pengatur mereka, tidak kami bedakan
seorangpun di antara mereka (para nabi itu) dan kami kepada Allah adalah para
Muslim. Para Muslim, muslimuwn mempunyai sekali gus dua arti yaitu penganut dan
bersikap, para penganut Islam dan mempunyai sikap patuh kepada Allah.
Kita sekarang turun tangga
di bawah ruang lingkup yang umum, yaitu ruang lingkup yang khusus. Dalamm
ruang lingkup ini Islam berarti risalah yang dibawakan oleh Nabi Muhammad SAW.
Berfirman Allah dalam S. Al Maidah, 3, yaitu ayat yang terakhir yang diturunkan
kepada Nabi Muhammad SAW:
... al yawma akmaltu lakum dienakum wa atmamtu
'alaykum ni'matie wa radhietu lakumu l-islama dienan. Pada hari ini
Kusempurnakan bagimu agamamu (dalam pengertian yang luas) dan Kucukupkan
ni'matKu atasmu dan Aku berkenan Islam menjadi agamamu (dalam arti yang
luas).
Dan tingkat ruang lingkup
yang terakhir, yang terendah, yaitu dalam ruang lingkup yang sangat khusus yaitu
berarti Rukun Islam yang lima. Diriwayatkan oleh Bukhari, pada suatu waktu
ketika Nabi Muhammad SAW dan para sahabat beliau sedang duduk melingkar, maka
datanglah ke dalam majelis itu seorang yang kelihatannya dari jauh, namun pada
pakaiannya tidak tanda-tanda bahwa ia dari jauh, pakaiannya itu tidak kusut,
kemudian duduk dan bertanya kepada RasululLah: Ma l-iman, ma l-islam wa ma
l-ihsan, artinya apakah itu iman, apakah itu islam dan apakah itu ihsan. Maka
RasululLah menjawab bahwa yang bertanya pengetahuannya tidak kurang dari yang
ditanyai. Kemudian RasuluLlah dalam jawabannya mengenai Islam seperti berikut:
Islam adalah persaksian tidak ada ilah selain Allah dan Muhammad adalah pesuruh
Allah dan hambaNaya, mendirikan shalat, mengeluarkan zakat, berpuasa dalam bulan
Ramadhan dan naik haji bagi yang mampu. Dan jawaban penjelasan RasuluLlah itulah
disebut Rukun Islam yang lima, suatu pengertian Islam dalam ruang lingkup
yang sangat khusus.
Khatimah
1. Islam dalam ruang lingkup
yang teramat umum: Semua makhluq di langit, makrokosmos dan di bumi
(mikrokosmos), [S. Ali 'Imraan 83].
2. Islam dalam ruang lingkup
yang umum: Semua risalah (message) dalam bentuknya yang otentik, asli yang
dibawakan oleh semua nabi [S. Ali 'Imran 19]. Semua ummat dari semua Nabi
itu pada lingkup zamannya masing-masing akan selamat.
3. Islam dalam ruang lingkup
yang khusus: Risalah yang dibawakan oleh Nabi Muhammad SAW [S. Al Maidah,
3].
4. Islam dalam ruang lingkup
yang sangat khusus: Rukun Islam yang lima [HR Bukhari].
Walahu a'almu
bishshawab.
*** Makassar, 14 Maret
1993
[H.Muh.Nur Abdurrahman]
##################################################################################################################